SHOLEH SOSIAL: PENGGERAK KEPEDULIAN NASIONAL HINGGA GLOBAL

by admin

SHOLEH SOSIAL: PENGGERAK KEPEDULIAN NASIONAL HINGGA GLOBAL

Oleh: Dr. H. Istajib Zain, S.E., M.Ag.
Direktur IKADI Bina Muallaf

Ada kegelisahan yang patut kita renungkan: mengapa masyarakat semakin religius secara simbolik, tetapi pada saat yang sama persoalan sosial seperti kemiskinan, kesenjangan, intoleransi, kerusakan lingkungan, dan individualisme tetap tumbuh?

Pertanyaan ini bukan untuk mempertentangkan antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Keduanya justru harus berjalan beriringan. Namun, kita perlu jujur mengakui bahwa kesalehan yang tidak melahirkan kepedulian sosial berisiko menjadi kesalehan yang hanya berhenti pada diri sendiri.

Padahal Islam tidak pernah mengajarkan kesalehan yang egoistik.

Shalat membentuk kedisiplinan spiritual. Zakat membangun solidaritas ekonomi. Puasa melatih kepekaan terhadap penderitaan. Haji mengajarkan kesetaraan manusia. Semua ibadah itu memiliki dimensi sosial yang kuat.

Maka pertanyaannya bukan sekadar: Seberapa banyak kita beribadah?

Tetapi juga: Seberapa besar ibadah itu mengubah cara kita memperlakukan manusia dan lingkungan?

KESALEHAN JANGAN BERHENTI DI SAJADAH

Salah satu tantangan umat hari ini adalah kecenderungan memahami agama secara personal, tetapi mengabaikan konsekuensi sosialnya.

Kita bisa sangat serius membicarakan halal dan haram, tetapi kurang serius membicarakan kejujuran dalam perdagangan. Kita bisa begitu bersemangat membangun masjid, tetapi lupa membangun kepedulian kepada tetangga. Kita bisa rajin menghadiri majelis ilmu, tetapi belum tentu tergerak membantu orang yang sedang kesulitan.

Di sinilah makna sholeh sosial menjadi penting.

Sholeh sosial adalah ketika kesalehan pribadi menghasilkan manfaat publik.

Ia tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Allah, tetapi diterjemahkan menjadi hubungan yang baik dengan sesama. Ia tidak hanya melahirkan pribadi yang taat, tetapi juga pribadi yang amanah, peduli, adil, bertanggung jawab, dan bermanfaat.

Kesalehan semacam inilah yang dibutuhkan masyarakat.

Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan orang-orang yang rajin beribadah, tetapi juga membutuhkan orang-orang yang dapat dipercaya, mau menolong, tidak mengambil hak orang lain, menjaga lingkungan, membela yang lemah, dan menghadirkan solusi.

JANGAN SAMPAI KEPEDULIAN HANYA MENJADI KONTEN

Era digital menghadirkan paradoks baru.

Kita dapat melihat penderitaan manusia dari berbagai penjuru dunia hanya melalui layar telepon. Foto korban bencana muncul di beranda. Berita kemiskinan berseliweran. Konflik kemanusiaan menjadi konsumsi harian.

Kita terharu.

Kita membagikan.

Kita memberikan emoji sedih.

Tetapi setelah itu?

Kita kembali pada kehidupan masing-masing.

Inilah tantangan besar kepedulian di era digital: jangan sampai penderitaan manusia berubah menjadi sekadar konten.

Kepedulian harus bergerak dari simpati menuju aksi.

Tidak cukup mengatakan kasihan. Harus ada pertanyaan: Apa yang bisa saya lakukan?

Tidak cukup mengutuk ketidakadilan. Harus ada upaya menghadirkan keadilan.

Tidak cukup menyalahkan kemiskinan. Harus ada gerakan pemberdayaan.

Tidak cukup menggalang bantuan ketika bencana terjadi. Harus ada sistem mitigasi dan ketahanan masyarakat.

Dengan kata lain, sholeh sosial harus memiliki keberanian untuk bergerak dari rasa menjadi kerja nyata.

DARI TETANGGA, UNTUK BANGSA

Gerakan kepedulian tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Ia dapat dimulai dari rumah.

Dari tetangga yang sakit.

Dari keluarga yang kehilangan pekerjaan.

Dari anak yang kesulitan sekolah.

Dari lansia yang hidup sendirian.

Dari lingkungan yang mulai kotor.

Dari pemuda yang kehilangan ruang untuk berkembang.

Jangan bermimpi menyelamatkan dunia jika kita tidak peduli terhadap lingkungan terdekat.

Kepedulian memiliki hukum pertumbuhan: ia dimulai dari lingkaran kecil, lalu meluas menjadi gerakan sosial.

Ketika satu keluarga peduli kepada keluarga lain, lahirlah solidaritas.

Ketika satu RT peduli kepada warganya, lahirlah ketahanan sosial.

Ketika satu komunitas bergerak, lahirlah pemberdayaan.

Ketika berbagai komunitas berkolaborasi, lahirlah gerakan nasional.

Dan ketika gerakan nasional memiliki perspektif kemanusiaan universal, ia dapat berkontribusi pada persoalan global.

INDONESIA MEMBUTUHKAN SHOLEH SOSIAL

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan orang kaya. Tidak kekurangan orang yang memiliki jabatan dan pengaruh.

Yang sering kita kekurangan adalah orang yang mau menggunakan semua yang dimilikinya untuk memberi manfaat.

Orang berilmu yang mau mencerdaskan.

Orang kaya yang mau memberdayakan.

Orang berkuasa yang mau melayani.

Orang berpengaruh yang mau menyuarakan kebenaran.

Orang muda yang mau turun tangan.

Orang beragama yang menghadirkan rahmat bagi lingkungan sekitarnya.

Kita membutuhkan perubahan paradigma: dari “apa yang bisa saya dapatkan dari masyarakat?” menjadi “apa yang bisa saya kontribusikan kepada masyarakat?”

Inilah fondasi sholeh sosial.

DARI MEMBERI BANTUAN MENUJU MEMBERDAYAKAN

Kepedulian juga harus naik kelas.

Kita memang membutuhkan sedekah. Kita membutuhkan bantuan kemanusiaan. Kita membutuhkan santunan. Tetapi masyarakat tidak boleh selamanya ditempatkan sebagai penerima bantuan.

Orang miskin tidak hanya membutuhkan paket sembako. Mereka membutuhkan kesempatan.

Anak yatim tidak hanya membutuhkan santunan. Mereka membutuhkan pendidikan dan masa depan.

Muallaf tidak hanya membutuhkan bantuan sesaat. Mereka membutuhkan pendampingan, penguatan keimanan, penerimaan sosial, dan kemandirian.

Masyarakat tidak hanya membutuhkan donasi. Mereka membutuhkan pemberdayaan.

Karena itu, ukuran keberhasilan gerakan sosial bukan hanya berapa banyak bantuan yang dibagikan, tetapi berapa banyak kehidupan yang berhasil diubah menjadi lebih mandiri.

Inilah pergeseran penting: dari charity menuju empowerment.

SHOLEH SOSIAL DAN KEPEDULIAN GLOBAL

Dunia hari ini semakin terhubung. Persoalan kemanusiaan tidak lagi mengenal batas geografis.

Bencana di satu negara dapat menggugah solidaritas bangsa lain. Krisis pangan, perubahan iklim, konflik, migrasi, dan kemiskinan merupakan persoalan yang dampaknya dapat melintasi batas negara.

Karena itu, kepedulian seorang muslim juga tidak boleh berhenti pada kelompoknya sendiri.

Rahmat Islam harus memiliki wajah kemanusiaan.

Kita dapat berbeda bangsa, bahasa, budaya, dan latar belakang, tetapi penderitaan tetap membutuhkan pertolongan.

Sholeh sosial mengajarkan bahwa keberagamaan bukan alasan untuk membangun tembok kemanusiaan. Justru nilai agama seharusnya menjadi energi untuk memperluas manfaat.

UKURAN KESALEHAN ADALAH MANFAAT

Pada akhirnya, kita perlu mengoreksi cara kita mengukur kesalehan.

Jangan hanya bertanya berapa banyak ibadah yang kita lakukan.

Tanyakan pula:

Berapa banyak orang yang terbantu karena kita?

Berapa banyak masalah yang menjadi lebih ringan karena kehadiran kita?

Berapa banyak orang yang mendapatkan harapan karena tindakan kita?

Berapa banyak ilmu yang kita bagikan?

Berapa banyak kesempatan yang kita buka?

Berapa banyak orang lemah yang kita kuatkan?

Karena boleh jadi seseorang sangat dikenal karena kesalehan pribadinya, tetapi tidak banyak yang merasakan manfaat dari keberadaannya.

Sebaliknya, ada orang yang tidak banyak bicara tentang kebaikan, tetapi kehidupannya menjadi jalan bagi hadirnya banyak manfaat.

Kesalehan yang matang bukan hanya membuat seseorang dekat dengan Allah, tetapi juga membuat manusia di sekitarnya merasa aman, dihargai, dibantu, dan diberdayakan.

MENJADI PENGGERAK, BUKAN SEKADAR PENONTON

Kita tidak membutuhkan lebih banyak penonton terhadap persoalan sosial.

Kita membutuhkan penggerak.

Penggerak tidak selalu orang besar. Ia bisa seorang ibu rumah tangga, guru, pemuda, pengusaha, aktivis masjid, aparatur, profesional, atau siapa saja yang memilih untuk tidak tinggal diam.

Tidak harus menunggu memiliki banyak uang.

Tidak harus menunggu memiliki jabatan.

Tidak harus menunggu menjadi tokoh.

Mulailah dari apa yang kita punya, dari tempat kita berada, dan dari orang-orang yang ada di sekitar kita.

Sebab perubahan besar hampir selalu dimulai dari kepedulian kecil yang dilakukan secara konsisten.

Dari satu tangan yang menolong, lahir tangan-tangan lain yang mengikuti.

Dari satu hati yang peduli, lahir komunitas yang solidaritas.

Dari komunitas yang bergerak, lahir gerakan bangsa.

Dan dari bangsa yang memiliki kepedulian, lahir kontribusi bagi kemanusiaan global.

PENUTUP

Sholeh sosial bukan aksesori dari keberagamaan. Ia adalah konsekuensi moral dari keimanan.

Maka jangan biarkan kesalehan hanya terlihat di masjid, tetapi tidak terasa di masyarakat.

Jangan biarkan agama hanya terdengar dalam ceramah, tetapi tidak hadir dalam tindakan.

Jangan biarkan kepedulian berhenti pada kata-kata, unggahan, dan simbol.

Jadikan kesalehan sebagai energi perubahan. Jadikan kepedulian sebagai gerakan. Jadikan keberagamaan sebagai sumber manfaat.

Karena pada akhirnya, sebaik-baik keberagamaan adalah keberagamaan yang menghadirkan kemaslahatan; dari diri sendiri, kepada keluarga, lingkungan, bangsa, hingga kemanusiaan universal.

Sholeh secara pribadi.
Peduli secara sosial.
Bermanfaat secara nasional.
Dan hadir untuk kemanusiaan global.

You may also like