Hakikat Hijrah di Era Kekinian
Dr.H.Istajib Zain, S.E.,M.Ag,.Ph.D || Direktur Ikadi Bina Muallaf
Kata hijrah semakin populer di era modern. Istilah ini tidak hanya digunakan dalam konteks keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup, komunitas, bahkan tren media sosial. Namun, di tengah popularitas tersebut, penting untuk memahami bahwa hakikat hijrah dalam Islam bukan sekadar perubahan penampilan, lingkungan pergaulan, atau identitas sosial. Hijrah adalah perubahan mendasar menuju ketaatan kepada Allah SWT.
Secara bahasa, hijrah berarti meninggalkan atau berpindah. Dalam sejarah Islam, hijrah merujuk pada perpindahan Rasulullah ﷺ dan para sahabat dari Makkah ke Madinah demi menjaga keimanan dan menegakkan agama Allah. Namun secara maknawi, hijrah adalah meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah menuju apa yang dicintai dan diridhai-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa esensi hijrah bukanlah perpindahan fisik semata, melainkan transformasi diri menuju kebaikan.
Hakikat Hijrah di Era Kekinian
1. Hijrah dari Kemaksiatan Menuju Ketaatan
Di era digital, kemaksiatan begitu mudah diakses melalui gawai yang ada dalam genggaman. Karena itu, hijrah masa kini berarti berjuang meninggalkan dosa-dosa yang sering dianggap biasa, seperti ghibah di media sosial, penyebaran hoaks, konten yang merusak moral, hingga kelalaian dalam beribadah.
Hijrah sejati ditandai dengan meningkatnya kualitas hubungan seorang hamba dengan Allah melalui shalat yang lebih terjaga, tilawah Al-Qur’an yang lebih rutin, dan akhlak yang semakin baik.
2. Hijrah dari Lalai Menjadi Peduli
Banyak orang sibuk mengejar dunia hingga melupakan tujuan hidup yang sebenarnya. Hijrah berarti berpindah dari kehidupan yang hanya berorientasi pada materi menuju kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat.
Allah SWT berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)
Seorang yang berhijrah tidak meninggalkan dunia, tetapi menjadikan dunia sebagai sarana untuk meraih ridha Allah.
3. Hijrah dari Individualisme Menuju Kepedulian Sosial
Era modern sering melahirkan sikap individualistis. Padahal Islam mengajarkan ukhuwah, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama.
Hijrah bukan hanya memperbaiki diri, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi keluarga, tetangga, masyarakat, bangsa, dan umat. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
4. Hijrah dari Kebencian Menuju Persatuan
Di tengah maraknya polarisasi, perpecahan, dan konflik di masyarakat, hijrah juga berarti memperbaiki cara pandang dan sikap terhadap sesama. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling mencela dan memutus persaudaraan.
Seorang muslim yang berhijrah hendaknya menjadi pribadi yang menebarkan kedamaian, memperkuat persatuan, dan menjaga ukhuwah.
Tantangan Hijrah di Era Digital
Hijrah di zaman sekarang memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah kecenderungan menjadikan hijrah sebagai pencitraan. Tidak sedikit yang lebih fokus menampilkan simbol-simbol hijrah daripada memperbaiki hati dan amal.
Selain itu, godaan untuk kembali kepada kebiasaan lama juga semakin besar karena derasnya arus informasi dan pengaruh lingkungan. Oleh karena itu, hijrah memerlukan kesabaran, istiqamah, serta lingkungan yang baik.
Hijrah bukan proses instan, melainkan perjalanan panjang yang penuh ujian dan pembelajaran.
Penutup
Hakikat hijrah di era kekinian adalah perubahan diri secara menyeluruh menuju ketaatan kepada Allah SWT. Hijrah bukan sekadar perubahan penampilan, melainkan perubahan hati, pikiran, perilaku, dan tujuan hidup. Hijrah berarti meninggalkan segala yang dimurkai Allah menuju segala yang diridhai-Nya.
Maka ukuran keberhasilan hijrah bukanlah seberapa lama seseorang menyandang label “orang hijrah”, melainkan seberapa besar peningkatan iman, akhlak, dan manfaat yang ia berikan kepada sesama.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa berhijrah menuju kebaikan, istiqamah dalam ketaatan, dan wafat dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.
