Ketum IKADI Dorong KUII VIII Hasilkan Rekomendasi Tolak LGBT untuk Keselamatan Bangsa
Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (IKADI), K.H. Ahmad Kusyairi Suhail, M.A, yang mengikuti Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII mengapresiasi sambutan pembukaan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar, mendorong KUII VIII menghasilkan rekomendasi yang jelas dan tegas terkait penolakan terhadap praktik LGBT di Indonesia.
Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII berlangsung selama 3 hari (24 – 26 Juli 2026) di Hotel Bidakara, Jakarta.
Menurut kiai Kusyairi, yang juga dosen Fakultas Dirasat Islamiyah Universitas Islam Negeri Jakarta, sikap tersebut tepat sekali, karena MUI, sebagai rumah besar atau wadah pemersatu bagi seluruh organisasi masyarakat, ulama dan cendekiawan Islam di Indonesia, memiliki tanggung jawab untuk merespons berbagai perbuatan yang dinilai bertentangan dengan hukum agama dan nilai kepatutan.
Penolakan terhadap praktik LGBT di Indonesia adalah wujud nyata rasa sayang dan cinta kita kepada bangsa dan NKRI.
Karena kita tidak ingin azab Allah yang dijatuhkan kepada kaum Nabi Luth AS terjadi juga pada bangsa kita.
Firaun, seorang raja yang zalim, bengis dan mengaku tuhan saja, ketika diazab Allah, ditenggelamkan ke dalam laut merah, negerinya Mesir, masih ada. Namun berbeda dengan azab yang Allah timpakan kepada kaum Nabi Luth AS yang membumihanguskan jasad mereka serta negeri mereka.
Karena itu Ikatan Dai Indonesia, sebagai salah satu ormas Islam anggota MUI, ikut mendorong agar persoalan LGBT ini menjadi salah satu perhatian dalam rekomendasi yang dihasilkan KUII VIII.
“IKADI juga mengapresiasi penetapan Peraturan Presiden (PP) Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara 2025-2029, yang memetakan berbagai bentuk ancaman nonmiliter termasuk penyebaran budaya LGBTQ.
IKADI menilai langkah Presiden Prabowo Subianto ini sejalan dengan amanat konstitusi, bahwa negara memiliki tanggung jawab melindungi segenap bangsa Indonesia serta membangun kehidupan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila, agama dan budaya luhur bangsa” demikian kiai Kusyairi yang juga pimpinan pesanten YAPIDH Bekasi mengakhiri pernyataannya.
