Allah Selalu Ada, Hanya Hati yang Terkadang Merasa Tiada

by admin

Allah Selalu Ada, Hanya Hati yang Terkadang Merasa Tiada

H.Istajib Zain. SE.,M.Ag.,Ph.D || Direktur IKADI BINA Muallaf

“Allah itu antara ada dan tiada.”

Kalimat ini mungkin lahir dari kegelisahan jiwa. Namun dalam akidah Islam, ungkapan ini tidaklah tepat. Sebab Allah bukanlah Dzat yang keberadaan-Nya bergantung pada rasa atau logika manusia. Allah Maha Ada, keberadaan-Nya adalah kebenaran yang mutlak. Yang terkadang hadir dan tiada bukanlah Allah, melainkan hati kita dalam menyadari kehadiran-Nya.

Allah berfirman,

”Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid: 3)

Dia ada sebelum segala yang ada. Dia tetap ada ketika seluruh makhluk tiada. Dialah yang menciptakan waktu, mengatur kehidupan, menggenggam takdir, serta menghidupkan dan mematikan setiap insan.

Lalu mengapa terkadang kita merasa Allah begitu dekat, namun di waktu lain seakan jauh?

Bukan karena Allah berubah, tetapi karena hati manusialah yang berubah. Saat iman menguat, kita melihat kasih sayang-Nya di balik setiap nikmat. Saat sabar bertumbuh, kita menemukan hikmah di balik setiap musibah. Saat syukur bersemi, kita menyadari bahwa tidak ada satu helaan napas pun yang lepas dari rahmat-Nya.

Namun ketika hati dipenuhi dosa, disibukkan dunia, dipenjarakan hawa nafsu, dan dilalaikan oleh angan-angan, cahaya itu mulai redup. Bukan Allah yang menjauh, tetapi hati yang membangun hijab dengan Tuhannya.

Allah berfirman,

”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Bahkan Allah menegaskan,

”Dan sungguh Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” ( QS. Qaf: 16)

Betapa indah ayat ini. Kedekatan Allah bukanlah sesuatu yang harus diciptakan, melainkan sesuatu yang harus disadari. Allah selalu dekat. Yang sering menjauh adalah hati yang terlalu sibuk mengejar dunia.

Ironisnya, kita sering merasa Allah ada ketika doa dikabulkan, tetapi mulai ragu ketika doa ditangguhkan. Kita merasa Allah dekat ketika rezeki dilapangkan, tetapi mulai mengeluh ketika kesempitan didatangkan. Padahal Allah tidak pernah berubah. Yang berubah hanyalah cara pandang kita terhadap takdir-Nya.

Bukankah seorang ibu tetap menyayangi anaknya ketika memberinya makanan maupun ketika melarang sesuatu yang membahayakannya? Demikian pula Allah. Pemberian-Nya adalah kasih sayang, penundaan-Nya pun kasih sayang, bahkan ujian-Nya adalah bentuk kasih sayang yang mengantarkan seorang hamba menuju kematangan iman.

Rasulullah ﷺ bersabda,

”Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh nikmat, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa musibah, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”

(HR. Muslim)

Karena itu, jangan ukur kedekatan Allah dari banyaknya nikmat yang diterima, tetapi ukurlah dari seberapa dekat hati kita kepada-Nya. Sebab bisa jadi seseorang bergelimang harta, namun miskin zikir. Sebaliknya, ada yang hidup sederhana, tetapi hatinya dipenuhi ketenangan karena selalu bersama Rabb-nya.

Allah juga mengingatkan,

”Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

(QS. Ar-Ra’d: 28)

Maka tugas kita bukan mencari bukti bahwa Allah ada, karena seluruh alam adalah bukti keberadaan-Nya. Langit yang terbentang, bumi yang terhampar, hujan yang turun, matahari yang terbit, denyut jantung yang tak pernah kita perintah, hingga napas yang keluar-masuk tanpa kita kendalikan, semuanya adalah ayat-ayat yang menunjukkan kebesaran-Nya.

Tugas kita adalah membersihkan hati agar mampu melihat tanda-tanda itu dengan mata iman. Memperbanyak istigfar agar hijab dosa tersingkap. Memperbanyak zikir agar hati kembali hidup. Memperbanyak sujud agar jiwa kembali dekat. Sebab hati yang hidup akan menemukan Allah dalam setiap keadaan; ketika lapang ia bersyukur, ketika sempit ia bersabar, ketika diuji ia bertawakal, dan ketika berhasil ia tetap rendah hati.

Jangan pernah mengatakan bahwa Allah antara ada dan tiada. Katakanlah, Allah selalu ada. Allah selalu dekat. Allah selalu mendengar. Allah selalu melihat. Allah selalu mengabulkan dengan cara terbaik menurut ilmu-Nya.

Yang terkadang ada dan tiada hanyalah rasa hadir kita kepada-Nya. Jika hati dipenuhi zikir, Allah terasa begitu dekat. Jika hati dipenuhi maksiat, dunia, dan kesombongan, maka cahaya itu meredup oleh tabir yang kita ciptakan sendiri.

Semoga Allah menjadikan hati kita selalu hidup dalam mengingat-Nya, lisan kita basah dengan zikir kepada-Nya, langkah kita ringan menuju ketaatan kepada-Nya, dan jiwa kita mantap meyakini bahwa tidak pernah ada satu detik pun kehidupan ini tanpa penjagaan, kasih sayang, dan pertolongan-Nya. Karena Allah tidak pernah tiada. Yang sering tiada adalah kesadaran kita untuk selalu bersama-Nya.

You may also like