Transformasi Manajemen Organisasi dalam Mengokohkan Shaf Dakwah

by admin

Transformasi Manajemen Organisasi dalam Mengokohkan Shaf Dakwah

Oleh: Prof. Dr. Tulus Musthofa, Lc., M.A.
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Wakil Ketua Dewan Syura PP IKADI

Pertemuan para dai yang memiliki kesamaan fikrah menghadirkan suasana yang khas. Mereka datang dari profesi, lembaga, daerah, dan komunitas yang berbeda. Ada pengusaha, akademisi, birokrat, politisi, aparat, tenaga profesional, tokoh masyarakat, dan aktivis sosial. Selama ini, masing-masing telah berdakwah di medan pengabdiannya sendiri.

Ketika dipertemukan, seakan tidak ada jarak di antara mereka. Kerinduan terobati, pengalaman dipertukarkan, kegelisahan diungkapkan, dan gagasan-gagasan yang lama terpendam mulai mengalir. Terasa benar makna sabda Rasulullah saw.:

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu bagaikan pasukan-pasukan yang dihimpun. Ruh-ruh yang saling mengenal akan menyatu, sedangkan yang tidak saling mengenal akan berjauhan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Pertemuan semacam ini menyadarkan bahwa umat sebenarnya tidak kekurangan potensi. Para dai memiliki ilmu, pengalaman, jaringan, pengaruh sosial, kemampuan ekonomi, akses kebijakan, dan kekuatan komunikasi. Persoalannya, selama ini berbagai potensi tersebut masih berserakan, bergerak sendiri-sendiri, dan belum terhubung dalam suatu sistem kerja yang terpadu.

Ironi di Medan Dakwah

Di tengah besarnya potensi tersebut, terdapat sejumlah ironi yang perlu diakui dan dikoreksi dengan jujur. Dakwah yang seharusnya menyatukan umat terkadang justru menghadapi perpecahan di dalam organisasi dakwah sendiri. Energi yang semestinya digunakan untuk melayani masyarakat terkuras oleh perselisihan internal, perebutan pengaruh, dan konflik kepemimpinan.

Pemilihan pemimpin dalam organisasi kemasyarakatan Islam yang seharusnya menjadi proses musyawarah, regenerasi, dan distribusi amanah terkadang berubah menjadi arena persaingan. Jabatan yang sejatinya merupakan beban pengabdian diperebutkan seolah-olah menjadi kehormatan pribadi. Akibatnya, ukhuwah terluka, kader terbelah, dan masyarakat kehilangan keteladanan.

Ironi lainnya adalah menguatnya ego sektoral di antara berbagai kanal dakwah. Setiap lembaga merasa programnya paling penting, pendekatannya paling tepat, komunitasnya paling besar, atau manhajnya paling autentik. Keberhasilan kelompok lain tidak selalu dirasakan sebagai keberhasilan dakwah, bahkan terkadang dilihat sebagai ancaman terhadap eksistensi sendiri.

Padahal, tidak satu organisasi pun sanggup memikul seluruh pekerjaan dakwah. Ada organisasi yang kuat dalam pendidikan, tetapi terbatas dalam ekonomi. Ada yang memiliki basis massa besar, tetapi belum kuat dalam riset. Ada yang mampu menjangkau kebijakan, tetapi kurang hadir dalam pendampingan masyarakat. Ada yang kuat dalam pelayanan sosial, tetapi lemah dalam media dan teknologi.

Perbedaan tersebut semestinya melahirkan pembagian peran dan kolaborasi, bukan persaingan yang saling melemahkan.

Yang lebih memprihatinkan, sesama organisasi Islam terkadang sulit duduk bersama untuk menyusun agenda bersama. Mereka sama-sama mengajak kepada Islam, membaca Al-Qur’an yang sama, menghadap kiblat yang sama, dan mencintai Rasul yang sama, tetapi belum mudah menyatukan kekuatan untuk menjawab persoalan umat.

Fenomena سُوْءُ الظَّنِّ—prasangka buruk—juga masih mewarnai hubungan antarorganisasi Islam. Perbedaan kecil mudah dibesar-besarkan, sedangkan titik temu yang sangat luas justru diabaikan. Informasi yang belum jelas dipercaya, kesalahan saudara disebarluaskan, dan kelemahan kelompok lain terkadang dijadikan alat untuk meninggikan kelompok sendiri.

Allah Swt. telah mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. al-Ḥujurāt [49]: 12)

Lebih ironis lagi, setiap organisasi Islam memiliki pemimpin, tetapi pada tingkat umat belum terbentuk kepemimpinan kolektif yang mampu menyatukan arah. Kita memiliki banyak pemimpin sektoral, tetapi belum mempunyai forum kepemimpinan umat yang efektif. Setiap pemimpin kuat dalam lingkup organisasinya, tetapi belum seluruhnya terhubung dalam satu mekanisme musyawarah strategis untuk menghadapi persoalan bersama.

Akibatnya, suara umat sering terpecah, respons terhadap persoalan terlambat, program berjalan sendiri-sendiri, dan kekuatan besar umat tidak terkonversi menjadi pengaruh yang sepadan.

Inilah paradoks dakwah kita: banyak organisasi, tetapi kurang terorganisasi; banyak pemimpin, tetapi belum terbangun kepemimpinan bersama; banyak kegiatan, tetapi belum menghasilkan dampak kolektif; dan banyak potensi, tetapi masih berserakan.

Al-Qur’an Menghendaki Shaf yang Kokoh

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. al-Ṣaff [61]: 4)

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang keberanian berjuang, tetapi juga tentang kualitas barisan. Allah mencintai orang-orang yang berjuang secara صَفًّا—dalam barisan yang tertata, disiplin, terarah, dan saling menguatkan.

Al-Qur’an menggambarkannya sebagai بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ, bangunan yang tersusun rapat dan kokoh. Sebuah bangunan tidak menjadi kuat hanya karena memiliki batu-batu yang berkualitas. Batu-batu tersebut harus ditempatkan secara tepat, disusun berdasarkan rancangan, dan direkatkan satu sama lain.

Demikian pula dakwah. Banyaknya dai, luasnya jaringan, dan tingginya semangat belum otomatis melahirkan kekuatan apabila tidak dikelola dalam barisan yang rapi. Keunggulan individu baru menjadi kekuatan bersama ketika disatukan oleh visi, kepemimpinan, pembagian peran, koordinasi, dan disiplin organisasi.

Allah juga memperingatkan bahaya perselisihan:

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu. Bersabarlah; sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfāl [8]: 46)

Perbedaan tidak selalu dapat dihindari, tetapi perpecahan harus dicegah. Perbedaan pandangan dapat memperkaya pemikiran, sedangkan konflik yang tidak dikelola akan menghilangkan kekuatan.

الِاخْتِلَافُ يُدَارُ، وَالْخِلَافُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يَهْدِمَ الْائْتِلَافَ

“Perbedaan harus dikelola, dan perselisihan tidak boleh menghancurkan persatuan.”

Kebenaran Membutuhkan Organisasi

Terdapat ungkapan hikmah yang relevan untuk menggambarkan tantangan dakwah:

الْحَقُّ بِلَا نِظَامٍ قَدْ يَغْلِبُهُ الْبَاطِلُ بِنِظَامٍ
“Kebenaran yang tidak terorganisasi dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi.”

Kebenaran memiliki kekuatan moral, tetapi perjuangan menegakkannya tetap membutuhkan perencanaan, pembagian tugas, kaderisasi, komunikasi, pendanaan, evaluasi, dan kesinambungan. Niat ikhlas tidak menggantikan kewajiban bekerja secara profesional. Semangat yang tinggi juga tidak menggugurkan pentingnya manajemen.

Manajemen organisasi modern bukan berarti menjadikan dakwah kehilangan ruh spiritualnya. Justru manajemen merupakan sarana agar nilai dan tujuan dakwah dapat diwujudkan secara efektif. Ruh dakwah bersumber dari iman, keikhlasan, ukhuwah, dan pengabdian kepada Allah. Sementara manajemen memastikan agar ruh itu bergerak melalui organisasi yang sehat, teratur, produktif, dan berkelanjutan.

Dakwah membutuhkan hati yang ikhlas sekaligus pikiran strategis; semangat pengorbanan sekaligus kecakapan mengelola organisasi; kehangatan ukhuwah sekaligus ketegasan sistem.

Pertemuan Para Dai sebagai Ruang Rekonsiliasi
Dalam konteks berbagai ironi tersebut, pertemuan para dai menjadi sangat penting. Pertemuan bukan hanya untuk melepas kerinduan, mengenang masa lalu, atau memperluas perkenalan. Ia harus menjadi ruang untuk menghentikan prasangka, mencairkan kekakuan, mempertemukan potensi, dan membangun kembali kepercayaan.
Banyak prasangka tumbuh bukan karena perbedaan yang mendasar, tetapi karena jarang bertemu dan tidak terbangunnya komunikasi. Dari kejauhan, perbedaan tampak besar. Setelah duduk bersama, berbicara dari hati ke hati, dan mendengarkan pengalaman masing-masing, ternyata ruang persamaan jauh lebih luas daripada wilayah perbedaan.
Pertemuan para dai perlu diarahkan untuk membangun beberapa kesadaran. Pertama, bahwa organisasi hanyalah sarana, sedangkan dakwah adalah tujuan. Kedua, bahwa keberhasilan organisasi lain bukanlah ancaman, melainkan bagian dari kemenangan dakwah. Ketiga, bahwa tidak ada satu organisasi pun yang mampu mengerjakan seluruh agenda umat. Keempat, bahwa kolaborasi tidak harus menghilangkan identitas dan kemandirian masing-masing organisasi.
Kita tidak harus melebur seluruh organisasi menjadi satu. Yang diperlukan adalah menyatukan arah, menyepakati agenda bersama, membagi peran, dan menghindari benturan yang tidak perlu.
لَا يَلْزَمُ أَنْ نَكُونَ فِي تَنْظِيمٍ وَاحِدٍ، وَلَكِنْ يَجِبُ أَنْ نَكُونَ فِي صَفٍّ وَاحِدٍ
“Kita tidak harus berada dalam satu organisasi, tetapi kita harus berada dalam satu barisan.”
Dari Kepemimpinan Sektoral Menuju Kepemimpinan Kolektif
Setiap organisasi memerlukan pemimpin. Namun, persoalan umat tidak dapat diselesaikan hanya melalui kepemimpinan internal masing-masing. Umat membutuhkan kepemimpinan kolektif—الْقِيَادَةُ الْجَمَاعِيَّةُ—yang mempertemukan para pemimpin organisasi, ulama, akademisi, pengusaha, profesional, dan tokoh masyarakat.
Kepemimpinan kolektif bukan berarti membentuk satu pemimpin yang menguasai seluruh organisasi. Ia merupakan ruang musyawarah yang memungkinkan para pemimpin sektoral menyepakati arah strategis, merespons persoalan besar, membagi tugas, dan menyampaikan sikap bersama.
Dalam kepemimpinan kolektif, tidak ada organisasi yang kehilangan identitasnya. Setiap lembaga tetap bergerak sesuai karakter dan kompetensinya, tetapi terhubung dalam agenda kemaslahatan umat.
Prinsipnya bukan saling mengambil alih, tetapi saling melengkapi; bukan berkompetisi memperbesar kelompok, tetapi berlomba memperluas manfaat; bukan mencari siapa yang paling menonjol, tetapi memastikan umat memperoleh pertolongan.
Dari Ego Sektoral Menuju Ekosistem Dakwah
Transformasi manajemen dakwah membutuhkan perubahan cara pandang: dari melihat organisasi lain sebagai pesaing menjadi memandangnya sebagai mitra dalam sebuah ekosistem dakwah.
Dalam ekosistem tersebut, setiap kanal mempunyai peran. Organisasi pendidikan membangun kecerdasan umat. Lembaga filantropi menguatkan pelayanan dan kemandirian. Organisasi kepemudaan menyiapkan generasi penerus. Lembaga politik memperjuangkan kebijakan. Akademisi menyediakan kajian dan peta jalan. Pengusaha menopang kekuatan ekonomi. Media membangun narasi, sedangkan para dai menyemai nilai dan menjaga orientasi spiritual.
Setiap kanal tidak perlu mengerjakan semuanya. Ia harus unggul di bidangnya sekaligus bersedia berkolaborasi dengan pihak lain. Inilah prinsip:
تَكَامُلُ الْأَدْوَارِ لَا تَنَازُعُ الْأَدْوَارِ
“Saling melengkapi peran, bukan memperebutkan peran.”
Kolaborasi dapat dimulai dari agenda yang telah disepakati bersama, seperti pendidikan kader, penguatan ekonomi umat, dakwah digital, pembinaan keluarga, pelayanan sosial, penanggulangan kemiskinan, advokasi moral, serta respons terhadap persoalan kemanusiaan.
Dari Pertemuan Menuju Gerakan Bersama
Kesatuan fikrah harus bergerak melalui tahapan:
التَّعَارُفُ—saling mengenal;
التَّفَاهُمُ—saling memahami;
التَّآلُفُ—menyatukan hati;
التَّعَاوُنُ—bekerja sama;
التَّنْظِيمُ—membangun sistem;
التَّنْفِيذُ—merealisasikan program;
التَّقْوِيمُ—mengevaluasi dan memperbaiki.
Pertemuan yang hanya menghasilkan kehangatan akan menjadi kenangan. Pertemuan yang melahirkan agenda, pembagian peran, dan sistem kerja akan menjadi titik awal perubahan.
Para dai tidak perlu meninggalkan komunitas masing-masing. Setiap komunitas justru harus menjadi simpul kekuatan. Pengusaha menguatkan ekonomi umat; akademisi menyediakan gagasan, riset, dan peta jalan; birokrat membuka ruang pelayanan dan kebijakan; politisi memperjuangkan kemaslahatan publik; profesional menghadirkan inovasi; dan dai lapangan menjaga kedekatan gerakan dengan masyarakat.
Sudah saatnya dakwah bergerak:
dari prasangka menuju kepercayaan;
dari ego sektoral menuju sinergi;
dari kompetisi menuju kolaborasi;
dari kepemimpinan sektoral menuju kepemimpinan kolektif;
dari potensi yang berserakan menuju kekuatan yang terorganisasi;
dari banyaknya kegiatan menuju besarnya dampak;
dan dari kesatuan fikrah menuju kesatuan gerak.
نَلْتَقِي لِنَتَعَارَفَ، وَنَتَفَاهَمَ لِنَتَآلَفَ، وَنَتَعَاوَنَ لِنَتَنَظَّمَ، وَنَتَنَظَّمَ لِنَنْهَضَ بِالدَّعْوَةِ
“Kita bertemu untuk saling mengenal, saling memahami untuk menyatukan hati, bekerja sama untuk membangun organisasi, dan mengorganisasikan kekuatan demi kebangkitan dakwah.”
Dakwah terlalu besar untuk dimonopoli oleh satu organisasi dan terlalu berat untuk dipikul sendirian. Setiap organisasi boleh memiliki identitas, pemimpin, dan medan perjuangannya sendiri, tetapi semuanya harus merasa sebagai bagian dari satu umat dan satu risalah.
Banyak organisasi, tetapi satu umat. Banyak pemimpin, tetapi satu arah. Beragam kanal, tetapi satu risalah. Berbeda medan, tetapi tetap dalam satu shaf dakwah—kokoh seperti بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ.

You may also like