Peran Dai dalam Mewujudkan Kemandirian, Ketahanan, dan Kedaulatan Bangsa
Sinergi Dakwah Transformatif dengan Asta Cita Menuju Indonesia Emas 2045
Oleh: Dr. H. Istajib Zain, M.Ag., Ph.D. || Kepala Departemen Kepemudaan & Kepemimpinan PP IKADI
Dakwah sebagai Pilar Pembangunan Bangsa
Pembangunan bangsa yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, kemajuan teknologi, atau stabilitas politik. Di balik semua itu terdapat fondasi yang lebih mendasar, yaitu kualitas manusia. Bangsa yang besar lahir dari manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, sehat, produktif, serta memiliki semangat persatuan. Karena itulah dakwah memiliki posisi strategis dalam pembangunan nasional.
Dalam Islam, dakwah adalah proses transformasi individu, keluarga, masyarakat, dan peradaban. Allah SWT berfirman:
«”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).»
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan bangsa dimulai dari perubahan manusia. Di sinilah dai menjadi agen perubahan (agent of change) yang membangun karakter, memperkuat moral, dan menggerakkan masyarakat menuju kemajuan.
Sinergi Dakwah dengan Asta Cita
Asta Cita sebagai arah pembangunan nasional akan semakin kuat apabila ditopang oleh nilai-nilai agama. Dakwah bukan berada di luar pembangunan, tetapi menjadi ruh yang menghidupkan pembangunan agar tetap berorientasi pada keadilan, kemanusiaan, dan kemaslahatan.
Peran strategis dai dapat diwujudkan melalui delapan bidang pengabdian berikut.
- Dai sebagai Penguat Ideologi dan Karakter Bangsa
Dai menanamkan nilai keimanan, kejujuran, disiplin, amanah, cinta tanah air, dan semangat persatuan. Karakter merupakan modal utama dalam membangun bangsa yang mandiri dan berdaulat. - Dai sebagai Pendidik Peradaban
Majelis taklim, masjid, dan lembaga pendidikan Islam harus menjadi pusat literasi, pengembangan ilmu pengetahuan, serta pembentukan generasi unggul yang menguasai sains dan teknologi tanpa kehilangan akhlak. - Dai sebagai Penggerak Ekonomi Umat
Dakwah perlu mendorong lahirnya masyarakat yang produktif melalui kewirausahaan, ekonomi syariah, zakat, infak, sedekah, wakaf produktif, koperasi syariah, dan penguatan UMKM. Kemandirian ekonomi umat akan memperkuat ketahanan nasional. - Dai sebagai Penguat Ketahanan Keluarga
Keluarga merupakan benteng pertama bangsa. Dakwah harus memperkuat ketahanan keluarga melalui pendidikan akhlak, komunikasi yang sehat, perlindungan anak, dan pembinaan generasi Qurani. - Dai sebagai Pelopor Literasi Digital
Era digital menghadirkan peluang sekaligus ancaman. Dai harus hadir di ruang digital dengan dakwah yang mencerahkan, menangkal hoaks, ujaran kebencian, ekstremisme, judi daring, serta penyalahgunaan teknologi. - Dai sebagai Perekat Persatuan
Dai harus menjadi teladan dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah. Dakwah harus menghadirkan kesejukan, mempererat persaudaraan, dan merawat kebinekaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. - Dai sebagai Penggerak Kepedulian Sosial dan Lingkungan
Islam mengajarkan keseimbangan antara manusia dan alam. Dai perlu mengedukasi masyarakat tentang kepedulian terhadap lingkungan, mitigasi bencana, ketahanan pangan, serta budaya gotong royong sebagai bagian dari ibadah sosial. - Dai sebagai Mitra Strategis Pemerintah dan Masyarakat
Dai tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga menghadirkan solusi. Kolaborasi antara ulama, umara, akademisi, pelaku usaha, media, dan masyarakat merupakan modal penting dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dakwah Transformatif: Dari Mimbar Menuju Pemberdayaan
Tantangan zaman menuntut perubahan paradigma dakwah. Mimbar tetap penting, tetapi tidak lagi cukup. Dakwah harus hadir dalam bentuk aksi nyata: mendampingi UMKM, membina keluarga, mengembangkan pendidikan, memperkuat literasi digital, menggerakkan wakaf produktif, membangun kepedulian sosial, hingga membina generasi muda agar siap menghadapi era kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Dakwah yang hanya mengajak tanpa memberdayakan akan sulit menjawab persoalan umat. Sebaliknya, dakwah yang menghubungkan nilai Islam dengan solusi atas masalah kehidupan akan menjadi kekuatan besar dalam membangun bangsa.
Penutup
Indonesia Emas 2045 membutuhkan sumber daya manusia yang unggul sekaligus berakhlak. Karena itu, dai memiliki tanggung jawab strategis sebagai pembina karakter, penggerak pemberdayaan, penjaga persatuan, dan penguat ketahanan bangsa.
Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau besarnya investasi, tetapi juga oleh kualitas akhlak manusianya. Ketika para dai mampu membangun manusia yang beriman, berilmu, berintegritas, produktif, cinta tanah air, dan berorientasi pada kemaslahatan, maka kemandirian akan tumbuh, ketahanan akan menguat, dan kedaulatan bangsa akan semakin kokoh.
Dakwah yang dibutuhkan hari ini adalah dakwah yang mencerahkan akal, menenangkan hati, menggerakkan aksi, memberdayakan umat, dan memajukan negeri. Inilah dakwah transformatif yang akan menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, sebuah bangsa yang maju ekonominya, unggul sumber daya manusianya, kuat persatuannya, luhur akhlaknya, serta diridhai Allah SWT sebagai baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr.
