Majelis Alquran IKADI Prabumulih Bahas Tafsir Surat Al Humazah, Ingatkan Bahaya Kesombongan karena Harta
PRABUMULIH, FAJARSUMSEL.COM – Majelis Alquran yang diselenggarakan oleh Ikatan Dai Indonesia kembali menjadi ruang pembelajaran Al-Qur’an bagi masyarakat. Bertempat di Masjid Jami Al Muhajirin, Minggu (12/7/2026), kajian pekanan yang telah memasuki pertemuan ke-17 itu menghadirkan Ustadz Zayudi Anwar, M.H.I., dengan pembahasan tafsir Surat Al Humazah.
Ketua IKADI Prabumulih, M. Mufid, M.Pd.I., mengatakan Majelis Alquran merupakan agenda rutin untuk mengajak masyarakat semakin dekat dengan Al-Qur’an, tidak hanya melalui bacaan, tetapi juga dengan memahami dan mengamalkan isi kandungannya.
“Majelis Alquran ini kami hadirkan sebagai ikhtiar untuk mendekatkan masyarakat dengan Al-Qur’an. Harapan kami, setiap kajian tidak hanya menambah wawasan tentang tafsir, tetapi juga membentuk akhlak yang lebih baik, sehingga nilai-nilai Al-Qur’an benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Ustadz Zayudi Anwar menjelaskan bahwa Surat Al Humazah berisi peringatan keras terhadap perilaku orang yang gemar mengumpat, mencela, menggunjing, dan menyakiti orang lain. Menurutnya, salah satu penyebab munculnya sifat tersebut adalah rasa bangga yang berlebihan terhadap harta yang dimiliki.
Ia menegaskan, Islam tidak melarang umatnya memiliki kekayaan. Mengumpulkan maupun menghitung harta bukanlah perbuatan yang berdosa. Namun, persoalan muncul ketika harta dijadikan ukuran kemuliaan seseorang sehingga melahirkan kesombongan.
“Yang menjadi masalah bukan hartanya, tetapi ketika seseorang merasa lebih mulia karena hartanya, lalu merendahkan orang lain. Itulah yang diperingatkan dalam Surat Al Humazah,” jelasnya.
Zayudi mengatakan, dalam kehidupan sehari-hari tidak sedikit orang yang cenderung hanya bergaul dengan kalangan yang memiliki tingkat ekonomi yang sama, bahkan memandang rendah mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Padahal, lanjutnya, kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT tidak pernah diukur dari jumlah kekayaan yang dimiliki, melainkan dari ketakwaannya.
Ia juga meluruskan pemahaman tentang zuhud yang selama ini sering disalahartikan. Menurutnya, zuhud bukan berarti seseorang harus hidup miskin atau tidak memiliki harta.
“Seseorang bisa saja kaya tetapi tetap zuhud apabila hatinya tidak bergantung pada harta dan menjadikannya hanya sebagai amanah. Sebaliknya, orang miskin belum tentu zuhud jika hatinya terus dipenuhi kecintaan terhadap dunia,” terangnya.
Melalui kajian tersebut, jamaah diajak untuk senantiasa menjaga lisan dari perbuatan mengumpat, mencela, dan menghina sesama, serta menjadikan harta sebagai sarana beribadah dan berbagi, bukan sebagai alasan untuk menyombongkan diri ataupun meremehkan orang lain.
Kajian tafsir yang rutin digelar setiap pekan ini diharapkan terus menjadi wadah pembinaan umat, sehingga pemahaman terhadap Al-Qur’an tidak berhenti pada aspek teori, tetapi mampu diwujudkan dalam akhlak dan perilaku sehari-hari di tengah kehidupan bermasyarakat.



Sumber: fajarsumsel.com
