Dakwah: Amanah yang Menghubungkan Kita dengan Mata Rantai Kenabian

by admin

Dakwah: Amanah yang Menghubungkan Kita dengan Mata Rantai Kenabian

Prof. Dr. Tulus Musthofa, Lc., M.A.
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Wakil Ketua Dewan Syura PP IKADI

Tidak ada seorang pun yang menjadi muslim secara tiba-tiba. Keislaman yang hari ini kita nikmati merupakan buah dari perjalanan dakwah yang sangat panjang, dimulai sejak Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ lebih dari empat belas abad yang lalu. Cahaya Islam yang kini sampai kepada kita telah menempuh perjalanan lintas zaman, lintas negeri, lintas bahasa, dan lintas generasi.

Di balik sampainya hidayah itu kepada kita terdapat pengorbanan yang tidak terhitung. Ada para nabi yang dicaci, para sahabat yang disiksa, para ulama yang dipenjara, para dai yang diasingkan, para syuhada yang gugur di medan perjuangan, serta jutaan orang saleh yang menghabiskan usia, harta, tenaga, dan pikirannya demi menyampaikan risalah Islam kepada manusia.

Seandainya mereka bersikap egois dengan mengatakan, “Cukuplah kami menjadi muslim untuk diri kami sendiri,” niscaya Islam tidak akan pernah sampai kepada kita. Karena itu, keberadaan seseorang sebagai muslim sesungguhnya telah menjadi alasan moral yang sangat kuat untuk melanjutkan estafet dakwah. Kita menerima Islam melalui dakwah, maka sudah sepantasnya kita mewariskan Islam melalui dakwah pula.

Inilah hakikat bahwa dakwah bukan sekadar aktivitas tambahan dalam kehidupan seorang muslim, melainkan konsekuensi dari keislamannya sendiri.

Dakwah: Identitas Pengikut Nabi Muhammad ﷺ

Allah Ta’ala berfirman:

«قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

“Katakanlah: Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku sama-sama mengajak kepada Allah dengan penuh ilmu dan keyakinan.”
(QS. Yusuf: 108)»

Ayat ini sangat dalam maknanya. Allah tidak hanya memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk berdakwah, tetapi juga memasukkan seluruh pengikut beliau ke dalam barisan para penyeru kepada Allah.

Ungkapan “أنا ومن اتبعني” menunjukkan bahwa dakwah bukan hanya ciri Rasulullah ﷺ, tetapi juga ciri setiap orang yang benar-benar mengikuti beliau. Seolah-olah Al-Qur’an menegaskan bahwa ukuran mengikuti Nabi bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga turut mengemban misi dakwah yang beliau bawa.

Semakin sempurna ittiba’ seseorang kepada Rasulullah ﷺ, semakin besar pula kepeduliannya terhadap dakwah.

Dakwah Menghilangkan Egoisme dalam Beragama

Di antara penyakit yang dapat menimpa seorang muslim adalah merasa cukup dengan kesalehan pribadinya. Ia rajin beribadah, tetapi tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Ia merasa dirinya selamat meskipun masyarakat di sekitarnya jauh dari nilai-nilai Islam.

Padahal Islam tidak mendidik pemeluknya menjadi pribadi yang egois.

Seorang muslim sejati akan bertanya:

“Bagaimana keluargaku?”

“Bagaimana tetanggaku?”

“Bagaimana generasi muda?”

“Bagaimana umat ini?”

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang melahirkan dakwah.

Karena itu dakwah merupakan pendidikan terbesar untuk membunuh egoisme. Dakwah mengajarkan bahwa kebahagiaan seorang mukmin belum sempurna sebelum ia ikut mengantarkan orang lain menuju hidayah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«”Sungguh jika Allah memberikan hidayah kepada satu orang melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)»

Dakwah Adalah Amanah Seluruh Umat

Allah berfirman:

«”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali ‘Imran: 104)»

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

«”Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.”
(HR. al-Bukhari)»

Hadis ini menegaskan bahwa dakwah tidak hanya dilakukan dari mimbar. Dakwah dapat dilakukan sesuai kadar ilmu, profesi, kemampuan, dan kesempatan yang Allah berikan kepada setiap muslim.

Guru berdakwah melalui pendidikan.

Pedagang berdakwah melalui kejujuran.

Pejabat berdakwah melalui keadilan.

Orang tua berdakwah melalui keteladanan.

Mahasiswa berdakwah melalui intelektualitas dan akhlaknya.

Media sosial pun dapat menjadi ladang dakwah apabila digunakan dengan ilmu dan hikmah.

Mengapa Dakwah Menjadi Sebab Kemuliaan Umat?

Allah berfirman:

«”Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; kamu menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
(QS. Ali ‘Imran: 110)»

Predikat “umat terbaik” diberikan bukan karena identitas, jumlah, ataupun sejarah, melainkan karena umat ini menjalankan misi dakwah.

Selama dakwah hidup, umat memiliki masa depan.

Ketika dakwah mati, kemuliaan umat pun perlahan menghilang.

Bahaya Ketika Dakwah Ditinggalkan

Al-Qur’an menceritakan sebab kehancuran Bani Israil:

«”Mereka tidak saling melarang perbuatan mungkar yang mereka lakukan.”
(QS. al-Ma’idah: 79)»

Kemaksiatan yang tidak dicegah akhirnya menjadi budaya.

Kebatilan yang tidak diluruskan akhirnya dianggap sebagai kebenaran.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:

«”Kalian harus benar-benar menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Jika tidak, Allah akan menurunkan hukuman kepada kalian, kemudian kalian berdoa tetapi doa kalian tidak dikabulkan.”
(HR. at-Tirmidzi)»

Dakwah Dimulai dari Diri Sendiri

Allah memerintahkan:

«”Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdialoglah dengan cara yang paling baik.”
(QS. an-Nahl: 125)»

Karena itu dakwah bukanlah memaksa, bukan mencaci, bukan pula mempertontonkan kemarahan.

Dakwah adalah mengajak dengan ilmu, kasih sayang, keteladanan, kesabaran, dan kebijaksanaan.

Penutup: Menjadi Mata Rantai Dakwah

Setiap muslim sesungguhnya sedang berdiri di tengah mata rantai dakwah yang sangat panjang.

Di belakang kita terdapat Rasulullah ﷺ, para sahabat, para tabi’in, para ulama, para dai, para guru, dan orang tua yang telah menyampaikan Islam hingga akhirnya kita mengenal Allah.

Kini mata rantai itu berada di tangan kita.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita wajib berdakwah, tetapi apakah mata rantai itu akan berhenti pada diri kita atau terus tersambung kepada generasi berikutnya.

Jangan sampai kita menjadi generasi pertama yang menikmati hasil dakwah orang-orang sebelum kita, tetapi enggan meneruskannya kepada orang lain.

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari pewaris para nabi; orang-orang yang menjaga cahaya Islam agar terus menyinari manusia hingga akhir zaman.

“Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang mendapat petunjuk, memberi petunjuk kepada orang lain, menjadi sebab datangnya hidayah bagi manusia, serta wafat dalam keadaan membawa estafet dakwah Rasul-Mu. Aamiin.

You may also like