MENELADANI NABI SAW SEPENUH HATI

by admin

MENELADANI NABI SAW SEPENUH HATI

Oleh: K.H. Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, M.A.
Ketua Umum PP IKADI, Dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pimpinan Pondok Pesantren YAPIDH Bekasi

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا 
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS Al Ahzab (33): 21)

Bulan Rabi’ul Awal datang, kaum muslimin di banyak tempat merayakan peringatan Maulid Nab SAW. Konon, tujuannya adalah untuk menyadarkan umat untuk kembali beruswah hasanah atau mengambil contoh teladan yang baik pada diri baginda nabi besar Muhammad SAW. Logikanya dengan alasan ini, kondisi umat Islam harusnya semakin membaik dalam semua aspek kehidupan. Namun, kenyataannya tidak demikian. Kaum muslimin kini masih terbelakang dalam bidang ekonomi, politik, sains, tehnologi dan lain-lain. Hal ini disebabkan mayoritas kita masih parsial dalam menteladani Rasulullah SAW. Sehingga sebagian kita hanya menjadikan Nabi SAW teladan dalam ibadah mahdhah (ibadah khusus) semata. Sebagian lagi hanya meneladani beliau saat berdo’a. Yang lain menjadikan beliau teladan dalam berekonomi saja. Dan seterusnya. Sementara sosok Nabi SAW sebagai kepala rumah tangga (suami atau bapak), pedagang yang amin (jujur), juru dakwah yang tak gentar menyerukan amar ma’ruf nahi munkar, mujahid, politikus dan pemimpin yang adil tidak pernah diteladani.

Lafazh “Fii Rasulillah” Menunjukkan Keteladanan yang Total dan Universal
Ayat di atas meskipun konteksnya berisi seruan kepada kaum muslimin dalam perang Ahzab/Khandaq tahun 5 H agar menteladani panglima perang mereka, Rasulullah SAW dalam kesabaran, keberanian dan kesungguhannya, sesungguhnya memberikan pemahaman kepada kita agar menteladani Nabi SAW secara integral (utuh) dan universal (menyeluruh). Sebab, beliaulah aplikator ajaran Islam yang bersifat integral dan universal.
Hal ini diperkuat dengan penggunaan lafazh “Fii Rasulillah” (pada diri Rasulullah) dalam ayat tersebut. Sebab, keteladanan ini baru akan bersifat parsial jika redaksi Al Qur’an berbunyi “Fii Aqwaali Rasulillah” (pada ucapan Rasulullah) atau “Fii Af’aali Rasulillah” (pada perbuatan Rasulullah). Realitannya tidak demikian. Karenanya keteladanan dalam ayat di atas bersifat integral dan universal. Jadi, Rasulullah SAW adalah satu-satunya teladan utama kita dalam hidup beribadah, berrumah tangga, bermasyarakat, berda’wah, berekonomi, berpolitik, berjihad dan bernegara.
Pemahaman seperti inilah yang tercermin dari penafsiran para ulama terhadap ayat di atas. Dalam kajian Ibnu Katsir rahimahullah, ayat ini adalah prinsip/pijakan utama untuk menteladani Rasulullah SAW dalam semua aspek; ucapannya, perbuatannya dan semua keadaannya (Tafsir Ibnu Katsir IV/211).
Karena itulah dalam banyak kesempatan Nabi SAW sering memerintahkan kaum muslimin untuk selalu ittiba’ (mengikuti) jejak dan sunnah beliau. Seperti dalam urusan shalat, beliau SAW bersabda:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR Bukhari no. 631).
Saat memperagakan manasik haji, beliau SAW berpesan:
خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ
“Ambillah dariku manasik (haji) kalian” (HR Baihaqi di As Sunan Al Kubra V/125, lihat pula HR Muslim no. 1297).
Seorang mukmin sejati memahami benar, bahwa ucapan beliau SAW bermakna simbolik. Yakni bahwa dengan sabdanya tersebut sesungguhnya Nabi SAW ingin menyatakan: “Berkeluargalah kalian sebagaimana kalian melihat aku berkeluarga”, atau “Bermasyarakatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku bermasyarakat”, atau “Berda’wahlah kalian sebagaimana kalian melihat aku berda’wah”, atau “Berekonomilah kalian sebagaimana kalian melihat aku berekonomi”, atau “Berpolitiklah kalian sebagaimana kalian aku berpolitik dan mengatur masyarakat”, dan begitu seterusnya dalam semua aspek kehidupan.
Hal ini merupakan cara berIslam yang kaffah sebagaimana perintah Allah SWT:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةًۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (QS Al Baqarah (2): 208).

Tidak Semua Orang Mau Menjadikan Nabi SAW Suri Teladan
Menjadikan Nabi SAW suri teladan yang baik secara utuh dan menyeluruh bukan perkara mudah. Maka, tidak semua orang mau melakukan itu. Sebagian orang menjadikan penyanyi atau artis idolanya sebagai suri teladan dalam gaya hidup atau cara berpakaian. Sebagian lagi menteladani tokoh tertentu dalam menata rambutnya dll. Karena itulah di dalam ayat di atas Allah SWT membatasi hanya orang yang terhimpun padanya 3 (tiga) sifat yang mau menteladani Rasulullah SAW secara universal, yaitu:
Pertama: Orang yang selalu mengharap rahmat Allah. Sebab, ia sadar bahwa menteladani Nabi SAW pasti mendatangkan rahmat, mahabbah (cinta) dan maghfirah (pengampunan) dari Allah SAW dan merupaka konsekwensi logis mencintai Allah.
Perhatikan firman Allah SWT:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Katakanlah (Hai Muhammad): “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Ali ‘Imran (3): 31).
Kedua: Orang yang mengharap kedatangan hari kiamat. Sebab, ia yakin hari kiamat adalah hari pembalasan, sedangkan meneladani Nabi SAW secara universal adalah kebajikan yang pasti akan dibalas dengan kebajikan pula. Karenanya ia selalu merindukan hari pembalasan itu. Sementara mereka yang tidak pernah menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan akan selalu dihantui ketakutan dengan hari kiamat itu.
Ketiga: Orang yang banyak menyebut/mengingat Allah (dzikrullah). Sebab, ia sadar hidup ini selalu dalam muraqabatullah (pengawasan dan monitor Allah), dan menteladani Nabi SAW dalam semua aspek kehidupan membuat seluruh aktivitasnya bernilai ibadah dan itulah hakikat dzikir.

Meneladani Nabi SAW Sepenuh Hati, Termasuk dalam Kehidupan Rumah Tangga
Sesungguhnya keluarga SAMARA idaman kita semua hanya akan menjadi pepesan kosong jika tidak bercermin kepada kehidupan rumah tangga Nabi SAW dan tidak mengaplikasikan pesan-pesan spiritualnya yang terkait dengan hal ini.
Beliau adalah suami teladan bagi keluarganya, memperlakukan istrinya dengan akhlak karimah. Dalam persepsi nabawi, suami yang terbaik di jagat raya bukanlah mereka yang bergelar atau berpangkat tinggi atau paling kaya, melainkan suami yang paling baik dalam memperlakukan istrinya. Beliau SAW bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya. Dan saya adalah orang yang paling baik terhadap istriku” (HR Tirmidzi).
Beliau memanggil istrinya dengan panggilan yang menyenangkan, seperti saat memanggil Aisyah RA, terkadang dengan panggilan “Ya Humaira”, terkadang “Ya ‘Aisy” (HR Bukhari), di lain kesempatan memanggilnya dengan “Ya Ummu Abdillah” (HR Abu Dawud).
Di tengah kesibukannya mengurus umat dan negara ternyata sesampainya di rumah beliau SAW adalah suami yang ringan tangan membantu menunaikan tugas-tugas istrinya.
Seorang sahabat bernama Al Aswad RA penasaran ingin tahu bagaimana kehidupan Nabi SAW di tengah keluarganya. Ia bercerita: “Saya bertanya kepada Aisyah RA, “Apa yang dilakukan Rasulullah SAW untuk keluarganya (di rumah)?” Ia menjawab: “Beliau selalu membantu urusan rumah tangga dan apabila datang waktu shalat, beliau bergegas menunaikannya” (HR Bukhari).
Dalam riwayat lain saat ditanya seperti itu, Aisyah RA menjawab: “Beliau itu manusia biasa; membersihkan bajunya, memerah susu biri-birinya dan mengurusi dirinya sendiri” (Syamaa’il Ibnu Katsir I/78).
Dalam menahkodai bahtera rumah tangganya, Rasulullah SAW selalu mengedepankan prinsip ta’awun (tolong menolong dan kerja sama) dalam rangka ta’at kepada Allah SWT mengamalkan perintah-Nya:
“Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa” (QS Al Maa-idah (5): 2).
Di luar semua itu, ternyata Rasulullah SAW adalah suami yang romantis dan suka berdandan untuk istrinya. Sebab, berdandannya suami untuk istri ataupun sebaliknya merupakan hal yang dicintai Allah SWT dan Rasul-Nya SAW sebagaimana sabdanya:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ : إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidaklah masuk surga orang yang dalam hatinya masih ada sebiji atom kesombongan”. Lalu seseorang berkata: Sesungguhnya ada orang yang suka berpakaian bagus dan bersandal bagus. Apakah itu termasuk sombong? Rasulullah SAW menjawab: “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Kesombongan itu menolak kebenaran dan merendahkan manusia” (HR Muslim, no. 2749).
Berdandan seperti itu dapat menambah rasa cinta sehingga menjadikannya betah untuk selalu memandang dan berada di sampingnya. Maka, semakin kokohlah jalinan cinta dan untaian kasih sayang serta bertaburanlah bunga-bunga kebahagiaan dalam mahligai rumah tangga. Sehingga rumah dan keluarga benar-benar manjadi surga dunia yang paling indah.
Masihkah kita enggan meneladani Nabi SAW sepenuh hati dalam semua urusan kehidupan kita??!!

Bekasi, 12 Rabiul Awal 1448 H/25 Agustus 2026 M

You may also like