PRABUMULIH – Semangat dakwah menyelimuti perjalanan rombongan Sekolah Dai Angkatan ke-6 yang digagas oleh Pengurus Daerah Ikatan Dai Indonesia (PD IKADI) Kota Prabumulih. Pada Ahad (3/5), puluhan peserta didik beserta jajaran pengurus menempuh perjalanan menuju Kabupaten Ogan Ilir dalam rangka agenda Rihlah dan Silaturahmi ke salah satu institusi pendidikan Islam terbesar di Sumatera Selatan, Pondok Pesantren Raudhatul Ulum (PPRU) Sakatiga.
Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan rekreasi, melainkan bagian dari strategi penguatan mental dan intelektual bagi para calon dai sebelum mereka terjun langsung melayani umat di Kota Prabumulih.
Ketua PD IKADI Kota Prabumulih Mohamad Mufid, M.Pd.I dalam sambutannya, menekankan bahwa seorang dai tidak boleh memiliki pemikiran yang sempit. Menurutnya, kunjungan ke Ponpes Raudhatul Ulum bertujuan agar para peserta dapat melihat spektrum dakwah yang lebih luas.
“Peserta Sekolah Dai Angkatan 6 ini adalah ujung tombak syiar di masa depan. Kami membawa mereka ke sini agar mereka melihat bagaimana sebuah nilai Islam dikelola secara profesional dan berkelanjutan. Sesuai dengan tema sekolah dai (Apapun Profesinyo Kito Pacak Dakwah Galo), kami ingin wawasan mereka terbuka, bahwa dakwah itu luas—mencakup pendidikan, ekonomi, hingga pemberdayaan sosial. Semua bisa berperan dakwah sesuai dengan profesinya masing-masing.” jelasnya.
Setibanya di kompleks pesantren yang asri tersebut, rombongan disambut oleh jajaran pengasuh dan mudir pondok. Agenda diawali dengan sesi Kuliah Umum (Stadium Generale) yang dipandu langsung oleh pimpinan Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga, KH. Tol’at Wafa Ahmad, Lc bertajuk “Peran Da’i Antara Dulu dan Masa Kini”. Dalam sesi ini, para peserta diajak berdiskusi mengenai cara mengemas pesan-pesan agama agar tetap relevan namun tidak kehilangan jati diri di tengah arus modernisasi.
Selain diskusi formal, para peserta juga diajak melakukan Tour de Pesantren untuk meninjau berbagai fasilitas pendidikan dan unit usaha mandiri milik pondok. Hal ini diharapkan dapat memicu kreativitas para peserta agar nantinya mampu membangun dakwah yang mandiri secara ekonomi di lingkungannya masing-masing. Setelah itu, peserta juga berwisata religi ke Masjid Bayumi Wahab dan Pesona Danau Biru Ogan Ilir.
Tujuan utama dari rihlah ini adalah untuk memantapkan keyakinan. Mengingat tantangan dakwah di perkotaan seperti Prabumulih yang kian kompleks, mentalitas seorang dai harus ditempa dengan melihat keberhasilan institusi-institusi Islam dalam bertahan dan berkembang.
Salah satu peserta Sekolah Dai – Buyung Partoni yang didampingi Kepala Sekolah Dai Angkatan 6 – M. Zahri Dessa Putra mengungkapkan bahwa kunjungan ini menjadi momen titik balik baginya. Ia mengaku sempat ragu dengan kapasitas dirinya sebagai calon dai, namun setelah berinteraksi dengan para asatidz di Sakatiga, kepercayaan dirinya meningkat.
“Kami pulang dengan tangki semangat yang penuh. Wejangan tadi menyadarkan kami bahwa menjadi dai bukan soal seberapa hebat kita di mimbar, tapi seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan untuk umat. Rihlah ini benar-benar ‘mengecas’ iman kami,” ungkapnya optimis.
Dengan berakhirnya kegiatan rihlah ini, PD IKADI Kota Prabumulih berharap para peserta Sekolah Dai Angkatan 6 dapat segera menyelesaikan masa studinya dengan hasil terbaik. Harapannya, mereka akan kembali ke masyarakat sebagai sosok dai yang moderat, berwawasan luas, dan mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat Kota Nanas.
Sebagai bentuk komitmennya, IKADI Prabumulih tetap mendampingi peserta Sekolah Dai pada kegiatan rutin pekanan untuk menjaga stamina ruhiyah, silaturahmi dan wawasan ilmu agamanya.
Reporter: Staf Humas IKADI Kota Prabumulih
Fotografer: Heriwandri Saputra
Editor: Redaktur Idwan Adsansi






