Hadiri Sidang Itsbat 1 Syawal 1447 H, IKADI Dorong Pendekatan Fiqhul Qulub Selain Fiqhul Kutub

by admin

Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Dr. K.H. Ahmad Kusyairi Suhail, M.A. menghadiri Sidang Itsbat 1 Syawal 1447 Hijriah, Kamis (19/3/2026) sebagai wujud komitmen IKADI sebagai ormas Islam ikut serta merumuskan keputusan krusial dan penting keagamaan, khususnya terkait penentuan hari raya Idul Fitri, Idul Adha juga sebelumnya 1 Ramadhan, yang setiap tahunnya kerap menjadi perhatian masyarakat.
Kegiatan Sidang Itsbat digelar di Auditorium H.M. Rasjidi, Kementerian Agama RI, Jalan Thamrin No. 6 Jakarta.
Setiap tahun, menurut dosen Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta, selalu muncul polemik perdebatan antara metode hisab, metode rukyat, maupun konsep hilal global dan lokal.
Kalau hanya berpatokan kepada beragam ijtihad metode penentuan awal bulan Hijriah dan berpegangan kepada Fiqhul Kutub, fiqh literatur kitab-kitab fiqh klasik, maka masalah ini tidak akan pernah bisa diselesaikan. Artinya pasti akan selalu berpotensi muncul perbedaan karena masing-masing memiliki dalil dan argumentasi serta pendekatan yang berbeda. Tetapi, akan berbeda ceritanya, jika penyelesaikan polemik ini dengan pendekatan Fiqhul Qulub, yaitu fiqh kebesaran dan kelapangan hati untuk mencoba dengan sungguh-sungguh mencari titik temu demi kesempurnaan kebahagiaan bersama dalam merayakan hari raya. Tentu saja, ini membutuhkan pengorbanan yang luar biasa dari masing-masing pihak yang selama ini sering berseberangan.
Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW, “Berpuasa itu pada hari kalian berpuasa dan berbuka itu pada hari kalian semua berbuka” (HR Tirmidzi, no. 633).
Apalagi ketika kita berada di satu negara, yang dalam banyak urusan keagamaan kita juga diatur menyatu bersama-sama. Seperti urusan pernikahan, perceraian, zakat, haji dan umrah, sehingga diharapkan ke depan bisa dicari titik temu dengan pendekatan Fiqhul Qulub.
Tapi apapun hasil Sidang Itsbat, kita harus selalu menjaga persatuan dan kesatuan dengan tetap menghormati perbedaan jika itu terjadi. Demikian kiai Kusyairi, yang juga merupakan pimpinan pondok pesantren YAPIDH Bekasi mengakhiri penjelasannya.

You may also like