Home Berita Nusantara

Nusantara

 

Hasyim Muzadi: Bedakan antara SARA dan Aspirasi

Hasyim Muzadi: Bedakan antara SARA dan Aspirasi

Jakarta - Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi meminta para penggiat demokrasi dan HAM di Indonesia secara jujur bisa memilah antara pengertian SARA yang merusak persatuan dan aspirasi yang merupakan pilar yang sah di dalam demokrasi Indonesia .

"Kaum muslimin yang membaca teks kitab suci di lingkungan sendiri (masjid, musolla, dan madrasah tidak boleh disebut SARA karena negara (Pancasila) tidak boleh mengintervensi agama sebagai ajaran. Baru boleh dibilang SARA manakala bunyi teks itu dipaksakan untuk menciptakan konflik sosial," kata Hasyim Muzadi di Jakarta, Senin (10/9/2012).

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam ini mengatakan, umat beragama lain pun bisa melakukan hal yang tanpa takut disebut SARA. "Kaum kristianipun bebas sebebasnya bicara teks injil di gereja-gereja tanpa boleh disebut SARA," jelasnya.

Hasyim Muzadi mencontohkan, dalam kasus video pidato Rhoma Irama, yang dianggap menyinggung masalah SARA. Ia menilai orang yang menyebut video pidato Rhoma Irama sebagai penghembus isu SARA yang kemudian memicu benturan dan perdebatan di kalangan masyarakat.

"Ternyata video ceramah Rhoma Irama di masjid masuk ke ruang publik, televisi dan media bukan Rhoma Irama yang bawa. Jadi yang bawa itulah sebenarnya yang menghembuskan isu SARA," jelasnya.

Dikatakannya, sepanjang teks agama berada di pemeluknya masing-masing tetap dalam wilayah aspirasi, dan harus dilindungi negara . "Yang diatur negara adalah bagaimana ketika aspirasi-aspirasi itu masuk di ruang publik agar tidak menjadi benturan sosial," jelas Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS) ini.

Dengan demikian, kata Hasyim, kaum muslimin tidak perlu ragu membawa aspirasi sesuai dengan keyakinan, serta mewaspadai gerakan yang memutar balik tatanan dengan bungkus melawan dominasi mayoritas tapi sesungguhnya membangun tirani minoritas. "Kaum muslimin berhak mengatakan, 'inilah aspirasi kami, tanpa mengurangi hak agama atau komunitas lain dalam harmoni demokrasi'," tandasnya.

Sumber:inilah.com .

 

 

Kemenag: Aliran Baru Muncul Akibat Kekosongan Dakwah

Kemenag: Aliran Baru Muncul Akibat Kekosongan Dakwah

JAKARTA-- Kerukunan antar umat beragama kembali terusik dengan aksi bentrokan antara kaum Syiah dengan anti-Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur, Ahad, (27/8) kemarin.

Menteri Agama (Menag), Suryadharma Ali menilai munculnya aliran-aliran baru di sejumlah daerah di Indonesia karena ada kekosongan dakwah. "Masyarakat ingin dakwah, kita tidak bisa memberikannya. Lalu ada dakwah dari luar, dan tumbuh menjadi besar,’’ kata Ali. 

Karena itu, Ali meminta agar para Kantor Wilayah (Kanwil) untuk meningkatkan kepekaan terhadap potensi aliran baru ini. ‘’Saya minta kepada Kanwil untuk mengidentifikasi di daerah masing-masing,’’ tambah dia. 

Ali menambahkan kanwil di daerah setempat juga harus selalu berkoordinasi dengan Pangdam Jaya dan Polisi terkait hal tersebut. ‘’Perlu koordinasi dengan Pangdam Jaya dan polisi. Hal ini agar potensi konflik bisa dideteksi secara dini,’’ kata dia. 

Para Kanwil dan ulama, menurut dia, juga harus meningkatkan dakwah kepada masyarakat. Dakwah, ujarnya, sangat penting bagi masyarakat. Ia juga meminta agar permasalahan seperti di Sampang diselesaikan secara menyeluruh.’’Jangan kalau lagi ada masalah baru diselesaikan. Tapi ini harus diselesaikan secara menyeluruh,’’ pungkasnya. 

Seperti diketahui sebelumnya, bentrok kembali terjadi antara kelompok Syiah dan anti-Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kec Omben, sekitar pukul 11.00 pada Ahad, (26/8).

IKADI Kecam Game 'Jadi Tuhan' di Facebook

IKADI Kecam Game 'Jadi Tuhan' di Facebook

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ikatan Da'i Indonesia (IKADI) prihatin dengan munculnya permainan 'menjadi tuhan' dalam game Idle Worship di situs jejaring sosial Facebook. 

Selain dilarang oleh agama, permainan itu juga berbahaya bagi pertumbuhan psikologis para pemainnya, terutama anak-anak dan remaja. "Mempermainkan sesuatu yang disakralkan adalah sebuah tindakan yang berbahaya. Bahkan hal itu dilarang dalam Islam," kata Ketua Pengurus Pusat IKADI, Ahmad Satori Ismail, kepada Republika, Sabtu (4/8).

Ia menjelaskan, ajaran Islam melarang umatnya melakukan sesuatu yang dapat mengarah pada penistaan agama. Ia mencontohkan, haram hukumnya bagi seorang Muslim untuk menghina atau mempermainkan simbol-simbol dari agama lain. "Itu artinya kita tidak boleh menjadikan masalah ketuhanan, kenabian atau simbol-simbol agama sebagai barang mainan. Dalam Alquran disebutkan bahwa orang-orang yang mempermainkan persoalan agama adalah ciri-ciri orang munafik," tuturnya.

Ia menilai permainan tersebut dapat mempengaruhi psikologis para pemainnya. Terlebih, akan semakin berbahaya jika game itu dimainkan oleh anak-anak dan remaja yang masih mencari jati diri. "Jika anak-anak dibiasakan bermain sebagai tuhan yang bisa berbuat segala hal, maka itu akan membentuk karakter yang selalu ingin berbuat sekehendak hatinya," tandasnya.

Dalam Idle Worship yang dapat dimainkan di Facebook, para pemain digambarkan sebagai tuhan yang menciptakan makhluk hidup yang disebut bangsa Mudling atau manusia lumpur. Agar terus dapat disembah oleh para Mudling, pemain dibebaskan untuk memperlakukan makhluk-makhluk sesuai kehendak hati. Pemain bisa memberikan siksaan, mengirim bencana alam, menjatuhkan kutukan dan sebagainya untuk menunjukkan eksistensinya.

Pemain juga dapat berbuat baik pada makhluknya dengan mengirimkan utusan atau nabi dan memberikan berbagai macam anugerah. Pemain juga dapat memerintahkan makhluk-makhluknya untuk berperang melawan bangsa Mudling lain milik pemain lainnya yang terhubung lewat jaringan internet. 

Gramedia keluarkan Buku Menghina Nabi Muhammad

Gramedia keluarkan Buku Menghina Nabi Muhammad

Buku '5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia' karya Douglas Wilson terbitan Gramedia sangat menghina Nabi Muhammad. Permasalahan ini terungkap dari surat pembaca salah satu media koran di Jakarta.
 
Dalam buku tersebut dikatakan bahwa nabi Muhammad seorang perampok dan perompak.
 
Buku itu menjelaskan tentang 5 (lima) kota yang berpengaruh didunia, yakni Yerusalem (Israel), Athena (Yunani), Roma (Italia), London (Inggris) dan New York (Amerika). Di tegaskan dalam buku tersebut Yerusalem murni milik Israel bukan Palestina.
 
Yang sangat mengagetkan adalah di halaman 24 ketika membahas kota Yerusalem, disitu ditulis,"Selanjutnya ia (Muhammad) memperistri beberapa wanita lain. Ia menjadi seorang perampok dan perompak, memerintahkan penyerangan terhadap karavan-karavan Mekah. Dua tahun kemudian, muhammad memerintahkan serangkaian pembunuhan demi meraih kendali atas Madinah, dan di tahun 630 SM ia menaklukan mekkah."
 
Begitu pula pada halaman 25 alinea kedua dan ketiga. penulis menafsirkan bahwa agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad selalu ditegakkan dengan pedang.
 
"Terbitnya sebuah buku sudah melewati seleksi editor yang sangat ketat sehingga Gramedia harus bertanggung jawab terhadap terbitnya buku ini." Ungkap Fahmi Salim kepada media.
 
Menurut anggota Komisi Kajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini, Jika penerjemah dan editor buku sudah mengetahui ada pernyataan penulisnya Douglas Wilson semacam itu yang melukai umat Islam semestinya juga tidak direkomendasi untuk dicetak Gramedia dan didistribusikan di tengah Indonesia yang mayoritas beragama Islam.
 

"Terlepas dari adanya unsur kesengajaan atau alpa, nasi sudah jadi bubur maka saya harap seluruh buku yang telah beredar di toko-toko segera ditarik." pungkasnya.

 

Sumber:Islamedia.

Hasyim Muzadi: Tuduhan Intoleransi Agama di Indonesia Tidak Berdasar

Hasyim Muzadi: Tuduhan Intoleransi Agama di Indonesia Tidak Berdasar

Jakarta - KH. Dr. Hasyim Muzadi, Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace), Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars), dan anggota Dewan Penasehat Majelis Ulama Indonesia, menyayangkan tuduhan intoleransi agama di Indonesia yang sempat muncul saat Sidang PBB di Jeneva.

 

Mantan Ketua umum PBNU itu mengungkap, munculnya isu tersebut dalam pembahasan di forum dunia itu, pasti karena laporan dari dalam negeri Indonesia. "Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara muslim mana pun yang setoleran Indonesia. Kalau yang dipakai ukuran adalah masalah Ahmadiyah, memang karena Ahmadiyah menyimpang dari pokok ajaran Islam, namun selalu menggunakan stempel Islam dan berorientasi Politik Barat," paparnya.

 

Menurut Hasyim, jika Ahmadiyah menjadi agama tersendiri, pasti tidak dipersoalkan oleh umat Islam. "Kalau yang dilihat dunia internasional adalah kejadian di GKI Yasmin Bogor, saya berkali-kali ke sana, namun tampaknya mereka tidak ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional dan dunia unutk kepentingan lain daripada menyelesaikan masalahnya," kata Hasyim.

 

Pembangunan gereja, kata Hasyim, harus mempertimbangkan faktor lingkungan. Di Jawa, pendirian gereja memang cenderung sulit. Sama halnya dengan di Kupang (Batuplat), pendirian masjid juga sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di Papua. "Karena itu, ICIS selalu melakukan mediasi," tegas Hasyim.

 

Hasyim mencontohkan kasus hadirnya Lady Gaga dan Irsyad Manji yang menghebohkan negeri ini. "Bangsa mana yang mau tata nilainya dirusak? Kecuali mereka yang ingin menjual bangsanya sendiri untuk kebanggaan Intelektualisme kosong," tegas Hasyim.

 

Kalau ukurannya Hak Asasi Manusia (HAM), Hasyim menyorot kondisi di Papua, dimana TNI/Polri dan Imam Masjid berguguran. "Mengapa tidak ada yang menyebutnya sebagai pelanggaran bicara HAM?" ujarnya.

 

Di mata Hasyim, Indonesia lebih baik toleransinya ketimbang Swiss, yang sampai sekarang tidak memperbolehkan Menara Masjid. Juga lebih baik dari Perancis yang masih mempersoalkan Jilbab. Indonesia pun lebih baik dari Denmark, Swedia dan Norwegia, yang tidak menghormati agama, karena di sana ada UU Perkawinan Sejenis. "Agama mana yang memperkenankan perkawinan sejenis?" kata Hasyim.

 

Akhirnya, ujar hasyim, kembali kepada bangsa Indonesia. Kaum muslimin sendiri yang harus sadar dan tegas untuk membedakan mana HAM yg benar (humanisme) dan mana yang sekedar Westernisme.

 

Sumber:mui.or.id/gatra.com

Page 10 of 23
ikadi-fbquotes-07-tetaplah.jpg

Artikel Terbaru

Rohingya dan Dunia yang Terluka

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radika... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1874
mod_vvisit_counterYesterday2038
mod_vvisit_counterThis week7843
mod_vvisit_counterLast week13129
mod_vvisit_counterThis month42423
mod_vvisit_counterLast month69797
mod_vvisit_counterAll days3766527