Home Berita Nusantara

Nusantara

 

MUI Jatim: Jilbab Ketat dan Transparan Haram

MUI Jatim: Jilbab Ketat dan Transparan Haram

SURABAYA -- Maraknya fenomena jilboobs akhir-akhir ini membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur (Jatim), mengharamkan pemakaian jilbab atau kerudung yang ketat membentuk lekuk tubuh atau transparan.

Ketua MUI Jatim Abdusshomad Buchori mengatakan, setiap perempuan Muslim harus menjaga diri. Menjaga diri yang paling berat dalam hal ini yaitu aurat. Artinya, setiap Muslimah seharusnya memakai jilbab dan kerudung untuk menutup aurat. 

“Jilbab yang sesuai syariat yaitu pakaian longgar yang tidak membentuk tubuh atau transparan sehingga kulit terlihat dan kerudung yang dipakai yaitu menjulur menutupi dada. Jadi aurat yang boleh terlihat adalah wajah dan telapak tangan,” ujarnya kepada Republika, Jumat (8/8) malam.

MUI diakuinya juga sudah memberi fatwa bahwa jika berpakaian tidak memenuhi aturan Islam hukumnya tidak diperbolehkan atau haram. Jadi, kata dia, pemakaian jilbab bukan sekadar menutup rambut melainkan memenuhi dua ketentuan itu. Namun sayangnya, kata dia, saat ini banyak Muslimah yang menutup aurat dengan memakai kerudung tetapi membentuk lekuk tubuh, termasuk di bagian depan. 

Artinya, secara fisik memang ditutup tetapi ada upaya menunjukkan bentuk tubuhnya kepada orang lain. Terlebih, dia melanjutkan, sekarang ini perancang busana semakin pintar dalam mendesain baju yang terlihat tertutup namun tidak memenuhi dua syarat tadi. 

“Nah ini yang tidak dibenarkan sehingga harus dinasehati. Kalau memutuskan berhijab ya ikhlaslah meniru cara berpakaian seperti yang telah diajarkan Islam,” ujarnya. 

Akhir-akhir ini fenomena jilboops yang terdiri dari kata jilbab dan boobs (payudara) diperbincangkan banyak pihak. Muslimah yang menggunakan jilboobs hanya memakai kerudung diatas dada dan pakaian ketat membentuk lekuk tubuh.

 

Ketua BAZNAS: Sinergi BAZNAS dan LAZ Tak Terpisahkan

Ketua BAZNAS: Sinergi BAZNAS dan LAZ Tak Terpisahkan

JAKARTA--Dengan atau tanpa peraturan pemerintah (PP) pengelolaan zakat, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) harus tetap bersinergi.

Ketua Umum BAZNAS Didin Hafiduddin, Rabu (5/2), menuturkan dari regulasi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh LAZ dan sudah mendukung pada upaya sinergitas BAZ dan LAZ. Jadi RPP bisa secepatnya bisa disahkan. Tapi tanpa PP, baik BAZNAS maupun LAZ, tidak boleh stagnan bergerak.

BAZNAS dan LAZ harus terus menjalin kerja sama. BAZNAS juga mulai meminta bank untuk tidak mengelola dana zakatnya sendiri tapi oleh lembaga zakat profesional. Laporan zakatnya pun akan dipublikasikan oleh pengelola zakat. Bank fokus mencari keuntungan. ''Jadi sama-sama meningkatkan kualitas,'' kata Didin.

Tentang pembagian peran BAZNAS dan LAS seperti yang tertera dalam UU 23 tahun 2011, Didin mengatakan jalankan saja seperti yang ada sekarang. Jikapun dikerucutkan di BAZNAS, diakui Didin BAZNAS tetap butuh kerjasama dengan LAZ. BAZNAS tetap butuh bantuan untuk menyalurkan zakat ke daerah-daerah.

''Uang zakat itu uang umat, bukan uang lembaga. Lembaga bukan pemillik dana. Sehingga masyarakat merasa memiliki dan ikut mengawasi. Jangan berbangga-bangga dengan dana yang besar,'' kata dia.

Jadi, BAZNAS dan LAZ saling mendukung. Dari dulu pun Didin melihat memang tidak ada masalah. Persepsi atas UU 23 saja yang berlebihan seolah-olah mengekang, padahal tidak begitu. (rol)

Baznas Canangkan Lima Program Unggulan Penanganan Zakat

Baznas Canangkan Lima Program Unggulan Penanganan Zakat

BALIKPAPAN -- Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) selama 13 tahun terakhir telah bertransformasi menjadi lembaga amil zakat nasional yang memainkan peranan penting. Banyak capaian yang diperoleh Baznas.

"Sejak awal berdirinya Baznas mencanangkan lima program unggulan dalam menangani perzakatan nasional. Kelima program ini berdasarkan analisa terhadap ajaran zakat serta kondisi faktual ditengah tengah masyarakat Muslim Indonesia," ungkap Ketua Umum Baznas, Didin Hafiudin, ketika membuka Seminar Zakat Nasional sekaligus rangkaian Milad Baznas ke-13 di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (22/1).

Menurut Kiai Didin, lima program itu meliputi sosialisasi, edukasi, regulasi, kordinasi dan sinergi dan optimalisasi zakat. kelima program itu telah memulai dampak yakni kajian zakat yang mulai dijadikan studi pendidikan di berbagai perguruan tinggi. Ini termasuk penerapan manajemen modern terbuka yang dilakukan Baznas maupun Bazda.

"Ketiga penguatan regulasi. alhamdulillah kita sudah memiliki undang pengelolaan zakat yaitu UU no. 23 tahun 2011 sebagai pengganti UU no. 38 tahun 1999. Kita sekarang sedang menunggu dikeluarkannya PP yang berkaitan dengan ajakan berzakat melalui Baznas," kata dia.

Alhamdulillah, lanjut Kiai Didin,  banyak daerah  yang memiliki Perda Zakat atau surat edaran dari gubernur bupati maupun walikota  tentu hal ini merupakan kemajuan yang patut disyukuri. Karena itu Baznas ingin memberikan apresiasi dan penghargaan kepada para kepala daerah yang sudah mendukung kegiatan Baznas di daerah masing-masing.

Ketum PP IKADI Khawatirkan Umat Jauh dari Masjid

Ketum PP IKADI Khawatirkan Umat Jauh dari Masjid
JAKARTA -- Berkembangnya masjid agung yang megah dan besar di berbagai daerah di Indonesia memberi kebanggaan tersendiri bagi umat Islam. 
 
Namun, di sisi lain kondisi ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi ulama. Sebab, pembangunan masjid sering kali tidak dibarengi dengan semangat umat untuk beribadah.
 
Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Prof.Dr. Achmad Satori Ismail menyatakan, gejala semakin sepinya masjid-masjid di Indonesia ini sudah terjadi lama. 
 
Namun, dalam satu dekade terakhir, fenomena ini terjadi semakin kontras di tengah gencarnya pembangunan masjid raya dan masjid agung. "Masjid semakin banyak dan sangat megah, tapi sepi atau bahkan tidak ada jamaahnya," kata Satori.
 
Menurut dia, fenomena ini harus menjadi perhatian para ulama dan pemda. Sebab, kata Satori,  masyarakat Islam yang kuat adalah masyarakat yang dekat dengan masjid. 
 
Karenanya, sambung Satori, Ikadi mengusulkan kepada pihak terkait agar dapat mengaktifkan kembali pembinaan masyarakat berbasis masjid.
 
Selain itu, Ikadi juga berharap, sekolah—khususnya sekolah Islam—dapat memperbanyak kegiatan dan aktivitas siswa di masjid.
Langkah ini sebagai metode mendekatkan generasi muda dengan masjid. "Orang tua pun berperan besar mengajarkan generasi muda dekat dengan masjid," ujarnya.
 
Di sisi lain, menurut Satori, sistem pengelolaan masjid harus diperbaiki. Pengurus masjid diharapkan dapat menggiatkan setiap aktivitas ibadah di masjid atau di lingkungan masjid. 
 
Selain shalat berjamaah dan majelis taklim, masih banyak potensi kegiatan lain yang dapat dilakukan di lingkungan masjid. Misalnya, pengembangan ekonomi masyarakat serta forum diskusi dan kajian agama. 
 

Profesor Jepang Kagumi Rumah Tahfidz

Profesor Jepang Kagumi Rumah Tahfidz
''Saya percaya, Islam adalah sistem yang dapat membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik,'' kata Prof Hisanori Kato saat berdialog dengan pengelola dan santri Rumah Tahfidz Al Azmy Bogor, Sabtu (28/12) sore. 
 
Hisanori Kato (49), peneliti dari Jepang yang pernah lama bermukim di Indonesia sejak 1991. Mulanya ia pengajar Bahasa Jepang di Jakarta International School pada tahun 1991-1994. Alumnus Universitas Hosei Tokyo dan The School of Studies in Religion, University of Sydney, Australia, ini lalu meneliti tentang peran agama Islam dalam pembentukan masyarakat demokratis di Indonesia. Ia pun sempat menjadi dosen tamu dan guru besar di Universitas Nasional Jakarta. 
 
Pria sederhana yang berasal dari Kamakura, Jepang, ini sekarang pengajar dan peneliti di Osaka Butsuryo College di Osaka, Jepang. Ia juga anggota dewan kehormatan Centre of Asia Studies yang bermarkas di Indonesia. 
 
Kato-san yang merupakan profesor termuda di Osaka, menuangkan pengalaman dan kesannya tentang Indonesia dalam buku Kangen Indonesia: Indonesia di Mata Orang Jepang (2013). Buku yang diterbitkan Gramedia ini sudah cetak ulang dua kali. 
 
Kato datang ke Rumah Tahfdiz Al Azmy di Kampung Pondokmiri, Desa Rawakalong, Kec Gunungsindur, Bogor, didampingi Wakil Direktur PPPA Daarul Qur'an Sunaryo Adhiatmoko dan Manager Area PPPA Daarul Qur'an Jawa Tengah, Wahyu Efendy. 
 
Menurut Kato, ia tertarik untuk meneliti tentang Rumah Tahfidz Daarul Qur'an setelah berdialog dengan Ustadz Yusuf Mansur. ''Saya sampai pada tahap tertarik dengan agama Islam, meskipun belum memeluk Islam,'' kata Kato-san yang mengaku beragama Buddha. 
 
Sebelumnya, Kato berdialog dengan Ustadz Yusuf Mansur di Pesantren Daarul Qur'an Ketapang, Tangerang. Peneliti jepang ini mengaku sangat kagum dengan program-program PPPA Daarul Qur'an di bidang pendidikan, pemberdayaan, kemanusiaan dan kesehatan. 
 
Setelah menyimak laporan-laporan program Rumah Qur'an di pedalaman NTT dan aksi kemanusiaan di Somalia, Kato menyatakan ingin sekali melihat aktivitas program di lapangan. Rumah Tahfidz Al Azmy dan Rumah Tahfidz di Jogja, jadi pilihan kunjungannya. Ia juga ingin melihat Rumah Qur'an Merapi. 
 
Mendapat penjelasan tentang kegiatan Rumah Tahfidz dari pembimbing Al Azmy, Ustadz Muslihan Bashri, Hisanori Kato merasa kagum. Misalnya para santri yang memulai kegiatan harian sejak pukul 04.00 WIB. ''Di Jepang, mana bisa anak-anak bangun subuh,'' katanya membandingkan. Generasi belia Jepang masa kini, lanjutnya, sudah asyik dengan game digital ketimbang membaca. 
 
Hisanori Kato juga merasa respek terhadap keramahan kaum muslimin Indonesia, termasuk para tokoh Islam yang selama ini dicitrakan sebagai "radikal". Peneliti yang bersahabat dengan Prof Amien Rais, Ismail Yusanto (Jubir HTI), Habib Riziq Shihab (FPI), Abu Bakar Baasyir (JAT), Yusuf Mansur, dan lain-lain ini membandingkan dengan sikap orang Jepang yang sulit bergaul dengan bangsa lain. 
 
''Arigato, saya yang non-Islam diterima dengan baik di sini,'' ujarnya sambil sedikit membungkukkan badan. 
 
Dalam dialog dengan para santri Al Azmy, Hisanori Kato menanyakan motivasi mereka mengikuti program Rumah Tahfidz dan menghafal Qur'an. '"Kami ingin menghafal Al Qur'an agar sukses di dunia dan akhirat," kata Adelia dan Ghufron, yang dibenarkan para santri lainnya. 
 
Jawaban itu terkonfirmasi ketika Kato menanyai cita-cita masing-masing anak. Penasehat Pemkot Sakai, Osaka, tak menyangka ternyata selain menjadi penghafal Qur'an, anak-anak juga ada yang ingin menjadi pengusaha restoran, pebisnis kuliner, atlit badminton, hingga jadi pelukis. ''Bagus, bagus,'' komentar Kato sambil manggut-manggut. 
 
Ia lalu bertanya, apakah kegiatan Rumah Tahfidz tidak mengganggu belajar di sekolah umum. ''Ya, sedikit ngantuk kalau pagi,'' ungkap Syauqi sambil tersenyum. Yang Kato heran, ternyata prestasi akademik anak-anak bukannya menurun tapi malah meningkat setelah mengikuti pogram tahfidz. 
 
Menjawab keheranan tamunya, pengelola Al Azmy menjelaskan bahwa di dalam Al-Qur'an ada firman Allah SWT yang menyatakan: "Wattaqullah, wayu'allimu kumullah. Bertakwalah kamu kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu (QS Al-Baqarah: 282). 
 
''Mr Kato, dalam keyakinan kami, jika kami mengejar akhirat (surga), maka kesuksesan dunia akan mengikuti. Tapi kalau hanya mengejar dunia, ya hanya akan mendapat kesuksesan duniawi,'' jelas Sunaryo. 
 
Di penghujung dialog, pengelola dan santri Al Azmy berdo'a agar Hisanori Kato mendapat pencerahan iman. 
 
Page 6 of 23
ikadi-fbquotes-28_56.jpg

Artikel Terbaru

Rohingya dan Dunia yang Terluka

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radika... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1874
mod_vvisit_counterYesterday2038
mod_vvisit_counterThis week7843
mod_vvisit_counterLast week13129
mod_vvisit_counterThis month42423
mod_vvisit_counterLast month69797
mod_vvisit_counterAll days3766527