Home Berita Nusantara

Nusantara

 

Mudhaharah ke Kedubes Mesir

Mudhaharah ke Kedubes Mesir


Massa ormas berkumpul di sekitar Taman Surapati


Ketua Umum KNRP (Komite Nasional untuk Rakyat Palestina) Suripto menyampaikan Resolusi Jakarta di depan Kedubes Mesir Jl. Teuku Umar 68


Ketua Umum KNRP memasuki halaman Kedubes Mesir


Kibaran bendera IKADI mengiringi orasi


Ust. Abdurrahman dari PP IKADI sedang menyampaikan orasi

 

 

Resolusi Jakarta

بسم الله الرحمن الرحيم

Resolusi Jakarta

Menyikapi perkembangan memilukan yang kini dialami oleh bangsa Paletina akibat serangan kejam Zionis Israel terhadap penduduk yang tinggal di Jalur Gaza. Dimana hingga kini tercatat 350 orang gugur syahid, 1000 orang luka-luka, 200 diantaranya dalam kondisi yang sangat kritis. Sebagian besar korban tersebut dari kalangan sipil, anak-anak, wanita dan orang tua. Selain rumah-rumah penduduk, berbagai sarana umum; seperti masjid, perkantoran, kampus, stasiun televisi dan fasilitas umum lainnya pun luluh lantak akibat pengeboman membabi-buta pesawat-pesawat tempur Zionis Israel. Sebuah aksi pembantaian terbesar yang dipertontonkan Zionis sejak 41 tahun terakhir dalam sejarah pendudukan Israel di Palestina.

Sebagian besar dunia hanya membisu dalam mensikapi pembantaian kejam ini. Mereka hanya mengecam, paling tinggi mengutuk kebiadaban yang diperagakan Zionis Israel. Kita menginginkan solusi nyata, bukan hanya sekedar kata-kata. Oleh karena itu, kami, Ormas dan Lembaga Peduli Palestina, menyatakan resolusi sebagai berikut:

  1. Mengecam dan mengutuk aksi pembantaian yang dilakukan Zionis Israel terhadap rakyat dan bangsa Palestina di Jalur Gaza yang hingga saat masih berlanjut.
  2. Meminta pemerintah RI, dalam hal ini Departemen Luar Negeri, supaya mengizinkan para relawan untuk berangkat ke Jalur Gaza membawa bantuan kemanusiaan dan obat-obatan secepatnya.
  3. Mendesak pemerintah RI untuk memainkan peran politik dan lobi internasional di tingkat dunia, melalui Dewan Keamanan PBB, regional melalui ASEAN dan dunia Islam melalui Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk segera mengadakan sidang darurat membahas aksi kekejaman Zionis Israel ini.
  4. Mendesak lembaga-lembaga HAM dunia dan nasional untuk menyeret Zionis Israel ke Mahkamah Internasional sebagai penjahat perang.
  5. Mendesak Pemerintah Mesir Untuk segera membuka pintu perbatasan Rafah, agar bantuan kemanusiaan dapat masuk ke Jalur Gaza.
  6. Menyerukan kepada segenap Bangsa Indonesia untuk melakukan aksi solidaritas peduli Palestina.
  7. Menyerukan kepada segenap Umat Islam Indonesia untuk melakukan Qunut Nazilah, doa dan zikir bagi keselamatan bangsa Palestina dan kebinasaan bagi Zionis Israel.

 

Jakarta, 29 Desember 2008

 

Ormas dan Lembaga Peduli Palestina

(KNRP, COMES, KISPA, PKPU, PUI, SALIMAH, RUMAH ZAKAT INDONESIA, IKADI, BSMI, ADARA, JPRMI, JAMAATUL MUSLIMIN, CAFE INTIFADHOH, DLL)

 

Sebaiknya Disepakati Satu Lembaga Yang Berwenang

“Para pemimpin umat semestinya bisa mengkompromikan pendapat-pendapat, sekaligus menyepakati siapa yang berwenang mengambil keputusan akhir dalam memutuskan kapan 1 Syawal,” ujar Idris Abdul Shomad, Sekjen PP Ikatan Da’I Indoensia (IKADI) di Jakarta, Selasa (31/10).

Idris menjelaskan, mazhab fikih yang empat sebenarnya sudah sepakat dalam mengambil keputusan penentuan awal dan akhir bulan Ramadhan dengan cararukyat, dengan mata telanjang, baik dengan alat atau tanpa alat. “Kalau zaman nabi tanpa alat, sementara zaman sekarang dengan bantuan teropong. Intinya dilihat dengan mata,“ terang Idris.

Dalam perkembangannya, selain pendapat mazhab yang empat, muncul interpretasi baru. Interpretasi baru tersebut memahamirukyatsebagai sesuatu yang bisa dikembangkan sesuai perkembangan teknologi.Rukyatdalam pengertian ini sering dikenal sebagai rukyat ilmiah atau hisab.

Rukyatdalam pemahaman mazhab yang empat juga ada yang membagi menjadi rukyat dalam satu negara dan rukyat dalam satu regional, misalnya rukyat Asia Tenggara. Gagasan  rukyat Asia Tenggara pernah diwacanakan dalam sidang Organisasi Konfrerensi Islam (OKI).

Dia berpendapat, dalam kasus di Indonesia, lembaga mana yang dianggap representatif memutuskan kapan penentuan awal dan akhir bulan Ramadhan  masih belum jelas. Mestinya, kalau misalnya Majelis Ulama Indoensia (MUI) yang dianggap paling representatif, sidang itsbat MUI sudah mengambilkan keputusan dengan terlebih dahulu mengumpulkan ormas-ormas Islam.

“Harus disepakati, misalnya sidang Itsbat Departemen Agama sebagai ‘ulil amri’ (pemerintah) atau MUI sebagai lembaga keagamaan. Yang terjadi sekarangkanmasing-masing ormas Islam memutuskan sendiri-sendiri. Ini tidak sehat,“ ungkapnya.

Bila dibandingkan Arab Saudi yang menganut satu mazhab dalam mengambil keputusan, yaitu denganrukyat.  Indonesia sebagai anggota OKI seharusnya tidak berbeda dengan negara-negara anggota OKI lain dalam regional yang sama. Antara Indonesia dengan Arab Saudi selisih perbedaan waktunya hanya 4 jam. Apalagi bila dibandingkan dengan  negara yang satu regional seperti Thailand atau Malaysia.

Menurut Idris, akan lebih indah bila ada penyatuan Hisab dan Rukyat di antara negara-negara OKI. Namun semua itu tergantung kepatuhan masing-masing negara anggota OKI terhadap keputusan OKI. “Tergantungpoliticall willmasing-masing negara anggota OKI,“ tutur dia. (mca)

Indonesia Perlu Jajaki Kerja Sama Dengan Negara Muslim

Sebenarnya pemerintah Indonesia memiliki kesempatan bekerja sama dengan negara-negara muslim yang memang secara ekonomi lebih mampu dari Indonesia. Masalahnya, pemerintah Indonesia perlu melakukan pendekatan yang maksimal dengan negara-negara tersebut .

“Jadi sebisa mungkin jauhi berhutang dengan negara-negara yang punya kepentingan menekan Indonesia dari aspek ekonomi dan politik,“ kata Ketua Pengurus Pusat Ikatan Da’i Indoensia (IKADI) Achmad Satori Ismail di Jakarta, Senin (30/10). 

Satori menjelaskan, dalam Islam hutang sesuatu yang boleh dilakukan dalam keadaan terpaksa. Namun Islam sangat menganjurkan umatnya agar tidak sampai berhutang. “Kata sebuah hadits, hutang itu kegelisahan di waktu malam dan kehinaan di waktu siang,“ katanya berdalih.

Diharapkan para pemimpin umat Islam tidak berhutang. Apalagi bila dengan berhutang malah membuat umat Islam tidak bebas menentukan arah nasibnya sendiri. Misalnya, akibat hutang umat Islam mendapatkan tekanan-tekanan dari negara-negara debitor untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya bertentangan dengan keinginan bangsa Indonesia, yang mayoritas muslim.

Seperti diketahui sebelumnya pemerintah Indonesia telah melunasi hutang-hutangnya pada Lembaga Moneter Internasional (IMF). Pelunasan hutang tahap kedua tersebut dibayarkan setahun lebih awal, dari jadwal semula tahun 2007. Hutang Indonesia kepada IMF sebesar 3,2 milyar dolar AS.

Satori menyarankan, di masa depan bangsa Indonesia harus mengerahkan kemampuan yang ada. Kemampuan dalam berproduksi dengan sumber-sumber daya yang dimilki bangsa Indonesia harus benar-benar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. “Jadi jangan terlalu mengandalkan hutang. Para pejabatnya juga harus hidup sederhana,“ katanya berharap. (mca)

Itu Pelecehan Paling Asasi Terhadap HAM

Menurut Ahmad Qusyairi, Ketua Departemen Dakwah Pimpinan Pusat Ikatan Da’I Indoensia (IKADI), sikap umat Islam dunia harus tegas. Dia mencontohkan, Rosul SAW saat kaum munafik memalsukan ayat-ayat Allah menyikapinya secara serius. Banyak cara yang dapat dilakukan. Misalnya, mendesak para pemimpin-pemimpin muslim yang ada di tiap negara memanggil para dubes Denmark.

Para pemimpin muslim tersebut harus menunjukkan ketegasan sikap bahwa hal itu telah melecehkan hal yang paling sakral bagi umat Islam. Bagian dari syahadat (ikrar) setiap muslim. “Sampaikan kemarahan umat Islam atas tindakan itu. Minta mereka meminta maaf kepada umat Islam,” tegasnya, Jumat (13/10).

Qusyairi menegaskan, lomba penulisan kartun Nabi Muhammad SAW bukan bagian dari demokrasi dan liberalisasi (kebebasan). Hal itu lebih pada pelecehan HAM, karena sudah memasuki areal yang sangat asasi dalam HAM. Yang paling prinsipil dalam keyakinan umat Islam telah dinodai.  “Bagi bangsa Indonesia ini bertentangan dengan Pancasila sila Ketuhanan Yang Maha Esa,” tambah dia.

Qusyairi menduga, lomba kartun nabi bukan suatu kebetulan. Waktunya sangat bedekatan dengan yang penghinaan Paus lakukan terhadap nabi Muhammad SAW. Apalagi hal itu bertepatan disaat umat Islam sedang berpuasa. Mereka (penghina nabi) merasa terancam dengan kebangkitan Islam. Berbagai upaya dilakukan melalui pelecehan terhadap simbol-simbol Islam. “Mereka sering menggembor-gemborkan dialog antar agama, pentingnya HAM. Tapi yang dilakukan sangat bertolak belakang,“ tukasnya.

Lebih jauh dia mengatakan, umat Islam harus memberikan penyadaran kepada masyarakat dunia. Munculnya stigma negatif tentang Islam melalui pelecehan terhadap simbol Islam, karena ketidaktahuan tentang Islam yang sebenarnya. Umat Islam dunia harus memperkokah konsolidasi dan ukhuwah. Dialog harus tetap dilakukan, tapi yang penting implementasi dari dialog itu.

Kendati demikian, agar ada kejeraan, karena dilakukan oleh negara yang sama, perlu digalang aksi boikot produk-produk Denmark. Bila ini dilakukan akan sangat berdampak sekali bagi perekonomian Denmark. Pemboikotan yang sebelumnya dilakukan terbukti efektif. Denmark menderita kerugian luar biasa atas aksi boikot itu.

“Di Mesir, Arab Saudi yang Denmark banyak mengekspor produk-produknya aksi boikot sukses dilakukakn. Ini senjata umat Islam, bahwa umat Islam tidak bisa dipermainkan,“ tandas Qusyairi.

Pemutusan hubungan diplomatik juga patut menjadi petimbangan peminmpin-pemimpin muslim. Bahkan bila perlu untuk menunjukkan kewibawaan Islam pemulangan para dubes-dubes Denmark bisa dilakukan.

Indonesia juga perlu mendesak OKI agar bersatu dalam menyikapi masalah ini. Indonesia di mata dunia memiliki bobot dalam menentukan sikap dunia, khususnya bagi negara-negara OKI, karena mayoritas umat Islamnya di dunia.(mca)

 

 

Page 23 of 23
ikadi-fbquotes-009.jpg

Artikel Terbaru

Rohingya dan Dunia yang Terluka

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radika... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1874
mod_vvisit_counterYesterday2038
mod_vvisit_counterThis week7843
mod_vvisit_counterLast week13129
mod_vvisit_counterThis month42423
mod_vvisit_counterLast month69797
mod_vvisit_counterAll days3766527