Home Berita Nusantara

Nusantara

 

Kemenag RI Siap Bantu Pesantren Berpotensi Kemaritiman

Kemenag RI Siap Bantu Pesantren Berpotensi Kemaritiman
JAKARTA - Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama berkomitmen membantu pengembangan ponpes yang mempunyai potensi kemaritiman, yakni ponpes di daerah yang secara geografis dekat dengan pesisir, berkarakter kemaritiman, dan memiliki program kemaritiman. 
 
Informasi dari Kemenag di Jakarta, Jumat menyebutkan, komitmen untuk membantu pengembangan ponpes yang memiliki potensi kemaritiman itu disampaikan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Dr H Mohsen saat membuka Rakor Pembahasan Persiapan "Sail Tomini 2015" di Palu, Sulteng pada 3 September. 
 
Menurut Mohsen, saat ini Kemenag sedang melakukan pemetaan potensi ponpes kemartiman. Sampai sekarang tercatat baru ada 93 ponpes maritim di berbagai daerah di Tanah Air yang menyampaikan laporannya kepada Kemenag.
 
Mengingat keterbatasan anggaran, selama 2015 Kemenag baru bisa memberikan bantuan kepada 40 ponpes maritim yang berada di 12 titik. Pada tahap awal bantuan yang diberikan baru berupa bantuan operasional, insentif, dan bantuan penguatan manajemen ponpes.
 
Dalam upaya mengatasi keterbatasan anggaran, Kemenag terus berusaha meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak terkait. Saat ini sudah ada delapan bank yang bekerja sama dengan ponpes dibawah koordinasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). 
 
Salah satu contoh kerja sama dimaksud dilakukan di Gresik, Jawa Timur. Di daerah yang memiliki banyak industri itu sebanyak 1.200 santri akan mengikuti program magang dengan tujuan agar mereka bisa dipersiapkan menjadi tenaga kerja di bidang industri dengan tetap membawa nilai-nilai luhur sebagaimana diajarkan di pesantren.
 
Kerja sama tersebut merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kemandirian ponpes agar tidak selalu mengharapkan bantuan dari pihak lain. Dengan kekuatan kemandirian itu pula Pesantren Qomaruddin di Gresik yang berdiri tahun 1750 sampai saat ini dapat terus berkembang bahkan sudah memiliki perguruan tinggi.
 
Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag juga mengemukakan, beberapa ponpes di Sulteng menjadi proyek percontohan untuk pengembangan ponpes maritim sehingga bisa dimanfaatkan sebagai tempat studi banding bagi pesantren-pesantren lainnya di Tanah Air.
 
Terkait "Sail Tomini 2015", ia menjelaskan, Kemenag turut mendukung penyelenggaraan acara tersebut. Kegiatan itu sendiri bertujuan mempercepat pembangunan daerah tertinggal, pinggiran, dan kepulauan; mempromosikan tujuan wisata di Sulteng; dan mengukuhkan kembali kejayaan Indonesia sebagai bangsa maritim.
 
Salah satu bentuk partisipasinya adalah peningkatan Pemberdayaan Ekonomi Umat melalui Pondok Pesantren (PEP) yang difokuskan pada ponpes maritim. Khusus untuk mematangkan konsep partisipasi dimaksud Kemenag menyelenggarakan Rakor Pembahasan Persiapan "Sail Tomini 2015" dengan mengundang 40 ponpes maritim di Sulteng. 
 
Kemenag juga menyelenggarakan kegiatan guna memeriahkan kegiatan "sail Tomini 201antara lain melalui pemberian bantuan kepada 40 pesantren maritim di Tanah Air, yang 20 di antaranya ponpes maritim yang berada di Provinsi Sulteng serta "Gebyar Pesantren Maritim" pada 16-19 September 2015 di Kota Palu. 
 
Gebyar pesantren akan diisi dengan gerak jalan ribuan santri, pawai karnaval ponpes dengan menampilkan aneka kendaraan hias yang akan diikuti 25 ponpes dari sekitar Kota Palu, tabligh akbar, dan "Pesantren Maritim Ekspo" pada 16-19 September 2015 di lokasi utama di Kabupaten Parigi Moutong. (dj/antara)
 

MTQ Internasional III, Menag Ajak Umat Islam Perkuat Ukhuwah Islamiyyah

MTQ Internasional III, Menag Ajak Umat Islam Perkuat Ukhuwah Islamiyyah
JAKARTA — Setelah sukses menggelar Musabaqah Tilawatil Qur’an ke-2 di Jakarta tahun 2013, Indonesia kembali menggelar MTQ Internasional ke-3 yang dihelat dari tanggal 1-5 September 2015. Bertempat di Auditorium HM. Rasjidi Gedung Kementerian Agama RI Jl. MH. Thamrin Jakarta, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, membuka secara resmi, didampingi Dirjen Bimas Islam dan para pejabat eselon I Kementerian Agama. Pembukaan sendiri dihadiri beberapa duta besar negara sahabat, diantaranya Maroko, Mesir, Brunei Darussalam, Bosnia dan Thailand. Pada kesempatan yang sama, duet qori Internasional Indonesia, Mukmin Aenul Mubarok dan Qori Internasional di Iran, yaitu Fadhlan Zainuddin, melantunkan ayat suci al-Qur’an yang menandai dimulainya acara.
 
Dalam laporannya, Dirjen Bimas Islam, Machasin, memaparkan bahwa melalui event MTQ Internasional yang melibatkan negara-negara sahabat, Indonesia mendorong upaya mewujudkan iklim regional dan internasional yang kondusif untuk kesejahteraan umat manusia serta sekaligus memperkokoh hubungan bilateral dan multilateral di antara negara-negara sahabat. MTQ Internasional diselenggarakan sebagai bentuk partisipasi bangsa Indonesia dalam syiar agama untuk menjalain persahabatan antarbangsa dalam upaya memelihara perdamaian di tingkat regional dan internasional.
 
Machasin menambahkan, penyelenggaraan MTQ Internasional ini sekaligus bertujuan untuk memberikan motivasi dan stimulan bagi generasi muda Islam, agar lebih meningkatkan lagi kegemaran muntuk belajar, memahami, menghayati dan mengamalkan kandungan nilai-nilai luhur Al-Qur’an.
 
“Partisipasi dan prestasi Indonesia di sejumlah event MTQ Internasional secara tidak langsung mengangkat harkat martabat bangsa di mata dunia, khususnya dunia Islam.  Prestasi tersebut perlu terus dipertahankan di masa-masa mendatang,” tuturnya.
 
Menteri Agama menyambut baik terselenggaranya event MTQ Internasional ini. Menurutnya, pelaksanaan MTQ membawa misi mendekatkan umat dengan Al Quran. MTQ diharapkan menjadi stimulan untuk melahirkan generasi qari dan hafizh terbaik yang mengharumkan nama bangsa dan memotivasi segenap Muslim lainnya untuk senantiasa meningkatkan kemampuan seni baca al-Quran. Dan Indonesia, lanjutnya,sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia harus menjadi lokomotif pembangunan peradaban dan harmonimelalui MTQ.
 
“Saya mengajak kita semua mari terus menjalin persahabatan dan kerjasama antar-bangsa di dalam ikatan ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah. Populasi umat Islam yang kini mencapai seperempat dari jumlah penduduk dunia diharapkan memberi peran dan kontribusi yang lebih signifikan dalam mewarnai peradaban dunia masa depan,” ungkapnya.
 
Menag menambahkan, pelaksanaan MTQ di tingkat nasional dan internasional merupakan satu bukti bahwa Musabaqah Tilawatil Quran telah menjadi milik masyarakat Muslim antar-bangsa. Karena itulah, Indonesia berada di garis depan pada berbagai event MTQ Internasional dan agenda internasional lainnya, memberi andil sebagai negara peserta MTQ maupun tuan rumah penyelenggara MTQ Internasional.
 
“Dalam momentum MTQ Internasional ini,saya menghimbau kepada para ulamadan pemimpin umatdi tanah air serta para pengelola lembaga pendidikan Islam,maribahu- membahu untuk meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan Al Quran di tengah masyarakat.Selanjutnya mari meningkatkan dan memperluas peran umat Islam Indonesia dalam forum-forum kerjasama antar-bangsa di berbagai bidang dalam upaya memperjuangkan kemajuan dan kesejahteraan umat manusia,” pungkasnya.   
 
MTQ Internasional III tahun 2015 diikuti 21 negara peserta, yaitu: Indonesia,Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Philippina, Timor Leste, Maroko, Iran, Belgia, Canada, Yordania, Saudi Arabia, Dubai, Uni Emirat Arab, Aljazair, Tunisia, Perancis, Inggris, Amerika Serikat, Norwegia, dan Mesir. Cabang yang diperlombakan terdiri dari 2 (dua) cabang, yaitu Cabang Tilawah Dewasa Putera (bacaan Al Quran sesuai tajwid), dan Cabang Tahfiz (menghafal)  30 Juz Al Quran Dewasa Putera.Adapun dewan hakim MTQ Internasional III ini berasal dari beberapa negara, diantaranya Indonesia, Yordania, Kerajaan Saudi Arabia, Uni Emirat, Iran dan Perancis. Seluruh agenda kegiatan MTQ Internasional III Tahun 2015 terkonsentrasi di Masjid Istiqlal Jakarta, masjid negara yang menjadi citra kebanggaan umat Islam dan bangsa Indonesia. (dj/kemenag)

KH. Ma’ruf Amin Pimpin MUI Masa Khidmat 2015-2020

KH. Ma’ruf Amin Pimpin MUI Masa Khidmat 2015-2020
Struktur dan personalia organisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dini hari (27/8/2015) selesai ditetapkan setelah tim formatur yang dibentuk mengadakan rapat selama dua jam. Rapat dilaksanakan tertutup di lantai 10 Hotel Garden Palace, Surabaya, Jawa Timur.
 
Dalam sidang tim formatur tesebut, terpilih sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI Prof. Dr. HM. Din Syamsudin, MA, sementara sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI terpilih Dr. (HC) KH. Ma’ruf Amin. Dewan Pertimbangan menggantikan jabatan lama Dewan Penasehat MUI.
 
“Alhamdulillah, rapat berjalan dengan lancar, dan sepakat menetapkan pimpinan MUI periode 2015-2020,” kata pimpinan sidang formatur, Prof. Din HM Syamsuddin, Kamis tengah malam. Dia didamping para anggota sidang yang terdiri dari: KH. Ma’ruf Amin, Dr.s HM Ichwan Sam, H. Ahmad Husein, Dr. KH. Sodikun MSi, Dr. H. AM Romly, Prof. Dr. Abd Rahim Yunus, Prof. Dr. H. Saiful Muslim, Drs. H. Hamri Has, Drs. Musa Abd Hakim, Prof. Dr. Hj. Huzaemah T Yango, KH Bahruddin, Dr. KH. Slamet Effendy Yusuf MSi, Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas Lc MA, Dr. Ir. H. Lukmanul Hakim MSi, Dr. H. Yusnar Yunur MS,
 
Berikut struktur dan personalia organisasi MUI masa khidmat 2015-2020:
 
DEWAN PERTIMBANGAN
 
Ketua:
Prof. Dr. HM. Din Syamsudin, MA
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA
 
Sekretaris:
Dr. H. Noor Ahmad, MA
 
Wakil Sekretaris:
Drs. Natsir Zubaidi
Dr. Bachtiar Nasir
 
Anggota:
Ketua-ketua Umum Ormas Islam (yang diundang sebagai peserta Munas MUI 2015)
Tokoh-tokoh (individu)
 
 
 
DEWAN PIMPINAN MUI 2015-2020
 
Ketua Umum:
Dr. (HC) KH. Ma’ruf Amin
 
Wakil Ketua Umum:
Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc, MA
Drs. KH. Slamet Effendy Yusuf, M.Si
 
Ketua-ketua:
Drs. H. Basri Bermanda, MBA
Dr. H. Yusnar Yusuf, M.S.
Prof. Dr. H. Maman Abdurrahman
Prof. Dr. Hj. Huzaemah T. Yango
Prof. Dr. (HC) Tuty Alawiyah, AS
KH. Muhyidin Junaidi, MA
KH. Abdullah Jaidi
Drs. HM. Ichwan Sam
Drs. H. Zainut Tauhid Sa’adi, M.Si
Dr. Ir. H. Lukmanul Hakim, M.Si
Dr. KH. Sodikun, MSi
KH. Abdusomad Buchari
 
Sekretaris Jenderal:
Dr. H. Anwar Abbas, MM, M.Ag
 
Wakil Sekretaris Jenderal:
Dr. KH. Tengku Zulkarnain, MA
Dr. Amirsyah Tambunan
Dr. H. Zaitun Rasmin
Dr. Najamudin Ramsil
Drs. H. Solahuddin Al Ayuni, Msi
Rofiqul Umam, SH, MH
Dr. Hj. Valina Subekti
H. Misbahul Ulum M.Si
 
Bendahara Umum:
Prof. Dr. Hj. Amani Lubis
 
Bendahara:
dr. Fahmi Darmawansyah, MM
Yusuf Muhammad
Dr. H.M. Nadratuzzaman Hosen
Drs. Iing Solohin
Burhan Muhsin
 
Sumber: mui.or.id

Kampus Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Masih Kekurangan Doktor

Kampus Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Masih Kekurangan Doktor
JAKARTA — Jumlah doktor yang mengajar di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam di Indonesia belum memadai. Padahal, untuk meningkatkan mutu pendidikan Islam, dibutuhkan dosen yang berkualitas dan kompeten secara keilmuan.
 
"Jumlah dosen yang bergelar doktor masih sedikit," ujar Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin, pada "Pelepasan Calon Doktor" di kantor Kementerian Agama di Jakarta, Senin (24/8).
 
Data Kementerian Agama menunjukkan, jumlah dosen yang tersebar di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) negeri dan swasta mencapai 29.824 pengajar. Dari jumlah tersebut, dosen yang berpendidikan doktor baru berjumlah 2.920 orang (9,7 persen).
 
Menurut Kamaruddin, kualitas dan kompetensi dosen masih menjadi masalah krusial dalam peningkatan mutu PTKI. Karena itu, jumlah doktor perlu ditambah lagi. "Seharusnya, dosen yang mengajar bergelar doktor agar mampu melakukan transformasi di dunia pendidikan," paparnya.
 
Kebutuhan tersebut kian mendesak mengingat jumlah mahasiswa yang melanjutkan pendidikan ke PTKI meningkat tajam, yakni mencapai 783.000 pada 2015. Untuk itu, Kementerian Agama memberikan beasiswa kepada 1.074 dosen untuk melanjutkan pendidikan doktor ke sejumlah universitas di dalam dan luar negeri. Mereka telah terseleksi dari 3.065 pelamar beasiswa.
 
Program ini merupakan bagian dari program mencetak 5.000 doktor hingga 2019 yang mendapat dukungan dari Presiden Joko Widodo. Untuk program ini, Kementerian Agama mengalokasikan dana Rp 100 miliar pada 2015.
 
"Dengan alokasi sebesar itu, kami berharap program 5.000 doktor akan memiliki dampak yang berarti bagi pengembangan pendidikan tinggi Islam di Indonesia," katanya.
 
Membangun jaringan
 
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap, penerima beasiswa doktor menjaga niat dan konsentrasi selama masa pendidikan. Mereka juga diharapkan membangun jaringan untuk pengembangan pendidikan keislaman di Indonesia.
 
"Jaringan secara personal dan institusi yang dibangun selama masa pendidikan sangat dibutuhkan bagi pengembangan pendidikan di Indonesia. Semoga, mereka cepat kembali ke Indonesia karena pemikiran dan tenaganya sangan dibutuhkan," katanya.
 
Secara terpisah, Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Ali Munhanif mengatakan, pemerintah perlu memikirkan desain yang komprehensif dan simultan agar distribusi 5.000 doktor itu bisa meningkatkan mutu pendidikan Islam.
 
Kini, makin banyak sekolah tinggi Islam yang bertransformasi menjadi universitas. "Pemerintah perlu melakukan diversifikasi (penganekaragaman) pengajar. Jangan hanya fokus ilmu agama, tetapi juga sains dan ilmu sosial. Bangun juga fasilitas laboratorium yang memadai untuk penelitian," kata Ali. (dj/kompas)

Ketua MUI: Islam Wasathiyah, Islam Jalan Tengah

Ketua MUI: Islam Wasathiyah, Islam Jalan Tengah
Sebelum Musyawarah Nasional (Munas) IX dibuka oleh Presiden, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menjelaskan maksud tema “Islam Wasatiyyah untuk Indonesia yang Berkeadilan dan Berkeadaban” di depan 550 peserta Munas.
 
“Islam Wasatiyyah adalah sebuah wawasan bahwa umat manusia sebagai hamba ciptaan Allah memiliki kecenderungan untuk mengambil jalan tengah dalam kesadaran manusia,” kata Ketua MUI Din Syamsuddin dalam sambutannya di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (25/8/2015).
 
Melalui tema tersebut, Din berharap acara ini dapat mendiskusikan visi dan misi Islam dalam rangka memperbaiki dunia yang kian diserang oleh kerusakan akumulatif menuju ambang kehancuran.
 
Din menyampaikan pesan kepada Presiden agar Indonesia tidak meninggalkan nilai-nilai keagamaan khususnya nilai-nilai keislaman yang telah menggerakkan dunia global.
 
“Pancasila bisa dinilai sebagai kristalisasi nilai-nilai agama Islam dan bisa dianggap sebagai jalan tengah karena menolak ekstremisme, liberalisme, dan nilai-nilai menyimpang lainnya,” ujarnya.
 
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu berharap MUI beserta pemerintah dan sebaliknya dapat menjadi mitra strategis dalam hubungan yang simbiosis mutualisme.
 
“Dalam kesempatan ini kami juga senantiasa mengingatkan dan menyambut baik adanya aturan Presiden terkait penganggaran MUI melalui Kementerian Agama yang ditandatangani oleh Presiden SBY menjelang akhir jabatannya tanggal 17 Oktober 2014,” tandasnya.
 
(Sumber: mui.or.id)
Page 3 of 23
ikadi-fbquotes-010.jpg

Artikel Terbaru

Rohingya dan Dunia yang Terluka

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radika... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1874
mod_vvisit_counterYesterday2038
mod_vvisit_counterThis week7843
mod_vvisit_counterLast week13129
mod_vvisit_counterThis month42423
mod_vvisit_counterLast month69797
mod_vvisit_counterAll days3766527