Home Artikel Tafakkur Membangun Solidaritas Sosial

Membangun Solidaritas Sosial

Membangun Solidaritas Sosial

Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA

 

Ramadhan dan Solidaritas Sosial

Puasa adalah sarana yang cukup efektif dalam menumbuhkan rasa empati dan solidaritas terhadap sesama. Ramadhan momentum yang tepat untuk mendidik rasa solidaritas sosial ini. Bagi yang tidak bisa merasakan lapar dan dahaga di siang hari, ada sarana lain dengan membayar fidyah; memberi makan kepada fakir-miskin dan kaffarah; berpuasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan kepada enam puluh orang miskin.

 

Rasulullah Saw. begitu memotivasi Umatnya ketika bersabda: “Siapa yang memberi makan kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang berpuasa, tanpa dikurangi sedikitpun”. (HR. Tarmidzi dan Ibnu Majah ). Sungguh sebuah ganjaran yang begitu besar bagi orang yang melakukan ibadah iftorusshoim (memberi makanan berbuka puasa). Motivasi besar dalam menumbuhkan rasa solidaritas sosial dalam bulan Ramadhan. Dan Rasul Saw. sendiri dalam momentum ramadahn mencontohkan hal tersebut. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, beliau berkata: “Rasulullah Saw. adalah manusia yang paling dermawan, dan paling dermawannya beliau ketika bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari).

 

Kondisi Umat Islam Indonesia dan Negara lain pada Ramadhan kali ini masih mengharapkan perhatian besar dan berbagai bentuk solidaritas dari Kaum Muslimin. Rasulullah Saw. bersabda: “Siapa yang tidak memberikan perhatian kepada kondisi Kaum Muslimin, ia tidak termasuk golongan mereka”. (HR. Al-Hakim). Meskipun beberapa Ulama menyatakan bahwa hadits tersebut dhoif, namun banyak hadits lain yang menyatakan tentang pentingnya memberikan perhatian dan solidaritas kepada sesama Muslim, seperti sabda Rasul Saw: “Tidak sempurna iman seorang diantara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. (HR. Bukhari dan Muslim). Rasa cinta akan mendorong seseorang memberikan perhatian dan solidaritas terhadap orang yang dicintai.

 

Kondisi Muslimin Rohingya yang masih tertindas, ratusan dari mereka dibunuh dan ribuan lain dianiaya. Kondisi Muslimin Suriah yang menjalani Ramadhan tahun ini tanpa kondisi nyaman dan aman beribadah, masih bergejolak konflik internal. Di Palestina dan sebagainya. Bahkan kondisi Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim, kalangan tidak mampu masih harus menelan pahit kebijakan terkait penyediaan kedelai, belum lama terjadi sweeping pedagang tahu dan tempe di beberapa tempat. Tentu bukan kebijakan tersebut yang kita bahas, tetapi ternyata masih banyak Kaum Muslimin baik di negeri ini maupun belahan bumi lain yang mendesak memerlukan uluran tangan dan perhatian Umat islam.

 

Keutamaan Solidaritas Sosial

Ada banyak keutamaan dan manfaat yang dijanjikan Allah SWT dan RasulNya bagi siapa saja yang melakukan solidaritassosial terhadap yang membutuhkan. Rasulullah Saw. bersabda: “Siapa yang menyelesaikan masalah mukmin di Dunia, maka Allah akan menyelesaikan masalahnya di akhirat, dan siapa yang memudahkan orang yang kesulitan maka Allah akan memudahkan baginya di Dunia dan Akhirat, dan siapa yang menutup aib seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya di Dunia dan Akhirat, dan Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya”. (HR. Muslim). Perhatian dan solidaritas kepada sesama akan berdampak positif bagi pelakunya. Para Ulama hadits mengambil kaedah dari hadits tersebut di atas, bahwa ganjaran dari sebuah amal sejenis dengan amal tersebut. Siapa yang memudahkan urusan orang lain, Allah yang akan memudahkan urusannya. Siapa yang menolong orang lain, Allah yang SWT akan menolongnya.

 

Solidaritas terhadap sesama yang melahirkan manfaat bagi orang lain merupakan ibadah yang memiliki kemuliaan tersendiri di sisi Allah SWT. Sebuah amal menjadi utama dan mulia lantaran faktor manfaat yang dirasakan orang lain. Dalam sebuah hadits Rasul Saw. bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama”. (HR. Bukhari). Sebagian Ulama berpendapat bahwa ibadah yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah ‘anfa’uhaa (yang paling bermanfaat bagi sesama).

 

Beragam bentuk solidaritas terhadap sesama Muslim. Mulai dari doa hingga infak harta. Berdoa bagi kebaikan Muslim akan dikabul oleh Allah SWT. selain keutamaan lain berupa doa Malaikat baginya, sebagaimana sabda Rasul Saw: “Doa Muslim kepada saudara Muslim akan diijabah (Allah), di atas kepala muslim yang berdoa ada malaikat yang ditugaskan. Setiap kali ia berdoa kebaikan untuk saudaranya, Malaikat tersebut berkata: “Amin, dan bagimu seperti itu”. (HR. Muslim).

 

Bentuk lain solidaritas sosial adalah berinfak. Beragam ayat dan hadits Rasul Saw. tentang perintah dan keutamaan berinfak dengan harta. Lipat ganda pahala yang Allah janjikan tiada tara, dan tak terbanding. Firman Allah SWT. berbunyi: “Perumpamaan [infak yang dikeluarkan oleh] orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipat gandakan [ganjaran] bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas [karunia-Nya] lagi Maha Mengetahui”. (Al-Baqarah: 261).

 

Janji Allah SWT dan RasulNya tentang ganjaran berupa ‘ganti’ dari infak yang diberikan, sering ditemukan dalam beberapa ayat dan hadits keutamaan infak. Allah SWT berfirman: “Dan apa yang kalian infakkan sedikitpun, Allah SWT akan menggantinya, dan Ia sebaik-baik pemberi rizki”. (Saba’: 39). Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’an al’azhim berkata: “Sebesar apapun yang kalian infakkan sesuai perintah Allah SWT, maka Allah SWT. akan mengganti dengan ganti bagi kalian di Dunia dan dengan pahala di Akhirat”.

 

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak ada satu waktu hamba-hamba Allah memasuki pagi hari kecuali ada dua Malaikat yang turun. Salah satu dari mereka berdoa: “Ya Allah berilah ganti kepada orang yang berinfak”. Malaikat yang lain berkata: “Ya Allah berikanlah kerugian kepada orang yang menahan (tidak mau memberi infak)”. (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Bentuk solidaritas baik dengan doa maupun dengan infak, sama-sama mendapat ganjaran berupa doa Malaikat sebagaimana tertera dalam dua hadits tersebut di atas. Malaikat adalah makhluk yang tidak pernah bermaksiat dan melanggar perintah Allah SWT. Kira-kira apakah doa mereka akan ditolak? Malah sebaliknya.

 

Harta yang diinfakkan, secara zahir ketika berinfak mungkin nilainya menjadi berkurang, namun pada hakikatnya tidak, karena akan ada gantinya berdasarkan hadits tentang doa Malaikat di atas. Sebagaimana juga ditegaskan secara jelas oleh Rasulullah Saw. dalam hadits lain: “Sedekah tidak mengurangi harta”. (HR. Muslim). Semoga Allah SWT menguatkan niat dan keinginan kita untuk memberikan bentuk solidaritas kepada sesama, baik dengan doa, infak dan sarana lainnya. Amiin. Wallahu a’lam.

 

Buletin Tafakkur Edisi 28 Th.IX

 
ikadi-fbquotes-010.jpg

Artikel Terbaru

Rohingya dan Dunia yang Terluka

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radika... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday430
mod_vvisit_counterYesterday2038
mod_vvisit_counterThis week8388
mod_vvisit_counterLast week12646
mod_vvisit_counterThis month40979
mod_vvisit_counterLast month69797
mod_vvisit_counterAll days3765083