Home Artikel Tafakkur Bersandarlah Hanya Kepada Allah

Bersandarlah Hanya Kepada Allah

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula)pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”  (Qs. Al Hadiid (57) : 22-23)
 
Dalam keheningan malam, seorang pemuda menangis tersedu-sedu, tak seperti biasanya, ia selalu tegar dalam menghadapi setiap masalah bahkan tak jarang menjadi tumpuan teman-temanya untuk curhat, Cuma untuk yang satu ini ketika harus menghadapinya ia tak sanggup menahan rasa dihati, semalaman ia gelisah hingga dipenghujung malam ia bertahajud, dalam do’anya Ia berkata :”Yaa Allah kenapa harus seperti ini….apa salah hamba-Mu…..kenapa engkau biarkan semua ini harus terjadi……” Terkesan memang seakan-akan menggugat keadilan Allah.
 
Sebagai manusia adalah fitrah merasakan sesuatu yang belum pernah terbayangkan sebelumnya., sebuah peristiwa yang tidak kita inginkan, tapi itulah hidup dan kehidupan, dimana semua itu dipergilirkan ada masa senang dan masa susah, ada masa gelisah dan ada masa tenang. Apa yang kita inginkan tak selamanya akan terwujud menjadi sebuah kenyataan sahabat Ali Bin Abi Thalib r.a berkata : “apabila sesuatu yang kau senangi tak terjadi maka senangilah apa yang terjadi”. Sungguh hidup akan terasa lain dengan pernak-perniknya bak roda pedati yang tak selamanya berputar di jalan rata terkadang ia harus melalui jalanan terjal berbatu. Ia bak mozaik yang menghiasi setiap episode kehidupan kita.
 
Bagi seorang mu’min tentunya harus siap menghadapi apapun yang terjadi dalam  hidup yang ia tempuh seberat apapun. Resiko kehilangan, musibah atau bencana di kehidupan menjadi keniscayaan karena hidup memang penuh dengan resiko. Oleh karenanya diperlukan sebuah benteng mental yang cukup kokoh agar setiap peristiwa kejadian yang terjadi tak diharapkan tidak membuatnya kian semakin terhempas dalam keterpurukan dan keputusasaan.
 
Mental yang perlu dibangun yang paling mendasar adalah mengsikapi bersama Allah… karena Dia merupakan sumber tumpuan bagi setiap apa yang kita hadapi, sebagai bentuk ketawakalan yang utuh tanpa ada perasaan su’udhzan kepada Allah, selalu berfikir positif telah menjadi senjata yang ampuh dalam merevitalisasi suasana jiwa yang terguncang akibat sebuah peristiwa. Ada beberapa rambu yang dapat dijadikan pijakan untuk dapat mewujudkan bersama Allah dalam mengsikapi setiap peristiwa sebagai landasan sikap seorang mu’min, diantaranya :
 
 
1. Mengembalikan semuanya kepada Allah
 
“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Qs. Al-Baqarah :156)
 
Sungguh indah perkataan diatas yang merupakan perkatan Istirjaa’ , ketika segalanya dikembalikan kepada Yang menjadikan, bentuk kepasrahan yang utuh ketika segala daya dan upaya dikerahkan serta dan curahan fakir serta kucuran keringat dialirkan, sehebat apapun jikalau itu makhluk tetap saja tak terlepas dari ketentuan Ilahii. Karena telah sewajarnya jika segala yang bermula dari Allah harus dikembalikan kepada Allah.
 
 
2. Mencoba mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi
 
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Ali-Imran (3) : 165)
 
Maha Suci Allah yang telah menjadikan setiap peristiwa dalam episode kehidupan ini dipenuhi dengan hikmah, sekecil apapun itu ia tetap memberikan sebuah pelajaran beharga. Sungguh betapa setiap kejadian musibah itu menjadikan setiap diri kian dewasa dan arif serta bijak dalam mengsikapi setiap peristiwa.
 
 
3. Koreksi diri agar tak terulangi kembali
 
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Qs. Asy-Syu’araa (26) : 30)
 
Koreksi diri? Yach….itulah harus dilakukan karena semua tidak semata-mata takdir Allah, akan tetapi kitapun turut menjadi sebab terjadinya kejadian musibah atau peristiwa yang tidak kita inginkan. Sepantasnyalah kita bertanya kepada diri kita :”mengapa hal ini sampai terjadi…..”lalu apa sebab-sebab dari itu semua, hingga kita dapat menemukan solusi yang tepat untuk memecah setiap permasalahan yang timbul.
 
 
4. Pertolongan Allah itu dekat, lebih dekat urat leher kita
 
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasuldan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Qs. Al Baqarah (2) : 214)
 
Setiap peristiwa dan kejadian di kehidupan ini yang menimpa setiap insan, tidak terlepas dari takdir Allah, dan Allah sekali-kali tidak akan pernah mendzalimi hamba-hamba-Nya. Ketahuilah bahwa ketika kita ditimpa peristiwa ataupun kejadian kita tidak sendiri seberat dan sepahit apapun, yakinilah jika Allah tidak akan tinggal diam Dia akan menolong setiap hamba-hamba-Nya yang membutuhkan pertolongan-NYa. Sungguh di setiap peristiwa yang kita temui di kehidupan ini selalu ada sentuhan pertolongan Allah. Sehingga tak perlu lagi bagi seorang mu’min ditimpa kegelisahan ataupun kegamangan karena pertolongan Allah itu dekat.
 
 
5. Allah lebih tahu yang terbaik bagi kita
 
“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al Baqarah (2) :216)
 
Inilah ketetapan episode hidup yang harus dijalani, yakinilah apapun yang terjadi atas diri kita adalah yang terbaik. Baik menurut kita belum tentu menurut Allah, akan tetapi yang baik menurut Allah sudah tentu baik bagi kita. Karena Dia lebih tau apa yang paling baik bagi hamba-hamba-Nya. Seuatu yang pahit tak akan selamanya pahit bukankah jamu itu pahit akan tetapi setelah kita meminumnya badan kita akan menjadi segar. Setiap peristiwa yang terjadi, bagi seorang mu’min menjadi medan ujian yang mendewasakan, kasih Sayang Allah bagi setiap hamba-hamba-Nya semakin mendekatlah kepada Allah, karena semua ini merupakan ladang pahala yang tak bertepi. Jangan pernah berputus asa selalu ada harapan baru yang dapat dibangun.
 
Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.” (Qs. Ar-Ruum (30) :36)
 
 
6. Hadapi dengan penuh kesabaran, karena langit tak akan selamanya mendung
 
“… .Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqarah (2) : 249)
 
“… kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.” (Qs.Huud :11)
 
Sabar…..sebuah kata yang sarat akan makna didalamnya terkandung ketegaran, ketabahan dan keteguhan. Setiap kejadian ataupun peristiwa semuanya adalah takdir-Nya, begitu banyak kata sabar tertuang di dalam Al Qur’an, sudah selayaknya hal ini menjadi perhatian bagi setiap mu’min untuk dapat mengsikapi apapun dengan sabar. Sabar disni bukan berarti pasif akan tetapi sabar yang aktif, selalu berfikir positif dan terus berusaha untuk maju.
 
 
7. Jadikan apa yang terjadi menjadi motivasi untuk terus maju ke depan
 
Menyesali apa yang terjadi bukanlah sebuah penyelesaian, akan tetapi maju dan bangkit dari keterpurukan menjadi sebuah pencerah hidup. Tak perlu larut dan hal yang telah berlalu, karena ia tak akan kembali untuk kedua kalinya. Kita hidup bukan untuk masa lalu akan tetapi kita hidup untuk masa ini dan insya Allah masa yang akan datang. Menatap hari esok membangun harapan baru jauh lebih melegakan hati. Jadikan pelajaran beharga sekaligus menjadi cambuk yang akan memacu diri untuk maju kedepan. Jangan larut dengan penyesalan dan kesedihan ingat hidup inikan Cuma sementara lalu mengapa harus kita sesali apa yang luput dari keinginan kita. Wallahu’alam Bishawab.
 
 

 
ikadi-fbquotes-qs-yunus-44.jpg

Artikel Terbaru

Rohingya dan Dunia yang Terluka

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radika... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1866
mod_vvisit_counterYesterday2038
mod_vvisit_counterThis week7835
mod_vvisit_counterLast week13129
mod_vvisit_counterThis month42415
mod_vvisit_counterLast month69797
mod_vvisit_counterAll days3766519