Home Artikel Tafakkur Mengapa Kita Wajib Membela Palestina?

Mengapa Kita Wajib Membela Palestina?

Akhirnya, Israel bersedia menerima persyaratan yang dibuat oleh Gaza terkait gencatan senjata. Gaza telah mendeklarasikan kemenangannya pada Selasa, 26 Agustus 2014. Gaza menang untuk kesekian kali melawan Israel. Namun, dengan gencatan senjata tersebut bukan berarti penjajahan dan penistaan Israel di Palestina berakhir. Sejak tahun 1948 hingga hari ini, Israel masih menjajah Palestina. Sejak tahun 1967 hingga hari ini juga Israel terus menistakan dan menodai masjid Al-Aqsha. 
 
Meski Gaza dalam kondisi gencatan senjata, Umat Islam mesti terus membela Palestina, karena penjajahan dan penistaan Israel masih berlangsung di sana. Alasan lebih detail mengapa Umat Islam mesti membela Palestina adalah sebagai berikut:
 
Kiblat Pertama Umat Islam
Kaum Muslimin shalat menghadap ke Masjid Al-Aqsha di Palestina sejak diwajibkannya shalat pada malam Isra’ dan Mi’raj Rasulullah saw pada tahun kesepuluh kenabian, tepatnya tiga tahun sebelum peristiwa hijrah Rasulullah saw. Perintah menghadap Masjidil Haram dalam shalat baru datang enam belas bulan setelah Rasulullah melakukan hijrah, ketika turun firman Alah SWT: “Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya”. (Al-Baqarah: 150).
 
Sampai saat ini, di kota Madinah terdapat peninggalan sejarah yang membuktikan peristiwa perpindahan kiblat ini yaitu Masjid Kiblatain. Di tempat ini, para Sahabat melakukan satu shalat dengan menghadap dua kiblat, ke Masjid Al-Aqsha dan ke Masjidilharam.
 
Tempat Persinggahan Isra’ dan Mi’raj
Rasulullah saw melakukan Isra’ dari Masjidilharam ke Masjid Al-Aqsa dan Mi’raj dari Masjid Al-Aqsa menuju  langit ketujuh dan sidratulmuntaha. Masjid Al-Aqsha adalah terminal akhir perjalanan Isra’ sekaligus tempat bertolak melakukan Mi’raj. Allah SWT memberitakan tempat akhir Isra’ dan permulaan Mi’raj ini dalam firman-Nya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke MasjidAl-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya”. (QS. Al-Israa’: 1). 
 
 
Dalam ayat tersebut Allah SWT tidak menggambarkan Masjidilharam dengan satu sifatpun, namun Dia menyifati Masjid Al-Aqsa dengan keberkahan yang ada di sekelilingnya. Jika di sekeliling Masjid Al-Aqsa diberkahi, maka bisa dibayangkan bagaimana keberkahan yang Allah turunkan kepada Masjid Al-Aqsa.
 
Masjid Al-Aqsa sebagai tempat persinggahan Rasulullah ketika melakukan Isra’ dan Mi’raj tentu memiliki keutamaan tersendiri. Bukan kebetulan Masjid Al-Aqsa sebagai tempat persinggahan. Jika saja Al-Aqsa bukan tempat khusus yang dituju, maka perjalanan bisa dilakukan dari Mekkah langsung menuju ke langit. Persinggahan di Masjid Al-Aqsa menyimpan isyarat dan hikmah tersendiri. 
 
Keterkaitan erat antara tempat permulaaan Isra’ dengan tempat berakhirnya menjadi hikmah tersendiri dalam hal ini. Dengan kata lain, keterkaitan antara Masjidilharam dan Masjid Al-Aqsa mengisyaratkan bahwa, kesucian dua Masjid dan dua tempat Masjid tersebut berada, tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Masjidilharam dan Masjid Al-Aqsa, begitu pula kota Mekah dan kota Al-Quds. Seorang Muslim seyogyanya meyakini hal tersebut, dan siapa yang menyepelekan kesucian salah satu dari dua Masjid tersebut, maka selanjutnya ia akan menyepelekan kesucian Masjid lain.
 
Tempat Kota Agung ketiga dalam Islam
Kota pertama yang diagungkan dalam Islam adalah Mekah lantaran di sana ada Masjidilharam, kemudian Madinah lantaran Masjid Nabawinya, dan ketiga Al-Quds yang dimuliakan karena Masjid Al-Aqsa. Al-Quds sebagai wilayah yang ada di sekeliling Masjid Al-Aqsa adalah tempat yang diberkahi Allah SWT. 
 
Hadits yang disepakati kesahihannya berbunyi: “Tidak ditekankan bepergian kecuali kepada tiga Masjid: Masjidilharam, Masjid Al-Aqsa dan Masjid Nabawi”. (HR. Bukhari-Muslim). Mendatangi Masjid Al-Aqsa berarti mendatangi Al-Quds. Dan dalam konteks peristiwa perseteruan antara Muslimin dan Israel di Al-Quds, seorang Muslim bisa mengambil hikmah mengapa Al-Aqsa yang berada di Al-Quds menjadi tempat yang sangat dianjurkan untuk didatangi, padahal kondisinya tidak stabil sebagaimana kondisi Negara yang aman pada umumnya. 
 
Sungguh mendatangi Masjid Al-Aqsa bisa memberikan spirit bagi seorang Muslim untuk bisa memahami dan meresapi kondisi Al-Aqsa dan tempat di sekelilingnya, Al-Quds dan Palestina, termasuk kondisi Kaum Muslimin yang berada di sana tentunya. Namunpun tidak mendatanginya secara langsung, perintah Rasulullah saw dalam hadits tersebut membuat Muslim bertanya-tanya, dan pada selanjutnya akan mencari tahu ada apa gerangan dengan Masjid Al-Aqsa dan tempat di sekeliling Masjid tersebut.
 
Al-Quds Tanah yang diberkahi 
Al-Quds merupakan bagian strategis dari wilayah Palestina. Allah SWT mensifati tanah tersebut dengan keberkahan dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Penyebutan Al-Quds sebagai negeri yang diberkahi terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur’an, sebagai berikut:
a. Ketika Allah SWT mensifati Masjid Al-Aqsa dalam firman-Nya: “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Masjid Al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya”. (QS. Al-Israa’: 1). Secara jelas ayat tersebut menyebutkan bahwa Al-Quds, tempat lokasi Masjid Al-Aqsha berada, adalah tanah yang diberkahi.
b. Ketika bercerita tentang kisah penyelamatan Nabi Ibrahim: “Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia”.(QS. Al-Anbiyaa’: 71).
c. Dalam kisah Nabi Musa setelah menyeberangi laut merah dari kejaran Fir’aun: “Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri keberkahan padanya”. (QS. Al-A’raf: 137).
d. Dalam kisah Nabi Sulaiman dan nikmat-nikmat yang Allah SWT tundukkan baginya, diantaranya hembusan angin. “Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya”. (QS. Al-Anbiyaa’: 81).
e. Dalam kisah Negeri Saba’, Allah SWT menganugerahkan keamanan dan ketentraman kepada penduduknya. “Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman”. (QS. Saba’: 18). Maksud dari negeri-negeri dalam ayat tersebut menurut mufasiiriin adalah Syam dan Palestina.Wallahu a’lam.
 
Abu Asma Kayyisa
 

 
ikadi_islamic_message1013.jpg

Artikel Terbaru

Rohingya dan Dunia yang Terluka

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radika... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1865
mod_vvisit_counterYesterday2038
mod_vvisit_counterThis week7834
mod_vvisit_counterLast week13129
mod_vvisit_counterThis month42414
mod_vvisit_counterLast month69797
mod_vvisit_counterAll days3766518