Home Artikel Tafakkur Meraih Kekuasaan untuk Kebaikan Bersama

Meraih Kekuasaan untuk Kebaikan Bersama

Dalam tubuh Umat masih banyak tersebar persepsi, bahwa kekuasaan bertolak belakang dengan dakwah. Kekuasan relatif dipahami sebagai simbol kesewenangan, sedangkan dakwah berupaya menebar kebaikan. Persepsi negatif tersebut muncul lantaran realitas umum yang ada. Orang-orang yang diberi kesempatan berkuasa ternyata tidak memanfaatkan kekuasaan itu untuk kemaslahatan rakyat, justru sebaliknya kekuasaan dimanfaatkan hanya untuk kepentingan diri dan golongannya. Meskipun kondisi penguasa seperti ini sudah menyebar, tentunya tidak bisa dijadikan alasan untuk menyalahkan dan bersikap tabu terhadap kekuasaan.

 

Kekuasaan dalam dakwah merupakan sunnatullah yang berlaku pada Umat terdahulu, bahkan melalui para Nabi dan hamba-hamba Allah yang shalih. Kekuasaan yang diberikan Allah kepada para Nabi dan orang-orang shalih tersebut tidak bisa dipisahkan dari misi dakwah dalam menyebar Islam, dan selanjutnya berdampak keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat. Kekuasaan dalam konteks ini bukan lagi sebagai simbol kesewenangan. Dengan kekuasan terbuka luas pintu dan peluang dakwah dan kebaikan. Peran kekuasaan dalam menegakkan dakwah telah terbukti dalam sejarah para juru dakwah pilihan Allah SWT yang kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an.

 

 

Sampel Penguasa Shalih dalam Al-Qur’an

Kisah dakwah dan kekuasaan Dzul Qarnain sebagai figur penguasa sekaligus aktivis dakwah, membuktikan bahwa dakwah akan memberikan hasil maksimal jika didukung oleh kekuasaan. Allah SWT mengabadikan sekelumit perkataan beliau selaku penguasa yang shalih: “Berkata Zulkarnain: "Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya [perintah] yang mudah dari perintah-perintah kami". (Al-Kahfi: 87-88)

 

Kekuatan dan kekuasaan yang dianugerahkan Allah SWT memudahkan Dzul Qornain untuk melakukan ekspansi dakwah ke seluruh penjuru bumi dari belahan timur hingga barat. Dengan kekuasaannya beliau mampu merealisasikan berbagai terobosan yang bisa memajukan dan mensejahterakan rakyat dan masyarakat. Diantara yang fenomenal adalah keberhasilan beliau dalam menghadang kerusakan yang dilakukan Ya’juj dan Ma’juj. Allah SWT berfirman: “Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: "Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?" Zulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan [manusia dan alat-alat], agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka”. (Al-Kahfi: 93-95).

 

Sosok penguasa seperti Dzul Qarnain adalah seorang hamba Allah SWT yang shalih dan senantiasa melakukan safari dakwah menyebarkan agama Allah SWT. Al-Qur’an menggambarkan perjalanan dakwahnya yang cukup padat: Kemudian dia menempuh jalan [yang lain]. “Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari [sebelah Timur] dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari [cahaya] matahari itu, demikianlah, dan sesungguhnya ilmu kami meliputi segala apa yang ada padanya”. (Al-Kahfi: 89-91).

 

Sampel lain yang diangkat Al-Qur’an adalah Nabi Yusuf as. Sosok yang menggambarkan bahwa kekuasaan di tangan orang shalih akan memuluskan capaian dakwah dalam menebar nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan. Allah SWT berfirman: “Dan raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu [mulai] hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami". Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara [Mesir]; sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (Yusuf: 54-55).

 

Nabi Yusuf sebagai utusan Allah SWT memiliki konsen dan perhatian besar dalam menanggulangi krisis yang akan terjadi di masa depan. Secara sepintas, ayat tersebut dipahami bahwa Nabi Yusuf memilih satu jabatan kepada raja, tetapi sebenarnya jabatan yang dipilih beliau adalah posisi yang memiliki konsekuensi dan tanggungjawab yang begitu berat. Beliau harus bertanggungjawab atas kondisi Bangsa Mesir di masa sulit dan krisis selama tujuh tahun ke depan, di mana tidak ada kegiatan pertanian dan peternakan. Namun, dengan kekuasaan, Nabi Yusuf as. dapat lebih leluasa bergerak dan berdakwah merealisasikan misi Islam sebagai rahmatan lil’alamin, bagi sekalian alam. Untuk mengamankan bangsa dan rakyat Mesir melewati krisis panjang yang melanda. 

 

Sampel lain sebagai penguasa yang shalih dalam Islam adalah Nabi Sulaiman as. Bahkan beliau dianugerahkan Allah SWT kekuasaan yang luar biasa dan tidak akan terulang kedua kalinya. Allah SWT berfirman: “Ia (Sulaiman) berkata: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi". (Shaad: 35).

 

Nabi Sulaiman memohon kekuasaan yang begitu besar, sehingga dengan kekuasaan tersebut beliau mampu mendakwahkan Islam kepada segenap penguasa yang ada ketika itu. Dengan kekuasaan yang meliputi seluruh makhluk Allah SWT, beliau menebar dakwah dan rahmat, sampai masuk Islamlah seorang penguasa yang menyembah matahari, dan selanjutnya masuk Islam pula rakyatnya. “Dikatakan kepadanya: "Masuklah ke dalam istana". Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: "Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca". Berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam". (An-Naml: 44).

 

Ketika kekuasaan  berhasil dipegang oleh orang shalih, maka nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan yang begitu mulia serta misi dakwah dapat terealisir dengan baik dan efektif. Kekuasaan di tangan orang shalih telah memberikan kontribusi besar, tidak hanya bagi Islam tetapi lebih dari itu kemaslahatan Umat manusia. Kekuasaan Rasululullah yang mengalami ekspansi begitu luas pada masa Umar bin Khattab, dan mencapai puncaknya pada masa Umar bin Abdul Aziz terbukti melahirkan keamanan, kesejahteraan dan ketenangan yang dirasakan bukan hanya oleh Umat Islam, tetapi juga oleh Umat manusia, bahkan dampak kebaikan dan keamanan menjamah komunitas hewan sekalipun. Wallahu a’lam.

 

 

 

 
gambar-kata-mutiara-hikmah-ikadi-islamic-quotes-qs10_100.jpg

Artikel Terbaru

Rohingya dan Dunia yang Terluka

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radika... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1876
mod_vvisit_counterYesterday2038
mod_vvisit_counterThis week7845
mod_vvisit_counterLast week13129
mod_vvisit_counterThis month42425
mod_vvisit_counterLast month69797
mod_vvisit_counterAll days3766529