Home Artikel Opini Rumus Kehancuran

Rumus Kehancuran

Pewaris bumi

Allah SWT berfirman .


وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

Artinya :” Sesungguhnya bumi ini diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shaleh” (Al Anbiya’ 105)

Untuk kesejahteraan umat manusia, Allah menciptakan dua hukum di dunia ini; Pertama, hukum alam atau sunnah kauniyyah dan kedua, hukum agama atau sunnah tasyri’iyyah. Sunnah kauniyyah atau sering dusebut dengan istilah Sunnatullah merupakan sejumlah aturan-aturan yang diikuti oleh alam dan berlaku secara mutlak , absolut dan universal seperti gravitasi bumi, hukum sebab-akibat dsb. Hukum alam ini diciptakan oleh Allah untuk kepentingan manusia agar mau meneliti dan memanfaatkannya seoptimal mungkin demi kesejahteraan dan kemajuan peradabannya di dunia. Allah berfirman : Lihatlah apa-apa yang ada di langit dan bumi. (Yunus 101)
Ketika umat Islam terdahulu memenuhi seruan ini, lalu meletakkan dasar-dasar ilmu untuk memahami dan menguasai hukum alam, mereka menjadi pewaris bumi dan bisa mengendalikan dunia. Namun ketika mereka lalai dan tidak memperhatikan hukum kauni mereka terperosok dalam kemunduran dan keterbelakangan serta menjadi mangsa empuk musuh-musuhnya.
Hukum kauni dianugerahkan Allah kepada seluruh umat manusia sebagai manusia, tidak pandang agama ataupun keimanannya. Ia adalah suatu ketentuan Allah yang tidak berkurang dan juga tidak bertambah, neraca timbangan segala sesuatu yang tetap, juga sebagai anugerah Ilahi terhadap alam seisinya. Allah menyatakan : “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (Al Qamar 49). Pasang surut kemajuan peradaban suatu bangsa tergantung kadar penguasaan dan pendayagunaan hukum kauni dalam kehidupan ini.
Sedangkan aturan-aturan yang menjadi kerangka bagi prilaku manusia secara individual ataupun sosial yang harus ditaati dalam hidup ini adalah hukum agama atau syari’atullah yang dibawa oleh para Rasul. Syariah ini berperan sebagai pelengkap hukum alam, yang seirama dengan fitrah manusia dan sejalan dengan rahasia aturan kauni, juga sebagai penerang akal untuk mencapai hakekat dan melindungi manusia dari kesesatan.
Syariat samawiyah ini telah mencapai kesempurnaan dan kelengkapannya pada risalah Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW yang terkandung dalam Alquran dan Assunnah. Syariah petunjuk ini disampaikan kepada seluruh umat manusia untuk dianut sebagai pedoman hidupnya di dunia tanpa ada paksaan.
Bangsa atau umat yang akan menjadi pewaris bumi adalah umat yang berpegang teguh pada dua macam hukum di atas. Merekalah yang disebut sebagai orang-orang sholeh dalam arti seutuhnya. Selama umat memiliki ciri keseholehan umum maka Allah SWT menjadikannya sebagai pewaris bumi.
Kesholehan manusia bisa dipilah menjadi dua; pertama, kesholehan dalam aspek hukum kauni /sunnatullah dan kedua, kesholehan dalam aspek syari’atullah. Di bidang peradaban material, maju mundurnya suatu bangsa tergantung dengan kadar keshalehan umum mereka di bidang hukum kauni. Sedangkan pewarisan bumi yang hakiki dan kesempurnaan peradaban dunia hanyalah bisa diraih dengan ajaran Islam. Karena ajaran Islamlah yang memadukan antara dua kashalehan yaitu penguasaan hukum kauni dan pengaplikaisan hukum qur’ani di dunia ini secara integral.

Rumus Kehancuran

Kemajuan peradaban suatu bangsa atau kehancurannya tidak terlepas dari aturan perubahan terhadap apa yang ada dalam jiwa bangsa itu. Allah SWT menyatakan “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah apa-apa yang ada pada suatu kaum sehingga kaum itu mau merubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri” (Ar Ra’d 11). Kehancuran suatu bangsa tidak akan terjadi secara mengagetkan, akan tetapi melewati proses panjang. faktor-faktor penghancur itu masuk terlebih dahulu dalam sendi-sendi masyarakat itu secara perlahan sehingga lambat laun akan menghabiskan semua unsur kekuatannya dan pada ronde akhir, masuklah bangsa itu dalam jurang krisis multi dimensi lalu hancur secara total.
Kita mengenal dalam sejarah, berbagai bangsa dengan peradabannya yang dihancurkan Allah. Kaum Nabi Nuh, kaum ‘Aad, Tsamud, Fir’aun dll. merupakan bangsa-bangsa hebat yang pernah berperadaban tinggi, namun kemudian diluluh lantakkan Allah karena kekufuran telah merasuk dalam sel-sel kehidupan mereka sehinga menjadi karakteristik umum bangsa-bangsa tsb.
Proses kehancuran suatu peradaban membutuhkan waktu yang panjang namun upaya membangun kembali peradaban tsb. menghabiskan waktu yang lebih lama lagi. Suatu peradaban memungkinkan untuk diselamatkan dari kehancuran. Bisa cepat atau lambat tergantung proses perubahannya bila ke arah yang positif akan selamat dan maju tapi bila berubah ke arah hal-hal negatif berarti akan cepat menghancurkan.
Umat Islam pernah memiliki peradaban tinggi bahkan dianggap terhebat dan terlama sepanjang sejarah peradaban manusia . Di bidang sosial dan kemanusiaan Islam telah mencapai puncaknya. Di bidang iptek Islam telah meletakkan sendi-sendi dasarnya. Seandainya umat Islam tetap istiqamah dan memiliki kesiapan untuk berprestasi lebih baik niscaya menjadi pewaris dunia sekarang ini, memimpin dunia , beramar ma’ruf dan nahi munkar, menebarkan ketenangan jiwa ke seantero dunia.
Ketika umat Islam ‘berubah’ dan ‘menyimpang’ dari jalan ajarannya yang lurus, mulailah muncul perpecahan dan orang-orang terbaiknyapun dikuasai oleh para thaghut.
Penyimpangan ini dimulai dari sistem pemerintahan. Dari sistem syura berubah menjadi sistem otoriter. Hubungan sosial horizontal antara individu yang bersendikan kebebasan umatpun hilang sirna. Dan puncak penyelewengan ini adalah hancurnya hubungan manusia secara vertikal dengan Allah SWT. yaitu ditinggalkannya sholat lima waktu oleh sebagian besar umat Islam . Keislaman mereka tinggal namanya saja sedangkan prilakunya jauh dari nilai-nilai Islam dan menjurus kepada kehancuran individu dan sosial
Bila ketiga faktor ini telah sirna yaitu faktor rohani (spiritualitas) untuk melestarikan hubungan dengan Allah lewat sholat, faktor kepemimpinan dengan sistem syura dan faktor solidaritas umat yang tercermin dalam sistem ekonomi Islam, ketiganya semakin menghilang dalam kehidupan umat Islam, maka akan terjerembablah ke dalam kemunduran. Kalau kita buat rumus kehancuran adalah sbb:
Kehancuran spiritualisme + Otoriterianisme + kemiskinan = kehancuran umat. Bila tiga faktor di atas yang nota bene menjadi keistimewaan peradaban Islam telah lenyap maka akan tumbanglah umat ini menuju kehancuran.
Rumus kehancuran tersebut tersirat dalam berbagai hadits Rasulullah Saw a.l.:”Simpul-simpul Islam akan lepas terurai satu persatu . Simpul pertama yang terurai adalah sistem pemerintahan dan simpul yang terakhir adalah sholat” (H.R. Imam Ahmad dalam kitab Musnad Juz IV hal 232). Terurainya simpul sistem pemerintahan ini tercermin pada sistem otoriter yang meninggalkan aspek syura dari umat Islam dan terciptanya kesenjangan antara penguasa dengan Al Quran. Marilah kita merenungi nasib bangsa ini, apakah sudah mendekati rumus kehancuran ? Na’udzubillah min dzalik. (Achmad Satori Ismail)

 
tampilkan ajaran islam indah lembut logis.jpg

Artikel Terbaru

Rohingya dan Dunia yang Terluka

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radika... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday295
mod_vvisit_counterYesterday2038
mod_vvisit_counterThis week8253
mod_vvisit_counterLast week12646
mod_vvisit_counterThis month40844
mod_vvisit_counterLast month69797
mod_vvisit_counterAll days3764948