Home Artikel Khutbah Khutbah Jum'at - Memilih Pemimpin Muslim

Khutbah Jum'at - Memilih Pemimpin Muslim

Seri Khutbah Jum’at Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Wilayah DIY
Edisi 42, Jum’at 28 Oktober 2016
 
 
MEMILIH PEMIMPIN MUSLIM
Oleh: Ust. Achmad Dahlan, Lc., MA.
(WakilKetua, PW IKADI DIY)
 
 
Khutbah Pertama: 
 
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى مَا مَنَّ عَلىَ الْـمُؤْمِنِيْنَ مِنْ كِتَابٍ مُبِيْن، وَمَنْهَجٍ قَوِيْم، وَصِرَاطٍ مُسْتَقِيْم.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُرَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْم، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه،حَامِلُ الرِّسَالَةِ السَّمَاوِيِّةِ إِلَى النَّاسِ أَجْمَعِيْن.
صَلَّى الله عَلَيْه، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْد:
فَياَ عِبَادَ الله، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ الْـمُتَّقُون، قَالَ تَعَالَى:
((يَاأَيُّهَاالَّذِيْنَآمَنُوااتَّقُوااللهَحَقَّتُقَاتِهِوَلاَتَمُوْتُنَّإِلاَّوَأَنْتُمْمُّسْلِمُوْنَ))
 
Jamaah sholat Jumat rahimakumullah…
Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah –Rabb semesta alam-, karena takwa adalah sebaik-baik bekal untuk bertemu Allah di akhirat kelak. Marilah senantiasa menjaga keimanan kita, agar senantiasa tumbuh dan berkembang di hati kita. Jangan biarkan fitnah dan cobaan dunia menodainya, bahkan melunturkan dan meruntuhkannya. Mari tetap menjaga izzah sebagai seorang mukmin, kemuliaan sebagai hamba Allah Yang Maha Mulia, karena memang izzah dan kemuliaan hanyalah milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, sebagaimana dalam firman Allah:
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“…Dan kemuliaan itu hanyalah milik Allah, juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (QS. al-Munafiqun: 8)
 
Jamaah sholat Jumat rahimakumullah…
Beberapa minggu terakhir ini kaum muslimin di Indonesia terusik dengan sebuah issu yang cukup sensitif, karena menyangkut kitab suci yang diagungkan dan disakralkan oleh umat Islam. Sebuah pernyataan disampaikan oleh seorang pejabat public yang seakan-akan menggugat kesucian dan ketinggian al-Qur’an. Pro dan kontra pun timbul sehingga menjadi pembicaraan yang seperti tidak berujung. Berbagai pendapat disampaikan oleh para ulama, ormas Islam, pemikir dan berbagai kalangan yang lain.
Terlepas dari masalah penistaan agama yang sedang diproses secara hukum, -dalam kesempatan ini – khotib ini ingin membahas sedikit mengenai substansi masalah yang dibicarakan yaitu makna yang terkandung dalam Surat al-Maidah ayat 51 dan hokum memilih pemimpin dari kalangan non-Muslim.
Jamaah sholat Jumat rahimakumullah…
Allah berfirmandalamSurat al-Maidahayat 51:
يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُوالَاتَتَّخِذُواالْيَهُودَوَالنَّصَارَىأَوْلِيَاءَبَعْضُهُمْأَوْلِيَاءُبَعْضٍوَمَنْيَتَوَلَّهُمْمِنْكُمْفَإِنَّهُمِنْهُمْإِنَّاللَّهَلَايَهْدِيالْقَوْمَالظَّالِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi temansetia(mu); sebahagian mereka adalah penolong bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi temansetia, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak member petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(QS. al-Maidah: 51)
 
Hal yang menjadi perdebatan dalam ayat di atas adalah mengenai makna “Auliya’”, yang secara bahasa merupakan bentuk jama’ dari kata “waliyy”. Kata  “waliyy” sendiri mempunyai beberapa makna, sebagaimana disebutkan dalam al-Mu’jam al-Wasith, yaitu: penolong, teman dekat, kekasih, sekutu, tetangga, dan orang yang memikul tanggungjawab tertentu atau bias disebut sebagai pemimpin. Dengan banyaknya makna dari kata “waliyy” tersebut, maka wajar apabila terjadi beberapa perbedaan dalam menafsirkan dan menerjemahkan ayat di atas.
Kata “waliyy”sendiri – baik dalam bentuk mufrad (satu) maupun jamak (banyak)-diulang sebanyak 64 kali dalam al-Qur’an. Dalam hamper semua ayat tersebut, kebanyakan ahli tafsir memaknai kata waliyy atau auliya’ dengan: penolong, teman setia dan sekutu. Termasuk dalam Surat al-Maidah ayat 51 di atas. Mari kita baca penafsiran beberapa ulama tafsir mengenai ayat tersebut:
Al-Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: “Allah ta’ala melarang hamba-Nya yang beriman untuk menjadikan kaum Yahudi dan Nashrani sebagai sekutu.”
Imam ash-Shabuni dalam kitab tafsirnya juga mengatakan; “Allah ta’ala melarang kaum mukminin menjadikan Yahudi dan Nashrani sebagai sekutu, juga melarang mereka untuk menolong, meminta tolong dan berinteraksi dengan mereka seperti berinteraksi dengan kaum mukminin. Yang demikian adalah karena sebagian mereka merupakan sekutu atau penolong bagi sebagian yang lain.”
Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam tafsir al-Wasith mengatakan: “Al-Qur’an mewajibkan saling tolong-menolong diantara kaum mukminin, bersikap mandiri dengan diri mereka, dan menumbuhkan rasa saling percaya dan saling memberikan sokongan.”
Dari pernyataan para ulama tafsir di atas, kita bias menyimpulkan bahwa; sebagai umat yang satu, kaum mukminin harus mengembangkan sikap saling percaya, tolong menolong dan mandiri diantara mereka, sehingga tidak perlu menjadikan orang-orang di luar Islam sebagai sekutu, penolong dan kawan setia yang membuat kaum mukminin menjadi tergantung dan mudah diatur oleh orang-orang tersebut.
Walaupun tidak secara eksplisit disebut oleh para muffassir untuk tidak menjadikan non-muslim sebagai pemimpin, akan tetapi kita bias meng-analogi-kan; jika menjadikan non-muslim sebagai teman setia saja dilarang, -padahal hubungan seorang teman dengan temannya adalah hubungan informal yang tidak berkonsekuensi hokum apa-apa-, maka menjadikan non-muslim sebagai pemimpin tentunya lebih dilarang karena terdapat kewajiban untuk mentaati pemimpin dalam semua aturan dan kebijakan yang ia keluarkan. Dan membelot atau tidak patuh kepada pemimpin mempunyai konsekuensi hukum, baik hokum dunia maupun akhirat.
Oleh karenaitu, sebenarnya pembahasan tentang kewajiban untuk memilih pemimpin yang muslim tidak harus menggunakan ayat Surat al-Maidah ayat 51, tetapi menggunakan dalil-dalil lain dari hadis-hadis Nabi. Seperti dalam dalam sebuahhadis:
 
عن عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قال: دَعَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَكَانَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ قَالَ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ(متفق عليه)
Dari Ubadah bin Shamit, ia berkata: Rasulullah mengajak kami untuk masuk Islam, maka kamipun berjanji setia kepadanya. Dan diantara isi dari janji setia itu adalah: agar kami selalu mendengar dan taat (kepada pemimpin) saat giat dan malas, saat kesulitan dan kemudahan, dan saat hak-hak kami diambil. Dan bahwa kami tidak merampas kepemimpinan dari orang yang berhak, kecuali apabila telah Nampak kekufuran yang nyata, yang kita mempunyai alasan yang jelas di sisi Allah taala.” (Muttafaqunalaih)
 
Hadis tersebut memberikan penjelasan bahwa kita diwajibkan tunduk dan patuh serta dilarang memberontak kepada seorang pemimpin, kecuali apabila ia telah melakukan kekufuran yang nyata. Artinya, seorang pemimpin non-muslim tidak mempunyai legitimasi untuk ditaati, padahal seorang pemimpin ada untuk ditaati. Dengan ungkapan lain, berarti memilih pemimpin non-muslim tidaklah diperbolehkan dalam agama Islam.
Al-Imam al-Qadhi Iyadh berkata sebagaimana dinukil oleh al-Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim: “Para ulama bersepakat bahwa kepemimpinan tidak sah diberikan kepada non-muslim, dan bahkan bila pemimpin Muslim kemudian keluar dari Islam, maka ia harus turun.”
Ibnu Mundzir juga berkata: “Seluruh ulama bersepakat bahwa orang kafir sama sekali tidak boleh menjadi pemimpin bagi kaum muslimin dalam keadaan apapun.”
 
Jamaah sholat Jumat rahimakumullah…
Al-Qur’an adalah sebuah kitab yang menjadi petunjuk bagi umat Islam. Al-Qur’an mempunyai karakterisktik “hammalatulwujuh (حَمَّالَةُ الْوُجُوه)” yang berarti memuat makna-makna yang variatif yang lebih dari satu. Dengan karakteristik ini, maka al-Qur’an mempunyai fleksibilitas untuk menerima pemahaman-pemahaman yang berbeda, sehingga setiap orang mampu menggali makna yang sesuai dengan argumen yang menurutnya lebih tepat. Oleh karena itu, sangat dimungkinkan terjadi perbedaan pandangan mengenai maksud suatu ayat, -termasuk ayat ke 51 dari Surat al-Maidah ini-, sehingga tidaklah perlu saling memaksakan pandangan masing-masing, tapi hendaklah saling memaklumi dan menjaga persatuan.
Akan tetapi berkenaan dengan kewajiban memilih pemimpin yang muslim, maka sejauh dalil-dalil yang bisa kita baca, dan pemahaman ulama terhadap dalil tersebut, kita menemukan bahwa ulama telah bersepakat mengenai hal itu.
Kita bermohon kepada Allah, semoga umat Islam senantiasa dibimbing-Nya menuju jalan yang lurus, semoga diberikan pemahaman yang benar dalam urusan agama mereka, dan semoga selalu dijaga dan dilindungi dari tipudaya orang-orang yang melakukan tipudaya.
بَارَكَاللهُلِيْوَلَكُمْفِيالْقُرْآنِالْعَظِيْمِ،وَنَفَعَنِيْوَإِيَّاكُمْبِمَافِيْهِمِنَالْآيَاتِوَالذِّكْرِالْحَكِيْم،أَقُوْلُمَاتَسْمَعُوْنَ،وَأَسْتَغْفِرُاللهَلِيْوَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْـمُسْلِمِيْنَ وَالْـمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْه، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.
 
Khutbah Kedua: 
 
الْحَمْدُ لله عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وَأَشهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِه، وأَشهدُ أنَّ نَبِيَّنَا مُحمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلى رِضْوَانِه، أَمَّا بَعْدُ :
فَيَا عَبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلاَ تَـمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون:
﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً﴾
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَـجِيْد، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْـخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْن، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعَيْن ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنـِّكَ وَكَرِمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْن .
اَللّهُمّاغْفِرْلِلْمُسْلِمِيْنَوَاْلمُسْلِمَاتِوَالْمُؤْمِنِيْنَوَالْمُؤْمِنًاتِاَلأَحْيَاءِمِنْهُمْوَالأَمْوَاتِإِنّكَسَمِيْعٌمُجِيْبُالدّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإسَلَامَ وَالْـمُسْلِمِيْن وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْـمُشْرِكِيْن
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوُّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَقِيْمُوا الصَّلَاة...
 

 
gambar-kata-mutiara-hikmah-ikadi-islamic-quotes-assyafii001b.jpg

Artikel Terbaru

Rohingya dan Dunia yang Terluka

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radika... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday424
mod_vvisit_counterYesterday2038
mod_vvisit_counterThis week8382
mod_vvisit_counterLast week12646
mod_vvisit_counterThis month40973
mod_vvisit_counterLast month69797
mod_vvisit_counterAll days3765077