Home Artikel Khutbah Khutbah Jum'at - Kedudukan Perempuan Dalam Islam

Khutbah Jum'at - Kedudukan Perempuan Dalam Islam

 

Seri Khutbah Jum’at Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Wilayah DIY

Edisi 17, Jum’at 22 April 2016

 

 

KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM ISLAM

 

Oleh: Ust.Isharyanto, S.St. Ak.

(Bendahara II, PW IKADI DIY)

 

___________________________________

Khutbah Pertama:

___________________________________

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي كَرَّمَالْـــمَرْأَة، فَجَعَلَ لَهَا فِي اْلإِسْلاَمِ مَنْزِلَةً رَفِيْعَة، وأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلـهَ إلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَه.

 

اَللَّهُمَّصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْبَرِيَّة،وَعَلَى آلِهِ الْــمُطَهَّرِيْنَ وَأَصْحَابِهِ الْبَرَرَة، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِلُقْيَاه.

 

أَمَّا بَعْدُ،فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْـمُتَّقُوْن، قَالَ اللهُ جَلَّ فِي عُلَاه:

 

(يَاأَيُّهَاالَّذِينَآَمَنُوااتَّقُوااللَّهَحَقَّتُقَاتِهِوَلَاتَمُوتُنَّإِلَّاوَأَنْتُمْمُسْلِمُونَ)

 

(يَاأَيُّهَاالنَّاسُاتَّقُوارَبَّكُمُالَّذِيخَلَقَكُمْمِنْنَفْسٍوَاحِدَةٍوَخَلَقَمِنْهَازَوْجَهَاوَبَثَّمِنْهُمَارِجَالًاكَثِيرًاوَنِسَاءًوَاتَّقُوااللَّهَالَّذِيتَسَاءَلُونَبِهِوَالْأَرْحَامَإِنَّاللَّهَكَانَعَلَيْكُمْرَقِيبًا)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah...

 

Pertama-tama khatib berwasiat khususnya untuk diri khatib sendiri dan umumnya untuk jama’ah sekalian, marilah kita senantiasa tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wataala,karena hanya keimanan dan ketaqwaanlah sebaik-baik bekal untuk menuju kampung akhirat, kembali kepada Allah subhanahu wataala.

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah...

 

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini untuk mengenang jasa-jasa Ibu R.A Kartini dalam menuntut persamaan hak kaum perempuan atau biasa disebut dengan emansipasi. Dalam perkembangannya, emansipasi sering diterjemahkan sebagai kesamaan kedudukan perempuan dan laki-laki di segala bidang,atau sering diistilahkan dengan kesetaraan gender.Dalam beberapa wacana, terdapat kecenderungan untuk mengesampingkan realita perbedaan kodrat antara perempuan dan laki-laki dan keinginan untuk melepaskan diri dari nilai-nilai agama yang dianggap tidak relevan dengan peran perempuan di zaman modern. Pertanyaannya adalah: Emansipasi apakah sebenarnyayang diperjuangkan oleh Ibu R.A. Kartini? Apakah seperti yang sering disebut sebagai persamaan gender tersebut?

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah...

 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita melihat sumber otentik yang mendokumentasikan perjuangan R.A. Kartini, dintaranya adalah surat-surat R.A. Kartini yang dikirim kepada teman-temannya di Eropa, yang kemudian dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

 

Dalam surat-surat yang dikirim oleh R.A. Kartini tersebut dapat diketahui pesan-pesan yang disampaikan oleh R.A. Kartini yang menunjukkan perkembangan pemikirannya yaitu:

 

Pertama,kritik Kartini terhadap peraturan adat yang cenderung mengungkung perempuan dan tidak memberikan hak pendidikan bagi kaum perempuan.

 

Kedua,dalam pergaulan dengan teman-temannya Eropa Kartini sempat terpengaruh oleh pemikiran mereka dan menganggap orang Eropalah yang patut menjadi contoh.

 

Ketiga,setelah pertemuannya dengan Kyai Sholeh Darat dari Semarang, pandangan Kartini mulai berubah. Apalagi setelah Kartini menerima dan mempelajari al-Quran terjemah dalam bahasa Jawa, makin tumbuhlah semangatnya untuk mempelajari Islam, sehingga pada akhirnya mempengaruhi cara pandang dia terhadap kehidupan. Kartini pun mulai berani mengkritik gaya hidup barat yang penuh kebebasan, mengkritik praktik kristenisasi yang ada pada saat ini, dan mengkritik ketidakadilan, khususnya bagi kaum perempuan.

 

Satu tekad yang tertanam di dalam dada Kartini: “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut di sukai.”. (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juni 1902). Di dalam suratnya yang lain, Kartini menulis: ”Manusia itu berusaha, Allah lah-yang menentukan.” (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, Oktober 1900).

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah...

 

Jauh sebelum Kartini meneriakkan persamaan hak bagi kaum perempuan, Islam telah menempatkan perempuan dalam kedudukan yang mulia. Penghormatan Islam terhadap kaum perempuan ini dapat kita bandingkan dengan perlakuan masyarakat jahiliyyah pada kaum perempuan.

 

Sungguh, kondisi perempuan pada bangsa Arab sebelum Islam berada dalam puncak kehinaan sehingga sampai pada keterbelakangan, kemunduran dan kelemahan yang sudah tidak layak lagi disandang oleh makhluk yang bernama manusia. Perempuan tidak memiliki hak sekalipun untuk mengungkapkan pikirannya dalam seluruh permasalahan hidupnya. Mereka tidak berhak mendapatkan warisan karena adat yang berlaku adalah  yang berhak mendapatkan warisan hanyalah orang yang memanggul pedang dan menjaga negara. Mereka juga tidak ada hak mengajukan usul tentang calon suaminya, karena urusan tersebut dipegang mutlak oleh walinya. Bahkan seorang anak berhak melarang janda dari ayahnya untuk menikah, sehingga sang ibu harus memberikan kepadanya apa yang telah diambil dari suaminya yang telah meninggal. Seorang anak juga memiliki hak untuk mengawini ibu tirinya tanpa mahar atau mengawinkannya dengan orang lain dengan syarat orang tersebut menyerahkan maharnya kepadanya, dan bukan kepada ibu tirinya.

 

Seorang laki-laki jahiliyah dengan mudah akan menyerahkan istrinya kepada orang lain agar tumbuh darinya anak yang memiliki bibit unggul,sebagaimana seseorang yang menyerahkan hewan betinanya agar dikawini pejantan yang unggul sehingga mendapatkan bibit unggul. Na’udzubillah tsumma na’udzubillahi min dzalik.

 

Dahulu para laki-laki Arab di masa jahiliyah akan merasa sangat kecewa dan sempit dadanya apabila dikabarkan bahwa istrinya melahirkan anak perempuan. Mereka sangat marah dan kecewa seakan-akan ditimpa suatu musibah. Al-Qur’anul Karim telah mengisahkan tentang adat jahiliyah yang ada pada mereka sebagaimana firman-Nya:

 

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالأُنثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ! يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلاَ سَاء مَا يَحْكُمُونَ

 

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereku tetapkan itu.”(Q.S an-Nahl: 58-59).

 

Di antara adat istiadat jahiliyah arab yang paling buruk adalah mengubur anak perempuan hidup-hidup, maka hal ini dapat dikatakan sebagai bukti yang menunjukkan tentang puncak kekerasan, kekejaman dan sadisnya mereka sebagaimana yang difirmankan Allah di dalam al-Quranul Karim:

 

وَإِذَا الْمَوْؤُودَةُ سُئِلَتْ! بِأَيِّ ذَنبٍ قُتِلَتْ

”Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh?”(Q.S at-Takwir: 8-9).


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah...

 

Setelah mengetahui kondisi wanita pada zaman Jahiliyyah, mari kita lihat bagaimana Islam mendudukkan dan memuliakan perempuan. Kita akan melihat betapa para perempuan merasakan nikmat hidup di bawah naungan Islam dengan derajat yang tinggi dalam masalah penjagaan dan perlindungan. Islam telah memberikan hak-hak manusiawinya secara sempurna dan hak-hak pemilikannya secara sempurna, menjaga mereka dari pelecehan syahwat dan fitnah seksual. Islam menjadikan mereka sebagai salah satu unsur pembangun masyarakat dan penentu kualitas generasi mendatang. Pemuliaan Allah subhanahu wataalaterhadap kaum perempuan ini juga terlihat dengan pemberian nama satu surat dengan nama surat perempuan (an-Nisa’).

 

Kedudukan perempuan dalam Islam dapat dirinci sebagai berikut:

 

Pertama,perempuan dan laki-laki mempunyai kedudukan yang sama dalam pandangan Allah subhanahu wataala. Mereka yang beriman dan beramal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan berhak mendapatkan ridha dan surga dari Allah subhanahu wataala, sebagaimana firman-Nya:

 

وَعَدَ اللّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

 

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang mulia di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar, itulah keberuntungan yang besar.”(Q.S at-Taubah: 72)

 

Dan sebaliknya, Allah subhanahu wataalajuga memberikan hukuman yang sama bagi hamba-Nya, baik laki-laki maupun perempuan yang berbuat dosa dan melanggar aturan-aturan-Nya, sebagaimana firman-Nya:

 

لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

 

“Agar Allah mengazab orang-orang munafik, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan, dan orang-orang musyrik, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan. Dan agar Allah mengampuni orang-orang yang beriman, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan…”(Q.S al-Ahzab: 73).

 

Bahkan al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa yang membedakan kedudukan hamba di depan Allah bukan jenis kelamin, melainkan hanya ketakwaan. Allah berfirman:

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

 

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(Q.S al-Hujurat: 13).

 

Kedua,perempuan merupakan partner (mitra) bagi kaum laki-laki.

 

Perempuan dan laki-laki memiliki peran saling melengkapi dan saling menolong dalam rangka taat kepada Allah subhanahu wataaladan menegakkan aturan Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya:

 

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَـئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

 

“Dan  orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yawg makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”(Q.S at-Taubah: 71)

 

Juga, ketika berbicara mengenai hubungan suami istri Allah mengatakan:

 

هُنَّلِبَاسٌلَكُمْوَأَنْتُمْلِبَاسٌلَهُنَّ

 

“…Mereka (para istri) adalah pakaian bagimu, dan kalian adalah pakaian bagi mereka…”(Q.S al-Baqarah: 187).

 

Ketiga,Islam memuliakan perempuan dengan menjaga kehormatan dan kesuciannya. Salah satu hikmah diwajibkannya mengenakan jilbab bagi perempuan adalah dalam rangka menjaga kehormatan dan kesucian kaum perempuan.

 

Allah subhanahu wataala  berfirman:

 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

 

“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Q.S al-Ahzab: 59).

 

Keempat,dalam perannya sebagai ibu rumah tangga, seorang ibu mempunyai peran yang sangat strategis untuk menjadi pendidik generasi dan pengatur rumah tangga. Tanggung jawab mendidik anak merupakan tanggung jawab kedua orang tua, namun dengan interaksi anak yang lebih intens bersama ibunya dibanding dengan ayahnya, seorang ibu mempunyai kelebihan untuk menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dan mendidik merupakan tugas yang sangat mulia sepanjang masa.

 

Hafidz Ibrahim, seorang penyair Arab kontemporer mengatakan:

 

الْأُمُّ مَدْرَسَةٌ إِنْ أَعْدَدْتَهَا  !  أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ اْلأَعْرَاقِ

 

“Ibu adalah sekolah, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.”

 

Seorang wanita juga diberikan peran oleh Allah sebagai penanggung jawab dalam rumah tangga suaminya, sebagai pemimpin atas anak-anaknya. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 

الْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُوْلَةٌ عَنْهُمْ

 

“Wanita adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya dan anak suaminya, dan ia akan ditanya tentang mereka.”(HR. al-Bukhari dan Muslim).

 

Kelima,seorang ibu mendapatkan penghormatan tiga kali lebih tinggi dibandingkan seorang ayah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 

عَنْأَبِيهُرَيْرَةَرَضِيَاللَّهُعَنْهُقَالَ:جَاءَرَجُلٌإِلَىرَسُولِاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَفَقَالَ: يَارَسُولَاللَّهِ،مَنْأَحَقُّالنَّاسِبِحُسْنِصَحَابَتِي؟قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّمَنْ؟قَالَ: ثُمَّأُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّمَنْ؟قَالَ: ثُمَّأُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّمَنْ؟قَالَ: ثُمَّأَبُوكَ.

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dia berkata, “Ya Rasulullah, siapa orang yang paling berhak mendapat kebaikanku?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Kemudian bapakmu.”(Muttafaqun ‘alaihi).

 

Menurut ulama, hal itu dikarenakan ibu melakukantiga hal yang sangat berpengaruh dalam kehidupan seorang anak yang tidak dilakukan oleh ayah, yaitu: mengandung, melahirkan dan menyusui.Firman Allah subhanahu wataala:

 

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

 

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, "Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (Q.S al-Ahqaf: 15)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah...

 

Demikian penjelasan tentang bagaimana Islam memberikan kedudukan dan penghargaan serta penghormatan kepada kaum wanita.  Ini semua menunjukkan, bahwa Islam justru merupakan agama yang telah mengangkat dan memuliakan perempuan. Maka tidaklah benar kalau sebagian orang menuduh Islam sebagai agama yang mengungkung dan membatasi hak-hak perempuan. Islam telah menempatkannya pada tempat yang paling sesuai dengannya, dengan tidak sedikitpun mengurangi atau mengambil hak-haknya yang ia bawa sejak lahir. Hal ini dikarenakan Islam bersumber dari Allah subhanahu wataala, dan Allah-lahpencipta seluruh makluknya, termasuk juga kaum wanita. Maka pastilah Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi mereka.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم،أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم.

___________________________________

Khutbah Kedua:

___________________________________

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِوَكَفَى، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ الْـــمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَى، أَمَّا بَعْدُ :

 

فَيَا عِبَادَ الله، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلاَ تَـمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون:

 

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً﴾

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَـجِيْد، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْـخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْن، أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعَيْن، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنـِّكَ وَكَرِمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْن .

 

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإسَلَامَ وَالْـمُسْلِمِيْن وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْـمُشْرِكِيْن .

 

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

 

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

 

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. والْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ،

 

أَقِيْمُوا الصَّلَاة...

 

 

 

Naskah khutbah diatas juga bisa diunduh dalam format pdf pada link berikut ini:

http://www.4shared.com/office/glktm3huba/KedudukanPerempuan_dalam_Islam.html

Bagi yang menggunakan aplikasi Whatsapp yang sudah support file attachment, juga bisa mendapatkan file pdf tersebut dengan menghubungi no: 085729989053

Juga bisa di lihat di channel IKADI DIY di telegram

 

 

 

 

 
ikadi-fbquotes-010.jpg

Artikel Terbaru

Rohingya dan Dunia yang Terluka

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radika... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday424
mod_vvisit_counterYesterday2038
mod_vvisit_counterThis week8382
mod_vvisit_counterLast week12646
mod_vvisit_counterThis month40973
mod_vvisit_counterLast month69797
mod_vvisit_counterAll days3765077