Home Artikel Khutbah Khutbah Jum'at - Manusia Pembelajar

Khutbah Jum'at - Manusia Pembelajar

MANUSIA PEMBELAJAR

Oleh: Inayatullah Hasyim*
 
 
اَلْحَمْدُ لله حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ وَ كَفَرَ. وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ وَ حَبِيْبُهُ وَ خَلِيْلُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَ الْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَ سَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
قال الله تعالى في القرآن الكريم: أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُّخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا ۚ وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ (27) وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ (28)
اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ الله اِتَّقُوْا الله وَ اعْلَمُوْا اَنَّ الله يُحِبُّ مَكَارِمَ الْأُمُوْرِ وَ يَكْرَهُ سَفَاسِفَهَا يُحِبُّ مِنْ عِبَادِهِ اَنْ يَّكُوْنُوْا فِى تَكْمِيْلِ اِسْلَامِهِ وَ اِيْمَانِهِ وَ اِنَّهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ
 
Hadirin Kaum Muslimin Jamaah Shalat Jum’at yang Mulia.
 
Pada kesempatan khutbah Jum'at yang singkat ini, mari pertama-tama kita mengucapkan syukur pada Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan pada kita semua, terutama nikmat iman, islam dan sehat wal afiat. Kedua, mari bershalawat pada Rasulallah SAW. Semoga kita termasuk umatnya yang setia hingga hari kiamat kelak.
 
Selaku khatib, saya berwasiat pada diri sendiri dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa dalam arti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala rangan-Nya.
 
Pada kesempatan khutbah Jum'at yang singkat ini, khatib ingin membahas tentang belajar sebagai ibadah.
 
Sesungguhnya belajar adalah ibadah yang sangat mulia. Dengan belajar, seseorang menjadi cerdas dan memiliki masa depan yang lebih cerah. Imam Syafii mengatakan,
 
ومنْ لم يذق مرَّ التعلمِ ساعةً *** تجرَّعَ ذلَّ الجهل طولَ حياته
ومن فاتهُ التَّعليمُ وقتَ شبابهِ *** فكبِّر عليه أربعاً لوفاته -- الإمام الشافعي
 
Siapa orang yang tak pernah merasakan sulitnya belajar; *** dia akan terus dikungkung kebodohan sepanjang hidupnya
 
Dan, siapa orang yang terlewat untuk belajar di masa mudanya *** mari takbir empat kali (shalat jenazah) atas kematiannya.
 
Maka, demikianlah kita mendengar Rasulallah SAW menganjurkan umatnya untuk terus belajar. Bahkan, Rasulallah SAW mengatakan,
 
فَضْلَ العالمِ على العَابِدِ كَفضل القمر ليلة البدرِ على سائرِ الكَوَاكِب
 
“Keutamaan seorang yang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti (keutamaan cahaya) bulan purnama atas seluruh bintang-gemintang” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
 
Ilmu pengetahuan yang dipelajari harus menjadi jembatan untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadits dari Abu Darda radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulallah SAW bersabda,
 
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ ، وَإِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ ، وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ ، إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ لَمْ يَرِثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرِثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
 
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga.
Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridho pada pencari ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.”
 
Sesungguhnya Islam tidak pernah membedakan ilmu dunia atau akherat, ilmu umum atau ilmu agama. Perbedaan itu terjadi karena keterbatasan manusia untuk menguasai semua disiplin ilmu. Kemampuan akal manusia sangat fakultatif sehingga diperlukan fakultas-fakultas ilmu.
 
Hadirin Kaum Muslimin Jamaah Shalat Jum’at yang Mulia.
 
Ilmu adalah anugerah ilahiyah. Tidak mungkin diperoleh kecuali dengan pertolongan dan taufik dari Allah. Karena itu, di antara doa yang paling agung yang ada dalam Alquran adalah “وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا “dan katakanlah, Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. QS:Thaahaa: 114.
 
Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, bahwa Rsulallah SAW setiap selesai shalat subuh mengucapkan doa:
 
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا ، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
 
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
 
Oleh karena itu, hendaknya para pembelajar senantiasa meminta pertolongan kepada Allah SWT, memohon taufik kepada-Nya. Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah mengecewakan doa seseorang yang tulus meminta kepada-Nya.
 
Hadirin Kaum Muslimin Jamaah Shalat Jum’at yang Mulia.
 
Puncak dari segala ilmu adalah yang mendatangkan rasa takut kepada Allah SWT. Bukan kesombongan apalagi sampai menantang-Nya. Allah SWT berfirman, : إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ [فاطر:28 “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya adalah para ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS: Fathir: 28).
 
Jadi, ilmu pengetahuan yang tidak mendatangkan ketaatan kepada Allah adalah kesia-siaan. Karena itulah, Ibnu Mas'ud mengatakan, كفى بخشية الله علما "cukuplah rasa takut kepada Allah disebut sebagai ilmu pengetahuan".
 
Apalah artinya banyak gelar, jika tak pernah gelar sajadah. Capaian-capaian dunia hanyalah halte dari fase kehidupan kita. Hari ini Anda diwisuda, bergelar S-1, (SAg, S.H., SIP, SSos, Shut atau apapun embel lainnya). Esok lusa mungkin bergelar S-2, bahkan S-3 (doktor), tapi semua itu menjadi sia-sia jika tak mendatangkan ketaatan kepada Allah SWT. Sebab, suatu hal yang pasti, semua manusia akan bergelar Alm. Ya, itulah almarhum. Ketika seluruh episode kehidupan dunia kita berakhir. dan gelar itu disematkan saat jasad telah dikembalikan ke bumi. Sesungguhnya semua milik Allah, dan hanya kepada-Nya segala hal kembali.
 
Maka, barangsiapa yang kehilangan rasa takut kepada Allah SWT di dalam hatinya, dia tidak disebut sebagai ilmuwan, betapapun banyak gelar akademis yang disandangnya. Takut kepada Allah adalah esensi dan puncak keilmuan seseorang. Semakin besar rasa takut yang mendatangkan ketakwaan kepada Allah, maka akan semakin tampak bersih hatinya, bagus akhlaknya, berbinar wajahnya, lembut tutur-katanya dan ilmunya mendatangkan kemaslahatan bagi umat manusia.
 
Hadirin Kaum Muslimin Jamaah Shalat Jum’at yang Mulia.
 
Karena itu, menghadirkan kecintaan kepada Allah dan Rasulallah SAW adalah prasyarat utama dalam belajar. Apabila hati sudah dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulallah SAW niscaya akan semakin baik keadaan seorang hamba, dan semakin berkualitas amalnya.
 
Apabila ia mencintai Allah dengan tulus, maka amalannya akan ikhlas hanya untuk-Nya. Apabila seseorang mencintai Rasulullah dengan tulus, maka ia akan menjadikannya satu-satunya teladan dalam beribadah. Ia akan berusaha bagaimana agar amalnya ini sesuai dengan apa yang telah beliau ajarkan.
 
Para pembelajar hendaklah menjauhkan dirinya dari tempat yang sia-sia. Majelis yang hanya mendatangkan gurau, gelak canda. Majelis-majelis yang membuat hati menjadi sakit dan iman menjadi lemah. Ia senantiasa bersama orang-orang yang menginspirasi dan memudahkannya dalam belajar Demikianlah memang, seseorang yang terbiasa berkumpul dengan orang yang baik, hal itu akan membawanya kepada kebaikan. Ia akan merasakan ringan dan mudah untuk beribadah.
 
Bagi setiap pembelajar, adab harus benar-benar diperhatikan. Para ulama menjelaskan adab-adab tersebut dalam kitab-kitab mereka agar penuntut ilmu bisa merasakan buah ilmu dan mewujudkan ilmu mereka dalam keseharian. Bahkan, Abdullah bin al-Mubarak mengatakan, “Adab itu hampir sepertiga bagian agama ini.”
 
أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
 
 

* Inayatullah Hasyim , Dept. Riset dan Kajian PP IKADI

 

 
quotescover-berilmu3c.jpg

Artikel Terbaru

Rohingya dan Dunia yang Terluka

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radika... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday427
mod_vvisit_counterYesterday2038
mod_vvisit_counterThis week8385
mod_vvisit_counterLast week12646
mod_vvisit_counterThis month40976
mod_vvisit_counterLast month69797
mod_vvisit_counterAll days3765080