Home Artikel Khutbah

Khutbah

Khutbah Jum'at - Ramadhan Sebagai Pengingat Perjalanan Usia

Khutbah Jum'at - Ramadhan Sebagai Pengingat Perjalanan Usia
RAMADHAN SEBAGAI PENGINGAT PERJALANAN USIA
Oleh Inayatullah Hasyim
 
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِيْهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ} ,
{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا}
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا}
أَمَّا بَعْدُ
 
Hadirin kaum Muslimin jamaah shalat Jum'at yang mulia.
 
Puji syukur pada Allah SWT. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rasulallah SAW dan para ahli keluarganya yang suci dan mulia. 
 
Selaku khatib, saya berpesan pada diri sendiri dan jamaah sekalian: mari tingkatkan selalu ketakwaan kita kepada Allah SWT, agar kita mendapatkan kesuksesan hidup dunia dan akherat. Amin.
 
Pada hari yang  cerah ini, selaku khatib, saya ingin mengajak hadirin sekalian untuk merenungi sejenak salah satu fitrah kemanusiaan kita, yaitu soal usia. 
 
Seperti kita ketahui, sebentar lagi ramadhan, maka bertambahlah usia kita.  Usia merupakan salah satu nikmat Allah swt yang seringkali diabaikan oleh hamba-hamba-Nya. Padahal tak ada seorang pun di antara kita yang mampu membendung perjalanan usia. Sebab, bila Ramadhan tahun lalu kita masih berusia empat puluh tahun, misalnya. Maka, Ramadhan tahun ini kita sudah berusia empat puluh satu tahun. Begitu seterusnya.
 
Persoalannya adalah sudahkah kita hidup dengan mengoptimalkan setiap detik usia yang diberikan oleh Allah swt, atau kita telah menyia-nyiakannya secara percuma? 
 
Pertanyaan ini penting diajukan mengingat umat Islam Indonesia masih banyak yang terjebak dalam kemacetan berfikir tentang potensi usia yang dimilikinya. Banyak yang mengira bahwa ia akan kekal abadi di dunia ini, sehingga seluruh potensi negeri ini dikeruknya tanpa memperhatikan halal dan haram.
 
Sungguh menyedihkan, negeri dengan mayoritas muslim ini tercatat sebagai salah satu negeri terkorup di dunia. Peredaran narkoba merajalela di mana-mana. Penegakan hukum belum menyentuh substansi keadilan sesungguhnya. 
 
Padahal, jika setiap kita menyadari bahwa betapa kehidupan dunia hanyalah singgah sekejap mata, niscaya kita akan menangis menyaksikan kain kafan kita tengah dipersiapkan tiap hari.
 
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal, Rasulallah bersabda,
 
" لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ : عَنْ عُمُرِهِ ، فِيمَ أَفْنَاهُ ؟ وعَنْ شَبَابِهِ ، فِيمَ أَبْلَاهُ ؟ وَعَنْ مَالِهِ ، مِنْ أَيْنَ ؟ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ؟ وَعَنْ عِلْمِهِ ، مَاذَا عَمِلَ فِيهِ ؟" 
 
Artinya: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba di hari kiamat hingga ditanyakan kepadanya empat hal: Usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya bagaimana ia pergunakan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia keluarkan, serta ilmunya, apa yang ia telah perbuat dengannya.”
  
Ternyata, setiap umat manusia akan ditanyakan tentang usia yang telah diberikan padanya. Bahkan secara lebih khusus, akan juga ditanyakan tentang usia muda kita. Apa yang telah kita lakukan sepanjang masa muda itu. Barangkali, penyebutan secara khusus tentang masa muda, karena pada masa itulah kita tengah membentuk diri kita, menentukan jati diri kita, dan melakukan revolusi besar dalam sejarah hidup kita, menikah, berkeluarga, memiliki keturunan, membangun karir dan melakukan segala aktivitas duniawi.
 
Benarlah ketika Allah swt berfirman,
 
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
 
Artinya: Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat. Kemudian Dia menjadikan kamu sesuadah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. (QS : Ar-rum 54)
  
Hadirin kaum muslimin jamaah shalat Jum’at yang mulia.
 
Bila kita renungi secara lebih sungguh-sungguh, maka kita akan dapatkan bahwa seluruh rangkaian kewajiban agama kita merupakan peringatan bagi diri kita tentang perjalanan usia kita di dunia ini. 
 
Lihatlah bagaimana permulaan masuk waktu subuh, misalnya. Tatkala malam membuka selimut fajarnya, berdirilah seorang muadzin menyerukan setiap insan yang tengah terlelap dalam tidurnya,“Marilah shalat” “Shalat itu lebih baik daripada tidur”.
 
Jiwa yang suci akan menjawab panggilan itu dengan bersegara melakukan shalat subuh. Ia akan membasuh wajahnya dengan air wudhu, membersihkan dirinya dari belenggu syaitan dan menyambut harinya dengan hati yang bersih. Sementara jiwa yang terbuai dalam nina-bobo syaitan akan menarik selimutnya, melanjutkan mimpi-mimpinya, dan ia telah kehilangan waktu yang sangat indah. Waktu subuh yang seakan-akan bernafas.
 
Hadirin kaum muslimin jamaah shalat Jum’at yang mulia.
 
Untuk itulah, para ulama terdahulu, dalam upayanya merenungi setiap detik kehidupan yang dijalaninya, mengatakan, shalat lima waktu adalah “neraca harian” kita. Shalat Jum’at merupakan “neraca pekanan”, dan puasa di bulan Ramadhan menjadi semacam “neraca tahunan” Sementara ibadah haji menjadi “neraca atau timbangan usia” kita.
 
Bila setiap muslim melakukan kalkulasi dengan benar pada neraca hariannya, pekanannya dan tahunan niscaya ia akan beruntung dalam menapaki kehidupan ini. Demikian pula sebaliknya, mereka yang tak pernah melihat neraca kehidupannya, hanya akan menjadi manusia-manusia yang merugi. 
 
Demikianlah kita mendengar Umar bin Khattab berkata, Barangsiapa yang hari ini sama dengan harinya yang kemarin, maka dia adalah orang yang tertipu. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia adalah orang yang tercela.
 
Hadirin kaum muslimin jamaah shalat Jum’at yang mulia. 
 
Setidaknya, ada tiga hal yang harus kita perhatikan agar kita dapat memanfaatkan usia kita dengan sebaik-baiknya.
 
Pertama, Sadarkan diri kita semua bahwa usia sangat cepat berlalu. 
 
Waktu berlari meninggalkan kita melebihi kemampuan kita untuk mengejarnya. Perhatikanlah, rasanya baru kemarin kita berpuasa di bulan Ramadhan, tetapi kini kita telah kembali menyongsong bulan Ramadhan lagi 
 
Baru kemarin, rasanya, kita duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), bermain-main petak umpat dengan teman sebangku, bercengkerama dengan teman sekelas dan bersenda gurau di bangku kuliah. Kini kita telah disini, di kesenjaan usia kita, sebagian telah merayakan reuni alumni yang ke-empat puluh, sebagian lain telah bermenantu, beranak cucu dan sulit menemukan rambut hitam di batok kepala kita sendiri.
 
Menarik sekali ketika K.H.Mustofa Bisyri, penyair dari kalangan Nahdiyin, menulis puisinya tentang waktu. Katanya, "hidup hanyalah kumpulan tahu-tahu. Tahu-tahu dzuhur, tahu-tahu Asar, tahu-tahu Maghrib.... " Tahu-tahu kita sudah berusia senja.
  
Waktu laksana angin, ia berhembus cepat baik saat kita senang ataupun susah. Jika ada yang beranggapan, ketika sedang bergembira waktu berlalu begitu cepat dan saat susah waktu terasa enggan beringsut, sesungguhnya hal itu hanyalah perasaan seseorang. Sebab, keadaan sebenarnya sama saja: Ia berputar sama cepatnya, baik saat kita senang ataupun susah. 
  
Dan, manakala maut datang menjemput, masa-masa yang panjang yang pernah dilalui seseorang hanyalah merupakan bilangan masa pendek yang berlalu bagaikan kilat. 
 
Dikisahkan, ketika Nabi Nuh (Allaihi Salam), seorang rasul yang berusia sembilan ratus lima puluh tahun, hendak dicabut nyawanya oleh malaikat, malaikat bertanya, “Wahai Nuh yang memiliki umur terpanjang, bagaimana kamu mendapati kehidupan dunia ini.” Nuh menjawab, “Dunia ini laksana rumah yang memiliki dua pintu, saya masuk dari pintu yang satu dan segera keluar dari pintu yang lain.”
 
Terlepas dari otentik atau tidaknya cerita tersebut, namun ada satu hal yang menjadi pelajaran bagi kita: Bahwa Nuh yang berusia sangat panjang, ternyata mendapati kehidupan dunia hanya sebentar saat ajal datang menjelang. 
 
Maha Benar Allah swt, saat Dia berfirman,
 
كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا (46)
 
Artinya: Pada hari mereka melihat hari kebangkitan itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melaikan (sebentar saja) yaitu di waktu sore atau di waktu pagi. (QS: An-Nazi’at ayat 46)
 
Kedua: Waktu yang telah berlalu tak akan pernah kembali. Setiap detik yang bergeser dari jam tangan kita telah menjadi sesuatu yang lampau. Ia pergi dan kita masih di sini, dengan sejuta persoalan yang membelenggu diri kita. Seorang penyair sufi berkata,
 
Untuk itulah, sering kita dapati orang yang meratapi masa mudanya saat ia telah berusia renta, lanjut dimakan zaman, rapuh dikikis angan-angan.
 
Penyair Ismail al-Qasim atau yang lebih dikenal sebagai "Abu al-'Itahiyah" menulis: 
”ألَا لَيْتَ الشَبَابُ يَعُوْدُ يَوْمََا * فَأخْبَرَهُ بِمَا فَعَلَ الْمُشِيْبُ“
Andai saja (masa) muda itu kembali sehari saja * niscaya akan aku ceritakan tentang (kesalahan) apa saja yang telah dilakukan (kakek) penuh uban ini
 
Seorang penyair sufi lain berkata,
 
وما المرء إلا راكب ظهر عمره * على سفر يطويه باليوم والشهر
يبيت ويضحى كل يوم وليلة * بعيداً عن الدنيا قريباً من القبر
 
Seseorang hanyalah pengendara di atas pelana usianya. * Berkelana mengikuti hari dan bulan.
Ia berjuang dan bersantai di siang dan malam * Semakin jauh dari dunia, dan semakin dekat dengan pusara.
 
Ketiga: Waktu adalah harta termahal yang dimiliki manusia. Ia lebih mahal dari harta apapun di dunia ini. Andai kita memiliki sekarung emas, nilainya tetap tak sebanding dengan waktu. Sebab, seandainya emas yang kita miliki dicuri orang, kita masih bisa mencari sekarung yang lainnya. Namun, satu detik yang berlalu, ia telah menjadi cerita masa lalu. Tak mungkin terbarukan lagi.
 
ما من يوم ينشق فجره إلا نادى مناد من قبل الحق :يا ابن آدم انا خلق جديد وعلى عملك شهيد فتزود منى بعمل صالح فإنى لا أعود الى يوم القيامه)الإمام الحسن البصرى
 
Tidaklah suatu fajar itu terbit kecuali ia memanggil: Wahai anak cucu Adam, aku adalah ciptaan yang (selalu) baru. Atas semua perilaku kalian, aku menjadi saksi. Maka, berbekalah dari ku dengan amal-amal shaleh, sebab setiap kali aku berlalu, aku tak akan kembali hingga hari kiamat. (Hasan al-Basri)
 
Penyair sufi lain mengatakan, 
 
يا ابن آدم، إنما أنت أيام مجموعة، كلما مضى يوم مضى بعضك
 
Wahai anak Adam, sesungguhnya kalian hanyalah sekumpulan dari hari-hari. Setiap kali hari berlalu, akan berlalu pula sebagian dari dirimu.
 
Orang yang tak kunjung mengerti harta termahal ini, pada suatu saat ia pasti akan menyesalinya. Namun, sesal kemudian tak berguna. Hal demikian digambarkan Allah swt dalam firmannya berikut ini:
 
Pertama: Tatkala seorang menghadapi sakratul maut, detik-detik menuju gerbang kehidupan abadi di sisi Allah, seorang yang lengah dengan waktu akan berharap kematiannya ditangguhkan. Tapi semua sia-sia. Allah berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (9) وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ (10) 
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata, “Ya Rabku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat yang menyebabkan aku dapat bersedakah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh. ( QS Al-Munafiqun 9-10)
 
Kedua: Tatkala manusia dibangkitkan dari kubur. Kepadanya segera dipertontonkan amal-amalnya di dunia. Mereka yang menggunakan waktu dengan baik, menjaga setiap detik dengan keimanan, keshalehan dan ketaatan segera memasuki pintu surga. 
 
Sementara, mereka yang kafir melalaikan usia dunianya, sibuk dengan maksiat, berlomba dalam korupsi, mereka segera memasuki neraka. Saat itulah mereka berharap kalau-kalau dapat diizinkan mudik ke dunia. Tetapi pintu sudah tertutup. Allah swt berfirman,
 
وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نارُ جَهَنَّمَ لا يُقْضى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذابِها كَذلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ (36) وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيها رَبَّنا أَخْرِجْنا نَعْمَلْ صالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ ما يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَما لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ (37)
Artinya: Dan orang-orang kafir, bagi mereka neraka jahanam; mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka adzabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. () Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir. Dan (apakah tidak) datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (adzab kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun.” (Fathir 36-37).
  
Hadirin kaum muslimin jamaah shalat Jum’at yang mulia.
 
Mengingat sedemikian pentingnya perjalanan usia kita, tak ada kata lain bagi kita untuk segera bangkit, mengoptimalkan setiap detik yang berlalu dalam kebajikan. Setiap pekan yang kita lalui semoga menjadi titik penyempurnaan untuk mengoptimalkan sisa-sisa usia yang kita miliki sebelum nama kita terukir dalam sebuah batu nisan.
 
Untuk itu, ada beberapa hal yang patut kita renungi:
 
Pertama: Mari menjaga manfaat waktu. Adalah kewajiban kita semua untuk menjaga manfaat waktu yang kita miliki. Para ulama salaf mencontohkan bagaimana menjaga waktu itu dilakukan. Ibn Mas’ud, misalnya, berkata,
 
  ما ندمت على شيء ندمى على يوم غربت شمسه نقص فيه أجلى ولم يزد فيه عملي 
 
“Aku tidak pernah menyesali sesuatu. Penyesalanku hanyalah pada hari yang telah berlalu, dimana umurku berkurang dan amalku tidak kunjung bertambang.”
 
Ibn Qayyim al-Jawzi mengatakan,
 
إذا مر يوم لم أزدد فيه علما، فليس ذاك اليوم من عمري
 
Bila hari berlalu di hadapanku sedang aku tidak dapat mengambil petunjuk dan ilmu darinya, maka ia bukanlah umurku.
 
Kedua: Mari mengisi kekosongan. Rasulallah saw bersabda,
 
نعمتان مَغبون فيهما كثيرٌ من الناس؛ الصحة والفراغ
“Dua nikmat Allah yang tertipu olehnya kebanyakan manusia: Nikmat sehat dan nikmat waktu luang.”
 
Ketiga: Mari berlomba dalam kebaikan. Sebab seorang yang mengerti nilainya waktu, ia akan berlomba mengisinya dengan kebajikan. Pepatah mengatakan, pemalas menanti hari mujur, bagi yang rajin tiap hari merupakan hari mujur. Dan seorang muslim tidaklah patut menunda pekerjaannya hingga esok sepanjang bisa dilakukannya hari ini.
 
“Tak akan kutunda pekerjaan hari ini hingga esok karena rasa malas sebab sesungguhnya hari esok hanyalah bagi orang-orang yang malas.”
 
Bahkan Rasulallah saw menganjurkan kepada umatnya untuk selalu berdo’a :
 اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ،.....
 
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesengsaraan dan kesedihan dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan.”
 
Keempat: Mari belajar dari perjalanan hari demi hari, bulan demi bulan, Ramadhan demi Ramadhan. Adalah keharusan setiap muslim untuk belajar dari pengalaman hidupnya. Seorang muslim tidak boleh terperosok dalam lubang yang sama dua kali. Dan ia harus terus belajar pada tiap hari yang dilewatinya. 
 
Allah swt berfirman,
 
يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّأُولِي الْأَبْصَارِ (44)
 
Artinya: Allah menggantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan. (QS An-Nur: 44)
 
Demikian khutbah singkat ini, semoga bermanfaat.
 
”أَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
 
 
 
More Articles...
Page 3 of 103
gambar-kata-mutiara-hikmah-ikadi-hijrah1.jpg

Artikel Terbaru

Rohingya dan Dunia yang Terluka

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radika... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday290
mod_vvisit_counterYesterday2038
mod_vvisit_counterThis week8248
mod_vvisit_counterLast week12646
mod_vvisit_counterThis month40839
mod_vvisit_counterLast month69797
mod_vvisit_counterAll days3764943