Home Artikel Kajian Sifat Pemimpin Harapan Umat

Sifat Pemimpin Harapan Umat

Sifat Pemimpin Harapan Umat

Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA

 

Tanggungjawab Memilih Pemimpin

Memilih pemimpin adalah tanggungjawab besar. Tanggungjawab besar karena pilihan tersebut memiliki andil dan pengaruh terhadap perjalanan sebuah komunitas yang dipimpin. Semakin besar komunitas tersebut logikanya semakin besar tanggungjawab yang dibebankan. Realita ini mengharuskan seorang Muslim ikut serta dalam proses memilih pemimpin serta jeli dalam menentukan pilihannya. Terlalu banyak dan jelas dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah dan perkataan Ulama Salafussaleh yang mengungkapkan tentang kewajiban memilih pemimpin yang berpihak kepada kemaslahatan agama dan Umat.

 

Secara logika, pemahaman kemestian ikut serta dalam memilih pemimpin berdasarkan sebuah kaedah Ushul Fikih, bahwa sebuah kewajiban yang tidak bisa terealisasi kecuali dengan sarana tertentu, maka sarana tersebut hukumnya bisa menjadi wajib. Memilih pemimpin yang berpihak kepada agama dan Umat adalah suatu kewajiban demi terealisirnya kemaslahatan bagi agama dan Umat, dan sarana pemilihan tersebut dengan cara ikut serta dalam pemilihan yang dilegalkan secara agama, maka sarana tersebut hukumnya menjadi wajib. Kewajiban ikut serta itu mendapat penekanannya jika ternyata, ketidakikutsertaan dalam memilih berdampak kerugian bagi agama dan Umat.

 

Sekilas Sifat Pemimpin

Tanggungjawab memilih pemimpin ini juga mengharuskan seorang Muslim untuk mengetahui sifat-sifat pemimpin yang diharapkan dalam Al-Aqur’an.

1.      Kuat dan Amanah

Keberadaan dua sifat tersebut secara sekaligus memang sangat jarang didapatkan dalam diri seorang pemimpin. Ini juga merupakan penjelasan dari hadits Rasulullah saw yang menyatakan tentang langkanya seorang Muslim yang memiliki kedua sifat tersebut. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah saw bersabda: “Manusia bagaikan unta seratus, hampir-hampir engkau tidak mendapati satu ekor yang layak ditunggangi”. (HR. Muslim).

 

Karena kelangkaan sifat ini, seorang Muslim semestinya jeli dan cermat dalam memilih pemimpin, dan tidak asal-asalan. Mana yang kuat dan amanah. Karena salah satunya saja tidak cukup. Namun sebagian Ulama menyatakan:“jika harus memilih salah satunya, maka pilihlah yang kuat”.Kekuatannya akan memberikan manfaat bagi rakyatnya, dan kefasikannya akan berdampak kepada dirinya sendiri, asalkan pemimpin tersebut diliputi dengan orang-orang yang relatif mengarahkan kepada kebaikan dan tidak membawa kerugian bagi agama dan Umat. Kuat yang dimaksud dalam berbagai dimensi; fisik, pemikiran dan wawasan, serta kemandirian dan seterusnya.

 

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Qashash ayat 26: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Wahai bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya".

 

2.      Visioner

Sifat visioner sebenarnya menjadi turunan dari sifat kekuatan intelektualitas. Seorang pemimpin harus memiliki kekuatan pemikiran dan wawasan luas, sehingga menjadikannya memilki visi misi yang jelas dalam mengendalikan roda kepemimpinannya. Ia harus mengetahui problematika sekaligus pengetahuan dan langkah-langkah untuk menyelesaikan problematika tersebut.

 

Sifat visioner sebagai diantara indikasi seorang pemimpin sejati. Visioner mengisyaratkan kekuatan intelektualitas dan pemikiran seorang. Sifat ini mendorongnya sekaligus memberikannya peta yang jelas untuk melangkah dan memainkan peranannya. Sebaliknya calon pemimpin yang tidak visioner akan mudah terombang-ambing dan dipengaruhi pihak lain. Lebih dari itu, apakah seseorang layak menjadi pemimpin sebuah komunitas yang ia sendiri tidak mengetahui dan tidak memiliki wawasan yang memadai untuk menyelesaikan permasalahan komunitas, apatah lagi sebuah komunitas besar seperti Bangsa dan Negara?

 

Allah SWT jelaskan sifat ini ketika Banu Israel tidak setuju atas kepemimpinan Thalut. “Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqasah 247).

 

3.      Berpihak dan peduli terhadap kepentingan bangsa dan Umat

Keberpihakan dan kepedulian ini bukan hanya omong kosong, janji-janji dan desain media. Jika hanya desain media, begitu mudah media dalam membentuk dan menyihir opini publik sebagai langkah pencitraan. Keberpihakan dan kepedulian terhadap kepentingan Bangsa dan Umat adalah pekerjaan yang tidak mudah, dan tidak bisa diwakili dengan pencitraan sesaat tetapi nol bukti dan realisasi. Keberpihakan dan kepedulian bisa dilihat dari fakta dan realita yang ada. Apakah seorang pemimpin lebih memilih untuk mengabdi atau ambisi terhadap sebuah tampuk jabatan.

 

Pemimpin yang mendahulukan pengabdian tidak akan berambisi untuk merebut jabatan yang lebih bergengsi dan mengorbankan amanah yang dibebankan kepadanya. Apakah layak disebut pemimpin yang mendahulukan pengabdian jika ia meninggalkan amanah kepemimpinannya dan berambisi maju ke tampuk kepemimpinan yang lebih tinggi? Bukankah ini bukti riil tentang ambisi dan bukan dorongan nurani? Ini saja sudah cukup menjadi bukti jelas, meski tidak jarang media memutarbalikkan fakta.

 

Seorang pemimpin yang sejati hadir karena dorongan nurani melihat kondisi bangsa dan Umat sebagaimana sifat dan sikap teladan pemimpin juga digambarkan dalam Al-Qur’an: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. Attaubah: 128).

 

Semua sifat kepemimpinan dalam ayat di atas didasari dengan seruan nurani tentang rasa miris, empati dan sayang terhadap kondisi Umat terutama terhadap orang-orang mukmin. Yang menarik, akhir ayat tersebut secara spesifik menyebutkan sifat kasih sayang terhadap orang mukmin. Jika begitu, apakah calon pemimpin yang mengganggu kegiatan, kenyamanan bahkan infrastruktur tempat orang mukmin melakukan ibadah, pemimpin tersebut sesuai dengan kriteria yang Allah SWT angkat? Jelas Al-Qur’an ketika mengkhususkan kata orang mukmin tersebut tidak disampaikan secara kebetulan, dan mesti ada isyarat tersendiri.

 

4.       Menyelamatkan aset bangsa dan negara untuk kemakmuran rakyat

Pemimpin yang tegas dan berani menjadi dambaan rakyat dan Bangsa Indonesia sebagai Bangsa yang kaya. Kekayaan berlipat-lipat yang dimiliki Indonesia menjadikannya sasaran empuk bagi asing. Untuk meraup atau merampok kekayaan itu harus dilakukan secara sistematis dan memanfaatkan penguasa setempat, agar kegiatan tersebut bisa berjalan dengan aman bahkan legal. Inilah fakta yang terjadi selama ini dan sudah menjadi rahasia umum.

 

Pemimpin yang peduli dan mendahulukan kepentingan Bangsa dan Negaranya akan berusaha tegas dalam permasalahan ini. Menyelamatkan aset-aset yang bernilai selangit untuk kepentingan rakyat. Agar manfaatnya bisa merata untuk yang berhak, dan tidak beralih kepada pihak asing. Sulit melogikakan satu fakta tentang mengapa Indonesia yang kaya raya, rakyatnya miskin-miskin? Hanya segelintir yang kaya dan didominasi oleh penduduk non-pribumi. Apakah kondisi tersebut tidak perlu mendapat perhatian? Tentu tidak, karena masalah kemiskinan bisa menghantarkan seorang Muslim kepada kekufuran. Ualam berkata: “Kefakiran hampir saja menghantarkan seseorang kepada kukufuran”.

 

Dalam rangka menyelamatkan aset kaya raya tersebut perlu keberanian, bahkan sedari awal motivasi itulah yang bisa membuat calon pemimpin berani menunjukkan jatidirnya. Sebagaimana Nabi Yusuf yang menegaskan dirinya untuk berperan dan bekerja dalam memakmurkan rakyatnya. “Yusuf berkata: "Jadikanlah daku pengurus perbendaharaan hasil bumi (Mesir) sesungguhnya aku sedia menjaganya dengan sebaik-baiknya, lagi mengetahui cara mentadbirkannya". (QS. Yusuf: 55).

 

Wallohu a’lam.

 

 

 
ikadi-fbquotes-qs-yunus-44.jpg

Artikel Terbaru

Rohingya dan Dunia yang Terluka

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radika... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday431
mod_vvisit_counterYesterday2038
mod_vvisit_counterThis week8389
mod_vvisit_counterLast week12646
mod_vvisit_counterThis month40980
mod_vvisit_counterLast month69797
mod_vvisit_counterAll days3765084