Home Artikel Kajian SAY NO TO VALENTINE’S DAY

SAY NO TO VALENTINE’S DAY

SAY NO TO VALENTINE’S DAY

Ust. H. Ahmad Yani, MA.

Sejarah Singkat

Ada banyak versi tentang asal-usul Valentine Day, namun pada umumnya,dapat diungkap bahwa peristiwa sejarah Valentine Day berakar pada masa dahulu saat bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari).

Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I. Kemudian, agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno tersebut menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan wafat pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).

Menurut data dari Ensiklopedi Katolik, nama Valentinus diduga bisa merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda.Menurut data dari Ensiklopedi Katolik, nama Valentinus diduga bisa merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda.Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari raya kasih sayang (valentine) tidak jelas.

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya digambarkan sebagai orang yang mati pada masa Romawi. Namun demikian, karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda, maka tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya.

Selanjutnya Valentine Day ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih massif untuk menghapus santo-santo yang asal-muasalnya tidak jelas, meragukan dan hanya berbasis pada legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.Melihat sejarah Valentine Day bisa diambil beberapa kesimpulan, diantaranya:

  1. Hari valentine yang ada dalam pacara agama Nashrani berasal dari Upacara Romawi Kuno semula diperingati pada tanggal 15 Feburaari, selanjutnya dirubah menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.
  2. Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.
  3. Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”.

 

Bahaya Valentine Day

Kasih sayang merupakan sifat dan sikap luhur yang melahirkan keindahan dan kebahagiaan bagi seseorang. Kasih sayang adalah diantara sifat yang tidak bisa dipisahkan dengan fitrah kemanusiaan. Dalam kondisi normal, siapapun pasti memiliki rasa sayang, cinta, benci, senang, sedih, bahagia, gembira dan seterusnya. Rasa kasih sayang bisa menjadi bumbu serta pernak-pernik yang menjadikan hidup dan kehidupan terasa indah dan nyaman. Namun, cinta dan kasih sayang bisa berubah menjadi sesuatu yang berbahaya. Saat cinta dan kasih sayang berwujud menjadi hal dan perbuatan yang dimurkai Allah SWT dan dilarang oleh Rasulullah saw. Bagaimana dengan perayaan valentine? Apa wujud perayaan Valentine? Diantaranya sebagai berikut:

1.      Meniru  Orang Kafir

Dijelaskan di atas bahwa hari Valentine berasal dari perayaan paganisme Romawi, lalu diadopsi menjadi ritual agama Nashrani. Merayakan Valentine berarti telah meniru-niru tradisi dan kepercayaan mereka.

Islam melarang untuk meniru-niru orang kafir (baca: tasyabbuh). Larangan ini disampaikan dalam banyak ayat Al-Qur’an, dalam beberapa hadits Rasulullah saw dan juga merupakan kesepakatan para ulama (ijma’). Sebagamana disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim.

“Rasulullah sawmemerintahkan untuk menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Beliau bersabda: “Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani tidak merubah uban mereka, maka selisihlah mereka.” (HR. Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103) Hadits ini menunjukkan agar menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani secara umum dan di antara bentuk menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban”. (Iqtidho’, 1/185).

Dalam hadits lain, Rasulullah menjelaskan secara umum supaya kita tidak meniru-niru orang kafir. Sabda beliau berbunyi: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Syaikhul Islam mengatakan: “Sanad hadits ini jayid/bagusIqtidho’ [hal. 1/269]. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih sebagaiman dalam Irwa’ul Gholil no. 1269).

 

2.      Berdampak kepada Perzinaan

Perayaan Valentine Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka pada masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga praktek zina secara legal. Semua mengatasnamakan cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Allah SWT berfirman:“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’: 32)

Larangan dalam ayat ini (janganlah mendekati) lebih keras daripada kalimat ‘janganlah melakukan’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang, sebagaimana dituliskan dalam kitab Tafsir Jalalain.

 

3.      Menghadiri perayaan dusta (syirik)

Salah satu ciri dan sifat orang mukmin adalah tidak menghadiri  perayaan orang non Muslim. Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri ritual atau perayaan orang-orang musyrik dan ini berarti tidak boleh umat Islam merayakan perayaan agama lain semacam valentine. Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon: 72).

 

Menurut sebagian besar mufassir, makna kata al-zûr (kepalsuan) di sini adalah syirik (Imam al-Syaukani, Fath al-Qadîr, juz 4, hal. 89). Beberapa mufassir seperti Abu ‘Aliyah, Thawus, Muhammad bin Sirrin, al-Dhahhak, al-Rabi’ bin Anas, dan lainnya, memaknai al-zûr di sini adalah hari raya kaum Musyrik. Lebih luas, Amru bin Qays menafsirkannya sebagai majelis-majelis yang buruk dan kotor (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, juz 3, hal. 1346).

 

Ibnul Jauziy dalam Zaadul Maysir mengatakan bahwa ada 8 pendapat mengenai makna kalimat “tidak menyaksikan perbuatan zur (dusta)”, pendapat yang ada ini tidaklah saling bertentangan karena pendapat-pendapat tersebut hanya menyampaikan macam-macam perbuatan zur. Di antara pendapat ada yang mengatakan bahwa “tidak menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan oleh Ar Robi’ bin Anas.

Maka selanjutnya bisa dipahami, jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, maka ini berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela. (Lihat Iqtidho’, 1/483).

 

4.      Pemborosan (tabdzir)

Berapa banyak uang dan harta yang dihamburkan dalam menymarakkan perayaan Valentine Day. Seyogianya harta tersebut bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau disedekahkan kepada orang yang membutuhkan, dan masih begitu banyak jumlah orang yang membutuhkanuluran bantuan berupa materi. Harta yang sejatinya bisa berbuah pahala dan kebaikan bagi sesama, malah menjadi beban bagi pemiliknya kelak.

Itulah bentuk pemborosan yang didambakan setan musuh manusia. Perayaan Valentine Day menyeret manusia menjadi saudara setan. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro: 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim).

 
ikadi-fbquotes-07-tetaplah.jpg

Artikel Terbaru

Rohingya dan Dunia yang Terluka

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radika... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday432
mod_vvisit_counterYesterday2038
mod_vvisit_counterThis week8390
mod_vvisit_counterLast week12646
mod_vvisit_counterThis month40981
mod_vvisit_counterLast month69797
mod_vvisit_counterAll days3765085