Home Artikel Kajian Kasih Sayang Terhadap Sesama

Kasih Sayang Terhadap Sesama

KASIH SAYANG TERHADAP SESAMA

Oleh: Dr. H. Baharuddin Husin, MA*

 

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.

 (QS. Al Fath : 48)

 

A.      Pengertian Kasih Sayang

Kasih sayang adalah "perasaan halus dan belas kasihan di hati yang memunculkan perbuatan terpuji, memaafkan dan berlaku baik terhadap semua hamba dan makhluk Allah SWT.

Sabda Rasulullah Saw:

"Sayangilah orang-orang yang ada dibumi, supaya engkau disayangi oleh yang di langit (para malaikat). (HR. Thabrani).

 

B.       Klasifikasi Kasih Sayang

Kasih sayang jika diklasifikasikan cukup ragam, al: kasih sayang kepada kerabat, kepada anak yatim, orang sakit, pembantu, binatang, dll, dengan uraian singkat, sbb:

 

a)    Kasih sayang kepada kerabat. Setiap muslim wajib memelihara dan menjaga hubungan kasih sayang terhadap sesama kerabat/family yang ada hubungan keturunan jangan sempat terputus, seperti ayah, ibu, dan anak.

Bentuk kasih sayang kepada ayah dan ibu, misalnya berbicara kepada keduanya dengan sopan, merendah; mendo'akan keduanya supaya dikasihani Allah SWT sebagaimana keduanya telah menyayangi di waktu kecil, menolong keduanya dengan ikhlas; segera mohon maaf jika melakukan sesuatu yang tidak disenangi keduanya. Firman Allah SWT

"dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Al-Isra/17: 24).

 

Dalam suatu hadits disebutkan, bahwa Rasulullah Saw mencium pipi Hasan dan Husain (cucu beliau), di dekatnya ada Aqra' bin Habis (orang Tamim). Aqra berkata: "saya mempunyai sepuluh orang anak, seorang pun belum pernah saya cium".

Rasulullah Saw bersabda kepada Aqra:

 

 (Allah tidak mengasihi orang-orang yang tidak pernah mengasihi manusia" (HR. Bukhari)

Bentuk lain kasih sayang terhadap kerabat adalah membantu dalam soal harta, memberi belanja sesuai kemungkinan dan kemampuan, atau dalam bentuk tenaga atau ikut menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi dengan senang hati.

 

b)    Kasih sayang kepada anak yatim, al:

Berlaku lemah lembut dan kasih sayang kepada mereka. Berbuat baik kepada mereka, memperhatikan masa depan mereka, termasuk masalah aqidah, ibadah, akhlak, ilmu, ekonomi dan skil mereka.

Dalam suatu hadits Rasulullah Saw bersabda:

"Bahwasanya ada seorang laki-laki datang menghadap Nabi Saw dan mengadu tentang kekerasan hatinya: Maka Rasulullah Saw bersabda: "Maukah kalian melunakkan hati kalian lalu terpenuhi kebutuhanmu? Maka sayangilah anak yatim, dan sapulah kepalanya, serta berilah makannya dari (sebagian) makananmu, yang demikian pasti dapat melunakkan hatimu dan kamu dapat mencapai hajatmu". (HR. Thabrani)

 

c)    Kasih sayang kepada orang sakit

Orang sakit adalah orang yang merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan dirinya akibat dari sesuatu penyakit yang dideritanya (pisik/mental). Orang yang berhati bersih dapat merasakan betapa bahagianya ketika bisa  mencurahkan rasa kasih sayang kepada mereka, menuntun mereka agar sabar dan ikhlas menerima ujian dari Allah SWT sambil terus berobat. Banyak memohon kepada Nya, lalu mengingatkannya bahwa hidup di dunia ini sengaja diuji, bahkan ujian paling berat adalah yang dialami oleh para Nabi dan Rasul.

Rasulullah Saw selalu menjenguk sahabatnya yang sakit/tertimpa musibah. Nabi Saw pernah menjenguk seorang budak Yahudi yang menjadi pelayannya dan juga paman budak yahudi tersebut sewaktu sakit. Nabi Saw tidak menentukan waktu buat menjenguk sahabatnya. Nabi duduk di dekat kepala si sakit, lalu bertanya keadaannya dan makanan yang disukainya sambil berdo'a untuk kesembuhannya. Di waktu beliau masuk kamar si sakit mengucapkan: "Tidak akan membahayakan, mudah-mudahan sembuh sebagaimana sedia kala dengan izin Allah SWT           :

Sabda Rasulullah Saw:

"Rasulullah Saw memerintahkan kami mengunjungi orang sakit, mengiringi jenazah, mentasymitkan orang bersin, memenuhi sumpah, menolong orang yang teraniaya, menghadiri undangan walimah dan member salam" (HR. Bukhari dan Muslim).

 

d)   Kasih sayang kepada pembantu rumah tangga

Islam menuntun umatnya agar memberikan curahan kasih sayang kepada pembantu rumah tangga, lemah lembut dalam memberi tugas, memaafkan mereka jika keliru, jangan jadikan mereka tempat melampiaskan kemarahan, atau perilaku kejam, dsj, karena Allah SWT akan mencabut pemberian Nya dan menyediakan tempat kembali yang buruk bagi yang berprilaku kejam tersebut.

Rasulullah Saw senantiasa bersikap lemah lembut dan kasih sayang kepada pembantu rumah tangganya, sebagaimana diriwayatkan dari Anas ra.

"Dari Anas bin Malik r.a bahwasanya ia telah melayani Rasulullah Saw selama sepuluh tahun. Rasulullah Saw sama sekali belum pernah mengatakan kepadanya, karena sesuatu hal ia kerjakan: "mengapa engkau kerjakan ini? "Dan terhadap sesuatu yang ia tidak kerjakan, beliau tidak pernah mengatakan "Mengapa tidak kerjakan ini?" (HR. Muslim).

 

Hadits di atas bukan berarti memberi kasih sayang kepada mereka dengan cara membiarkan saja terserah kepada mereka, namun hadits tersebut menggambarkan bagaimana Rasulullah Saw memberikan pelajaran kepada kita dalam menghadapi mereka agar mereka dapat bekerja dengan gembira, tidak tersinggung perasaannya. Sekiranya mereka menemui kesulitan atau melakukan sesuatu yang tidak cocok, tentu harus diarahkan, diikuti kesabaran dan membuka pintu maaaf.

 

e)    Kasih sayang terhadap binatang

Sebuah kisah dalam hadits, diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a Rasulullah Bersabda:

"Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: "Ketika seorang laki-laki berjalan, tiba-tiba dia merasakan sangat dahaga. Maka diapun turun di sumur dan minum, kemudian keluar. Tiba-tiba ada seekor anjing yang menjilat-jilat sambil makan tanah sebab kehausan. Kata laki-laki tersebut: "Sungguh anjing ini kehausan sangat seperti yang saya rasakan." Maka dia penuhi sepatunya dengan air dan membawanya dengan mulutnya lalu naik sambil keluar dari sumur kemudian memberi minum anjing tadi. Maka Allah berterima kasih kepada laki-laki tadi dan mengampuninya." Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala  jika berbuat baik kepada binatang?" beliau bersabda: "setiap aktifitas yang  memberi manfaat/menolong kepada hati yang basah (binatang hidup) pasti Allah SWT memberi pahala. (HR. Bukhar dan Muslim).

 

Pengertian hadits ini tidak terbatas kepada anjing saja, tetapi mencakup semua binatang. Seperti kucing, onta, lembu, kambing, ayam dan lain sebagainya. Juga mencakup segala bentuk penderitaan yang dialami binatang seperti haus, lapar, sakit, panas, beban berat atau pekerjaan yang berat, dsj, yang menjadikan binatang menderita. Termasuk juga memberi sesuatu yang bermanfaat baginya, seperti memberi makanan, minuman, menjaga dan membersihkannya dari kotoran. Prinsipnya adalah, setiap yang dilakukan untuk menolak datangnya bahaya atau memberi manfaat kepada manusia atau binatang, bagi anda tersedia pahala dari Allah SWT.

 

C.      Kiat-kiat menumbuhkan kasih sayang, al:

1.    Mencontoh bagaimana Rasul menyayangi dan mencintai umatnya. Allah SWT berfirman:

"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin." (Al-Taubah: 128)

Sifat yang tergambar dalam ayat itu adalah sebagai contoh kecil tentang bagaimana kepedulian Rasulullah Saw terhadap umatnya. Beliau sangat prihatin dan penuh belas kasih terhadap orang-orang yang beriman. Dengan segala upaya, beliau menyelamatkan mereka dari perangkap-perangkap kemusyrikan, kekafiran, kefasikan, kemunafikan, dan kezhaliman. Beliau terus menerus menjauhkan umatnya dari musuh, baik hawa nafsu ataupun setan.

2.    Mencontoh kasih sayang Rasulullah Saw terhadap umatnya dalam bentuk lain, terlihat jelas pada saat beliau menghadapi sakaratul maut. Layaknya seorang yang akan meninggalkan dunia ini, Rasulullah Saw pun sangat mengkhawatirkan umatnya yang akan ditinggalkannya.

Beliau terus menerus mengadu kepada Tuhannya,  "umatku… umatku …, bagaimana nasib umatku sepeninggalanku?" Beliau sangat mengkhawatirkan umatnya kembali kepada kemusyrikan, kekufuran, dan kesesatan.

3.    Mencontoh bagaimana Umar Bin Khattab mencintai rakyatnya yang luar biasa. Dari Anas bin Malik r.a. diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab r.a. pada suatu malam sedang berkeliling melakukan ronda. Dia melewati sekelompok orang yang mampir untuk menginap (di kota Madinah). Dia sangat khawatir dan takut ada orang yang mencuri barang-barang mereka.

Kemudian Umar mendatangi Abdurrahman bin Auf r.a. dia kaget dan bertanya, "Apa yang membuat Anda datang larut malam seperti ini, wahai Amirul Mukminin? "Dia menjawab, "aku melewati sekelompok orang yang mampir. Naluriku berkata, bila mereka bermalam dan tidur, aku takut mereka akan kecurian. Maka ayolah bersamaku agar kita berjaga malam ini." Keduanya pun bertolak. Keduanya duduk dekat orang-orang itu semalam suntuk, menjaganya, ketika subuh tiba, Umar membangunkan mereka berkali kali, "wahai Saudara-saudara, shalat subuh, shalat subuh … Setelah melihat mereka terjaga, bergerak dan bangkit dari tidurnya, keduanya pun bangkit dan menuju ke masjid.

4.    Mencontoh bagaimana Umar r.a. menyayangi orang-orang beriman, orang kafir dan makhluk lainnya. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab melihat seorang  laki-laki tua dari ahli dzimmah (orang-orang non muslim yang berlindung dalam pemerintahan Islam) yang meminta-meminta dari satu pintu ke pintu  yang lain. Umar berkata kepadanya, "kami telah berbuat tidak adil terhadap anda. Kami telah mengambil jizyah (upeti) dari Anda ketika Anda masih muda, namun saat ini kami telah menyia-nyiakan Anda. Kemudian Umar memerintahkan agar mencukupi makanannya dari baitul maal (gudang perbendaharaan Negara) milik kaum muslimin".

5.    Mencontoh kasih sayang dan cinta yang menakjubkan yang terjalin antara para sahabat Anshar dan Muhajirin.

"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang terhindar dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung" (Al-Hasyr: 9)

6.    Menutup aib dan menumbuhkembangkan berbagai bentuk kebaikan dan pembelaan terhadap sesama mukmin dan muslim. Rasulullah Saw bersabda:

"Barangsiapa yang menutup aib saudaranya yang muslim di dunia, maka Allah SWT akan menutup aibnya di dunia dan diakhirat. Dan barangsiapa yang membantu menyelesaikan masalah yang menghimpit saudaranya (yang beriman) di dunia, maka Allah SWT akan menyelesaikan masalah yang menghimpitnya pada hari kiamat. Dan Allah SWT pasti menolong seorang hamba, selama hamba itu menolong saudaranya (yang beriman). (HR. Muslim).

7.    Menyadari bahwa cinta dan kasih sayang sesama mukmin dan muslim laksana sebatang tubuh yang saling bertenggang rasa, saling menopang, saling mengasihi, dan berbagi rasa. Rasulullah Saw bersabda:

"Perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta dan kasih sayang mereka adalah laksana sebatang tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan kesulitan tidur". (HR. Muslim).

8.    Menyadari bahwa kasih sayang merupakan salah satu faktor penting bagi kesempurnaan iman seseorang. Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"tidak beriman seseorang dari kalian, hingga dia mencintai saudaranya (yang beriman) sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri". (HR. Bukhari dan Muslim)

 

D.      Penutup

 

Kasih sayang ini merupakan salah satu karakter utama yang ditetapkan Allah SWT atas umat Muhammad Saw.

Kita semua mendambakan kasih sayang dan praktek-praktek indah yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw, shahabat, Anshor dan Muhajirin di atas agar segera hadir kembali di tengah-tengah elemen masyarakat, seperti para pejabat, eksekutif, legislative, yudikatif, pimpinan perusahaan, para pendidik, orang tua, dsb. Jika demikian dapat dipastikan tidak dijumpai lagi bentuk-bentuk negative di negeri ini baik  kezaliman, korupsi, penyalahgunaan wewenang, dsb.



*Materi Buletin Tafakur, Ikatan Da'i Indonesia (IKADI) bulan April 2012

 

 
gambar-kata-mutiara-hikmah-ikadi-islamic-quotes-assyafii001b.jpg

Artikel Terbaru

Rohingya dan Dunia yang Terluka

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radika... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday431
mod_vvisit_counterYesterday2038
mod_vvisit_counterThis week8389
mod_vvisit_counterLast week12646
mod_vvisit_counterThis month40980
mod_vvisit_counterLast month69797
mod_vvisit_counterAll days3765084