Home Artikel Kajian Lebih Dekat Dengan Masjid Al-Aqsha (Bag. 1)

Lebih Dekat Dengan Masjid Al-Aqsha (Bag. 1)

Masjid Al-Aqsha yang berada di Palestina, tepatnya Al-Quds memiliki kemuliaan dan keutamaan tersendiri. Kemuliaan dan keutamaan tersebut harus diketahui dan disadari Kaum Muslimin sekarang, karena sepanjang sejarah Umat Islam, Masjid Al-Aqsha menjadi simbol kebesaran Islam dan Kaum Muslimin. Namun, sekarang kondisi masjid Al-Aqsha sedang dalam bahaya. Sebagaimana ketika pendudukan Kaum Salib terhadap Al-Quds, Masjid Al-Aqsha menjadi korban penghinaan, maka penjajah Yahudi di Palestina sekarang juga melakukan penistaan terhadapnya. Apa saja keutamaan dan kemuliaan Masjid Al-Aqsha? Bagaimana kondisi sekarang di tengah konflik yang terjadi dan penistaan Israel? Semoga tulisan ini bisa membawa penulis dan pembaca untuk berada lebih dekat dengan Masjid Al-Aqsha, meski lokasi Masjid jauh di sana.

Keutamaan Masjid Al-Aqsha

1.      Kiblat Pertama Umat Islam

Kaum Muslimin shalat menghadap Masjid Al-Aqsha sejak diwajibkannya shalat pada malam Isra’ dan Mi’raj Rasulullah saw pada tahun kesepuluh kenabian, tepatnya tiga tahun sebelum peristiwa hijrah Rasulullah saw. Perintah menghadap Masjidil Haram dalam shalat baru datang enam belas bulan setelah Rasulullah melakukan hijrah, ketika turun firman Alah SWT: “Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya”. (Al-Baqarah: 150).

 

Sampai saat ini, di kota Madinah terdapat peninggalan sejarah yang membuktikan peristiwa perpindahan kiblat ini yaitu Masjid Kiblatain. Di tempat ini, para Sahabat melakukan satu shalat dengan menghadap dua kiblat, ke Masjid Al- Aqsha dan ke Masjidilharam.Allah SWT memberitakan tempat akhir Isra’ dan permulaan Mi’raj ini dalam firman-Nya: “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjid Al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya”. (QS. Al-Israa’: 1).

 

Dalam ayat tersebut Allah SWT tidak menggambarkan Masjidilharam dengan satu sifatpun, namun Ia menyifati Masjid Al-Aqsa dengan keberkahan yang ada di sekelilingnya. Jika di sekeliling Masjid Al-Aqsa diberkahi, bagaimana keberkahan yang Allah turukan kepada Masjid Al-Aqsa?

 

Masjid Al-Aqsa sebagai tempat persinggahan dalam melakukan Isra’ dan Mi’raj tentu memiliki keutamaan tersendiri. Bukan kebetulan Masjid Al-Aqsa sebagai tempat persinggahan. Jika saja Al-Aqsa bukan tempat khusus yang dituju, maka perjalanan bisa dilakukan dari Mekkah langsung menuju ke langit. Persinggahan di Masjid Al-Aqsa menyimpan isyarat dan hikmah tersendiri.

 

2.      Sangat dianjurkan bepergian untuk shalat di Masjid Al-Aqsha

Diriwayatan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak ditekankan untuk melakukan perjalanan kecuali menuju tiga Masjid: Masjidilharam, Masjid Rasul saw, dan Masjid Al-Aqsha.” (HR. Bukhari). Dalam hadits lain diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, Rasulullah saw bersabda: “Tidak ditekankan untuk melakukan perjalanan kecuali menuju tiga Masjid: Masjidilharam, Masjid Al-Aqsha dan masjidku ini”. (HR. Ibnu Majah).

Maksud hadits tersebut adalah berkunjung untuk berniat shalat, janganlah terlalu bertekad kecuali ke tiga masjid ini. Adapun sekedar kunjungan biasa, silaturrahim, maka tentu tidak mengapa mengunjungi selain tiga masjid ini; seperti mengunjungi orang shalih, silaturrahim ke rumah saudara, ziarah kubur, mengunjungi ulama, mendatangi majelis ilmu, dan perjalanan kebaikan lainnya.

Imam Al-Khathabi mengatakan: “Bahwa sesungguhnya janganlah bertekad kuat mengadakan perjalanan menuju Masjid untuk shalat di dalamnya selain tiga masjid ini. Ada pun bermaksud selain masjid-masjid ini untuk berziarah kepada orang shalih, kerabat, sahabat, menuntut ilmu, berdagang, atau berwisata, maka tidaklah termasuk dalam larangan. Hal yang menguatkan ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalan Syahr bin Hausyab, dia berkata: aku mendengar Abu Said, dan aku menyebutkan padanya tentang shalat di Ath thur, dia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Hendaknya janganlah orang yang shalat itu bersungguh-sungguh mengadakan perjalanan untuk shalat menuju masjid selain Masjidilharam, Masjid Al- Aqsha, dan masjidku (Masjid nabawi).” (Fathul Bari, 3/65)

2.      Masjid isra’ dan mi’raj sekaligus

Isra’ dari Masjidilharam ke Masjid Al-Aqsa dan mi’raj dari Masjid Al-Aqsa menuju langit ketujuh. Al-Aqsha adalah terminal akhir perjalanan isra’ sekaligus tempat bertolak melakukan Mi’raj. Allah SWT memberitakan tempat akhir Isra’ dan permulaan Mi’raj ini dalam firman-Nya: “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjid Al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya”. (QS. Al-Israa’: 1).

 

Masjid Al-Aqsa sebagai tempat persinggahan dalam melakukan Isra’ dan Mi’raj tentu memiliki keutamaan tersendiri. Bukan kebetulan Masjid Al-Aqsa sebagai tempat persinggahan. Jika saja Al-Aqsa bukan tempat khusus yang dituju, maka perjalanan bisa dilakukan dari Mekkah langsung menuju ke langit. Persinggahan di Masjid Al-Aqsa menyimpan isyarat dan hikmah tersendiri.

 

Dalam ayat tersebut di atas Allah SWT tidak menyebutkan Masjidilharam dengan satu sifatpun, namun Ia menyifati Masjid Al-Aqsa dengan keberkahan yang ada di sekelilingnya. Jika di sekeliling Masjid Al-Aqsa diberkahi, bagaimana keberkahan yang Allah SWT turunkan kepada Masjid Al-Aqsa.

 

3.      Masjid tertua kedua setelah Masjidilharam

Abu Dzar ra bertanya kepada Rasulullah saw: “Wahai Rasulullah, masjid apa yang dibangun pertama kali di muka bumi?” Beliau menjawab: “Masjidilharam.” Aku (Abu Dzar) berkata: “lalu apa lagi?” Beliau menjawab: “Masjid Al-Aqsha.” Aku bertanya lagi: “berapa lama jarak keduanya?” Beliau menjawab: “empat puluh tahun.” (HR. Bukhari).

Yang dimaksud dalam hadits di atas adalah peletakan batu pertama atau pembangunan pondasi Masjid. Karena pembangunan secara utuh berupa Masjid baru ada pada masa Ibrahim as yang membangun Ka’bah dan Sulaiman as yang membangun Masjid Al-Aqsha, dan jarak antara pembangunan Masjidilharam dan masjid Al-Aqsha tersebut lebih dari seribu tahun.

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Bahwa isyaratnya menunjukkan yang dibangun adalah fondasinya masjid, Ibrahim as bukanlah yang pertama membangun Ka’bah, dan Sulaiman as bukanlah yang pertama kali membangun Baitul Maqdis. Kami telah meriwayatkan bahwa yang pertama kali membangun Ka’bah adalah Adam, kemudian anak-anaknya menyebar di muka bumi. Maka, boleh saja sebagian mereka membangun Baitul Maqdis, kemudian Ibrahim yang membangun Ka’bah menurut Nash Al-Quran”. (fathulbari, 6/408). Wallahu a’lam bishshawab.(bersambung).

 

 

 
ikadi-fbquotes-009.jpg

Artikel Terbaru

Rohingya dan Dunia yang Terluka

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radika... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday428
mod_vvisit_counterYesterday2038
mod_vvisit_counterThis week8386
mod_vvisit_counterLast week12646
mod_vvisit_counterThis month40977
mod_vvisit_counterLast month69797
mod_vvisit_counterAll days3765081