Home Artikel Kajian

Kajian

Silaturahim

Silaturahim atau silaturahmi, sebuah kata yang akrab dengan kita. Tapi seringkali keakraban itu membuat kita lalai untuk mengenalnya lebih dalam dan berinteraksi secara efektif dan efesien. Demikian silaturahim, keakraban dengan kata ini membuat sebagian orang lupa atau bahkan enggan untuk memahaminya secara ilmiah, sehingga makna dan nilai substantive dari kata ini melemah dan mengaplikasikannya pun mengendur.

Kelalaian dan keengganan berinteraksi dengan terminology silaturahim selanjutnya dapat membuat orang melupakan etika dan moralitas bersilaturahim. Bahkan dapat membuat orang cenderung meremehkan nilai-nilai moralitas dalam aktifitas "tradisional" yang dikaitkan dengan silaturahim.

Ambil saja contoh tradisi mudik. Orang seringkali mengaitkan pulang udik di hari raya sebagai sarana bersilaturahim dengan keluarga. Oh ya.., sepertinya sah-sah saja hal itu dilakukan. Tetapi karena sebagian mereka tidak mengenal silaturahim sebagai sebuah terminology syariah yang sarat dengan nilai dan hikmah ajaran Allah ini. Maka tidak heran kalau banyak dari mereka yang mengabaikan etika social dan bahkan moralitas agama dalam pelaksanaan pulang kampung atau mudik tersebut.

Penyimpangan lain dari ketidakpahaman orang terhadap makna dan nilai silaturahim ini adalah membatasi praktik silaturahim pada keluarga besar atau paguyubannya saja, tanpa peduli dengan kehidupan tetangga rumahnya yang mestinya mendapatkan porsi ajaran silaturahim itu.

Tidak sedikit pula hubungan kekeluargaan retak bahkan mungkin runtuh hancur berantakan. Betapa miris kita melihat hubungan suami istri retak atau putus karena permasalahan-permasalahan rumah tangga. Setelah orangtua meninggal dunia, tidak malu-malu anak-anaknya bersengketa dan konflik berkepanjangan dalam masalah harta waris. Kadangkala hanya karena sebuah kata-kata yang menyinggung perasaannya, para tokoh masyarakat berseteru dalam permasalahan umat.

Perkelahian pelajar, mahasiswa, tawuran antara kampung, bahkan antara masyarakat dengan aparat, dan atau perseteruan antar para politisi, persaingan "tidak sehat" antar tokoh partai atau ormas. Semua itu karena pelanggaran terhadap norma dan nilai silaturahim. Sehingga seruan reformasi hanya akan menjadi "bumerang" bagi para penggagasnya.

Karenanya bahasan silaturahim dalam kajian kita saat ini sangat relevan dan signifikan, sekaligus merupakan kebutuhan mendesak untuk dicermati, direnungkan dan lebih penting lagi untuk direalisasi dalam kehidupan bermasyarakat, baik dalam lingkup mikro ataupun makro, dalam kehidupan berkeluarga, berbangsa atau dalam hubungan umat Islam di persada bumi milik Allah swt, serta hubungan antar umat manusia di mana dan kapan saja mereka berada.

Silaturahim, seuntai kata indah, lebih indah lagi jika kita mengenalnya, menyayangi dan berinteraksi bersamanya dengan ketulusan niat dan kebersihan hati.

Sungguh Mereka Merugi dan Merugikan.

Bagaimana perasaan dan apa sikap Anda jika ada seorang yang Anda yakini kecerdasannya, kepakarannya dan pengetahuannya yang luas serta kasih sayangnya kepada Anda, ia memberitahu kepada Anda bahwa Anda adalah orang yang merugi ?

Penulis yakin perasaan Anda resah dan Anda bisa dipastikan akan bertanya kepadanya sebab kerugian yang ia katakana itu. Kemudian kemungkinan besar Anda tidak memcukupkan diri dengan memperoleh jawaban sebab kerugian yang Anda derita. Saya sepakat dengan Anda agar sebaiknya Anda segera menjauhi sesuatu yang menjadi factor penyebab dari kerugian tersebut.
Itu baru orang, manusia yang tidak luput dari kekurangan dan kelemahan. Kerugian yang satu ini diberitahu oleh Yang Maha Tahu, Maha Sempurna, Maha Kasih, Maha Cerdas dan Maha yang lainnya. Dia memberitahu kepada kita tentang orang-orang yang merugi dalam kehidupan. Adalah hak kita bertanya siapa mereka ???

Allah swt berfirman: "Dan tiada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, yaitu orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menyambungnya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi" (QS. Al-Baqarah: 26-27).

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa diantara orang-orang merugi adalah mereka yang memutuskan hubungan yang diperintahkanNya untuk disambung, yakni hubungan silaturahim.

Silaturahim dengan anggota keluarga yang berasal dari satu rahim, ibu bapak saudara kandung dst. Demikian silaturahim dengan sesame muslim, bahkan hubungan dengan sesama manusia. Karena pada hakekatnya manusia saling membutuhkan satu sama lain, maka hendaknya menjalin hubungan baik.

Rasulullah saw bersabda dari Abu Muhammad Jubair bin Muth'im r.a: "Tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan" Sufyan berkata: "yakni yang memutuskan rahim atau tali persaudaraan" (HR Bukhari dan Muslim).
Sebaliknya orang yang merealisasi silaturahim akan memperoleh keberuntungan seperti penjelasan Rasulullah saw dalam haditsnya: "Barangsiapa ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia bersilaturahim" (HR. Muttafaq 'Alaih).

Silaturahim & Pesan Moral Reformasi.

Sesampainya Rasulullah saw di tanah hijrah Yatsrib (al-Madinah al-Munawwarah), beliau meninggalkan pesan-pesan yang sarat dengan nilai syariat yang menyejukkan hati dan menentramkan jiwa.

Dalam catatan sirah nabawiyah beliau saat itu dalam kejaran dan ancaman pembunuhan yang dilakukan para kufar sementara penduduk Madinah siap membela beliau dan kuasa memberikan suaka politik kepada beliau yang terancam jiwa raganya, karena mereka telah berikrar dalam bai'at al-'Aqobah. Mungkin dalam logika para politisi modern beliau meminta suaka politik tersebut dan menuntut pembelaan militer demi keselamatan diri beliau.

Ternyata yang terjadi tidak demikian, justru beliau meminta kepada warga Madinah yang majemuk itu agar mereka saling dekat dan komitmen dengan moralitas social, hidup bersama secara harmonis dan penuh kasih sayang. Namun juga tidak melupakan hubungan dekat mereka dengan Sang Pencipta Robbul 'alamin.

Abdullah bin Salam meriwayatkan: Pesan pertama kali aku dengar dari Rasulullah saw (sesampainya di Madinah) adalah sabda beliau: "Sebarkan salam, berikan makan (kepada yang membutuhkan), bersilaturahimlah, lakukan shalat malam hari saat orang-orang tidur nyenyak".

Rasulullah saw yakin bahwa silaturahim adalah kunci wujudnya persatuan dan kesatuan masyarakat yang majemuk di Madinah. Karenanya beliau meniggalkan pesan monumental ini kepada umatnya menuju perbaikan negara dan kesatuan bangsa.

Silaturahim Rahmah & ar-Rahman.

Silaturahim memiliki nilai dan kedudukan yang sangat tinggi dari Allah swt, seperti yang dijelaskanNya dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan Abdur-Rahman bin auf dari Rasulullah saw bersabda: "Allah swt berfirman: "Aku adalah Allah, Aku ar-Rahman, Aku ciptakan ar-rahim, dari kata itu berasal salah satu namaKu. Barangsiapa yang menyambung rahim itu (silaturahim) maka Aku akan menyambungnya, tetapi siapa yang memutuskan rahim itu (silaturahim) maka Aku akan memutuskannya" (HR Abu Daud dan Tirmizi, hadits hasan).

Dari satu riwayat wahyu ini saja sudah cukup untuk menegaskan nilai dan kedudukan silaturahim, karena ternyata silaturahim terambil dari salah satu asma' dan sifat Allah ar-Rahman. Hal itu sekaligus menunujukkan bahwa silaturahim efektif dan terencana akan memunculkan rasa kasih dan saying, yang pada gilirannya mewujudkan kesatuan hati dan kesamaan langkah-langkah dalam perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan menuju masyarakat dan bangsa sejahtera.

Lebih jauh lagi silaturahim sebenarnya merupakan kewajiban agama, bahkan memutuskan hubungan silaturahim bisa jatuh kepada dosa besar, karena banyak pesan-pesan wahyu yang bernuansa ancaman dan peringatan keras terhadap orang-orang yang memutuskan hubungan silaturahim.

Abu Hurairah r.a meriwayatkan hadits Nabi Muhammad saw bersabda: "Sesungguhnya Allah menciptakan makhlukNya, sampai selesai penciptaanNya itu, Rahim berdiri seraya berkata: "Ini adalah tempat orang yang berlindung dari memutuskan (silaturahim)". Dia (Allah) berfirman: "Ya, bukankah kau rela jika Aku menyambung orang yang menyambungmu (silaturahim), dan Aku memutuskan orang yang memutuskanmu wahai Rahim". Rahim berkata: "Ya aku rela itu". Allah pun berifrman lagi: "Itu adalah hakmu". Kemudian Rasulullah saw bersabda: "Jika kalian berkehendak bacalah ayat (QS Muhammad: 22): "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan silaturahim". (H.R. Bukhari Muslim).

Kepada Siapa Silaturahim Ditujukan.

Dalam persfektif Islam terdapat 3 macam silaturahim:

  1. Silaturahim Umum, yaitu silaturahim karena kesatuan agama. Silaturahim ini wajib dilakukan dengan menunaikan hak dan kewajiban baik yang bersifat fardhu atau anjuran (sunnah). Silaturahim ini dilakukan dengan cinta dan kasih, saling menasehati, amar makruf nahi munkar dan lain-lain.
  2. Silaturahim Khusus, yaitu silaturahim kepada kerabat, ibu bapak, saudara kandung, kakek nenek, paman, cucu dst. Silaturahim ini dilakukan dengan memberikan perhatian kepada mereka, membantu moril dan materil, santun dan semua sikap yang memberikan pencerahan dan kemaslahatan mereka.
  3. Silaturahim dengan kerabat non muslim, dengan cara memberikan kebajikan dan bersikap ihsan. Suatu saat Asma binti Abu Bakar memperoleh hadiah dari ibunya Qatilah, namun Asma menolak hadiah tersebut karena ibunya masih musyrik. Melihat kejadian ini Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw. Kemudian turunlah ayat 8 surat al-Mumtahanah (Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil).

Lebih tegas lagi Allah menyatakan, bahwa kebaikan dan kesejukan Islam hendaknya dirasakan oleh seluruh alam semesta, tidak hanya oleh umat Islam sendiri, tidak hanya oleh umat manusia saja, tetapi seluruh alam semesta merasakan dan memperoleh kebaikan dan air kesejukan Islam.

Bentuk-bentuk & Buah Silaturahim

Bentuk-bentuk silaturahim banyak sekali, yang pada intinya semua aktifitas yang membuat hubungan kita dengan orang lain intim dan harmonis, dan juga mampu menghilangkan kebencian dan permusuhan satu sama lain.

Bentuk-bentuk tersebut antara lain: menyantuni, membantu, menanyakan keadaannya, saling berkunjung, memaafkan kesalahan dan kekhilafan, mengingatkan, menerima dan memberi nasehat, menyenangkan hati, memenuhi permintaannya, meringankan kesulitannya dll.

Bentuk-bentuk tersebut jika dilakukan secara terencana dan efektif, artinya silaturahim itu dilakukan dengan niat dan tekad serta motivasi bersih, juga dilakukan dengan cara terprogram dengan baik, sehingga tidak terkesan emosional. Hal ini penting karena silaturahim merupakan syariat Islam yang mesti direalisasi dengan ihsan (baik), agar memberikan dampak dan hasil yang baik pula.

Dengan silaturahim diharapkan perolehan keberkahan dalam rizki dan umur dalam ketaatan. Silaturahim menumbuhkan kasih saying antar sesame, karena dengan silaturahim perkenalan terjalin, saling tukar pikiran , tukar pengetahuan dan pengalaman, saling menasehati dan mengingatkan, membantu saat kesulitan dst. Akhirnya silaturahim yang efektif dan kontinyu akan melahirkan kesatuan yang dimulai dengan kesatuan hati, kesatuan pemikiran, sehingga mewujud kesatuan sikap dan kerja-kerja konstruktif dan produktif.

Penutup.

Hati adalah panglima bagi anggota badan lainnya yang siap memposisikan sebagai prajurit melakukan sesuai dengan perintah panglima. Hati adalah sumber gerak dan motivasi. Seperti yang diisyaratkan Rasulullah saw dalam sabdanya: "Ketahuilah dalam jasad adalah segumpal daging, jika ia baik maka akan baik pula seluruh anggota badan, tetapi jika segumpal daging itu rusak maka seluruhnya akan menjadi rusak, ketahuilah segumpal daging tersebut adalah KALBU".

Karenanya, hasil positif dari syariat silaturahim sangat tergantung pada kebersihan hati, kejernihan kalbu, ketulusan niat para pelaku syariat ini. Karenanya pula Rasululllah saw mengaitkan perintah silaturahim dengan kesempurnaan iman kepada Allah dan Hari Akhir dalam sebuah haditsnya: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hormati tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hubungkan silaturahim. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam" (HR. Bukhari Muslim).

Yakinlah, bahwa Allah swt tidak pernah dan tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang menjalankan syariatNya dengan benar dan baik serta tepat, secara ikhlas dan hanya mengharap ridhoNya. Selamat beramal, semoga.

 
Page 41 of 41
gambar-kata-mutiara-hikmah-ikadi-islamic-quotes-dai-akhlak.jpg

Artikel Terbaru

Rohingya dan Dunia yang Terluka

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radika... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday430
mod_vvisit_counterYesterday2038
mod_vvisit_counterThis week8388
mod_vvisit_counterLast week12646
mod_vvisit_counterThis month40979
mod_vvisit_counterLast month69797
mod_vvisit_counterAll days3765083