Wanita Dalam Pandangan Islam Moderat (bag.2/2)

Dibuat Tanggal 21-01-2010
WANITA DALAM PANDANGAN ISLAM MODERAT (Bag.2/2)

Peran Sosial Politik Wanita
Secara tegas Islam mendeklarasikan persamaan antara kaum lelaki dan wanita,  Allah berfirman dalam QS. an-Nahl [16]:97, yang artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan“.

Jelaslah bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan pernah pilih kasih antara umat manusia siapa saja yang beramal shalih maka akan memperoleh pahala yang tidak ada aniaya sedikitpun, firman Allah SWT:

”Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al Hujurat [49]:13

FirmanNya: ”inna akramakum 'indallahi atqakum, yang artinya: sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa, terdapat sebuah penegasan bahwa Allah SWT sama sekali tidak pilih kasih dalam hal pahala dan ganjaran. Allah juga tidak pilih kasih dalam hal dosa. Demikian pula persamaan dalam kewajiban-kewajibannya sebagai hamba termasuk pula kewajiban-kewajiban terhadap agamanya. Semua itu dilakukan dalam rangka menyiapkan wanita muslimah untuk mengemban peran besar dalam kehidupan sosial politik umat [26].

Dengan demikian Islam sangat mengakomodir peran-peran strategis dalam kehidupan sosial dan politik; peran dalam rumah tangga, peran di mesjid, memberantas buta aksara, peran arahan dan bimbingan masyarakat, pendidikan dan pengajaran, peran dalam amar makruf nahi munkar, peran memberdayakan sesama kaum perempuan, peran mengembangkan ilmu pengetahuan dan dakwah kepada kebajikan, peran-peran wanita dalam bidang kesehatan dsb.

Islam bahkan menganjurkan dan memerintahkan wanita-wanita muslimah untuk berperan aktif dalam rumah tangga, masyarakat, negara dan pemerintahan tanpa mengorbankan kewajiban-kewajibannya yang lain sebagai istri, ibu rumah tangga; karena semua hal tersebut dilakukan secara seimbang, moderat dan adil antara hak dan kewajiban, dengan tetap menjaga harga diri dan kehormatannya selaku makhluk Allah yang dimuliakan dan dihormati.

Dalam catatan sejarah Islam seorang wanita Ummu Salamah ra, istri Nabi saw ikut berunding dengan para shahabat Rasulullah saw dalam peristiwa politik Perjanjian Hudaibiyah. Ummu Salamah ra memberikan saran-saran politik kepada Rasulullah saw untuk mengambil langkah-langkah efektif dalam menenangkan emosi yang timbul di kalangan para sahabat ra, yang hampir berputus asa dalam memecahkah masalah yang terjadi saat itu[27].

Diantara bentuk partisipasi politik wanita dalam Islam pemberian komitmen dan kesetiaan (baca: Bai’at)  untuk pembelaan terhadap Islam. Di zaman Rasulullah saw seorang wanita bernama Ummu Hani binti Abi Thalib pernah berperan sosial dengan membangun rumah sakit. Bahkan beliau berperan dalam aktifitas politik dengan melakukan perlindungan terhadap keluarga besarnya saat kaum muslimin memasuki kota Mekkah pada peristiwa Fathu Mekkah.

Ada seorang wanita yang berperan dalam menggunakan hak berpendapat pada masa pemerintahan Umar bin Khattab ra; setelah Umar r.a melaksanakan khutbah di masjid, beliau berpendapat pembatasan batas nilai mahar. Selesai beliau berkhutbah, wanita tersebut berdiri seraya berkata: "Siapakah anda, sehingga memberi batasan atas apa yang Allah swt dan Rasul-Nya tidak membatasinya ?" serta merta Umar r.a mengomentari: "Wanita ini benar, dan Umar-lah yang salah.

Peran wanita dalam ranah politik, khususnya dalam kesertaan di parlemen suatu negara, maka hal itu dibolehkan selama ada kemaslahatan. Kalimat dibolehkan disini tidak berarti keharusan dan kewajiban, tetapi diboleh dalam batas kemaslahtan dan kemudharatan. Kecuali posisi kepala negara, maka hal tersebut diserahkan kepada lelaki, karena bagi wanita secara umum amanat kepala negara merupakan suatu yang berat dan di luar kemampuan wanita dalam menghadapi persoalan negara yang sangat kompleks dan pelik. Kata-kata secara umum di sini berarti adanya sebahagian wanita yang memiliki kemampuan untuk mengemban amanat berat tersebut seperti halnya Ratu Bilqis di jaman dahulu; tetapi perlu diingat bahwa penetapan hukum dalam Islam berlandaskan pada sesuatu yang lebih global dan keumuman bukan sesuatu yang jarang, bahkan ulama Islam mengatakan: ”an-Nadir laa Hukma Lahu” sesuatu yang jarang tidak memiliki hukum (tidak menjadi dasar hukum)”[28] .

Sangat nampak jelas bahwa peran wanita di ranah sosial politik merupakan peran yang tidak boleh dikebiri dan dipasung. Wanita bahkan sejatinya memainkan perannya dalam ranah ini sesuai dengan adab dan etika Islam, tanpa mengorbankan kehormatan dan kemuliaan dirinya sebagaimana diberikan penghargaan tersebut oleh Islam.

Dintara etika wanita yang berpartisipasi dalam ranah sosial politk adalah menjaga kehormatan dirinya dengan tidak melakukan tabarruj (bersolek yang mengundang fitnah), menghindari sedapat mungkin ikhtilath apalagi khalwat [29], melakukan komunikasi sesuai keperluannya dan pada batas-batas logis.

Diantara cara menjaga kehormatan wanita, Allah SWT memberikan cara yang efektif, yaitu menutup aurat wanita, sebagaimana firmanNya: "Katakanlah kepada wanita yang beriman... ... ... ... hendaklah mereka menutupkan kerudung kepalanya sampai ke dadanya"... ... . QS. An-Nur: 31.

Dan selanjutnya juga diperkuat dengan firmanNya yang lain: "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, supaya mereka menutup kepala dan badan mereka dengan jilbabnya supaya mereka dapat dikenal orang (sebagai muslimah), maka tentulah mereka tidak diganggu (disakiti) oleh laki-laki yang jahat. Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih" (QS. Al-Ahzab: 59).

Perintah Allah diatas merupakan kewajiban bagi wanita muslimah sebagaimana perintah-perintah lain dalam surat an-Nur: "Inilah satu surah yang Kami turunkan kepada rasul dan Kami wajibkan menjalankan hukum-hukum syariat yang tersebut di dalamnya. Dan Kami turunkan pula di dalamnya keterangan-keterangan yang jelas, semoga kamu dapat mengingatnya".

Perintah Allah di atas ditegaskan juga oleh Nabi Muhammad saw dalam hadist beliau yang artinya: "Wahai Asma! Sesungguhnya seorang perempuan apabila sudah cukup umur, tidak boleh dilihat seluruh anggota tubuhnya, kecuali ini dan ini, sambil Rasulullah menunjuk muka dan kedua telapak tangannya".

Ummul Mukminin Aisyah r.a berkata: ”Semoga Allah memberi rahmat kepada perempuan-perempuan Muhajirin; di waktu Allah menurunkan ayat kerudung itu, mereka koyak kain-kain berlukis mereka yang belum dijahit, lalu mereka jadikan kerudung". Allah yang menciptakan makhluknya, tentunya Dialah yang paling memahami kebutuhan dan solusi terbaik untuk makhlukNya.


 

 

Wanita & Ilmu Pengetahuan

Islam tidak membedakan antara pria dan wanita dalam kewajiban mencari ilmu dan melakukan pendalaman serta pengembangan ilmu pengetahuan; karena kewajiban menuntut ilmu dalam Islam berlaku untuk semua, sebagaimana sabda Nabi saw:

"طلب العلم فريضة على كل مسلم"  [30]  

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim”  setiap muslim dalam hadits ini mencakup wanita dan pria, karenanya ada riwayat yang mengatakan “faridhotun ‘ala kulli muslim wa muslimah” meskipun makna riwayatnya benar, tetapi lafazhnya tidak didapat dalam periwayatan yang shahih[31] .

Untuk memahami peran dan partisipasi wanita dalam mempelajari dan pengembangan ilmu pengetahuan cukup dengan mengutip beberapa riwayat-riwayat hadits dan atsar serta peristiwa sejarah, antara lain:

ü    جاءت امرأة إلى رسول الله فقالت: يا رسول الله، ذهب الرجال بحديثك فاجعل لنا من نفسك يوما نأتيك فيه تعلمنا مما علمك الله. فقال: "اجتمعن في يوم كذا في مكان كذا. فأتاهن فعلمهن مما علمه الله” (رواه البخاري ومسلم واللفظ للبخاري).

Datang seorang wanita kepada Rasulullah saw seraya berkata: Wahai Rasulullah, orangorang lelaki pergi (mendengarkan) pelajaranmu, maka buatlah untuk kami satu hari kami dapat mendatangimu mengajarkan kami apa yang Allah ajarkan kepadamu. Rasulullah saw menjawab: ”berkumpullah pada suatu hari tertentu” , Maka Rasulullah pun bertemu dengan wanita-wanita (shahabat) dan mengajarkan mereka” (HR. Bukhari Muslim).

ü    عن أم عطية الأنصارية رضي الله عنها: يا رسول الله إحدانا لايكون لها جلباب. قال: لتلبسها أختها من جلبابها (متفق عليه).

Dari Ummu ’Athiyyah al-Anshariyah r.a berkata: wahai Rasulullah seseorang dari kami (wanita muslimah) tidak memiliki jilbab. Nabi berkata: hendaklah saudaranya memakaikannya jilbabnya” (memberikan pinjaman jilbab). Muttafaq ’alaihi.

 

ü     Rasulullah saw pernah meminta asy-Syifa al-’Adawiyah mengajarkan istrinya Hafshah menulis indah. Hal ini menggambarkan spirit aktivitas wanita dalam aspek pengetahuan.

ü   عن عائشة رضي الله عنها قالت: نعم النساء نساء الأنصار لم يمنعهن الحياء أن يتفقهن في الدين (رواه البخاري).

ü     Dari Aisyah r.a berkata: Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar yang tidak segan-segan memperdalam agama” (Bukhari).

ü   قال الإمام الزهري: لو جمع علم عائشة بعلم النساء جميعا لكان علم عائشة أفضل. وقال أبو عمر بن عبد البر رحمه الله: أنها كانت وحيدة عصرها في ثلاثة علوم: علم الفقه وعلم الطب وعلم الشعر

Imam Zuhri berkata: kalau ilmu Aisyah r.a dihimpun dengan ilmu wanita-wanita semuanya, niscaya ilmu Aisyah lebih baik. Dan Abu Umar bin Abdul Barr r.a berkata: sesungguhnya Aisyah satu-satu wanita pada masanya yang memiliki 3 ilmu: fiqh, prinsip-prinsip medis dan syair”.

Peran keilmuan kaum wanita setelah masa Nabi Muhammad saw juga sangat nampak dari peran-peran yang dimainkan wanita-wanita di masa tabi’in dan tabi’ tabi’in, seperti putrinya Imam Sa’id al-Musayyib yang mengatakan kepada suaminya yang juga murid ayahnya: ”Ijlis U’allimuka ’Ilma Sa’id” (duduklah padaku aku ajarkan ilmu-ilmunya ayahku Sa’id).

Demikian pula putri kesayangannya Imam Malik, yang senantiasa ikut serta dalam majlis ayahnya; jika ia mendengar kesalahan murid ayahnya dalam majlis ilmu dalam membaca kitab al-Muwatho’, ia meralat bacaan mereka dengan cara mengetukkan pintu, lalu Imam Malik pun mengatakan kepada muridnya yang melakukan kesalahan (atas ralat putrinya tersebut): ” ’Irji’ fal-gholath ma’ak (kembalilah karena kamu melakukan kesalahan).

Demikian banyak wanita-wanita muslimah yang memainkan perannya dalam ilmu pengetahuan di masyarakat antara lain bisa disebutkan disini :

- Ummu Khoir al-Hijaziyah mempunyai halaqah ilmiah di mesjid Jami’ Amr bin ’Ash pada abad IV H.

- Al-Khatmah istri Abu Muhammad selalu membacakan kitab suaminya dan menalar kitan Ar-Risalah karangan Syeikh Abu Muhammad bin Abu Zaid setengah sebagian dari kitab Al-Muwatho’

- Fatimah binti Alauddin As-Samarqandi -Pengarang Tuhfatul-Fuqoha- menikah dengan Abu-Bakar Al-Kasani “Malikul-Ulama” -Pengarang Kitab Al-Ba’i’ Syarh kitab Tuhfatul-Fuqaha dengan mahar Qira’at Kitab Al-Badai’. Yang sempat membuat sebahagian alim ulama menyebutnya sebagai orang yang:  "شرح تحفته وتزوج ابنته" (mensyarah kitab Tuhfahnya dan menikahi istrinya). Sehingga fatwa-fatwanyapun bernilai plus, karena mendapat legalisir ayah dan suaminya.

- Para perawi hadits dari kalangan wanita pun tidak sedikit, seperti: Abu Muslim Al-Farahidi Al-Muhaddits menulis sebanyak 70 wanita perawi hadits. Istri AlHafidh Al-Haitsami, anak wanita dari Syeikhnya bernama Al-Hafidh Al-Iraqi. Karimah binti Mahmud bin Hatim Al-Marwaziyah “Sayyidatul-Wuzara” adalah salah seorang perawi hadits-hadits Bukhari. Demikian pula Aisyah binti Hamad bin Abdul Hadi bin Abdul Hamid bin Abdul Hadi bin Yusuf bin Muhammad Al-Maqdisy yang membidangi spesialisasi hadits.

- Ibnu Hajar berkata: Saya belajar kepada Zainab binti Abdullah bin Abdul Halim bin Taimiyah Al-Hanbali ( saudara kandung Imam Ahmad Ibn Taimiyah rahimahullah). Diantara murid-murid Zainab adalah: Imam Al-Hafidh Muhammad bin Nasiruddin Al-Maqdisi Asy-Syafi’i.

- Masih banyak lagi sederetan wanita Berkwalitas tinggi dalam berbagai ilmu-ilmu agama, seperti: Sayyidah Nafisah binti Muhammad, Zainab binti Al-Kamal (yang mempunyai murid bernama: Imam Muhammad bin Hamzah Al-Husaini), Wazirah binti Umar Al-Mayya ( mempunyai murid bernama Imam Muhammad bin siwar As-Subki), Zainab binti Makki (guru wanita Imam Ahmad bin Bakkar An-Nablusi dan Abdullah bin Muhid serta Umar bin Habib), Zaenab binti Abil-Qasim (yang telah diberi ijazah oleh ulama terkenal Abul-Qosim Mahmud bin Umar Az-Zamakhsyari -pengarang kitab Al-Kasysyaf- dan oleh Muarrikh Syihabuddin bin Khulkan), Ummu Abdul-Wahid ( ahli fiqh madzhab Syafi’i, disamping mempelajari ilmu-ilmu yang lain), Fatimah binti Jauhar (salah seorang guru Imam Ibnu Qoyyim), Zubaidah (istri Harun Ar-Rasyid adalah ahli Fiqh)[32].

Al-Hafidh Jalaluddin As-Suyuthi menyelesaikan qiro’at kitab “Bughyatul-Wu’at kepada beberapa ulama wanita pada zamannya: Ummu Hani binti Hasan Al-Hawrini, Hajar binti Muhammad Al-Misriyah, Ashilah Nasywan binti Abdullah Al-Kanani, Kamaliyah binti Muhammad bin Abu-Bakar Al-Jurjani, Amatul-Khaliq binti Abdul-Latif Al-Uqba, Amatul-Aziz binti Muhammad Al-Anbasi, Fatimah binti Ali bin Yasir, Khadijah binti Abil-Hasan bin Al-Mulaqqon.

 


Penutup.

Melihat posisi wanita dalam Islam karena kemuliaan dan penghargaan dirinya yang diberikan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an dan juga oleh Nabi Muhammad saw Rasul Penutup dan Penyempurna, maka sangat benar perkataan seorang penyair Islam:

الأم مدرسة إذا أعددتها أعددت شعبا طيب الأعراق

Ibu (wanita) ibarat madrasah (lembaga belajar dan mendidik), jika kamu mempersiapkannya (dengan baik) berarti kamu telah dan sedang mempersiapkan bangsa yang baik budayanya.

Karenanya pula Nabi Muhammad saw di banyak haditsnya memperhatikan peran-peran wanita dan menghimbau para pendidik khususnya para ayah dan suami agar melakukan proses pendidikan terhadap kaum wanita sebagai asset bangsa dan Negara yang mampu dan ikut serta berjuang bersama kaum pria.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi :

 

1.       Persatuan Ulama Islam Sedunia, 25 Prinsip  Islam Moderat, cet.I 1429H/2008, SCC Jakarta.

2.       Salim al-Bahnasawi, Makanatul Mar'ah Bainal Islam wal Qowanin al-'Alamiyah, Darul Qolam, 1406H/1986M.

3.       Imam al-Qurthubi, al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an.

4.       Fi Zhilal al-Qur’an, Sayyid Qutub, Dar-Asy-Syuruq

5.       Fathul-Qodir, Asy-Syaukani.

  1. Nuzhatul-Muttaqin Syarh Riyadhush-Sholihin, Dr Musthofa Sa’id Al-Khin dkk, 1/280, hadits no: 275, cet: 15 (1408H/1988M), Mu’assasah Ar-Risalah Beirut.

7.        

  1. Al-Mar’ah fi Al-Qur’an Wa As-Sunnah, Mohammad Izzat Daruzah, cet: 1 (1387H-1967M), Al-Maktabah Al-Ashriyah Beirut.
  2. Nuzhatul-Muttaqin Syarh Riyadhush-Sholihin, Dr Musthofa Sa’id Al-Khin dkk, cet: 15 (1408H/1988M), Mu’assasah Ar-Risalah Beirut.

10.   Al-Asas Fi At-Tafsir, Sa’id Hawa, cet: 2 (1409H/1989M) Darus-Salam

  1. Tafsir At-Tahrir Wa At-Tanwir, Mohammad Ath-Thohir bin Asyur.

12.   Qomus Al-Qur’an aw Ishlah Al-Wujuh wa An-Nadho’ir fi Al-Qur’an al-Karim, Al-Faqih Al-Mufassir, Al-Jami’ Al-Husein Mohammad Ad-Damighon, Darul-Ilmi lil Malayin Beirut, cet: 3 (1980).

13.   Tarikh ath-Thabari.

14.   Siroh Nabawiyah Ibnu Hisyam

15.   al-Khilafah Baina at-Tanzhir wa ath-Thathbiq, Mahmud al-Mardawai, cet. 1 1403H/1983M, tanpa penerbit.

16.   “Audatul Hijab”,  Muhammad Ahmad Ismail al-Muqoddam, Dar Thoyyibah Riyadh, tanpa tahun penerbitan.

17.   Qodhoya al-Mar’ah fi Suroti an-Nisa’, Dr. Muhammad Yusuf Abd, cet 1 tahun 1405H/1985M.. Darud- Da’wah Kuwait.

18.   Buku-buku Hadits Nabi seperti: Musnad Imam Ahmad, al-Mustadrak alHakim, Shahih Bukhari dan Imam Muslim dan Syarahnya dll.

19.   Daurul Mar’ah Fil Mujtama’ al-Islami, Dr. Ali Wahbah, cet. Ke 5 tahun 1403H/1983M. Darul Liwa’ Riyadh KSA.

20.   Malamih al-Mujtama’ al-Muslim alladzi Nansyuduhu, Yusuf al-Qaradhawi, Hal: 360-361, cet. 1 tahun 1417H/1996M, Muassasah ar-Risalah Beirut.

21.   al-Mar’ah al-Muslimah wa Fiqhu ad-Da’wah, Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, Darul Wafa Mesir, tanpa nomor cetakan dan tahun terbitan.

22.   Ya Nisa’ad-Du’at Lastunna Kakulli an-Nisa’, Zubeir Fadhl Madhawi, hal: 27, Syarikat Maktabah al-Khadamat al-Haditsah, tanpa tahun penerbitan.

23.   al-Marja’iyyatul ‘Ulya fil- Islam Lil-Qur’an was-Sunnah, Yusuf al-Qaradhawi, Hal 197-198, cet.1 tahun 1414H/1993M, Muassasah ar-Risalah Beirut.

24.   Ar-Rasul wal-‘ilm, Dr. Yusuf al-Qaradhawi, Hal: 91, Maktabah Wahabah Kairo, tanpa tahun penerbitan.

25.   Nisa’ Haula ar-Rasul, war-Rodd ‘ala Muftaroyat al-Mustasyriqin, Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthofa Abun-Nashr asy-Syalabi, cet. 3 tahun 1411H/1991M, Maktabah as-Sawadi Jeddah.

26.   al-Muntakhob Min A’lam an-Nisa’, Abbas Muhammad Hasan yusuf, cet. 1 tahun 1410H/1990M, Darul Bayan Kuwait.

 

 



[1]  Persatuan Ulama Islam Sedunia, 25 Prinsip  Islam Moderat, hal 93, cet.I 1429H/2008, SCC Jakarta.

[2] Dikutip dari Wil Durant dari bukunya Hadharatush-Shin dan buku Hayatul Yunan, terjemahan Mohammad Badran, hal: 17, 114-273. (lihat: Salim al-Bahnasawi, Makanatul Mar'ah Bainal Islam wal Qowanin al-'Alamiyah, hal: 13, Darul Qolam, 1406H/1986M.

[3]  Dikutip dari Wil Durant dalam Tarikhul 'alam, hal: 394, Wizarotul Ma'arif Mesir. Lihat : al-Bahnasawi, op.cit. hal: 14.

[4]  Wil Durant, opcit. Hal 179. lihat: al-Bahnasawi, opcit. Hal: 14.

[5]  Opcit.

[6] Al-Bahnasawi, opcit. Hal 15. Lihat pula buku: al-Mar’ah al-Muslimah wa Fiqhu ad-Da’wah, Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, Darul Wafa Mesir, tanpa nomor cetakan dan tahun terbitan.

[7] Perhimpunan Ulama se-Dunia, 25 Prinsip Islam Moderat, hal: 90

[8] Lihat: Perhimpunan Ulama se-Dunia, opcit, hal: 91

[9] HR. Imam Ahmad 6/322.  Abu Ya’la 6959,  ath-Thabari dalam Tafsirnya 5/46-47, ath-Thabrani dalam al-Kabir 23/280, al-Hakim berkata (2/335): Hadits shahih sanadnya, jika Mujahid mendengar dari Ummu Salamah”.

[10] Imam al-Qurthubi, al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, 3/125.

[11]  Lihat: Fi Zhilal al-Qur’an, Sayyid Qutub, 3/1411-1412, Dar-Asy-Syuruq

[12]  Fathul-Qodir, Asy-Syaukani, 1/418.

[13]  Imam Bukhori, kitab Fi An-Nikah, bab Al-Mudarot ma’an-Nisa’, Imam Muslim kitab Fi Ar-Rodho’, bab Al-Washiyat bin-Nisa’.

 

[14]  Al-Mar’ah fi Al-Qur’an Wa As-Sunnah, Mohammad Izzat Daruzah, hal: 47< cet: 1 (1387H-1967M)< Al-Maktabah Al-Ashriyah Beirut. Lihat hadits dalam kitab Nuzhatul-Muttaqin Syarh Riyadhush-Sholihin, Dr Musthofa Sa’id Al-Khin dkk, 1/280, hadits no: 275, cet: 15 (1408H/1988M), Mu’assasah Ar-Risalah Beirut.

       Lihat juga: Al-Asas Fi At-Tafsir, Sa’id Hawa, 2/986-987, cet: 2 (1409H/1989M) Darus-Salam

[15]  Lihat: Tafsir At-Tahrir Wa At-Tanwir, Mohammad Ath-Thohir bin Asyur, 1/428.

       Lihat: Qomus Al-Qur’an aw Ishlah Al-Wujuh wa An-Nadho’ir fi Al-Qur’an al-Karim, Al-Faqih Al-Mufassir, Al-Jami’ Al-Husein Mohammad Ad-Damighon, 219-220< Darul-Ilmi lil Malayin Beirut, cet: 3 (1980).

[16] Shahih Bukhari 5096, Muslim dalam Kitab adz-Dzikr (2740), dari Usamah bin Zaid dengan lafal “Adhorro ‘alar-Rijal Minan-Nisa”

[17]  Shahih Muslim (2742), kitab ad-Dzikr, dari Abu Sa’id al-Khudri r.a

[18]  Tarikh ath-Thabari 1/472 .

[19] Baca: Siroh Nabawiyah Ibnu Hisyam 3/314, Imam Baihaqi dalam as-sunan al-Kubro 200/9. Imam al-Baihaqi mengatakan, bahwa Imam asy-Syafe’i meriwayatkan dari Abi Abdur-Rahman al-Bagdadi: “para ahli sejarah seperti Ibnu Ishaq, Musa bin Uqbah dan ulama lainnya yang meriwayatkan bahwa Bani Qoinuqo’ membuat perjanjian dengan Rasulullah saw, ketika itu datanglah seorang wanita Anshar kepada seorang ahli sepuh perhiasan emas, Yahudi dan Anshar terdapat konflik, ketika wanita tersebut duduk di sisi ahli sepuh tadi, seseorang Yahudi mengikatkan tali di besi ke bagian pakaian si wanita Anshar tanpa diketahuinya, saat si wanita itu berdiri maka tersingkaplah pakaian si wanita itu dan orang-orang yang melihat di pasar tertawa mengejek. Kabar itu sampai kepada Rasulullah saw, beliaupun memperingati mereka dan menganggap peristiwa ini sebagai pelanggaran perjanjian”.

[20] Lihat: Daurul Mar’ah Fil Mujtama’ al-Islami, Dr. Ali Wahbah, hal: 16, cet. Ke 5 tahun 1403H/1983M. Darul Liwa’ Riyadh KSA.

[21] Lihat: al-Marja’iyyatul ‘Ulya fil- Islam Lil-Qur’an was-Sunnah, Yusuf al-Qaradhawi, Hal 197-198, cet.1 tahun 1414H/1993M, Muassasah ar-Risalah Beirut.

[22] Qodhoya al-Mar’ah fi Suroti an-Nisa’, op.cit. Hal 241-243  , 

[23]  Shahih Bukhari, Bab al-Maghazi (4425)

[24] Musnad Ahmad (5/45), demikian Imam ath-Thabrani meriwayatkan dalam kitab al-Awsath (425) dan dishahihkan oleh al-Hakim (7789), tetapi dalam sanadnya terdapat Abu Bakrah Bakkar bin Abdul Aziz bin Abi Bakrah yang diperbincangkan ( lihat Silsilah Hadits-hadits Lemah (436)

[25] Lihat: Bahasan khilafiyah dalam hadits nabi tsb dalam buku al-Khilafah Baina at-Tanzhir wa ath-Thathbiq, Mahmud al-Mardawai, buku al-Khilafah hal 123, cet. 1 1403H/1983M, tanpa penerbit

[26] Qodhoya al-Mar’ah fi Suroti an-Nisa’, Dr. Muhammad Yusuf Abd, hal 34-35, cet 1 tahun 1405H/1985M.. Darud- Da’wah Kuwait.

[27] Lihat: Ya Nisa’ad-Du’at Lastunna Kakulli an-Nisa’, Zubeir Fadhl Madhawi, hal: 27, Syarikat Maktabah al-Khadamat al-Haditsah, tanpa tahun penerbitan.

[28] Malamih al-Mujtama’ al-Muslim alladzi Nansyuduhu, Yusuf al-Qaradhawi, Hal: 360-361, cet. 1 tahun 1417H/1996M, Muassasah ar-Risalah Beirut.

[29]  Daurul Mar’ah fil Mujtama’ al-Islami, op.cot. hal: 208-209.

[30] HR Ibnu Majah dalam al-Muqoddimah (224), Ibnu Abdil Barr dalam bab al-Ilmu, Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Hadits Anas, Imam Thabrani meriwayatkan dalam kitab al-Kabir dari Ibnu Mas’ud, dan dalam al-Awsath dari Ibnu abbas. As-Sakhowi berkata, riwayat ini memiliki syahid pada Ibnu Syahin dengan sanad yang para perawinya tsiqot dari anas . Lihat al-Jami’ ash-Shogir hadits-hadits no 5264, 5267, dan juga tanggapan al-Munawi terhadap hadits ini dalam Faidhul Qodir 4/267-268.

[31] Ar-Rasul wal-‘ilm, Dr. Yusuf al-Qaradhawi, Hal: 91, Maktabah Wahabah Kairo, tanpa tahun penerbitan.

[32] Lihat secara rinci tentang peran para wanita dalam buku “Audatul Hijab”,  Muhammad Ahmad Ismail al-Muqoddam, Dar Thoyyibah Riyadh, tanpa tahun penerbitan.

     Lihat juga buku: Nisa’ Haula ar-Rasul, war-Rodd ‘ala Muftaroyat al-Mustasyriqin, Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthofa Abun-Nashr asy-Syalabi, cet. 3 tahun 1411H/1991M, Maktabah as-Sawadi Jeddah. Juga buku: al-Muntakhob Min A’lam an-Nisa’, Abbas Muhammad Hasan yusuf, cet. 1 tahun 1410H/1990M, Darul Bayan Kuwait.

 

share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Download Khutbah Ied
27-08-2011 Artikel

Khutbah Iedul Fithri 1432H Syarat Kebangkitan Bangsa Menurut al-Qur'an  - Muham ...

Baca Selengkapnya

Teknologi Islam Moderat (Bag.2/2)
15-02-2010 Moderasi Islam

3.      Sumbangan Islam terhadap sains modern a.   ...

Baca Selengkapnya

Teknologi Islam Moderat (Bag.1/2)
15-02-2010 Moderasi Islam

Teknologi Islam Moderat Dr. Mustanir Yahya   1. Apresiasi Islam terhadap il ...

Baca Selengkapnya

Wanita Dalam Pandangan Islam Moderat (bag.1/2)
15-01-2010 Moderasi Islam

WANITA DALAM PANDANGAN ISLAM MODERAT Oleh : Dr. H.M. Idris A. Shomad, MA Wanita adal ...

Baca Selengkapnya

Moderasi Islam Rahmat bagi Semesta
04-12-2009 Moderasi Islam

Adalah suatu yang niscaya bahwa ummat ini harus memposisikan diri sebagai umat yang men ...

Baca Selengkapnya