Tak Keluar Rumah Dapat Pahala Mati Syahid

Dibuat Tanggal 04-04-2020

REPUBLIKA.CO.ID, Berada di rumah saja selama wabah bukan berarti tidak bisa beribadah. Banyak amalan yang bisa dilakukan dari rumah dari shalat hingga  bersedekah. Untuk membahas ini,  Republika mewawancarai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Ustadz Ahmad Kusyaeri.

 

Dalam kondisi physical distancing dan berdiam di rumah, apa yang bisa diperbuat seorang Muslim membantu pencegahan wabah Covid-19?

Perlu dipahami oleh seorang muslim bahwa diamnya kita di rumah dalam kondisi wabah virus corona ini adalah ibadah. Karena berdasarkan penjelasan para ahli inilah cara yang paling efektif untuk memutus penyebaran virus. Dan insya Allah ini termasuk mengamalkan hadits Nabi tidak boleh menimbulkan madharrat/bahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Juga termasuk bagian mentaati Ulum Amri, ulama dan umaro atau pemerintah.

Inilah kesempatan untuk memperkuat ruhiyah spiritual Quwwah Ruhiyyah dengan memperbanyak tilawah Al Qur'an, dzikir, doa, istighfar, baca sholawat. Kesempatan emas untuk menunaikan sholat, bukan hanya sholat fardhu tapi sholat-sholat sunnah, yang mungkin selama ini kurang diperhatikan dan dijalankan. Semoga ini bisa menjadi sarana pemicu diangkatnya wabah virus corona oleh Allah. Ini kesempatan memperkuat soliditas ketahanan keluarga Al Itiqrar Al 'Aaili. Barangkali selama ini kita sering jauh dari keluarga maka ini kesempatan emas selama social distancing ini untuk memperkuat keharmonisan hubungan keluarga.

Membersamai anak-anak dalam kebaikan, mengerjakan tugas sekolah, sholat berjamaah bersama, tadarrus Al Qur'an bersama. Dan kalau seluruh keluarga Indonesia yang mayoritas muslim, melaksanakan agenda-agenda ini selama stay at home, maka insya Allah kita akan melihat masyarakat Indonesia pasca wabah corona ini akan menjadi lebih baik, diberkahi Allah dan semua keluarga yang seperti itu akan menjadi keluarga bahagia di dunia dan di Surga.

 

Adakah ibadah-ibadah utama yang bisa dilakukan di rumah terutama ketika adanya wabah?

Tadi sudah disebutkan.Dan bagi yang biasa sholat berjamaah di masjid, insyaallah juga tetap dapat pahala sholat berjamaah di masjid, selama sholat berjamaah di rumah bersama keluarga. Bahkan ada berita gembira dari Nabi tentang ini. Siapaa yang tidak keluar rumah saat terjadi wabah maka dia mendapat pahala orang yang mati syahid sekalipun tidak mati. Termasuk ibadah di rumah, memperdalam agama dengan membaca buku-buku agama dan melihat acara-acara keagamaan di media bersama keluarga.

Bagaimana pendapat anda dengan gerakan berbagi yang digagas sejumlah lembaga filantropi, organisasi keislaman, aktris untuk membantu warga kurang mampu karena terdampak imbauan diam di rumah akibat wabah corona?

Tentu ini gerakan mulia dan memang sudah seharusnya kita semua baik sebagai individu maupun komunitas itu bergerak membantu saudara kita, bisa kerabat, tetangga, teman dan warga kurang mampu karena terdampak kebijakan di rumah saja. Gerakan ini adalah panggilan agama, kewajiban syar'i, sebelum panggilan sesama warga negara. Allah memerintahkan kita utk saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Bahkan, di dalam Alqur'an surat Al Maaun Allah menegaskan bahwa orang yang tidak memperhatikan saudaranya yang kurang mampu dan masuk dalam katagori mustadh'afin orang-orang lemah secara ekonomi seperti anak yatim dan kaum fakir miskin, termasuk mendustakan agam.

 

Apakah Ikadi juga melakukan penggalangan dana untuk penanggulangan Covid-19?

Alhamdulillah sejak awal Ikadi telah bergerak aktif dengan memberikan tau'iyah, pencerahan kepada umat dan bangsa dengan mengeluarkan tadzkirah.  Menyerukan jihad harta dengan memobilisasi dana bekerja sama dengan lembaga filantropi nasional dan internasional.

 

Banyak masyarakat di kota besar yang sudah memilih mudik karena tak ada mata pencaharian? seperti apa pendapat dan imbauan Ikadi?

Menurut kami semua harus berpikir jernih tentang mudik ini. Tentu kita berharap kondisi ke depan semakin membaik, tidak semakin parah wabah ini. Tapi jika Allah takdirkan kondisinya belum membaik jangan sampai mudik yang tujuan awalnya ingin bahagia bersama keluarga, malah jadi membawa bencana kepada keluarga, karena saling menularkan virus corona. Karena penularan virus ini tidak bisa dideteksi. Berkumpul bersama keluarga besar di kampung bisa ditunda hingga kondisi benar-benar dipastikan aman dan wabah ini telah hilang

 

Apa pesan anda bagi da'i, tokoh agama dan tokoh masyarakat terkait wabah corona?

Pesan kami kepada para da'i, tokoh agama dan tokoh masyarakat agar terus hadir membersamai umat dan bangsa melalui beragam media sosial dan lainnya dengan beberapa cara. Melalui nasehat-nasehat yang bisa menenangkan dan mengingatkan umat untuk menyikapi dengan baik dan benar tentang wabah ini. Mengingatkan umat untuk mengikuti protokol kesehatan demi kemaslahatan bersama. Mengingatkan umat agar tidak mudah termakan hoaks. Membantu umat dan masyarakat untuk mengikuti seruan dan program pemerintah untuk membendung penularan virus corona. Dan mengajak umat untuk muhasabah, banyak berdoa, beristighfar dan bersedakah membantu sesama.

 

Sumber: Republika

 

Catatan tambahan:

Ini berita gembira dari Nabi SAW sendiri.

Siapa Yang Tidak Keluar Rumah Saat Terjadi Wabah Maka Dia Mendapat Pahala Orang Yang Mati Syahid Sekalipun Tidak Mati

 

عن عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها قالت : سألتُ رسولَ اللهِ ﷺ عن الطاعونِ ، فأخبَرَني رسولُ اللهِ ﷺ: أنَّه كان عَذابًا يَبعَثُه اللهُ على مَن يَشاءُ، فجعَلَه رَحمةً للمُؤمِنينَ، فليس مِن رَجُلٍ يَقَعَ الطاعونُ فيَمكُثُ في بَيتِه صابرًا مُحتَسِبًا يَعلَمُ أنَّه لا يُصيبُه إلّا ما كَتَبَ اللهُ له إلّا كان له مِثلُ أجْرِ الشَّهيدِ.

 

Dari Aiisyah Ummul Mukminin radhiallahu anha, 

Beliau berkata:  

Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tentang tha’un (wabah penyakit), lalu Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam memberitahukan kepadaku bahwa wabah itu adalah siksa yang dikirim Allah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Dia menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang beriman.

Siapa yang menghadapi wabah lalu dia bersabar dengan tinggal di dalam rumahnya seraya bersabar dan ikhlas sedangkan dia mengetahui tidak akan menimpanya kecuali apa yang telah ditetapkan Allah kepadanya, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mati syahid”. 

 

Sanad hadis ini shahih berdasarkan syarat Imam Bukhari,

diriwayatkan oleh Bukhari (3474), an-Nasa’i di dalam as-Sunan al-Kubra (7527) dan Ahmad (26139) lafadz hadis ini riwayat Ahmad.

 

share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
IKADI: Keluarga adalah Elemen Penting Kehidupan Manusia
02-10-2020 Liputan Media

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Sekjen Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Ahmad Kusyaeri Suhail m ...

Baca Selengkapnya

IKADI: Terus Dekatkan Diri pada Allah Saat Pandemi
02-10-2020 Liputan Media

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) meminta para dai untuk terus ...

Baca Selengkapnya

Ulama Pahami Kondisi Sosial dalam Masyarakat
25-09-2020 Liputan Media

  REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang dai atau ulama yang berpikiran nasional bia ...

Baca Selengkapnya

Ketum Ikadi: Niat Sertifikasi Dai Dinilai Salah Kaprah
07-09-2020 Liputan Media

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Ikatan Dai se-Indonesia (Ikadi) Ahmad Satori m ...

Baca Selengkapnya

Ikadi Riau Resmi Dilantik, Program Dai Bina Desa Dipuji
07-09-2020 Liputan Media

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Pengurus Wilayah Ikatan Dai Indonesia (PW Ikadi) Riau period ...

Baca Selengkapnya

Jangan Sampai Kefakiran Jadi Kekafiran
05-09-2020 Liputan Media

  REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pandemi virus Korona jenis baru (Covid-19) yang men ...

Baca Selengkapnya