TAHUN BARU, MOMENTUM MUHASABAH BUKAN HURA-HURA

Dibuat Tanggal 01-01-2022

TAHUN BARU, MOMENTUM MUHASABAH BUKAN HURA-HURA

Oleh: Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, MA

(Ketua Umum IKADI, dosen FDI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pimpinan Pondok Pesantren YAPIDH Bekasi)

 

 

Pergantian waktu dan perubahan tahun adalah momentum yang baik untuk muhasabah; intropeksi dan evaluasi diri untuk meningkatkan kualitas diri. Bukan waktu untuk hura-hura, foya-foya dan berpesta pora, apalagi di tengah kondisi bangasa yang masih diselimuti pandemic covid-19, dan bencana serta musibah yang datang silih berganti. Ketika seseorang melewati malam pergantian tahun, maka sesungguhnya wajib bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberi nikmat panjang umur dan kesempatan untuk mengukir prestasi amal shalih menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Masih diberi Allah kesempatan untuk menyongsong hari esok dan masa depan yang cemerlang. Apalagi dengan bertemu tahun baru, berarti jatah hidup kita di dunia, terus berkurang dan itu artinya semakin mendakatakan kita kepada kematian. Karena itu,  Nabi SAW telah menegaskan, bahwa manusia yang cerdas adalah manusia yang memiliki pandangan jauh ke depan dan visioner. Dia tidak hanya memikirkan keberhasilan, kesuksesan dan kebahagiaan di dunia saja, melainkan  juga memikirkan kesuksesan dan kebahagiaan di akhirat.

Rasulullah SAW bersabda,

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Orang yang cerdas/pandai adalah yang menahan nafsunya (mengevaluasi dirinya sendiri) serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan (kosong) terhadap Allah Ta’ala“. (HR. Ibn Majah, no. 4250, Al Hakim, IV/341 dan ia menshahihkannya).

Muhasabah yang berasal dari akar kata hasiba yahsabu hisab adalah sebuah upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan dalam semua aspeknya. Muhasabah dapat menjadi sarana untuk me-re-charge niat dan semangat dalam mengisi dan memanfaatkan dengan baik sisa-sisa umur kita di dunia.

Urgensi muhasabah bagi seorang muslim terlihat pada lima hal:

Pertama, Muhasabah adalah Mathlabun Syar’iyyun (tuntutan syariat). Sebab, ia merupakan perintah Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Saat menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Maknanya, hisablah dirimu sebelum kamu dihisab. Lihat dan perhatikanlah apa yang kamu tabung untuk dirimu dari amal shalih untuk hari kebangkitanmu dan saat kamu dihadapkan kepada Rabb-mu. Ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui seluruh perbuatan dan keadaanmu. Tidak ada sesuatu apa pun pada dirimu yang tidak diketahui Allah” (Tafsir Ibnu Katsir, V/69).

Sebelumnya, Sayyidina Umar bin Khaththab RA pernah berkata:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا ، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا ، فَإِنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا ، أَنْ تُحَاسِبُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ ، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ، يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ

 “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, karena lebih mudah bagi kalian menghisab diri kalian hari ini daripada besok (hari Kiamat). Dan bersiaplah untuk menghadapi pertemuan terbesar. Ketika itu, kalian diperlihatkan/dibeberkan dan tidak ada sesuatu pun pada kalian yang tersembunyi” (HR Imam Ahmad dalam kitab Az Zuhd, hal. 177).

Karena perintah Allah, maka muhasabah merupakan salah satu sarana dan wasilah yang efektif dapat mengantarkan manusia mencapai tingkat kesempurnaan sebagai hamba Allah SWT. Kebiasaan melakukan muhasabah di dunia, dapat meringankan hisab pada hari Kiamat kelak sebagaimana dikatakan oleh Umar bin Khaththab RA,

إنما يخف الحساب يوم القيامة على من حاسب نفسه في الدنيا

Sesungguhnya hisab pada Kiamat itu akan ringan bagi orang yang biasa menghisab (muhasabah) dirinya di dunia” (HR Tirmidzi).

Kedua, Muhasabah merupakan Qadhaaya Imaniyah atau diskursus keimanan. Artinya barometer keimanan seorang mukmin sangat ditentukan oleh sejauh mana ia menerapkan muhasabah dalam kehidupannya. Maka, orang yang jarang dan tidak melakukan muhasabah berarti imannya lemah. Sementara orang kuat imannya, akan rajin melakukan muhasabah sehingga termotivasi untuk selalu memperbaiki diri.

Ketiga, Muhasabah adalah karakter orang yang bertakwa. Bahkan, dalam ayat di atas, Allah SWT sampai perlu mengapit perintah muhasabah dengan dua kali perintah takwa. Artinya, mustahil seseorang sampai pada derajat takwa ketika tidak pernah mengiringi kehidupannya dengan muhasabah. Padahal surga disiapkan Allah SWT hanya bagi orang-orang yang bertakwa.

Keempat, Muhasabah adalah Mathlabun ‘Ashriyyun (tuntutan kekinian). Maka institusi, organisasi, perusahaan, yayasan, kementerian, perkumpulan dan lembaga apa pun, selalu menyelenggarakan muhasabah dalam bentuk koreksi dan evaluasi diri dengan menghitung untung dan rugi, kekurangan dan kelebihan, capaian target dan lain-lain. Semua sadar, bahwa evaluasi diri (muhasabah) melahirkan nilai tambah dalam berfikir dan bertindak lebih cepat dan tepat guna meraih keberhasilan dan kemajuan di segala bidang. 

Kelima, muhasabah adalah kunci sukses kehidupan manusia yang unggul. Generasi terbaik umat islam adalah para sahabat  RA, kehidupan mereka tidak pernah lepas dari kegiatan muhasabah. Muhasabah menggembleng mereka menjadi manusia-manusia besar dengan beragam prestasi amal shalih yang membuat mereka dikenang sepanjang zaman. Namun, mereka tetap merasa khawatir jangan-jangan amal mereka tidak diterima oleh Allah. Mereka sangat takut menghadapi hari Kiamat, hari perhitungan, karena harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di dunia. 

Manusia dengan sifat-sifat seperti inilah yang dipuji oleh Allah SWT dalam firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ، وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ، وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ، وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ، أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya”. (QS Al Mu’minuun (23): 57-61).

Tentang ayat QS Al Mu'minum ayat 60 ini, Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW,

أَهُمْ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ ؟ قَالَ : لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ ! وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

"Apakah mereka adalah orang-orang yang biasa minum khamr, berzina dan mencuri? Beliau menjawab: “Bukan wahai putri Ash Shiddiq. Melainkan mereka adalah orang-orang yang rajin puasa, shalat, shadaqah, tetapi selalu merasa takut jangan-jangan Allah tidak menerima amal-amal mereka. Mereka itulah orang-orang yang bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan”. (HR Tirmidzi, no. 3175 dan dishahihkan Ibnu Katsir dalam Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, I/176).

Untuk itu, mari kita manfaatkan momentum pergantian tahun untuk muhasabah. Siapapun kita, apakah pejabat, karyawan, orang tua, ibu rumah tangga, pelaku bisnis, politikus, pemimpin, budayawan, guru, dosen, jurnalis dan lain sebagainya. Sudah siapkah kita menghadapi kematian? Sudah cukupkan bekal amal shalih kita? Masihkah kita terus tenggelam dalam dosa, maksiat dan kezaliman? Sudah amanah dan adilkah kita sebagai pejabat atau pemimpin? Apa jadinya jika menghadap Allah di akhirat kelak dalam kondisi diri ‘blepotan’ dosa dan nista?! Mari perbanyak istighfar dan taubat. Lebih baik menyesal di dunia daripada menyesal di akhirat, karena di dunia masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Mari raih hidup indah dan berkah dengan muhasabah..

 

Bekasi, 30 Desember 2021 M/25 Jumadil Awwal 1443 H

 

 

share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Mengagungkan Arafah
08-07-2022 Tafakkur

Mengagungkan Arafah Dr. Atabik Luthfi, Lc, MA   Secara bahasa, Arafah berasal d ...

Baca Selengkapnya

Bagaimana Berkurban Sesuai Tuntunan Sunnah
30-05-2022 Tafakkur

Bagaimana Berkurban Sesuai Tuntunan Sunnah Dr. Atabik Luthfi, Lc, MA Harapan dan kein ...

Baca Selengkapnya

KEMULIAAN BULAN SYA’BAN DAN AMALAN UTAMANYA
03-03-2022 Tafakkur

KEMULIAAN BULAN SYA’BAN DAN AMALAN UTAMANYA Oleh: Dr. KH. Ahmad Kusyairi Suhail, ...

Baca Selengkapnya

MEMPEKERJAKAN ITU MULIA, 'PERBUDAKAN' ITU TERCELA
04-02-2022 Artikel

MEMPEKERJAKAN ITU MULIA, 'PERBUDAKAN' ITU TERCELA   Oleh: Dr. Ahmad Kusyairi S ...

Baca Selengkapnya

Taqarrub Kepada Allah Swt
29-07-2021 Tafakkur

 Taqarrub kepada Allah swt Perspektif Al-Qur’an Dr. Atabik Luthfi, MA &nb ...

Baca Selengkapnya

WUKUF ARAFAH, Momentum TAUBAT NASIONAL dan GLOBAL
19-07-2021 Tafakkur

    WUKUF ARAFAH, Momentum TAUBAT NASIONAL dan GLOBAL   Oleh:  ...

Baca Selengkapnya