Tafakkur; Mata Air Kehidupan Jiwa

Dibuat Tanggal 23-02-2011

Karena itu Allah SWT. dalam beberapa firmanNya juga mendorong manusia untuk melakukan ibadah tafakur. Misalnya kita seringkali menemukan penggalan ayat yang berbunyi:

أَفَلاَ تَتَفَكَّرُونَ

Maka Apakah kamu tidak merenung? (Al An’am:50).

 

Juga dalam penggalan ayat yang berbunyi:

لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَُ

Supaya kamu berfikir (tafakkur). (Al-Baqarah: 219).

 

Dalam firmanNya juga kita bisa mengetahui, bahwa tafakur merupakan diantara ibadah yang melekat pada diri orang-orang yang cerdas di mata Allah SWT.

 

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ . الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (cerdas). (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (Ali Imran 190-191). Dalam ayat tadi Allah SWT. memaparkan bahwa senantiasa berzikir dan tafakkur  adalah sifat orang yang cerdas.

 

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah.

Ibadah tafakkur bertujuan agar keimanan kita meningkat. Agar mengingatkan kita kepada keagungan Allah SWT., untuk selanjutnya memberikan dorongan untuk berbuat kebaikan dan bahkan meningkatkannya. Ketika dalam kondisi lemah iman, ada baiknya untuk kita bertafakkur (merenung). Merenung tentang banyak hal yang bisa membuat kesadaran kita, keimanan kita dan semangat kita hadir kembali.

 

Banyak objek atau materi yang bisa direnungi. Namun secara umum pada kesempatan kali ini kita akan mengulas dua objek atau materi tafakkur. Pertama, tafakkur terhadap ayatullah almaqru’ah atau Al-Qur’an, dan kedua ayatullah almasyhudah atau alam yang biasa juga disebut dengan ayat kauniyah.

 

Pertama, tafakkur Al-Qur’an atau biasa juga disebut dengan tadabbur. Al-Qur’an menegur siapa yang tidak pernah melakukan tadabbur (merenungi) ayat-ayat Al-Qur’an.

 

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا

Maka Apakah mereka tidak mentadabburi (merenungi) Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (An-Nisa’: 82).

 

Allah SWT. juga berfirman:

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka Apakah mereka tidak mentadabburi (merenungi) Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (Muhammad: 4).

 

Tadabbur Al-Qur’an bisa mengkondisikan hati kita. Bisa membuat hati kembali menjadi khusyu’, menjadi tenang dan tentram. Allah SWT. berfirman:

 

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نزلَ مِنَ الْحَقِّ وَلا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الأمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Artinya: Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Alkitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (Al-Hadid: 16).

 

Maksud dari zikrullah pada ayat tadi seperti tertera dalam tafsir Al-Washiith karangan Syekh Sayyid Tantawi adalah, segala perkataan dan perbuatan yang bisa menimbulkan rasa takut (khauf) kepada Allah SWT. Ada juga yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dzikrullah adalah Al-Qur’an.

 

Tadabbur Al-Quran dengan izin Allah SWT. bisa menstabilkan hati. Hati yang guncang bisa menjadi tentram. Hati yang sedih bisa menjadi lapang. Simaklah doa Rasulullah Saw.:

أللهم اجعل القرآن العظيم ربيع قلبى وجلاء حزنى وذهاب همى وغمى

Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai bulan semi (penyejuk) hatiku, pelepas kesedihan dan kegundahanku.

 

Al-Qur’an punya pengaruh besar bagi jiwa kita, bila ditadabburi secara baik. Allah SWT. pernah menggambarkan pengaruh Al-Qur’an. Gunung sebagai simbol kekuatan dan kekokohan saja bisa tersungkur jika Al-Qur’an diturunkan kepadanya. FirmanNya berbunyi:

لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآَنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (Al-Hasyr: 21).

 

 

Khutbah Kedua

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah.

Objek tafakkur yang kedua adalah alam atau ayat kauniyah. Allah SWT. dalam Al-Qur’an seringkali mengangkat fenomena ayat kauniyah, untuk membantu dan mendorong manusia agar merenunginya, sehingga akan lahir rasa dan keyakinan tentang keagungan Allah SWT. dalam dirinya. Akan lahir perasaan takut kepadaNya. Akan lahir perasaan betapa lemahnya seorang manusia. Misalnya Allah SWT. berfirman:

 

وَفِي الأرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ. وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلا تُبْصِرُونَ

Artinya: Dan di muka bumi ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada diri kalian, apakah kalian tidak berfikir (merenungi). (Adz Dzariyat: 20-21).

 

 

Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah.

Sebagaimana Allah SWT. menegur siapa yang tidak merenungi (tadabbur) Al-Qur’an, Ia juga menegur siapa yang tidak pernah berupaya untuk merenungi kekuasaanNya di alam semesta. FirmanNya berbunyi:

وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ

Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya. (Yusuf: 105).

 

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah.

Demikian, semoga Allah SWT. menjadikan kita orang-orang yang senantiasa mengingatNya. MengingatNya dengan perantara ibadah tafakkur, baik tafakkur (tadabbur) Al-Qur’an dan tafakkur alam. Semoga dengan ibadah tafakkur, Allah SWT. senantiasa menghidupkan hati dan jiwa kita.

 

 Ahmad Yani



share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Khutbah Jum'at - Al-Quds dan Intifadhah Palestina
15-12-2017 Khutbah

AL-QUDS DAN INTIFADHAH PALESTINA   Oleh: Muhammad Syarief, Lc. dan ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Tentang Membaca dan Penciptaan Kita
02-06-2017 Khutbah

Khutbah Jum'at - Tentang Membaca dan Penciptaan Kita Oleh Inayatullah H ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Empat Amalan di Bulan Ramadhan
26-05-2017 Khutbah

EMPAT AMALAN DI BULAN RAMADHAN  Oleh Inayatullah Hasyim   اَ ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Ramadhan Sebagai Pengingat Perjalanan Usia
18-05-2017 Khutbah

RAMADHAN SEBAGAI PENGINGAT PERJALANAN USIA Oleh Inayatullah Hasyim   ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Meresapi Makna Pembelaan Islam Terhadap Al Quran
03-11-2016 Khutbah

Seri Khutbah Jum’at Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Wilayah DIY Edisi ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Memilih Pemimpin Muslim
27-10-2016 Khutbah

Seri Khutbah Jum’at Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Wilayah DIY Edisi ...

Baca Selengkapnya