Sekjen PP IKADI: 5 Hikmah Dari Gerhana

Dibuat Tanggal 01-02-2018

Ringkasan Khutbah Sholat Gerhana Bulan, KH. Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, MA di Masjid Darul Hikmah / YAPIDH Bekasi, Rabu, 31 Januari 2018.
 
Setelah mengimami Shalat Gerhana Bulan, di hadapan hampir seribu orang jama'ah yang memenuhi Masjid Darul Hikmah / YAPIDH Jatiasih Kota Bekasi, hingga meluber ke luar halaman masjid, K.H. Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, MA, yang juga Sekretaris Jenderal (Sekjen) IKADI, menyampaikan khutbah dengan tema, "5 Hikmah dari Gerhana". Yaitu:
 
1. Tanda Kekuasaan Allah Ta'ala.
Firman Allah,
- ومن آياته الليل والنهار والشمس والقمر لا تسجدوا للشمس ولا للقمر واسجدوا لله الذي خلقهن إن كنتم إياه تعبدون (فصلت: 37)
- والشمس تجري لمستقر لها ذلك تقدير العزيز العليم (يس: 38)
- والقمر قدرناه منازل حتى عادك العرجون القديم (يس: 39)
2. Mengingatkan nikmat kedua makhluk agung Allah ini, bulan dan matahari bagi kehidupan
Allah SWT berfirman,
وسخر لكم الشمس والقمر دائبين وسخر لكم الليل والنهار
"Dan Dia telah menundukkan pula bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar, dan Dia telah menundukkan pula bagi kalian malam dan siang" (QS. Ibrahim: 33)
Ketika terjadi gerhana bukan karena kematian seseorang dll.
3. Takhwiif dari Allah. 
Yakni Allah ingin agar hambaNya semakin takut dengan peristiwa gerhana ini. Mungkin sebagian orang bertanya, mengapa harus takut? Sekarang kan sudah maju teknologi, sehingga mudah untuk mendeteksi.. Ini adalah penyebab biasa.. Tapi, ada sebab syar'i yang tidak diketahui kecuali dengan wahyu. Maka, di dalam hadits disebutkan,
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِمَا عِبَادَهُ وَإِنَّهُمَا لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ مِنْ النَّاسِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَصَلُّوا وَادْعُوا اللَّهَ حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ
 
Dari Abu Mas’ud al-Anshary ra, beliau berkata: Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan dari tanda-tanda kekuasaan Allah, yang dengan keduanya Allah hendak menjadikan hamba-hamba-Nya berperasaan takut. Keduanya (matahari dan bulan) tidak mengalami gerhana dengan sebab matinya seseorang manusia dan tidak pula karena hidupnya seorang manusia. Sekiranya kamu melihat salah satu dari dua gerhana tersebut, maka shalatlah dan berdoalah sampai selesai" (HR Muslim).
Mungkin ada yang bertanya, apa bentuk Takhwif nya? 
Pertama: Karena Allah mengingatkan dengan gerhana ini, tentang hari Kiamat.
Allah SWT berfirman,
إذا الشمس كورت
"Apabila matahari digulung (sehingga sinarnya menjadi lenyap)".
Juga firmanNya,
وخسف القمر  وجمع الشمس والقمر
"Dan apabila bulan telah hilang cahayanya (sehingga menjadi gelap dan hilang sinarnya)" (QS Al Qiyamah: 8).
Gerhana adalah  صورة مصغرة, gambaran/miniatur tentang Kiamat yg dahsyat
Kedua: Bukan tidak mungkin, bersamaan terjadinya gerhana ini, ada azab atau bencana alam yg menimpa manusia di sebagian tempat. Karena itulah kita harus takut, sebagaimana Nabi SAW ketika keluar masjid dalam keadaan فازعا, takut.
Masalahnya, sekarang sebagian orang menjadikan peristiwa langka, gerhana ini sebagai تسلية, hiburan, bukan تخويف, menghadirkan rasa takut kepada Allah. Sebagian saudaranya sibuk dengan shalat di masjid, sebagian lagi asyik dan sibuk dg memotret dan mengabadikan fenomena alam langka ini di tempat-tempat khusus, dll. Maka, bagus kalau diubah jadwal kegiatan kita, aktifitas-aktifitas dunia kita dalam menyambut peristiwa ini. Misalnya, kita tunda waktu olah raga kita, kompetisinya, berdagangnya dll.
Karena, peristiwa ini berkaitan dengan akhirat. Berkaitan dengan bekal untuk akhirat. Sementara kegiatan-kegiatan tadi, urusan dunia. Padahal,
والآخرة خير وأبقى 
"Kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal" (QS Al A'la: 17).
Akhirat itu tempat meraih upah dan pahala. Maka, manusia harus siap mengorbankan waktu sesaat dengan menghidupkan sunnah (shalat gerhana misalnya) untuk kebahagiaan abadi di akhirat nanti.
4. Meluruskan persepsi yang salah dan mengokohkan iman. Dahulu, Rasulullah SAW sangat berduka dg wafatnya anak beliau, Ibrahim. Sebelumnya anak beliau, Qasim juga wafat.Tiba-tiba bersamaan itu, terjadi gerhana Matahari, cuaca di siang hari itu menjadi mendung. Sebagian masyarakat mengganggap fenomena alam itu karena wafatnya Ibrahim. Lalu Nabi SAW meluruskan anggapan dan persepsi yang salah dengan sabdanya seperti tertera dalam hadits di atas.
5. Kesempatan untuk memperbanyak amal shalih.
Lalu amalan-amalan apa yang sangat dianjurkan dilakukan di saat terjadi gerhana? Berdasarkan hadits-hadits Nabi SAW, bisa disimpulkan, setidaknya ada 6 amalan:
(1) Shalat
Hal ini berdasarkan banyak hadits, di antaranya hadits Nabi SAW,
 " إن الشمس والقمر لا ينكسفان لموت أحد، فإذا رأيتموهما، فصلوا حتى يكشف ما بكم "
"Sesungguhnya matahari dan bulan, tidak terjadi gerhana keduanya disebabkan kematian seseorang. Untuk itu, pabila kalian melihat keduanya (terjadi gerhana), maka shalatlah dan berdo'alah hingga terbuka (terang) atau selesai" (HR Bukhari).
(2) Bertakbir
Di antara tuntunan Nabi SAW ketika terjadi gerhana matahari atau bulan adalah memperbanyak takbir, berdasarkan hadits,
فإذا رأيتم ذلك، فادعوا الله، وكبروا، وتصدقوا وصلوا
"Lalu apabila kalian melihat (gerhana) itu, maka berdo'alah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahlah dan shalatlah" (HR Bukhari, no. 1044, dan Muslim, no. 901).
(3) Bersedekah
 Sebagaimana hadits tadi, "bersedekahlah!"
(4) Berdo'a
Fenomena alam yang langka ini ternyata kesempatan emas untuk banyak meminta dan berdo'a kepada Allah. Bukankah setiap kita mempunyai banyak keinginan, obsesi dan cita-cita. Peristiwa gerhana adalah  momentum مستجاب الدعوة,  terlabulnya do'a, maka Nabi SAW perintahkan kita untuk memanfaatkannya dengan baik, seperti dalam hadits di atas,
..فادعوا الله
"..maka berdo'alah kepada Allah"
(5) Istighfar dan dzikir
Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW,
فإذا رأيتم شيئا من ذلك فافزعوا إلى ذكر ه ودعائه واستغفاره
"Lalu, apabila kalian melihat sesuatu dari peristiwa (gerhana) itu, maka bersegeralah untuk  mengingatNya (berdzikir),  berdo'a kepadaNya dan beristighfar (memohon ampun) kepadaNya" (HR Bukhari, no. 1059, dan Muslim, no. 912).
Imam Ibnu Hajar mengomentari hadits ini dengan mengatakan, "Di dalam hadits ini, terdapat anjuran untuk beristighfar ketika terjadi gerhana, karena istighfar itu dapat menolak bala', bencana" ( Fathul Bari , II/695).
(6) Meminta perlindungan kepada Allah dari azab kubur.
Hal ini sebagaimana diceritakan oleh 'Aisyah RA, bahwa ketika terjadi gerhana matahari, Nabi SAW melaksanakan shalat yang panjang dengan para sahabat .. dan setelah selesai, beliau memberi taujih (khutbah),
ثم أمرهم أن يتعوذوا من عذاب القبر
Kemudian beliau memerintahkan jama'ah untuk meminta perlindungan (kepada Allah) dari siksa kubur (HR Bukhari, no. 1050, dan Muslim, no. 903)
 

 

 

share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
PP IKADI Peduli: Hadirkan Senyum Untuk Duka Sulteng
16-10-2018 Liputan

Senin 15/10 PP IKADI menyerahkan bantuan untuk korban bencana di Sulawesi Tengah. Bantu ...

Baca Selengkapnya

Penandatanganan MOU Kerjasama I-Mart - Transmart
08-10-2018 Liputan

Sukabumi - (16/9) Bertempat di halaman I-Mart Kabupaten Sukabumi telah dilakukan pena ...

Baca Selengkapnya

PP IKADI Salurkan Bantuan Untuk Korban Gempa Lombok
05-10-2018 Liputan

PP IKADI menyalurkan bantuan untuk korban gempa di Lombok. Selain bantuan berupa pangan ...

Baca Selengkapnya

PW IKADI Papua Barat Berbagi Bingkisan Sambut Idul Fitri
12-07-2018 Liputan

Ramadhan adalah salah satu nikmat Allah Ta’ala yang patut disyukuri. Bulan yan ...

Baca Selengkapnya

Galeri Foto: Opening I-Mart IKADI Kab. Sukabumi Menyongsong Kebangkitan Ekonomi Umat
09-06-2018 Liputan

Sabtu (9/6) bertepatan dengan 22 Ramadhan 1439 H telah dilakukan Opening I-Mart IKAD ...

Baca Selengkapnya

PP IKADI Gelar Buka Puasa Bersama dengan Masyarakat Sekitar
26-05-2018 Liputan

Sabtu (26/5) PP IKADI menggelar acara buka puasa bersama dengan masyarakat di Wisma ...

Baca Selengkapnya