Rohingya dan Dunia yang Terluka

Dibuat Tanggal 05-09-2017

Rohingya dan Dunia yang Terluka
Oleh Samson Rahman

Pembantaian muslim Rohingya yang super sadis oleh para biksu Budha radikal telah menjadikan darah tumpah di panggung sejarah dunia. Sebuah orkestra ladang pembantaian yang paling mengerikan,  memilukan dan sekaligus paling menjijikkan.
Tumpahnya darah manusia tanpa dosa tanpa welas dan dengan kebengisan yang di luar nalar manusia normal menandai bahwa dunia sedang terluka parah. Anak anak manusia tak berdaya yang ditembakin dengan biadab dan kejam menggambarkan dengan sangat jelas bahwa ada sebuah titik di muka bumi ini yang kehilangan nurani. Kehilangan sisi terang kemanusiaannya.
Manusia yang diperlakukan bagai binatang buruan oleh sosok manusia yang menganggap dirinya pembawa obor damai adalah tragedi yang menyesakkan jantung kemanusiaan kita semua. Mengggeramkan dan tentu saja menjadikan darah peduli dan empati kita terbakar. Empati kita terasa berkobar. Simpati kita bagai terpanggang.
Dunia yang terluka di sebuah zaman yang serba cepat. Saat suara lantang tentang HAM dikumandangkan muslim Rohingya terasa dibiarkan dengan terang benderang. Ucapan "menyayangkan" pada level negara adalah ucapan banci yang tak bertaji, ucapan mengutuk yang hanya sebatas kata tak lebih dari basa basi belaka.
Dunia terluka dengan sengaja. Operatornya adalah biksu biksu sadis dan bengis berjubah dan para pengendalinya, tentu saja bukan mereka. Darah kemanusiaan yang mengalir dari kaum muslimin yang tak mendapat pembelaan maksimal adalah pertanda bahwa kaum muslimin berada pada titik paling nadir dalam hal positioning mereka. Sangat terasa bahwa kita kaum muslimin lemah secara politis dan finansial serta solidaritas.
Darah anak anak Rohingnya adalah luka kemanusiaan dan luka sejarah yang akan terus menganga.  Luka sejarah yang sangat dalam. Yang akan dikenang oleh manusia manusia bernurani sebagai sebuah kejahatan kemanusiaan paling brutal. Luka kulit anak anak Rohingnya bukan luka biasa. Tapi dia adalah sayatan sadis pada peradaban. Pencincangan pada nilai luhur manusia yang menghargai sesama.
Lalu  atas nama apakah mereka membantai anak anak tanpa dosa dan gadis gadis tanpa cela itu?
Apakah atas nama agama? Tak ada agama manapun yang menyilahkan pengikutnya melakukan genosida dimana darah tumpah ruah dan nyawa hilang percuma.
Atas nama bangsa beradab? Tentu tidak juga karena apa yang mereka lakukan adalah pantulan nyata sebuah kebiadaban brutal yang dikelola secara sadar. Dalam skala raksasa. Massif dan sistemis. Mesin kejahatan kemanusiaan mereka melindas tiang tiang kemanusiaan yang selama ini dibangun dengan susah payah dan tanpa lelah oleh leluhur mereka.
Atas nama apa?
Setan !!!

share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Pentingnya Dai
08-03-2018 Opini

Pada 2 Maret 2018 lalu saya menghadiri acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Ikatan ...

Baca Selengkapnya

Rohingya Darahmu Menggugat
03-09-2017 Opini

ROHINGYA DARAHMU MENGGUGAT Oleh Samson Rahman Kau bagai seekor domba ...

Baca Selengkapnya

Niat dan Hukum
31-01-2017 Opini

NIAT DAN HUKUM By: Khairan Arif   1. Ahok menyatakan kepada Al-Jazi ...

Baca Selengkapnya

Mushola Stasiun Manggarai, Apa Yang Bisa Kita Lakukan?
02-10-2014 Opini

  Kurangnya fasilitas mushola di tempat-tempat umum ternyata masih saj ...

Baca Selengkapnya

Download Khutbah Ied
27-08-2011 Artikel

Khutbah Iedul Fithri 1432H Syarat Kebangkitan Bangsa Menurut al-Qur'an  - Muham ...

Baca Selengkapnya

Dilema Kasir Minimarket, Dimana Peran Kita?
04-01-2011 Opini

Sesungguhnya pelarangan/keharaman minuman keras sudah jelas bagi orang-orang beraga ...

Baca Selengkapnya