Khutbah Idul Adha - Pesan Haji dan Kurban

Dibuat Tanggal 04-11-2011

Jamaah Shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah. Puji dan syukur kita panjatkan kehadiran Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan begitu banyak kepada kita yang tak mungkin kita menghitungnya. Karenanya dalam konteks nikmat, Allah SWT hanya menyuruh kita mensyukurinya bukan menghitungnya. Kehadiran kita pagi hari ini melaksanakan Shalat Idul Adha dan mendengar khutbahnya bertepatan dengan kehadiran sekitar 4 juta jamaah haji dari seluruh dunia yang sedang menyelesaikan pelaksanaan manasik haji di tanah suci, merupakan salah satu tanda syukur kita kepada Allah SWT.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada insan terbaik sepanjang sejarah kehidupan manusia, Nabi Muhammad Saw, beserta keluarga, sahabat dan para pengikut setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti.

الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

Judul khutbah Idul Adha kita pada hari ini adalah, “PESAN HAJI DAN KURBAN”

Dalam suasana ‘Idul Adha seperti sekarang ini, perhatian kita minimal tertuju kepada dua hal, yaitu ibadah haji dengan serangkaian kegiatan ritualnya, sejak niat, memakai pakaian ihram sampai kepada tahallul, memotong rambut atau mencukurnya dan pelaksanaan ibadah qurban berupa penyembelihan hewan ternak sebagai tanda semakin semaraknya syiar Islam, yang dilaksanakan sejak pelaksanaan shalat ‘Idul Adha sampai tiga hari berikutnya.

Sejak awal rangkaian ibadah haji dimulai sampai hari ini, seluruh jama’ah haji tenggelam dalam suasana persaudaraan dan persamaan, tanpa ada perasaan perbedaan. Perbedaan warna kulit lenyap tertutup oleh pakaian ihram putih bersih; perbedaan bahasa sirna oleh gemuruh zikir dan takbir serta suara do’a yang menggunakan satu bahasa.  Suasana yang demikian merupakan visualisasi dari dasar “persamaan” yang menjadi salah satu dasar Islam dalam membangun dan membina masyarakatnya.  Menurut syari’at Islam, semua manusia adalah sama derajatnya dihadapan Allah. Oleh karena itu, dalam Islam tidak dikenal adanya stratifikasi sosial; tidak ada istilah manusia elit dan kawula alit. Penilaian Allah terhadap manusia bukan atas status sosial atau jenis kelaminnya, melainkan semata-mata berdasar iman, takwa, dan amal shalehnya.  Firman Allah SWT:

“Hai manusia sesungguhnya Kami ciptakan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kalian bersuku-bangsa agar saling berkenalan. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat/49: 13)

Firman Allah SWT:

 “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”  (An-Nahl/16: 97)

          Firman Allah ini ditegaskan kembali oleh Rasulullah saw, ketika beliau melaksanakan ibadah haji wada’, sebagai amanat terakhir beliau yang langsung disampaikan kepada kaum muslimin, sebagai berikut:

يا ايهاالناس كلكم بنى آدم وآدم من تراب لا فضل لعربى على عجمي الا بالتقوى

 

“Hai manusia, kalian semua adalah anak cucu Adam, sementara Adam itu diciptakan dari tanah, maka tidak ada keistimewaan bagi suku bangsa Arab atas suku bangsa lainnya kecuali karena takwa.”

          Prinsip persamaan yang diajarkan oleh Islam ini merupakan sendi utama untuk mewujudkan masyarakat yang adil, damai dan harmonis. Islam, sekali lagi, tidak mengenal adanya perbedaan antar umat manusia menjadi berbagai kelas dan tingkatan. Adapun kenyataan umat manusia itu ada yang konglemerat, ada yang melarat, ada yang kaya dan ada yang miskin, tidak berarti manusia itu berbeda derajatnya satu sama lain.  Perbedaan status sosial ekonomi tersebut semata-mata sebagai isyarat bahwa manusia di dalam kehidupan ini harus bekerjasama dan saling tolong-menolong. Oleh karena itu, status sosial ekonomi yang disandang di dunia ini seyogyanya dimanfaatkan demi mencapai derajat takwa, optimalisasi apa yang disenangi Allah dan mungkin dari apa yang dibenci-Nya, karena takwa adalah satu-satunya bekal kita untuk menghadap Allah SWT di akhirat kelak, dan dapat menikmati kehidupan surgawi yang tiada tara.

         

الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Sejak memakai ihram di miqat kemudian tawaf qudum mengelilingi Baitullah, berdo’a di Multazam, shalat sunnah di Maqam Ibrahim, dan Hijir Ima’il kemudian sa’i antara Sofa dan Marwah mengikuti jejak Siti Hajar yang berusaha mencari air demi puteranya Ismail menaiki bukit Sofa untuk melihat siapa tahu ada orang, kafilah atau burung yang dapat menunjukkan ada sumber air, dengan lari-lari kecil menuju ke bukit Marwah demikian bolak-balik sampai tujuh kali. Oleh karena itu marilah kita hayati betapa berat cobaan Siti Hajar untuk mendapat setetes air demi kelangsungan hidup puteranya Ismail. Hal ini mengisyaratkan bahwa keberhasilan suatu cita-cita harus diikuti kerja keras tanpa menyerah diiringi sikap optimistis bahwa Allah SWT pasti akan mengabulkannya.

            Pada tanggal 9 Zulhijjah seluruh jama’ah haji baik yang sehat maupun yang sakit betapa pun parahnya semuanya berkumpul dan melaksanakan rukun haji wuquf di Arafah, mereka berkumpul di padang pasir nan luas dan terbuka. Suasana wuquf di padang Arafah ini sungguh merupakan miniatur dan peringatan akan adanya hari berkumpul di padang Mahsyar nanti yang sangat luar biasa, tidak dapat dilukiskan dengan seribu bahasa. Sebagian ulama, dengan keterbatasan bahasanya, mencoba menggambarkan bahwa orang-orang yang tidak beriman dan berlumur dosa akan merasakan panasnya padang Mahsyar yang tiada terhingga, laksana matahari berada sejengkal di atas kepala; keringnya tenggorokan karena haus dan dahaga tidak dapat dibasahi walau dengan setetes air sekalipun. Sebaliknya, orang-orang beriman dan bertakwa akan merasakan sejuk dan nikmatnya suasana padang mahsyar yang tidak dapat ditandingi oleh kesejukan dan kenyamanan alam mana pun di dunia ini, walau telah dilengkapi dengan AC secanggih apapun.

          Pakaian ihram yang serba putih dikenakan oleh jama’ah haji, lebih-lebih dalam suasana wuquf di padang Arafah, mengandung peringatan bahwa bila saatnya telah tiba kita semua akan mengenakan pakaian serupa yang diberi nama pakaian kafan. Siap atau tidak, berani atau merasa ngeri, bertakwa atau durhaka, kematian pasti menjemput kita. Tidak ada jalan untuk lari dan tidak ada tempat untuk bersembunyi dari kematian sebagaimana firman Allah : 
“Di mana pun kamu berada kematian senantiasa mengintai dirimu, walau pun kamu bersembunyi di dalam benteng yang kokoh kuat.” ( Al-Nisa/4 : 78 )

 

          Pakaian ihram ini juga mengingatkan kita semua, bahwa ketika kematian tiba, tidak ada harta yang dibawa kecuali kain putih sekitar enam meter saja. Mobil mewah yang dimiliki di dunia paling jauh hanya mengantar sampai kompleks pemakaman; anak dan isteri tercinta hanya setia mengikuti sampai ke tepi liang lahat; rumah gedung nan lapang dan luas, yang terang benderang dengan gemerlap lampu hias segera ditinggalkan. Kini pindah sendirian menghuni tempat sempit, gelap dan sepi di dalam perut bumi. Oleh sebab itu, celakalah orang-orang yang hanya hidup mengejar dan menumpuk kekayaan materi tetapi lalai mengabdi kepada Allah Rabbul ‘Izzati.

          Islam tidak melarang bahkan menganjurkan agar umat-Nya hidup kaya raya, tetapi kekayaan itu harus dimanfaatkan untuk menuju jalan Allah Yang Maha Rahman, karena kekayaan yang dimiliki di dunia pada hakekatnya bukan milik kita, melainkan milik dan titipan Allah yang setiap saat dapat diambil kembali. Milik kita yang hakiki bukan harta yang menumpuk di gudang dan bukan pula jumlah angka yang tercatat di dalam nomor rekening bank. Milik kita adalah apa yang sudah diinfak-sedekahkan di jalan kebajikan. Karena pahala infak-sedekah itu yang bakal kita nikmati di akhirat. Karena itu kejarlah kekayaan dunia dalam rangka untuk meningkatkan takwa dan pengabdian kepada Allah, bukan untuk memenuhi nafsu serakah.

Firman Allah SWT:
“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (Al-Jaatsiyah/45: 13)

 

Firman Allah SWT

“Adapun orang yang memberikan hartanya di Jalan Allah dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, surga, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar” (Al-Lail/92: 5-10)

 

Firman Allah SWT

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (Al-Baqarah/2: 195)

Firman Allah SWT:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan  tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipat gandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui (Al-Baqarah/2: 261)

الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Di samping itu, marilah kita perhatikan pula kegiatan ibadah “qurban” yang menandai semaraknya Hari Idul Adha ini. Istilah Qurban berarti “pancaran darah” yang menunjuk kepada terpancarnya darah hewan ternak di saat disembelih. Sedangkan istilah qurbanberarti “mendekatkan diri kepada Allah”. Secara khusus adha atau qurban adalah salah satu ibadah yang berupa penyembelihan hewan ternak pada Hari Raya Idul Adha dan tiga hari berikutnya, yang dagingnya disedekahkan kepada fakir miskin, sebagai ibadah yang dilaksanakan berdasarkan niat ikhlas dan semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah untuk mencapai derajat takwa.

Perintah melaksanakan ibadah qurban pertama kali disampaikan Allah kepada nabi Ibrahim as. Perintah yang sangat berat, karena Nabiullah Ibrahim harus ber-qurban dengan menyembelih putra satu-satunya yang sangat didambakan sekian tahun dan sangat ia sayangi. Setelah bertahun-tahun lamanya, kerinduan mendalam akhirnya membimbing langkah Nabiullah Ibrahim menuju tempat di mana ia dulu meninggalkan isteri dan anak tercinta. Betapa kagetnya Nabiullah Ibrahim ketika tiba di tempat yang dahulunya gersang kering kerontang, kini sejuk dan nyaman. Anak yang ditinggalkan ketika masih memerah, telah menjadi pemuda yang tampan dan gagah. Pertemuan antara ayah, isteri, dan anak ditandai oleh luapan kegembiraan tiada terlukiskan.

Namun waktu melepas rindu dan masa menikmati kemesraan terasa belum lama berlalu, tiba-tiba pada suatu malam, melalui mimpi, Allah memerintahkan kepada Nabiullah Ibrahim agar melaksanakan qurban dengan menyembelih putra tercinta yang tengah beranjak remaja. Perintah yang sangat berat dan pelaksanaan ibadah qurban yang mendebarkan jantung ini diabadikan dalam Alqur’an sebagai berikut :

 “Maka tatkala anak itu sampai pada usia sanggup berusaha atau menginjak remaja, Ibrahim berkata: Hai anakku, sesungguhnya aku bermimpi agar menyem-belihmu. Bagaimanakah pendapatmu? Ismail menja-wab: Wahai ayahanda, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau mendapatiku termasuk orang yang sabar. Ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan putranya di atas pelipisnsya, lalu Kami panggil dia: Hai Ibrahim sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami ganti anak itu dengan seekor ternak sembelihan yang besar.” ( Al-Shaffat/37 : 102-107 )

الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah           

Betapa berat ujian Allah yang diberikan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, namun karena taat dan cintanya kepada Allah melebihi segala-galanya, Nabi Ibrahim tidak ragu-ragu melaksanakan perintah Allah yang sangat berat ini. Kecintaannya kepada Allah dan kepatuhannya terhadap orang tua, Ismail calon nabi rela menjulurkan lehernya untuk disembelih. Dengan ketakwaannya terhadap Allah dan kesetiaannya kepada suami, Siti Hajar memasrahkan putra satu-satunya untuk disembelih, walaupun diiringi isak tangis dan derai air mata sang ibu membasahi pipi.

          Demikianlah, keimanan dan ketakwaan keluarga Nabiullah Ibrahim lulus dalam ujian yang sangat mendebarkan. Oleh karena itu, Allah Yang Maha Rahman dan Rahim tidak membiarkan ujian tersebut diakhiri dengan sifat yang tidak manusiawi yaitu menyembelih putra kandungnya sendiri maka digantikannya dengan menyembelih seekor kibasy atau kambing yang sangat gemuk, selanjutnya pelestarian ibadah qurban disyari’atkan kepada umat Nabi Muhammad saw. Dan Nabi saw sendiri pada Haji Wada’ telah berkurban 100 ekor Onta, 63 ekor langsung beliau saw sembelih sendiri (sebagai isyarat bahwa usianya 63 tahun), sedangkan 37 ekor lainnya disembelih oleh Ali k.r.

 

الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

          Seperti ibadah lainnya, ibadah qurban ini disyari’atkan oleh Allah adalah untuk menguji keimanan dan ketakwaan hamba-Nya. Apa pun jenis hewan ternak dan berapa pun jumlahnya yang disembelih hari ini, yang sampai dan diterima oleh Allah adalah ketakwaan seseorang, bukan daging atau darah hewan qurban tersebut. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya :
“Bukanlah daging dan darah hewan qurban itu yang sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan kalian yang mencapai ridha-Nya.” ( Al-Hajj/22 : 37 )

Kaum Muslimin Jama’ah Idul Adha yang berbahagia

Hari ini dan tiga hari berikutnya, banyak hewan ternak akan disembelih, namun banyak yang hanya menjadi korban penyembelihan, bukan menjadi ibadah qurban, kalau niatnya bukan karena Allah. Seseorang yang mati di medan juang mungkin hanya menjadi korban, kalau niat perjuangannya hanya untuk mendapatkan bintang jasa atau gelar pahlawan. Banyak orang telah menyumbangkan hartanya, namun harta itu pun hanya menjadi korban kalau niatnya hanya sekedar untuk mencari popularitas dan julukan dermawan. Oleh sebab itu, hiduplah selalu ber-qurban jangan mau menjadi korban. Berjuang dan berkorbanlah secara ikhlas karena Allah niscaya semuanya akan bernilai qurban.

Setelah pelaksanaan shalat sunat ‘Idul Adha ini kita menyaksikan penyembelihan hewan qurban. Sementara terdengar raungan dan terlihat semburan darah hewan qurban tersebut, mari kita merenung dan menyadari bahwa masih ada “sesuatu” yang harus disembelih setiap saat, yaitu nafsu binatang yang selalu bercokol dan berkuasa di dalam diri kita ini. Nafsu hayawaniah atau watak kebinatangan inilah sebenarnya yang sering mendorong manusia bersikap dan berbuat di luar batas kemanusiaannya, yang menyebabkan manusia itu jauh dari ketaatan dan ketakwaan. Di tengah-tengah mneyaksikan darah hewan qurban menyembur deras, kita semestinya berikrar  di dalam hati: “Ya Allah, hari ini hanya darah hewan qurban yang mengalir, tetapi bila suatu saat Engkau menghendaki, darah kami siap bercucuran demi mempertahankan keimanan dan ketakwaan kepada-Mu. Hari ini daging hewan qurban dibeset dan dicincang-cincang, maka kami tidak gentar di dalam perjuangan membela agama-Mu kendatipun daging kami terpotong-potong berserakan.

          Beruntunglah hamba-hamba Allah yang diberi kemurahan rezki dan ikhlas melaksanakan ibadah qurban pada Hari Raya Adha tahun ini. Semakin sering, apa lagi setiap tahun, seseorang hamba melaksanakan ibadah qurban, maka semakin teruji dan terbukti pulalah ketakwaannya.

          Dan harus diyakini, tidak seorangpun menjadi papa gara-gara berqurban, karena Allah SWT akan selalu membuka pintu rezki bagi setiap hamba-Nya yang melaksanakan qurban. Ada ancaman dari Rasulullah saw bahwa bagi yang mampu berqurban tetapi tidak mau melaksanakannya, maka yang bersangkutan janganlah mendekati Mushalla kami (keluar dari barisan/umat Rasulullah saw).

 

الله اكبر الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

          Ibadah qurban yang disyari’atkan pada Hari Raya Adha ini harus dijadikan sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk senantiasa ber-qurban dan berkorban di dalam meniti sisa kehidupan masa depan. Bentuk pengorbanan material yang berupa seekor atau beberapa hewan qurban pada Hari Raya Adha ini sangat kecil nilainya dibanding apa yang harus kita korbankan atau sumbangbaktikan untuk mengislamkan bumi dan penghuninya yang disebut manusia. Kalau hari ini umat Islam diminta merelakan hartanya seharga hewan qurban, maka jumlah harta yang harus kita relakan untuk membangun kehidupan umat ini jelas jauh lebih banyak lagi. Cita-cita membangun umat yang Islami tidak mungkin terwujud tanpa perjuangan; dan perjuangan mutlak memerlukan pengorbanan; sementara suatu pengorbanan baru bernilai qurban bila dilakukan berdasarkan iman dan ketakwaan.

          Memang untuk mencapai predikat dan derajat takwa yang sebenar-benarnya jelas menuntut perjuangan dan pengorbanan. Untuk memasuki pintu surga, kita semua harus berani berjuang, siap berkorban, dan tegar menghadapi segala tantangan. Allah tegaskan dalam firman-Nya :
“Apakah kalian mengira akan masuk surga begitu saja, padahal belum nyata siapa diantara kalian yang benar-benar telah berjuang, dan belum nyata siapa yang benar-benar sabar.” (Ali ‘Imran/3: 142 )

Begitu juga keberhasilan Visi (Tujuan) Pembangunan kota dumai sebagai negeri bertuah, yaitu Bersama mewujudkan kota jasa dan industri yang modern, sejahtera, agamis serta bernuansa budaya melayu sangat ditentukan oleh kesiapan berkorban dan bekerja keras dari semua elemen masyarakatnya sesuai dengan posisi, wewenang dan kapasitas masing-masing.

Mari kita semua bertekad untuk hidup senantiasa berjuang dan rela berkorban, baik moral mau pun material, untuk membangun hidup dan kehidupan umat, atas dasar niat ber-qurban, mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Rahman. Melalui pesan dan semangat ibadah haji dan qurban, kita wujudkan umat yang Islami, yang bersatu dan bertakwa, demi mencapai ridha Allah SWT. Termasuk juga upaya meringankan beban saudara-saudara kita yang mendapat musibah banjir dan pasca banjir, yang sangat memerlukan uluran tangan dari kita dan pihak-pihak lainnya berupa hewan qurban, makanan, tempat tinggal, obat-obatan, keperluan sekolah anak-anak mereka, dan lain sebagainya.

Akhirnya, marilah kita siapkan diri, keluarga dan masyarakat kita untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Ke arah itu, diperlukan pemimpin yang baik, pemimpin yang bukan sekedar berstatus sebagai muslim tapi memang dapat menunjukkan identitas keislaman, keberpihakkan pada nilai-nilai Islam dan mampu menunjukkan pelayanan kepada masyarakat. Momentum Idul Adha sekarang merupakan saat yang tepat untuk memacu diri kita untuk berusaha lebih keras dan sungguh-sungguh agar terwujud negeri yang baik dan memperoleh ridha Allah SWT. Untuk itu, marilah kita tutup khutbah Ied kita pada hari ini dengan sama-sama berdo’a.

اللهم انصرنا فانك خير الناصيرين وافتح لنا فانك خير الفاتحين واغفرلنا فإنك خير الغاففرين وارحمنا فإنك خير الراحمين وارزقنا فإنك خير الرازقين واهدنا و نجنا من القوم الظالمين والكافرين.

Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rezeki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.

اللهم اصلح لنا ديننا الذى هو عصمة أمرنا واصلح لنا دنيانا التى فيها معاشنا و اصلح لنا آخرتنا التى فيها معادنا واجعل الحيوة زيادة لنا فى كل خير واجعل الموت راحة لنا من كل شر.

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebajikan dan jadikanlah kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

اللهم اقسم لنا من خشيتك ما تحول بيننا وبين معصيتك ومن طاعتك ما تبلغنابه جنتك ومن اليقين ما تهون به علينا مصائب الدنيا. اللهم متعنا بأسماعنا وأبصارنا وقوتنا ما أحييتنا واجعله الوارث منا واجعل ثأرنا على من عادانا ولا تجعل مصيبتنا فى ديننا ولا تجعل الدنيا أكبر همنا ولا مبلغ علمنا ولا تسلط علينا من لا يرحمنا

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami. Dan jadikanlah pembalasan kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami.

اللهما اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات

Ya Allah, ampunilah dosa kaum Muslimin dan Muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a

 

Ya Allah Dzat Pengabul do’a mudahkan saudara-saudara kami yang sedang menunaikan ibadah haji saat ini memperoleh haji yang mabrur. Teguhkan hati dan semangat mereka sepulangnya nanti agar menjadi pelopor kebaikan sehingga nuansa kebersamaan, kerja keras, saling mendo’akan, saling membantu satu sama lain, senang berkurban, senang berjamaah, saling berkompetisi dalam kebaikan semakin meningkat.

 

ربنا آتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka

 

والحمد لله رب العالمين

 

 

share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Meneladani Keluarga Ibrahim As. Melalui Syi'ar Ibadah Haji Dan Ibadah Qurban (Khutbah Idul Adha 1440 H)
09-08-2019 Khutbah

TEKS KHUTBAH IDUL ADHA 1440 H OLEH: DR. H. ATABIK LUTHFI, LC, MA     MENE ...

Baca Selengkapnya

Belajar Cinta dari Nabi Ibrahim as. (Khutbah Idul Adha 1440 H)
09-08-2019 Khutbah

Belajar Cinta dari Nabi Ibrahim as.  (Khutbah Idul Adha 1440 H) Oleh: DR. H. Ahm ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Al-Quds dan Intifadhah Palestina
15-12-2017 Khutbah

AL-QUDS DAN INTIFADHAH PALESTINA   Oleh: Muhammad Syarief, Lc. dan ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Tentang Membaca dan Penciptaan Kita
02-06-2017 Khutbah

Khutbah Jum'at - Tentang Membaca dan Penciptaan Kita Oleh Inayatullah H ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Empat Amalan di Bulan Ramadhan
26-05-2017 Khutbah

EMPAT AMALAN DI BULAN RAMADHAN  Oleh Inayatullah Hasyim   اَ ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Ramadhan Sebagai Pengingat Perjalanan Usia
18-05-2017 Khutbah

RAMADHAN SEBAGAI PENGINGAT PERJALANAN USIA Oleh Inayatullah Hasyim   ...

Baca Selengkapnya