Pandangan Islam Terhadap Vaksinasi Covid-19

Dibuat Tanggal 08-01-2021

PANDANGAN ISLAM TERHADAP VAKSINASI COVID-19

Oleh: Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, MA

Sekjen Ikatan Dai Indonesia (IKADI) dan Dosen S1 dan Pasca FDI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

 

Islam adalah agama yang sempurna yang memiliki dimensi duniawi dan ukhrawi. Memperhatikan sisi ruhani dan jasmani. Karenanya, seorang muslim harus memahami pentingnya kesehatan ruhani dan jasmani. Integralitas dan universalitas Islam telah ditegaskan Al Qur’an dalam banyak ayat, di antaranya,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3].

Juga firman-Nya, “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (QS An Nahl [16]: 89).

Perhatian Al Qur’an terhadap pengobatan dan kesehatan terlihat misalnya, lafazh Syifa’, yang artinya obat dan sehat, dan derivasinya dalam Al Qur’an disebut sebanyak  8 kali, yaitu dalam QS At Taubah (9): 14, Asy Syu’ara’ (26): 80, Yunus (10): 57, Fushshilat (41): 44, An Nahl (16): 69, Al Isra’ (17): 82, Ali Imran (3): 103 dan At Taubah (109).

Berdasarkan ayat-ayat di atas dan yang lainnya, Taujihat Qur’aniyah (arahan Al Qur’an) tentang pengobatan dan kesehatan dapat disimpulkan:

1- Bahwa yang menyembuhkan orang sakit adalah Allah SWT.

2- Bahwa kebijakan kesehatan adalah tindakan pencegahan (preventif) harus diprioritaskan dan didahulukan daripada tindakan kuratif (pengobatan dan penyembuhan).

3- Bahwa penyakit itu ada dua; penyakit hati dan penyakit jasmani. Maka, definisi sehat mencakup dua hal ini.

4- Bahwa obat pun terbagi menjadi dua; obat penyakit hati dan obat penyakit jasmani. Dan Al Qur’an dapat berfungsi sebagai syifa’ (obat dan penyehat) bagi penyakit ruhani dan jasmani sebagaiamana firman Allah SWT,  “Dan kami turunkan Alquran sebagai syifa’ (penawar dan penyembuh) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS al-Isra [17]: 82).

            Rasulullah SAW menegaskan, bahwa berikhtiar untuk menjadi manusia sehat, termasuk dengan mengikuti vaksinasi Covid-19 karena pandemi virus corona seperti sekarang ini, dan berobat ketika sakit adalah merupakan ibadah dan kewajiban dalam agama, sebagaimana sabdanya,  

تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ

“Berobatlah, sebab sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak meletakkan penyakit kecuali meletakkan baginya obat. Kecuali satu penyakit (yang tidak ada obatnya) yaitu usia tua” (HR Abu Dawud, no. 3857, dishahihkan oleh Al Albani).

Dan setiap penyakit pasti ada obatnya, Nabi SAW bersabda,

مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan obat/penawarnya” (HR Bukhari, no. 5678).

Nabi SAW juga bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat itu tepat untuk suatu penyakit, penyakit itu akan sembuh dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla” (HR Muslim, no. 5871).

Dalam berusaha menjadi sehat dan berobat ketika sakit, Islam memerintahkan kita untuk memperhatikan dan memaksimalkan pemanfaatan yang halal. Sebab, yang halal itu banyak beragam, sementara yang haram itu terbatas dan sedikit.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang” (QS. Al-Baqarah [2]: 172-173).

            Di dalam ayat ini, Allah SWT menegaskan, bahwa mengonsumsi yang halal dan thayyib, baik (higiens), termasuk di dalamnya berobat ketika sakit atau vaksinasi Covid-19 adalah karakter seorang mukmin. Jadi, hal ini termasuk Qadhaya Imaniyah, diskursus keimanan. Dan yang haram pun disebut sangat terbatas dan sedikit sekali, berarti seorang mukmin boleh memakan apa saja, berobat apa saja dan vaksinasi apa saja sepanjang halal dan thayyib.

            Allah SWT memberi petunjuk yang sama dalam firman-Nya,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖ  وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu..” (QS.Al-Baqarah [2]: 168).

Juga firman-Nya yang lain,

وَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖ  وَّاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اَنْتُمْ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya” (QS Al Maaidah [3]: 168).

Namun, pada saat yang sama, meskipun sehat itu penting dan perintah agama, di dalam berobat dan menjadi sehat, Islam memberikan panduan dan pedoman, yaitu tidak boleh menghalalkan segala cara dan berobat dengan hal yang haram. Hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dengan sabdanya,

إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya, dan menjadikan setiap penyakit selalu ada obatnya, maka berobatlah, tapi jangan berobat dengan yang haram” (HR Abu Dawud, no. 3876).

Bahkan, Nabi SAW memperingatkan, bahwa mengonsumsi yang haram, berobat dengan yang haram dan vaksinasi dengan vaksin yang haram, menjadi penyebab tertolaknya ibadah dan do’a.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW besabda: “Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan kepada kaum mukminin seperti yang Dia perintahkan kepada para rasul. Maka, Allah Ta’ala berfirman, ’Wahai para rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan’ –QS Al-Mu’minûn [23] ayat 51- dan Allah Ta’ala berfirman,’Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rizki yang baik yang Kami berikan kepada kamu’ –Qs al-Baqarah [2] ayat 172- kemudian Rasulullah SAW menyebutkan orang yang lama bepergian; rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit, ‘Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi kecukupan dengan yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR Bukhari,no. 158 dan Muslim, no. 1015).

            Dalam konteks vaksinasi Covid-19, termasuk dalam “Thayyib” atau baik di sini adalah aman dan telah teruji dari berbagai sisi serta tidak membahayakan diri dan orang lain. Sebab, Rasulullah SAW telah bersabda,

لا ضَرَرَ ولا ضِرارَ

Tidak boleh memberikan dampak bahaya bagi diri dan orang lain(HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3: 77, Al Baihaqi 6: 69, Al Hakim 2: 66. Syaikh Al Albani menilai hadits ini shahih).

Meskipun, dalam banyak literatur fikih, para ulama telah menyinggung, dalam keadaan darurat, hal yang haram pun dibolehkan berdasarkan kaidah,

الضرورة تبيح المحظورات

            “Keadaan darurat membolehkan sesuatu yang terlarang

Namun, darurat ini sendiri juga ada batasannya, yaitu dibatasi oleh kaidah,

الضرورات تقدر بقدرها

            “Darurat itu dibatasi oleh takaran/batasan”. Batasan itu adalah hanya sampai menyelamatkan dari kematian, tidak lebih dari itu.

            Dari sini, menjadi penting bagi kita, bahwa vaksin Covid-19 jenis apa pun harus melalui uji klinis untuk memastikan keamanan (safety) dan khasiat (efficacy) vaksin agar tercapai syarat “thayyib” nya, dan mendapatkan sertifikasi halal MUI guna memenuhi titah ilahi “halal” di atas. Setelah melalui dua proses dan memenuhi dua syarat “halal” dan “thayyib” tersebut, maka tidak ada alas an bagi kita untuk menolaknya, bahkan wajib hukumnya vaksinasi Covid-19 yang seperti ini, apabila benar-benar vaksinasi ini bagian ikhtiar maksimal untuk kesehatan dan keselamatan jiwa. Sehingga jika tidak dilaksanakan vaksinasi dapat beresiko tinggi terkena dan menularkan covid-19. Semoga Allah SWT selamatkan kita semua dari Covid-19 dan secepatnya diangkat Allah virus corona dari kehidupan kita,, Amin …

 

Bekasi, 22 Jumadil Ula 1422 H / 6 Januairi 2021 M

 

share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
KEKUATAN TASBIH
20-05-2020 Kajian

KEKUATAN TASBIH    Oleh: Mabni Darsi   Ibnu 'Asyur dalam tafsirnya " ...

Baca Selengkapnya

PERBEDAAN PENGGUNAAN KATA "SANATAN سنة " DAN "'AAMAN عاما" DALAM AL-QUR'AN
20-05-2020 Kajian

PERBEDAAN PENGGUNAAN  KATA "SANATAN سنة " DAN "'AAMAN عاما"  DALAM AL- ...

Baca Selengkapnya

KATA "النعمة/NIKMAT" & "النعيم/ANNA'IM(KENIKMATAN) DALAM AL-QUR'AN
20-05-2020 Kajian

KATA "النعمة/NIKMAT" & "النعيم/ANNA'IM(KENIKMATAN) DALAM AL-QUR'AN  ...

Baca Selengkapnya

Makna "al-ab/الأب" dan "al-walid/الوالد" dalam Al-Qur'an
20-05-2020 Kajian

Makna "al-ab/الأب" dan "al-walid/الوالد" dalam Al-Qur'an    Menur ...

Baca Selengkapnya

Bahasa Dakwah Perspektif Al-Qur'an
07-12-2019 Kajian

  Bahasa Dakwah Perspektif Al-Qur'an Oleh: Dr. Atabik Luthfi, MA   Al-Qur ...

Baca Selengkapnya

Amalan Berpahala Haji
09-08-2019 Kajian

AMALAN BERPAHALA HAJI Oleh: Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, Lc, MA Dosen FDI UIN Syarif ...

Baca Selengkapnya