Naskah Kuno Islam Nusantara, Ternyata Begitu Berserakan

Dibuat Tanggal 04-05-2010

Penyebar agama Islam di Indonesia, jelas Ibrahim, dibawa oleh utusan dari sahabat Saad bin Abi Waqqash RA. Ditambahkan oleh Sumanto Al-Qurtuby, dalam bukunya Arus Cina-Islam-Jawa: Bongkar Sejarah atas Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Agama Islam di Nusantara Abad XV dan XVI, agama Islam masuk ke Indonesia tak hanya dibawa oleh pedagang Gujarat dan Arab, tapi juga oleh pedagang Cina. Oleh karena itu, ia menyebutkan, Islam masuk ke Indonesia ini melalui tiga jalur, yakni Arab, Gujarat, dan Cina.

Dengan penyebaran Islam yang gencar itu, tak heran bila Islam berkembang pesat di nusantara. Penyebaran berikutnya dilanjutkan oleh tokoh masyarakat, ulama, dan para mubaligh. Mereka inilah yang memiliki peran besar dalam menyebarkan dan mengembangkan Islam di Indonesia. Sebagian besar, nama-nama mereka telah melegenda.

Sebut saja nama Walisongo atau Sembilan Wali yang menyebarkan Islam di wilayah Jawa. Sedangkan di daerah lain, juga dikembangkan oleh tokoh ulama setempat. Para ulama yang ada di daerah, seperti Lombok, Mataram (NTB), Makasar (Sulawesi Selatan), Ternate (Maluku), Padang (Sumatra), Banjar (Kalimantan Selatan), menyebarkan Islam di wilayah setempat. Mereka mengajarkan agama Islam menurut bahasa dan adat istiadat setempat.

Pendekatan yang baik, membuat Islam begitu mudah diterima masyarakat. Tak hanya melalui ceramah dan pidato, para ulama daerah ini juga menyampaikan pesan-pesan Islam melalui karya-karyanya. Buku-buku itu ditulis dengan tangan di atas lembaran kertas yang ada saat itu. Misalnya, ada karya berjudul Hikayat Banjar, Sirah Nabawiyah, Fiqh al-Islam, dan lain sebagainya. Walaupun tak dikenal luas, peranan ulama daerah tersebut sangat penting bagi masyarakat.

"Ada ribuan karya ulama nusantara," kata Dasrizal MA, kepala Bidang Bina Program Penelitian, Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, kepada Republika. Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, karya-karya ulama daerah itu banyak terlupakan. Naskah-naskah yang mereka tulis hanya sebagian yang berhasil dibukukan. Sisanya, tak sempat disusun menjadi sebuah buku.

Karena minimnya perhatian terhadap karya-karya klasik ulama tersebut, sebagian besar hilang dan tak jelas rimbanya. Sebagian lagi, naskah mereka ada yang berada di luar negeri, seperti Belanda, Prancis, Inggris, Jerman, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Beberapa yang tersisa di Indonesia, tercecer ke mana-mana. Ada yang masih dimiliki ahli waris, ada yang terpendam, dan ada pula yang diperjualbelikan. "Yang baru berhasil diselamatkan hanya sekitar 600 naskah Islam klasik karya ulama nusantara," lanjut Dasrizal.

Karya-karya itu berisi tentang ilmu pengetahuan, ajaran, dan syair. Di antaranya berisi tentang ketuhanan, ajaran budi pekerti, sejarah, cerita rakyat (dongeng, legenda), teknologi tradisional, mantra, silsilah, jimat, syair, politik, pemerintahan, undang-undang, hukum adat, pengobatan tradisional, dan hikayat. Kini, naskah-naskah itu telah dijilid dengan baik dan didigitalisasi oleh Puslitbang Lektur Keagamaan, Balitbang Depag. Sebagian tersimpan di perpustakaan nasional dan beberapa ahli waris.

Sumber:RepublikaOnline
share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Kementerian Agama Gelar Anugerah Masjid Percontohan 2016
15-12-2016 Nusantara

JAKARTA -  Kementerian Agama menggelar penganugerahan Masjid Percontohan 2016. ...

Baca Selengkapnya

Pemerintah Siapkan Perpres Pembangunan Universitas Islam Internasional
09-06-2016 Nusantara

JAKARTA - Pemerintah sedang mempersiapkan Peraturan Presiden (Perpres) sebagai landa ...

Baca Selengkapnya

Sambut Ramadhan, Pemkot Padang Sampaikan Imbauan Shalat Tepat Waktu
16-05-2016 Nusantara

PADANG - Menyambut Ramadhan, Pemerintah Kota Padang menyampaikan imbauan shalat tepa ...

Baca Selengkapnya

Istiqlal Diharapkan Jadi Pemersatu Umat Islam
22-02-2016 Nusantara

JAKARTA - Masjid Istiqlal dinilai memiliki potensi yang besar sebagai pemersatu umat ...

Baca Selengkapnya

Paradigma “Wasathiyah” Harus Bisa Menjadi Ruh Setiap Gerakan MUI
11-11-2015 Nusantara

JAKARTA – Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Pusat KH Ma’ruf Amin menegaskan, ...

Baca Selengkapnya

Menag: Sudah Waktunya Indonesia Miliki Perguruan Tinggi Berskala Dunia
03-11-2015 Nusantara

JAKARTA - Indonesia merupakan bangsa yang begitu besar dan dikenal sebagai bangsa de ...

Baca Selengkapnya