Muslim Rahmatan Lil 'Alamin

Dibuat Tanggal 16-12-2011
Kepribadian seorang muslim yang seharusnya melekat pernah Rasulullah sabdakan dalam hadits berikut :
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:" قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ؟" قَالَ: « مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ » (رواه البخاري)

Dari Abu Musa Ra, ia berkata, mereka (para sahabat) bertanya, “Ya Rasulullah, Islam (seperti) apa yang paling afdhal (paling utama)? Beliau Saw menjawab, “Yaitu orang yang orang-orang muslim lainnya selamat dan aman dari (gangguan) lisan dan tangannya” (HR. Bukhari(
Hadits senada dengan hadits di atas, dengan sedikit perbedaan pada redaksi, juga banyak diriwayatkan oleh para ulama hadits lainnya. Di antaranya:
Dari Amr bin Ash Ra, ia berkata: sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw,
أَيُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ؟ قَالَ: « مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ » (رواه مسلم)

Orang-orang Islam seperti apa yang paling baik? Beliau Saw menjawab, “Yaitu orang yang kaum muslimin lainnya aman dari (gangguan) lisan dan tangannya” (HR. Muslim)
Sedangkan Imam Tirmidzi dalam kitab “Sunan”nya meriwayatkan dengan redaksi tambahan yang makin melengkapi makna yang terkandung di dalamnya, yaitu:
Dari Abu Hurairah Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,
« الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ  وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ » (رواه الترمذي و أحمد)

 “Orang muslim yang sejati adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya. Dan orang yang mukmin yang sejati adalah orang yang bisa menjaga keamanan (keselamatan) darah dan harta manusia lain” (HR. Tirmidzi dan Imam Ahmad).
Hadirin jamaah sholat jum’at yang dimuliakan Allah
Hadits-hadits Nabi di atas menunjukkan betapa kekerasan, anarkisme dan menebar teror di tengah komunitas muslim bukanlah bagian dari ajaran Islam. Dalam hadits tersebut, Rasulullah Saw menjelaskan bahwa muslim yang sejati adalah orang yang selalu menebar kasih sayang, bukan menebar ketakutan. Selalu hati-hati dan berpikir seribu kali dalam berucap dan berbuat sehingga tak ada ucapan dan perbuatan yang menyakiti dan melukai dan menciderai hati dan fisik orang lain.
Imam Ibnu Hajar ketika menjelaskan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari mengatakan, bahwa Alif dan Lam pada lafazh ‘Al Muslim’ adalah memiliki makna sempurna.
Ini berarti bahwa kesempurnaan seorang muslim sangat ditentukan oleh sejauh mana orang-orang di sekelilingnya merasa nyaman, aman dan tenteram dengan keberadaannya. Selalu aktif memberikan kontribusi apa pun; baik ide, pikiran, tenaga, waktu maupun harta benda untuk kebaikan lingkungan sekitarnya. Tutur katanya baik, lembut dan menyejukkan. Perilaku dan tindak dan tanduknya tidak menimbulkan kecurigaan karena akhlak mulia itu transparan dan tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Karena itulah kehidupan Rasulullah Saw bagaikan “Kitab Maftuh”, kitab yang terbuka yang bisa dibaca oleh semua lapisan masyarakat; dewasa maupun anak kecil, laki-laki maupun kaum perempuan.
Hadirin yang berbahagia
Bahkan, dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi tadi disebutkan bahwa masalah ini termasuk dalam Qadhaya Imaniyah (diskursus keimanan). Artinya melukai hati dan fisik orang lain dapat menurunkan kualitas keimanan seorang muslim. Menjaga keselamatan jiwa dan keamanan harta orang lain termasuk barometer iman.
Penggunaan redaksi “An Naas” yang berarti manusia, bukan “Al Muslimun” (orang-orang Islam) seperti pada kalimat sebelumnya, menunjukkan bahwa Islam juga sangat menghormati pluralitas.  Nabi Saw pun pernah berwasiat kepada Abu Dzar Ra,
« اِتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ » (رواه الترمذي و أحمد)

“Bertakwalah kepada Allah dimana saja engkau berada. Ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya ia (kebaikan) akan menghapusnya. Dan pergauilah manusia dengan akhlak mulia” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).
Jadi, menerapkan akhlak mulia dalam bergaul dengan manusia, apa pun etnis, suku dan agama dan kebangsaannya, termasuk bagian dari takwa.
Karenanya perasaan aman, nyaman dan tenteram ini juga  hendaknya mencakup komunitas non muslim selama mereka tidak memerangi dan memerangi kita. Semangat inilah yang sesungguhnya juga disuarakan sangat nyaring oleh Al-Quran,
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al Mumtahanah: 8).
Jamaah shalat jum’at rahimakumullah
Dalam konteks ini, maka bisa dimaklumi mengapa para ulama seperti Syekh Dr. Yusuf Al Qardhawi, Syekh Salman bin Fahd Al‘Audah dan lainnya ketika mengkaji masalah Al Amaliyyah Al Istisyhaadiyah (bom syahid), mereka tidak membolehkan penerapan hal ini secara mutlak di semua tempat, dalam semua situasi dan kondisi dengan sasaran semua orang. Mereka hanya membolehkan dengan beberapa syarat, di antaranya:
Pertama, Dilakukan di medan jihad. Artinya negeri yang secara syar’i telah dinyatakan sebagai medan jihad, seperti di Palestina yang dijajah oleh Israel dan lain-lain.
Kedua, Diniatkan semata-mata untuk meninggikan kalimat Allah, bukan mencari sensasi dan popularitas.
Ketiga, Memastikan bahwa apa yang dilakukannya benar-benar dapat melemahkan barisan musuh dalam peperangan itu dan menguatkan maknawiyah (mentalitas) dan kekokohan barisan tentara muslim.
Keempat, Hal itu dilakukan terhadap orang-orang kafir yang memerangi kaum muslimin. Sebab, dalam tinjauan syari’at Islam kaum kafir itu terbagi dalam beberapa katagori. Ada orang-orang kafir yang Musaalimun (menyerahkan sepenuhnya urusannya kepada pemerintahan Islam). Ada yang Musta’minun (meminta perlindungan keamanan), ada yang Dzimmiyyun dan Mu’aahidun (yang mengadakan kesepakatan perjanjian dengan kaum muslimin). Tidak semua orang kafir boleh dibunuh secara mutlak, bahkan Rasulullah Saw pernah bersabda,
وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِو ٍ عَنْ اَلنَّبِيِّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ: « مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا » (رواه البخاري)

“Barangsiapa membunuh orang kafir yang Mu’aahid (telah mengadakan perjanjian dengan kaum muslimin), maka ia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan 40 tahun” (HR. Bukhari).
Kelima, Mendapat izin kedua orang tua.
Mereka mendasarkan hal itu dari banyak dalil, di antaranya hadits tentang anak muda dalam kisah Ashhaabu’l Ukhdud yang diriwayatkan oleh Shuhaib dalam Shahih Muslim dan Musnad Imam Ahmad.
Juga riwayat dalam Tafsir Ath Thabari, dari Abu Ishaq As Subai’i berkata: Aku bertanya kepada Barra’ bin Azib Ra, “Wahai Abu Umarah, bagaimana jika ada seorang dilempar ke kerumunan musuh yang berjumlah seribu orang, sementara dia sendirian [yakni; kemungkinan besar ia akan terbunuh] apakah hal ini termasuk orang yang disinggung Allah Swt dalam ayat,
“.. dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan,” (QS. Al Baqarah: 195)
Lalu, Barra’ (sahabat Nabi)  menjawab, “Tidak, silahkan ia berperang hingga terbunuh (syahid). Allah Swt berfirman kepada Nabi-Nya Saw,
“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang).” (QS. An Nisaa’ : 84).
Kaum muslimin rahimakumullah
Sementara dalam kajian Ibnu Katsir, Barra’ bin Azib Ra menjelaskan tentang maksud ayat tersebut adalah tentang sedekah, yakni meninggalkan bersedekah dalam jihad adalah termasuk menjatuhkan dalam kebinasaan (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, vol. I/206).
Karenanya, tidak benar jika apa yang dilakukan oleh pejuang Hamas, misalnya, di Palestina yang meledakkan diri di tengah kerumunan orang Israel itu adalah bom bunuh diri, melainkan itu termasuk bom syahid dan mereka bukanlah teroris seperti yang dituduhkan oleh musuh-musuh Islam yang diamini oleh berbagai media di dunia Islam, tapi Israel lah the real terrorist. Sementara jika hal itu dilakukan di negeri yang mayoritas muslim, tentu tidak bisa dibenarkan. Wallahu a’lam bi’sh showab. Semoga Allah Swt selalu menuntun dan membimbing kita semua di jalan yang benar.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.



 
share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Khutbah Jum'at - Al-Quds dan Intifadhah Palestina
15-12-2017 Khutbah

AL-QUDS DAN INTIFADHAH PALESTINA   Oleh: Muhammad Syarief, Lc. dan ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Tentang Membaca dan Penciptaan Kita
02-06-2017 Khutbah

Khutbah Jum'at - Tentang Membaca dan Penciptaan Kita Oleh Inayatullah H ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Empat Amalan di Bulan Ramadhan
26-05-2017 Khutbah

EMPAT AMALAN DI BULAN RAMADHAN  Oleh Inayatullah Hasyim   اَ ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Ramadhan Sebagai Pengingat Perjalanan Usia
18-05-2017 Khutbah

RAMADHAN SEBAGAI PENGINGAT PERJALANAN USIA Oleh Inayatullah Hasyim   ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Meresapi Makna Pembelaan Islam Terhadap Al Quran
03-11-2016 Khutbah

Seri Khutbah Jum’at Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Wilayah DIY Edisi ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Memilih Pemimpin Muslim
27-10-2016 Khutbah

Seri Khutbah Jum’at Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Wilayah DIY Edisi ...

Baca Selengkapnya