Menghiasi Lisan dengan Kejujuran

Dibuat Tanggal 03-06-2011
Menghiasi Lisan dengan Kejujuran
 
Kejujuran adalah akhlak yang sangat mulia. Pada beberapa ayat Al-Qur’an Allah SWT. mensifati sejumlah Nabi dan RasulNya dengan sifat jujur. Seakan sifat ini adalah sifat yang mendominasi dalam kepribadian mereka.
 
Allah SWT. berfirman: Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al kitab. (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang selalu jujur lagi seorang Nabi. (Maryam: 41). FirmanNya juga: “Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan Dia adalah seorang Rasul dan Nabi”. (Maryam: 54). Dalam ayat lain”  "Yusuf, Hai orang yang Amat jujur (dipercaya). (Yusuf: 46). Kemudian firmanNya: Dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat jujur dan seorang Nabi. (Maryam: 56).
 
Sifat shidiq adalah sifat Rasulullah Saw. yang paling populer dikenal penduduk Mekah ketika itu, sehingga mereka menjulukinya dengan asshiddiq alamiin, orang jujur yang terpercaya. Dan Khadijah ra. juga pernah mensifati beliau tepat setelah peristiwa turun wahyu pertama: “Sungguh engkau senantiasa menyambung silaturahmi dan berkata jujur”. (HR. Bukhari).
 
Setiap Muslim, terutama pada zaman ini perlu kembali bercermin, untuk mengukur sejauh mana sifat mulia ini terpatri dalam jiwa dan karakter.
 
Lisan adalah fasilitas dari Allah SWT. yang begitu berharga. Dengan karunia ini seorang hamba mampu melakukan ibadah secara lebih optimal. Betapa banyak ibadah lisan yang begitu bernilai di sisiNya. Namun seseorang juga bisa terjerumus kepada murka Allah SWT., lantaran tidak menjaga lisan. Ia bagai pisau bermata dua. Betapa banyak kerusakan yang terjadi di muka bumi ini lantaran tidak menjaga lisan. Maka Rasulullah Saw. memerintah kita untuk senantiasa menjaganya: "Siapa beriman kepada Allah dan hari Akhirat, maka berkatalah yang baik atau diam". (HR. Bukhari).
 
Dalam konteks personal pelaku, jujur lisan bisa membawa pelakunya kepada kondisi ketenangan, karena ia sudah berkata benar. Orang beriman yang jujur lisan akan merasa ketentraman, karena ia yakin perbuatan itu diridhai Allah SWT., zat yang maha mengetahui segala tingkah lakunya.
 
Namun siapa yang tidak jujur akan merasa sebaliknya, ketidaknyamanan atau gelisah meskipun sedikit kadarnya. Atau mungkin ia sama sekali tidak merasa gelisah, namun yang demikian berarti bahwa hatinya sedang "sakit parah", wal'iyaadzu billaah. Baik menimbulkan rasa gelisah ataupun tidak, dusta akan membawa pelakunya kepada keburukan dan kerusakan. Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menghantarkan kepada Surga. Dan seseorang senantiasa jujur sehingga disebut di sisi Allah sebagai shiddiiq (orang yang jujur). Dan dusta itu menunjukkan kebada kejahatan, dan kejahatan menghantarkan kepada Neraka. Dan seseorang senantiasa berbuat dusta sehingga disebut di sisi Allah sebagai kaddzab (pendusta). (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadits lain disebutkan: Sesungguhnya kejujuran itu ketenangan dan dusta itu keragu-raguan”. (HR. Tarmidzi).
 
Dalam konteks yang lebih luas, dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat maupun berbangsa, jujur lisan juga memberikan dampak positif bagi kemaslahatan secara umum. Jujur lisan dan keterbukaan bisa menopang kekokohan dan keberlangsungan sebuah keluarga, serta menepis dugaan-dugaan buruk yang bisa menimbulkan ketidakharmonisan dan kerapuhan.
 
Masyarakat kita juga sangat butuh akan kejujuran ini. Pemimpin yang jujur akan menjaga lisannya dari menginformasikan sesuatu yang tidak benar. Betapa banyak kerusakan dan ketidakharmonisan yang terjadi timbul antara Pemimpin dan rakyat, lantaran pemimpin yang tidak jujur, lantaran yang mereka ucapkan adalah kebohongan publik belaka. Juga tidak sedikit pemimpin yang berpidato lantang untuk membela dan memperjuangkan rakyat, namun realitanya kemudian sangat berbeda.
 
Rasulullah Saw. pernah menyebut kondisi di atas sebagai tanda-tanda munafik: "Tanda munafik itu ada tiga: bila berkata ia dusta, bila berjanji ia melanggar, dan bila dipercaya ia berkhianat". (HR. Bukhari dan Muslim). Dan Allah SWT. sangat murka dengan hal tersebut: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Asshaff: 2-3).
 
Pemimpin yang jujur demi penegakkan keadilan dan hukum akan mendapat posisi sangat mulia di hadapan Allah SWT. Bila hal itu dilakukan karena Allah SWT. dan demi terciptanya kemaslahatan serta menghindari kezaliman, meskipun seringkali ada resiko di balik sikap jujur tersebut, maka yang demikian termasuk jihad di jalanNya. Allah SWT. memasukkan mereka dalam golongan yang akan diberikan naungan khusus dan keselamatan dariNya.
 
Rasulullah pernah bersabda: "Tetap berpegang eratlah pada kejujuran. Walau kamu seakan melihat kehancuran dalam berpegang teguh pada kejujuran, tapi yakinlah bahwa di dalam kejujuran itu terdapat keselamatan." (HR Abu Dunya). Dalam hadits lain beliau juga bersabda: “Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari dimana tidak ada naungan selain dariNya: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam suasana ibadah kepada Allah, orang yang hatinya senantiasa terikat dengan Masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karenaNya dan berpisah karenaNya, laki-laki yang diajak wanita yang memiliki harta dan kedudukan untuk melakukan zina namun ia berkata “aku takut kepada Allah”, dan laki-laki yang bersedekah diam-diam sehingga orang di sampingnya tidak mengetahui, dan seorang yang berzikir kepada Allah hingga meneteskan air mata”. (HR. Bukhari). Dalam hadits tersebut Allah SWT. menyebut pemimpin yang menegakkan keadilan pada urutan pertama.

 

share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Khutbah Jum'at - Al-Quds dan Intifadhah Palestina
15-12-2017 Khutbah

AL-QUDS DAN INTIFADHAH PALESTINA   Oleh: Muhammad Syarief, Lc. dan ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Tentang Membaca dan Penciptaan Kita
02-06-2017 Khutbah

Khutbah Jum'at - Tentang Membaca dan Penciptaan Kita Oleh Inayatullah H ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Empat Amalan di Bulan Ramadhan
26-05-2017 Khutbah

EMPAT AMALAN DI BULAN RAMADHAN  Oleh Inayatullah Hasyim   اَ ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Ramadhan Sebagai Pengingat Perjalanan Usia
18-05-2017 Khutbah

RAMADHAN SEBAGAI PENGINGAT PERJALANAN USIA Oleh Inayatullah Hasyim   ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Meresapi Makna Pembelaan Islam Terhadap Al Quran
03-11-2016 Khutbah

Seri Khutbah Jum’at Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Wilayah DIY Edisi ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Memilih Pemimpin Muslim
27-10-2016 Khutbah

Seri Khutbah Jum’at Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Wilayah DIY Edisi ...

Baca Selengkapnya