Mengenal Masjid Al-Aqsha (Bagian. 2)

Dibuat Tanggal 10-11-2014

Mengenal Masjid Al-Aqsha (Bagian. 2)

Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA.        

 

4.      Lipat ganda pahala

Diantara keutamaan Masjid Al-Aqsha yang banyak diketahui khalayak adalah lipat ganda pahala ibadah di dalamnya. Ada beberapa riwayat yang berlainan berkenaan keutamaan dan lipat ganda pahala shalat di masjid Al-Aqsha. Ada riwayat yang menyebutkan 1000 kali lipat lebih utama dibanding masjid biasa, ada yang menyebutkan 500 kali, dan ada yang menyebutkan 250 kali.

 

Hadits yang populer adalah yang menyatakan 500 kali lipat yaitu yang diriwayatkan oleh Abu Darda’, dan sanadnya bagus. Dari Abu Darda’ Rasulullah saw bersabda: “Keutamaan shalat di Masjidilharam 100.000 kali lipat dibanding shalat di masjid biasa, di Masjidku dilipatgandakan  1.000 kali lipat, dan di Masjid Al-Aqsha 500 kali lipat”. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Bazzar).

 

Adapun hadits yang menyatakan keutamaan pahala yang dilipatgandakan 250 kali lipat diriwayatkan dari Abu Dzar, beliau berkata: “Ketika kami sedang berada di sisi Rasulullah saw, kami bertanya: “Lebih utama mana, shalat di Masjid Rasulullah atau di Masjid Al Aqsha?” Beliau bersabda: “Shalat di masjidku ini lebih utama empat kali lipat dibanding shalat di Masjid Al-Aqsha.” (HR. Al Hakim). Para Ulama berkata: “Jika shalat di Masjid Nabawi bernilai 1000 kali shalat di masjid biasa, berarti nilai shalat di masjid Al Aqsha adalah 250 kali shalat di Masjid biasa.

 

Sebagian ahli hadits ada yang menganggap isi hadits yang diriwayatkan Abu Dzar tersebut lemah. Sebagian yang lain ada yang mengunggulkan hadits riwayat Abu Darda’ yang menyebut 500 kali lipat dibanding hadits riwayat Abu Dzar yang mengisyaratkan 250 kali lipat.

 

Sementara hadits lain yang diriwayatkan Maimunah menyebutkan bahwa shalat di Masjid Al-Aqsha sama dengan 1000 kali shalat di masjid biasa. Dalam masalah perbedaan riwayat ini, Syaikh Al-Albani mengatakan: “Maka disebutkan: Sesungguhnya Allah SWT pada awalnya menjadikan fadhilah shalat di Al-Aqsha adalah 250 kali, kemudian menaikkannya menjadi 500 kali, kemudian menjadi 1000 kali, sebagai keutamaan dan rahmat dariNya untuk hamba-hambaNya. Allah Yang Maha Tahu hakikat keadaannya.” (Syaikh Al Albani, Ats tsamar Al Mustathab fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, Hal. 549). Para Ulama mengatakan: “tidak ada kontradiksi antara riwayat-riwayat tersebut, karena keutamaan Allah SWT bisa terus bertambah sebagaimana riwayat tentang keutamaan shalat berjama’ah, ada yang menyebut dua puluh lima kali lipat dan ada yang menyebut dua puluh tujuh kali lipat”.

 

Penistaan Yahudi Terhadap Masjid

Tidak ada sejengkal tanahpun di Palestina yang luput dari penistaan Zionis-Yahudi. Penistaan yang dilakukan Yahudi telah merambah salah satu tempat suci dan pusat keberkahan serta kebesaran Umat Islam sepanjang sejarah; Masjid Al-Aqsha.  Penistaan Yahudi telah berlangsung lama hingga hari ini, namun belum banyak Kaum Muslimin yang mengetahui dan menyadarinya. Diantara bentuk penistaan tersebut sebagai berikut:

 

a. Pembakaran Masjid

Pembakaran Masjid diantara rangkaian penistaan yang paling fenomenal dilakukan Israel untuk menghancurkan Al-Aqsha dan membangun kuil di lokasi Masjid. Pada 21/8/1969 seorang teroris Yahudi berkebangsaan Australia, Dennis Michael Rohan dengan support dari sekelompok Yahudi membakar sebagian Masjid Al-Aqsha, tepatnya Masjid Kibli.

 

Pembakaran Masjid Al-Aqsha membuat Umat Islam marah. Aksi protes terjadi dimana-mana. Esok harinya 22/8/1969, Muslimin Palestina berbondong-bondong melaksanakan shalat Jum’at di Masjid Al-Aqsha. Peristiwa itu juga mendorong pembentukan Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang beranggotakan 57 Negara.

 

b. Mengintervensi pengelolaan Masjid

Dalam rangka mewujudkan penguasaan Yahudi terhadap Gunung kuil, pengebirian peran lembaga wakaf islam dan upaya mengintervensi peran dan tugas mereka merupakan kemestian bagi Israel.  Upaya tersebut dirinci menjadi 3 bentuk kegiatan :

1.      Melarang kegiatan renovasi dan mengintervensi peran lembaga wakaf. 

Pelarangan melakukan renovasi ini menyebabkan rusak dan runtuhnya marafiq masjid al Aqsa dan sebagai upaya pembenaran terhadap intervensi lembaga peninggalan Israel dengan alasan bahwa lembaga wakaf Islam tidak melakukan renovasi sesuai dengan kondisi yang menimpa Masjid. Dengan cara iu Isreal berupaya melemahkan fungsi dan peran lembaga wakaf Islam.

 

2.      Menghalangi peran aktivis lembaga wakaf

Beragam peran yang dijalankan para aktivis lembaga wakaf, seperti imam, khatib, penjaga Masjid dan bagian arsitektur dan kebudayaan. Penjajah Israel menghalangi mereka untuk menjalankan peran terkait, bahkan seringkali melakukan aksi anarkis terhadap para aktivis, seperti mencegah bahkan menangkap beberapa penjaga Masjid yang menghalangi penyerbuan Yahudi terhaap Masjid Al-Aqsha. Israel menganggap cara anarkis itu bisa membuat efek jera bagi aktivis lain, sehingga akan berfikir panjang untuk memainkan peran mereka secara maksimal.

 

3.      Mengambil alih tugas pemberi izin masuk dan membatasi kedatangan jama’ah shalat.

Secara resmi lembaga wakaf Islam di Al-Quds adalah pihak yang memiliki kontrol dan pengawasan atas seluruh kunci pintu-pintu Masjid Al-Aqsha juga setiap orang yang ingin memasuki Masjid. Lembaga ini memegang seluruh kunci pintu-pintu Masjid, kecuali pintu al-maghoribah yang dirampas Israel sejak 1967.

 

c. Penguasaan dan penyitaan wilayah di sekeliling Masjid Al-Aqsha

Pemerintah Israel menginginkan yahudisasi wilayah di sekeliling Masjid Al-Aqsha, agar menguatkan eksistensi dan nuansa Yahudi di Masjid Al-Aqsha. Wilayah yang sudah dikuasai selanjutnya menjadi pos-pos yang berfungsi sebagai tempat berkumpul Yahudi untuk kemudian bertolak menyerbu Masjid Al-Aqsha. Selain itu pos-pos tersebut juga berfungsi untuk menutup-nutupi kegiatan penggalian bawah dan sekitar Masjid serta untuk memperkuat pengawasan dan monitoring terhadap Masjid.

 

Tahapan selanjutnya setelah menguasai sekeliling Masjid adalah mendirikan bangunan Yahudi di sana, seperti gereja, museum, dan berbagai bangunan yang bisa menghidupkan nuansa Yahudi di sekeliling Masjid Al-Aqsha, untuk selanjutnya menginspirasi perjuangan mereka agar lebih bersemangat meruntuhkan Masjid Al-Aqsha.

 

d. Pelarangan dan penganiayaan terhadap jama’ah shalat.

Pemerintah Yahudi menetapkan berbagai prosedur dan aturan untuk mengunjungi Masjid Al-Aqsha untuk diterapkan secara sepihak, agar menghalangi Kaum Muslimin untuk berziarah dan memakmurkannya. Selain prosedur yang menyulitkan, pelarangan shalat terhadap Kaum Muslimin khususnya para pemuda secara sepihak juga dilakukan. Selain itu perlakuan semena-mena dan penganiayaan terhadap jama’ah shalat tak luput dari upaya mereka untuk menghalangi dan membuat jera Kaum Muslimin, agar mereka tidak kembali lagi memakmurkan Masjid Al-Aqsha. Perlakuan semena-mena dan penganiayaan tersebut seringkali menyebabkan bentrok fisik antara kedua belah pihak.

Wallahu a’lam bisshawaab.

 

 

 

 

share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Islam adalah Agama Privat dan Publik
10-03-2017 Kajian

Paham konvensional sekolompok umat Islam, bahwa Islam adalah agama privat, tidak ada ...

Baca Selengkapnya

Fadhilah Dan Doa Hari Arafah
09-09-2016 Kajian

Baginda Sayyiduna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang ...

Baca Selengkapnya

Pembekalan Yang Efektif (Tadabbur QS. Al-Muzammil)
08-08-2016 Kajian

Tadabbur QS. Al-Muzammil PEMBEKALAN YANG EFEKTIF* Dr. Saiful Bahri, M.A** ...

Baca Selengkapnya

Hukum Menyerahkan Kekuasaan Kepada Orang Kafir
31-03-2016 Kajian

Islam dan Batasan Toleransi Pada hakekatnya Islam sangat mengajarka ...

Baca Selengkapnya

Tragedi Pembagian Palestina 29 Nopember 1947
26-11-2015 Kajian

Meneropong Tragedi Pembagian Palestina, 29 Nopember ‘47   Pe ...

Baca Selengkapnya

Ciri Umat Pertengahan
21-08-2015 Kajian

oleh : Samson Rahman, MA   Sebuah kehormatan bagi umat Islam, kare ...

Baca Selengkapnya