Menepis Tuduhan Ekstrimitas

Dibuat Tanggal 25-08-2009

Orang yang berpegang teguh pada ajaran agama tidak boleh disebut ekstrim. Demikian juga orang yang melaksanakan sunnah Rasulullah SAW secara konsekwen seperti menunaikan sholat di awal waktu, menikah, membiarkan jenggotnya terurai memanjang, menutup aurat dengan berjilbab, menggunakan siwak dan seterusnya. Semua prilaku ini tidak boleh disebut ekstrim. Bahkan jika seseorang bersikap tegas untuk dirinya sendiri saja dalam melaksanakan sesuatu yang dianggap wajib oleh dirinya, seperti bercadar, tidaklah disebut ekstrim selama tidak mewajibkan hal tersebut kepada orang lain (lih. Dr. Yusuf Qardlawi, Dzohirotul Ghuluwwi Fit Takfir, Maktabah Wahbah Kairo)

Sikap ekstrim ini muncul akibat pertentangan kepentingan atau nilai antara dua kelompok atau lebih, dimana setiap kelompok merasa paling benar sedangkan lainnya dianggap salah. Ust. Manshur Rifa’I Ubeid merangkum empat hal yang menyebabkan munculnya sikap ekstrim yaitu:
1. Kesenjangan antara dua generasi yang muncul dalam satu keluarga besar. Seorang anak merasa berbeda jauh dengan orang tuanya dalam banyak aspek kehidupannya, akan bisa melahirkan sikap ekstrim dari sang anak.
2. Keretakan keluarga yang timbul akibat kesibukan orang tua sehingga tidak sempat mendidik anak-anak, memperhatikan serta mengawasi semua aktifitas mereka, juga akan bisa membentuk sikap ekstrim sang anak, baik ekstrim kanan maupun ekstrim kiri.
3. Tiadanya suri tauladan yang baik di sekolah. Para guru tidak lagi mendidik murid-muridnya selain hanya memompakan ilmu ke dalam otak dan tidak mengetahui problematika yang melilit muridnya.
4. Terdapat kesenjangan antara apa yang dikatakan atau diinformasikan kepada para remaja dengan realita yang ada di lapangan, tanpa ada upaya untuk menyingkap hakekat yang sebenarnya lewat media massa. Di samping adanya upaya penyesatan para remaja dengan menggunakan semboyan-semboyan palsu dan kosong. (lih. Al Islam wa mauqifuhu min al ‘unfi hal.21)

Sikap-sikap ekstrim ini sering muncul juga akibat kekurangfahaman seseorang terhadap ajaran Islam yang penuh rahmat. Mereka tidak faham bahwa Islam diturunkan untuk menebarkan kasih sayang ke seluruh alam. Rasulullah SAW diutus ke dunia ini untuk menebarkan rahmat ke seluruh alam semesta. Sebagaimana yang dinyatakan Allah SWT. “Tidakkah kami utus engkau (Muhammad) kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam”. (QS. Al Anbiya’ 107). Rahmat yang dipancarkan ajaran-ajaran Islam yang dibawanya ini tidak saja diperuntukkan kepada manusia saja akan tetapi menyelimuti seluruh makhluk ciptaan Allah. Beliau pernah bersabda yang artinya:”Orang-orang yang menebarkan rahmat (kasih sayang) akan dilimpahi rahmat oleh Allah. Oleh sebab itu tebarkanlah kasih sayang kepada semua yang di bumi ini supaya dianugerahi kasih sayang oleh yang ada di langit.” (HR.Ahmad, Al Hakim, Abu Daud, Turmudzy)

Untuk menepis tuduhan ekstrimitas dari Islam, kita perlu menampilkan ajaran inti Islam dan menelusuri jejak perilaku Nabi, para sahabat dan tabi'in serta para pengikutnya yang benar-benar mengamalkan Islam secara konsisten sepanjang sejarah. Kalau kita menelusuri ajaran-ajaran Islam secara utuh, banyak sekali ayat atau hadits Nabi yang secara tersurat atau tersirat menyuruh kita untuk menebarkan rahmat ke seluruh alam ini dan menjauhkan semua bentuk ekstrimitas. Sebagai contoh:
1. Kita disuruh menebarkan kasih sayang antara sesama muslim:
“Seorang muslim adalah orang yang menjaga keselamatan muslim lainnya dari kejahatan tangan dan lisannya.”
“Tidaklah beriman seorang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya”.
“Tidaklah sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri
(HR.Ahmad dalam kitab Musnad)
2. Kita diperintahkan untuk menebarkan kasih sayang dan kebaikan kepada seluruh umat manusia termasuk non muslim:
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk tidak berbuat adil” (QS.Al Maidah:8)
“Sesungguhnya Allah menyuruh untuk berbuat adil dan berbuat baik” (QS.An Nahl:90)
3. Kita dianjurkan untuk menebarkan kasih sayang kepada binatang dan semua yang ada di muka bumi ini. Rasulullah SAW menyatakan:”Sesungguhnya Allah mencatat semua bentuk kebaikan yang diberikan kepada sesuatu apapun. Oleh sebab itu bila menyembelih binatang hendaklah menyembelihnya dengan baik-baik, meringankan beban binatang sembelihannya dan hendaknya mempertajam pisau yang akan digunakan.” (HR.Ahmad, Imam Muslim dan Imam yang Empat)

Islam adalah agama rahmah, penuh kasih sayang dan jauh dari sikap ekstrim dan melampaui batas. Hal ini bisa dilihat dari beberapa hal:
1. Sifat kasih sayang dijadikan Islam sebagai salah satu akhlak utama yang harus dimiliki setiap umat Islam.
2. Islam melarang keras umatnya untuk bersikap ekstrim, melakukan tindak kekerasan dan ta’assub buta.
3. Islam menyuruh kita untuk bertoleransi kepada non muslim, selama mereka tidak menampakkan permusuhan dan adu domba kepada kita.

Di samping itu, Islam dikenal sebagai agama mudah, moderat dan penuh kasih sayang, pemaaf, jauh dari sikap pendendam dan tidak membenarkan prinsip “tujuan menghalalkan segala cara”. Islam menyuruh kita semua untuk senantiasa berlapang dada, berperasaan halus, berakhlak mulia dan mau mendengarkan pendapat orang lain. Sikap dan prilaku ekstrim bertentangan dengan ajaran Islam yang moderat dan penuh kasih sayang.

Ada suatu fakta yang tak terbantahkan. Dalam suatu negara yang penduduknya mayoritas muslim, kita dapati non muslim hidup aman dan mendapat perlindungan optimal, ada yang menjadi pejabat tinggi bahkan ada yang bisa menjadi meteri dan lain sebagainya. Tapi sebaliknya, bila umat Islam sebagai minoritas, biasanya mereka tertindas dan diskriminatif. Hal ini telah terbukti di negara-negara yang mayoritas penduduknya non muslim. Benarlah firman Allah,”Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS.Al Baqoroh:120)

Wallahu a’lamu bis showab.

Dr. Achmad Satori

share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Khutbah Jum'at - Al-Quds dan Intifadhah Palestina
15-12-2017 Khutbah

AL-QUDS DAN INTIFADHAH PALESTINA   Oleh: Muhammad Syarief, Lc. dan ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Tentang Membaca dan Penciptaan Kita
02-06-2017 Khutbah

Khutbah Jum'at - Tentang Membaca dan Penciptaan Kita Oleh Inayatullah H ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Empat Amalan di Bulan Ramadhan
26-05-2017 Khutbah

EMPAT AMALAN DI BULAN RAMADHAN  Oleh Inayatullah Hasyim   اَ ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Ramadhan Sebagai Pengingat Perjalanan Usia
18-05-2017 Khutbah

RAMADHAN SEBAGAI PENGINGAT PERJALANAN USIA Oleh Inayatullah Hasyim   ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Meresapi Makna Pembelaan Islam Terhadap Al Quran
03-11-2016 Khutbah

Seri Khutbah Jum’at Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Wilayah DIY Edisi ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Memilih Pemimpin Muslim
27-10-2016 Khutbah

Seri Khutbah Jum’at Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Wilayah DIY Edisi ...

Baca Selengkapnya