Meneladani Keluarga Ibrahim As. Melalui Syi'ar Ibadah Haji Dan Ibadah Qurban (Khutbah Idul Adha 1440 H)

Dibuat Tanggal 09-08-2019

TEKS KHUTBAH IDUL ADHA 1440 H

OLEH: DR. H. ATABIK LUTHFI, LC, MA

 

 

MENELADANI KELUARGA IBRAHIM AS

MELALUI SYI'AR IBADAH HAJI DAN IBADAH QURBAN

 

الله أكبر  الله أكبر  الله أكبر

الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا اله الا الله وحده لا شريك له , له الملك وله الحمد يحيى ويميت وهو على كل شئ قدير. لااله الا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده. لا اله الا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون, ولو كره المشركون.لااله إلا الله ألله أكبر, الله أكبر ولله الحمد.

الحمد لله الذى جعل العيد يوما مباركا وجعل طاعتنا فيه تقربا وقربى. أشهد أن لا اله الا الله فالق الحب والنوى وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صاحب الصدق والوفاء. اللهم فصل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد,

 

 

Hadirin Hadirat Jama’ah Idul Adha yang senantiasa mengharapkan ridha Allah swt.

 

Alhamdulillah, merupakan satu kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada terhingga bahwa pada hari ini kita merayakan hari raya Idul Adha, hari raya terbesar umat Islam yang bersifat internasional, setelah dua bulan sebelumnya kita merayakan hari raya Idul Fithri. Pada hari ini sekitar tiga juta umat Islam dari beragam suku, bangsa dan ras serta dari berbagai tingkat sosial dan penjuru dunia berkumpul dan berbaur di kota suci Makkah Al-Mukarramah untuk memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah haji: "Dan serulah manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh". (Al-Hajj: 27)

 

Hari raya Idul Adha dikatakan sebagai hari raya istimewa karena dua ibadah agung dilaksanakan pada hari raya ini yang jatuh di penghujung tahun hijriyah, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Kedua-duanya disebut oleh Al-Qur'an sebagai salah satu dari syi'ar - syi'ar Allah SWT yang harus dihormati dan diagungkan oleh hamba-hambaNya. Bahkan mengagungkan syi'ar - syi'ar Allah merupakan pertanda dan bukti akan ketaqwaan seseorang seperti yang ditegaskan dalam firmanNya: "Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar - syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati". (Al-Hajj: 33) Atau menjadi jaminan akan kebaikan seseorang di mata Allah seperti yang diungkapkan secara korelatif pada ayat sebelumnya, "Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya". (Al-Hajj: 30)

 

Kedua ibadah agung ini yaitu ibadah haji dan ibadah qurban hanya mampu dilaksanakan dengan baik oleh mereka yang memiliki kedekatan dengan Allah yang merupakan makna lain dari hari raya ini: "Qurban" yang berasal dari kata "qaruba - qaribun" yang berarti "dekat". Jika posisi seseorang jauh dari Allah, maka dia tidak akan tergerak hatinya untuk memenuhi panggilan Allah, lebih baik bersenang-senang dengan hartanya daripada pergi ke Mekah menjalankan ibadah haji. Namun bagi hamba Allah yang memiliki kedekatan dengan Rabbnya dia akan mengatakan "Labbaik Allahumma Labbaik" - lebih baik aku memenuhi seruanMu ya Allah…Demikian juga dengan ibadah qurban. Seseorang yang jauh dari Allah tentu akan berat mengeluarkan hartanya untuk tujuan ini. Namun mereka yang posisinya dekat dengan Allah akan sangat mudah untuk mengorbankan segala yang dimilikinya semata-mata memenuhi perintah Allah swt.

 

Mencapai posisi dekat "Al-Qurban/Al-Qurbah" dengan Allah tentu bukan merupakan bawaan sejak lahir, atau dapat dicapai dengan ‘instan', melainkan melalui proses panjang ‘mujahadah' dalam menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah. Karena seringkali terjadi benturan antara keinginan diri (hawa nafsu) dengan keinginan Allah, dalam hal ini ibadah kepadaNya. Disinilah akan nyata keberpihakan seseorang apakah kepada Allah atau kepada selainNya. Sehingga pertanyaan dalam bentuk "muhasabah: evaluasi diri " dalam konteks ini adalah: "mampukan kita mengorbankan keinginan dan kesenangan kita karena kita sudah berpihak kepada Allah?…Sekali lagi, ibadah haji dan ibadah qurban merupakan gerbang mencapai kedekatan kita dengan Allah swt.

 

Allahu Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar WaliLLahil Hamd

 

Icon manusia yang sangat dekat dengan Allah yang karenanya diberi gelar ‘Khalilullah' (kekasih Allah) adalah Nabi Ibrahim as. Sosok Ibrahim dengan kedekatan dan kepatuhannya secara paripurna kepada Allah tampil sekaligus dalam dua ibadah di hari raya Idul Adha, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Dalam ibadah haji, peran nabi Ibrahim tidak bisa dilepaskan. Tercatat bahwa syariat ibadah ini sesungguhnya berawal dari panggilan nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah swt dalam firmanNya: "Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu mempersekutukan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' serta sujud. Dan kemudian serulah manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh". (Al-Hajj: 26-27).

 

Ibadah ini harus diawali dengan kesiapan seseorang untuk menanggalkan seluruh atribut dan tampilan luar yang mencerminkan kedudukan dan status sosialnya dengan hanya mengenakan dua helai kain ‘ihram' yang mencerminkan sikap tawadu' dan kesamaan antar seluruh manusia. Dengan pakaian sederhana ini, seseorang akan lebih mudah mengenal Allah karena dia sudah mengenal dirinya sendiri melalui ibadah wuquf di Arafah. Dengan penuh kekhusyu'an dan ketundukkan seseorang akan larut dalam dzikir, munajat dan taqarrub kepada Allah sehingga ia akan lebih siap menjalankan seluruh perintahNya setelah itu.

Dalam proses bimbingan spritual yang cukup panjang ini seseorang akan diuji pada hari berikutnya dengan melontar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap syetan dan terhadap setiap yang menghalangi kedekatan dengan Rabbnya. Kemudian segala aktifitas kehidupannya akan diarahkan untuk Allah, menuju Allah dan bersama Allah dalam ibadah thawaf keliling satu titik fokus yang bernama ka'bah, Baitullah. Titik kesatuan ini penting untuk mengingatkan arah dan tujuan hidup manusia: "katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam". (Al-An'am: 162). Akhirnya dengan modal keyakinan ini, seseorang akan giat berusaha dan berikhtiar untuk mencapai segala cita-cita dalam naungan ridha Allah swt dalam bentuk sa'i antara bukit shafa dan bukit marwah. Demikian ibadah haji sarat dengan pelajaran yang kembali ditampilkan oleh Ibrahim dan keluarganya.

 

Ma'asyiral muslimin wal muslimat rahimakumuLlah.

 

Dalam ibadah qurban, Nabi Ibrahim as kembali tampil sebagai manusia pertama yang mendapat ujian pengorbanan dari Allah swt. Ia harus menunjukkan ketaatannya yang totalitas dengan menyembelih putra kesayangannya yang dinanti kelahirannya sekian lama. "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (Ash-Shaffat: 102). Begitulah biasanya manusia akan diuji dengan apa yang paling ia cintai dalam hidupnya.

 

Andaikan Ibrahim manusia yang dha'if, tentu akan sulit untuk menentukan pilihan. Salah satu diantara dua yang memiliki keterikatan besar dalam hidupnya; Allah atau Isma'il. Berdasarkan rasio normal, boleh jadi Ibrahim akan lebih memilih Ismail dengan menyelamatkannya dan tanpa menghiraukan perintah Allah tersebut. Namun ternyata Ibrahim adalah sosok hamba pilihan Allah yang siap memenuhi segala perintahNya, dalam bentuk apapun. Ia tidak ingin cintanya kepada Allah memudar karena lebih mencintai putranya. Akhirnya ia memilih Allah dan mengorbankan Isma'il yang akhirnya menjadi syariat ibadah qurban bagi umat nabi Muhammad saw.

 

Dengan melihat keteladanan berqurban yang telah ditunjukkan oleh seorang Ibrahim, apapun Isma'il kita, apapun yang kita cintai, qurbankanlah manakala Allah menghendaki. Janganlah kecintaan terhadap isma'il - isma'il itu membuat kita lupa kepada Allah. Tentu, negeri ini sangat membutuhkan hadirnya sosok Ibrahim yang siap berbuat untuk kemaslahatan orang banyak meskipun harus mengorbankan apa yang dicintainya karena semangat berkurban hanya untuk kebaikan.

 

Hadirin Jama'ah Shalat Idul Adha yang berbahagia.

 

Keta'atan yang tidak kalah teguhnya dalam menjalankan perintah Allah adalah keta'atan seorang anak yang bernama Isma'il untuk menyempurnakan tugas ayahandanya. Pertanyaan besarnya adalah: kenapa Isma'il, seorang anak yang masih belia rela menyerahkan jiwanya?. Bagaimana Isma'il memiliki kepatuhan yang begitu tinggi?. Nabi Ibrahim senantiasa berdoa: "Tuhanku, anugerahkan kepadaku anak yang shalih (Ash-Shaffat: 100). Maka Allah mengkabukan doanya: "Kami beri kabar gembira kepada Ibrahim bahwa kelak dia akan mendapatkan ghulamun halim". (Ash-Shaffat: 101). Inilah rahasia kepatuhan Isma'il yang tidak lepas dari peran serta orang tuanya dalam proses bimbingan dan pendidikan. Sosok ghulamun halim dalam arti seorang yang santun, lembut yang mampu mengalahkan egonya tidak mungkin hadir begitu saja tanpa melalui proses pembinaan yang panjang. Sehingga dengan tegar Isma'il berkata kepada ayahandanya dengan satu kalimat yang indah: : "Wahai ayah, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah, niscaya ayah akan mendapatiku insya Allah termasuk orang-rang yang sabar". (Ash-Shaffat: 102)

 

Orang tua mana yang tak terharu dengan jawaban seorang anak yang ringan menjalankan perintah Allah yang dibebankan kepada pundak ayahandanya. Ayah mana yang tidak terharu melihat sosok anaknya yang begitu lembut hati dan perilakunya. Disinilah peri pentingnya pendidikan keagamaan bagi seorang anak semenjak mereka masih kecil lagi, jangan menunggu ketika mereka remaja apalagi dewasa. Sungguh keteladanan Ibrahim bisa dibaca dari bagaimana ia mendidik anaknya sehingga menjadi seorang yang berpredikat ‘ghulamun halim'.

 

Allahu Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar WaliLlahil Hamd

 

Hadirnya keluarga Ibrahim as secara kolektif menjadi contoh dalam dua syi'ar Allah yaitu ibadah haji dan ibadah kurban sejalan dengan pernyataan Allah swt di surah Ali Imran: 33

إن الله اصطفى ءادم ونوحا وءال إبراهيم وءال عمران على العالمين

Artinya: "Sesungguhnya Allah telah memilih Adam dan Nuh, serta keluarga Ibrahim dan keluarga Imran (teladan) atas seluruh semesta alam".

Dalam ayat ini, Allah menyebut Adam dan Nuh secara personal individual dan menyebut Ibrahim dan Imran secara kolektif dengan keluarga mereka berdua. Karena memang Keluarga Ibrahim dan keluarga Imran patut dijadikan contoh oleh semua keluarga. Berbeda dengan Nabi Adam dan Nuh yang justru mendapat ujian Allah melalui keluarganya. Anak nabi Adam Qabil malah membunuh saudaranya Habil. Sedangkan istri dan anak nabi Nuh memilih durhaka kepada Allah swt.

 

Dengan demikian, diantara makna Idul Adha yang harus dihadirkan adalah semangat meneladani Ibrahim as dalam membina keluarga yang patuh dan taat kepada Allah dengan melakukan kaderisasi iman kepada anak dan keluarga kita. Sungguh sebuah pelajaran yang sangat berharga dari nabi Ibrahim as yang mampu menjadi pionir dalam mengagungkan dua  syi'ar Allah swt, ibadah haji dan ibadah kurban. Semoga kita termasuk keluarga yang diberi kekuatan dan kemudahan oleh Allah swt untuk dapat menjalankan kedua ibadah agung tersebut dengan sebaik-baiknya. Amiin

 

 

الله أكبر  الله أكبر  الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

 

Hadirin wal Hadirat jama’ah shalat Idul Adha yang berbahagia

 

Marilah kita sejenak menundukkan hati, bermunajat kepada Allah swt di hari yang mulia ini. Kita doakan orang tua kita, anak-anak kita, keluarga dan kerabat kita, saudara-saudara dekat dan saudara-saudara jauh kita, serta bangsa yang kita cintai ini. Mudah-mudahan senantiasa dalam perlindungan dan pertolongan Allah swt.

 

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين حمدا يوافى نعمه ويكافئ مزيده ياربنا لك الحمد كما ينبغى لجلال وجهك الكريم وعظيم سلطانك . اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. اللهم اغفرلنا ذنوبنا وكفر عنا سيئاتنا وتوفنا مع الأبرار.  اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات برحمتك يا أرحم الراحمين.

share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Belajar Cinta dari Nabi Ibrahim as. (Khutbah Idul Adha 1440 H)
09-08-2019 Khutbah

Belajar Cinta dari Nabi Ibrahim as.  (Khutbah Idul Adha 1440 H) Oleh: DR. H. Ahm ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Al-Quds dan Intifadhah Palestina
15-12-2017 Khutbah

AL-QUDS DAN INTIFADHAH PALESTINA   Oleh: Muhammad Syarief, Lc. dan ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Tentang Membaca dan Penciptaan Kita
02-06-2017 Khutbah

Khutbah Jum'at - Tentang Membaca dan Penciptaan Kita Oleh Inayatullah H ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Empat Amalan di Bulan Ramadhan
26-05-2017 Khutbah

EMPAT AMALAN DI BULAN RAMADHAN  Oleh Inayatullah Hasyim   اَ ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Ramadhan Sebagai Pengingat Perjalanan Usia
18-05-2017 Khutbah

RAMADHAN SEBAGAI PENGINGAT PERJALANAN USIA Oleh Inayatullah Hasyim   ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Meresapi Makna Pembelaan Islam Terhadap Al Quran
03-11-2016 Khutbah

Seri Khutbah Jum’at Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Wilayah DIY Edisi ...

Baca Selengkapnya