Mencari Pemimpin Yang Adil

Dibuat Tanggal 27-05-2008

Tentang kepemimpinan ideal dan bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan rakyatnya, Rasulullah saw bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ :
1- إِمَامٌ عَادِلٌ
2- وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ
3- وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ
4- وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ
5- وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ
6- وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
7- وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاه (رواه البخاري)
Dari Abi Hurairah, dari Nabi saw bersabda : “ Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada tempat bernaung kecuali dengan naungan-Nya :
1. Pemimpin yang adil
2. Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Tuhannya
3. Seseorang yang hatinya selalu tertambat dengan masjid
4. Dua orang yang saling mencinta karena Allah; mereka bertemu dan berpisah hanya karena-Nya.
5. Seorang laki-laki yang diajak (berbuat mesum) oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan lagi cantik, lalu laki-laki tersebut menolak dan berkata: "saya takut kepada Allah"
6. Seseorang mengeluarkan sedekah secara sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.
7. Seseorang yang berdzikir kepada Allah dengan menyendiri, lalu air matanya mengucur.

Hadits di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa pemimpin yang harus kita cari adalah pemimpin yang adil, yang dalam Al Qur’an dicirikan sebagai pemimpin yang shaleh, memiliki ketangguhan fisik, keluasan ilmu, bekerja profesional dan amanah. Allah swt berfirman :
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ (الأنبياء : 105)
“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur (seluruh kitab yang diturunkan kepada nabi-Nya), sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shaleh” (Al Anbiya’ : 105)

Allah berfirman :
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (البقرة : 247)
Nabi mereka mengatakan kepada mereka : “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab : “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) berkata : “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui” (Al Baqarah : 247)
Dengan kriteria di atas, diharapkan mereka mampu menjalankan program-program sebagai berikut :
a. Mampu menegakkan keadilan terhadap rakyat, tidak mendzalimi mereka
b. Menyebarkan rasa aman dan damai
c. Menyediakan kebutuhan hajat hidup orang banyak
d. Memanfaatkan potensi SDA untuk kesejahteraan rakyat

Terpilihnya pemimpin yang adil menurut hadits di atas akan membawa dampak positif buat rakyatnya. Suasana masyarakat yang tercipta bersama pemimpin yang adil menurut hadits di atas antara lain :

1. Tumbuhnya generasi muda dalam lingkungan ibadah. Dalam hadits di atas disebutkan : وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّه ( Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Tuhannya ). Para pemudanya terpacu untuk melakukan hal-hal produktif dengan orientasi ibadah. Negara tidak dibuat pusing karena banyaknya pelajar yang tawuran, mabuk-mabukkan, narkoba, dan perbuatan negatif lainnya..
2. Menciptakan masyarakat yang cinta masjid (وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ )
Pemimpin yang adil mendorong rakyatnya untuk menjadikan masjid sebagai sentra kegiatan. Di sana mereka mengkaji ayat-ayat Allah untuk mereka implementasikan buat memakmurkan bumi. Mereka tidak menghabiskan waktu mereka di kafe-kafe, klub malam dan sebagainya
3. Terbinanya hubungan sosial yang berlandaskan prinsip saling mahabbah, (cinta);
( وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ )
Dalam Islam hubungan antar masyarakat diukur dengan kedekatan atau jauhnya seseorang dengan Allah swt. Maka seorang muslim harus mencintai kerabatnya karena kerabatnya mencintai Allah dan menaati perintah-Nya. Dan dia tidak boleh mendukung sahabatnya jika mereka tidak menaati perintah Allah. Hidup masyarakat muslim bukan berprinsip kepada slogan oportunis; ada uang abang disayang, tidak ada uang abang melayang. Prinsip oportunis ini akan membuat orang selalu terinspirasi untuk mengumpulkan uang dengan cara apapun demi mendapatkan kehormatan di tengah masyarakatnya.

4. Terciptanya masyarakat anti pornografi
) وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ )
Pemimpin yang adil peduli dengan moral anak bangsanya. Di antara agenda pemimpin yang adil yang diisyaratkan oleh Rasulullah adalah menata hubungan antar lawan jenis sesuai syariat; dan menolak setiap tindakan yang dapat mengundang kepada perbuatan zina. Pornografi, pornoaksi dan seks bebas adalah di antara PR besar pemimpin kita ke depan.

5. Terciptanya masyarakat yang suka berkorban dan empati terhadap yang lemah
)وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُه )
Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang mau berkorban buat kemaslahaan bangsanya. Pemimpin seperti ini pasti akan diikuti oleh rakyatnya. Mereka pasti rela berkorban untuk kemaslahatan bersama. Tetapi jika pemimpin hanya berkorban dalam jargon, maka masyarakat akan bersikap sinis dan apatis.

6. Terciptanya masyarakat yang gemar beribadah dalam keheningan
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاه
Masyarakat bersih, yang saling mencinta hanya karena Allah, menjadikan masjid sebagai sentra kegiatan, menolak pornografi, dan suka berinfaq akan membuat hati mereka bersih, mudah menyimak dan menyerap pesan-pesan Allah, sehingga mata mereka mudah mengucurkan air mata. Sebaliknya lingkungan yang kotor akan berdampak kepada hati, sehingga menjadi keras dan susah mengeluarkan air mata.

Mudah-mudahan pilkada dan pemilu kelak dapat kita jadikan ajang untuk beribadah buat memilih pemimpin yang mendekati kriteria yang diisyaratkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Karenanya, suara kita harus kita jatuhkan kepada sasaran yang tepat. (Harjani Hefni)

share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Meneladani Keluarga Ibrahim As. Melalui Syi'ar Ibadah Haji Dan Ibadah Qurban (Khutbah Idul Adha 1440 H)
09-08-2019 Khutbah

TEKS KHUTBAH IDUL ADHA 1440 H OLEH: DR. H. ATABIK LUTHFI, LC, MA     MENE ...

Baca Selengkapnya

Belajar Cinta dari Nabi Ibrahim as. (Khutbah Idul Adha 1440 H)
09-08-2019 Khutbah

Belajar Cinta dari Nabi Ibrahim as.  (Khutbah Idul Adha 1440 H) Oleh: DR. H. Ahm ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Al-Quds dan Intifadhah Palestina
15-12-2017 Khutbah

AL-QUDS DAN INTIFADHAH PALESTINA   Oleh: Muhammad Syarief, Lc. dan ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Tentang Membaca dan Penciptaan Kita
02-06-2017 Khutbah

Khutbah Jum'at - Tentang Membaca dan Penciptaan Kita Oleh Inayatullah H ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Empat Amalan di Bulan Ramadhan
26-05-2017 Khutbah

EMPAT AMALAN DI BULAN RAMADHAN  Oleh Inayatullah Hasyim   اَ ...

Baca Selengkapnya

Khutbah Jum'at - Ramadhan Sebagai Pengingat Perjalanan Usia
18-05-2017 Khutbah

RAMADHAN SEBAGAI PENGINGAT PERJALANAN USIA Oleh Inayatullah Hasyim   ...

Baca Selengkapnya