MEMPEKERJAKAN ITU MULIA, 'PERBUDAKAN' ITU TERCELA

Dibuat Tanggal 04-02-2022

MEMPEKERJAKAN ITU MULIA, 'PERBUDAKAN' ITU TERCELA

 

Oleh: Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, MA

Ketua Umum IKADI, Dosen Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Pimpinan Pondok Pesantren YAPIDH Bekasi

 

Di dalam Islam, bekerja mencari nafkah merupakan amal shalih yang pahalanya sangat besar. Harta hasil dari bekerja, apa pun pekerjaannya selama halal, untuk menafkahi keluarga; isteri dan anak, pahalanya bahkan bisa mengalahkan harta yang dikeluarkan dalam jihad di jalan Allah, memerdekakan budak dan membantu orang miskin.

Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya,

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

"Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau infakkan/keluarkan untuk memerdekakan seorang  budak, lalu satu dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin serta dibandingkan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah (harta) yang engkau nafkahkan untuk keluargamu (dibanding dengan amal kebaikan yang lain tadi)" (HR Muslim, no  995).

Berdasarkan hadits ini, maka memberikan pekerjaan yang halal atau menyiapkan lapangan kerja bagi orang lain sehingga dapat menafkahi keluarga adalah perbuatan mulia. Sementara mempekerjakan seseorang tanpa upah adalah sebuah kezhaliman dan termasuk perbuatan tercela. Karena itu, dugaan praktik perbudakan modern yang terjadi di sebuah tempat di Kabupaten Langkat seperti diberitakan oleh berbagai media, bahwa para korbannya dipekerjakan di pabrik sawit tanpa diberi upah selama bertahun-tahun dan mereka mendapat penyiksaan dan dimasukkan ke krangkeng, jika hal ini benar terjadi, maka perbuatan ini termasuk dalam katagori kezhaliman yang merupakan Kabaair, dosa besar.

Islam telah menetapkan pedoman dan panduan dalam mempekerjakan seseorang sehingga bisa dipedomani oleh majikan dan pekerja.

Di antaranya;

Pertama: Perlu kesepakatan kedua belah pihak terhadap akad kerja.

Sehingga dari awal semua hal jelas, apa kewajiban dan hak majikan dan pekerja.

Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW,

وَالْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا 

"Dan kaum Muslimin harus memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati kecuali syarat yang mengharamkan suatu yang halal atau menghalalkan suatu yang haram" (HR Abu Dawud, no. 3594, Imam Ahmad II/366). 

Termasuk disepakati tentang besaran upah atau gajinya.

Kedua: Memberikan upah/gaji tepat waktu dan tidak menunda-nunda setelah pekerja menyelesaikan tugasnya. Inilah perintah dan instruksi Nabi SAW dengan sabdanya,

أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

“Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah).

Ketika menjelaskan hadits ini, Imam Al Munawi berkata, “Diharamkan menunda pemberian gaji padahal mampu menunaikannya tepat waktu. Yang dimaksud memberikan gaji sebelum keringat si pekerja kering adalah ungkapan untuk menunjukkan diperintahkannya memberikan gaji setelah pekerjaan itu selesai ketika si pekerja meminta walau keringatnya tidak kering atau keringatnya telah kering.” ( Faidhul Qodir, I/718).

Menunda pemberian gaji kepada pegawai padahal mampu termasuk kezholiman sebagaimana sabda Nabi SAW,

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

“Menunda penunaian kewajiban (bagi yang mampu) termasuk kezholiman” (HR. Bukhari no. 2400 dan Muslim no. 1564).

Dengan demikian, mempekerjakan banyak orang di pabrik sawit tanpa diberi upah selama bertahun-tahun, bahkan mereka mendapat penyiksaan dan dimasukkan ke krangkeng, sekali lagi jika hal ini benar, maka jelas ini adalah perbudakan modern yang merupakan kezhaliman besar yang harus dicegah dan tidak boleh terjadi lagi di kemudian hari, pelakunya wajib diberikan sanksi. Wallahu a'lam bish showab.

 

share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Download Khutbah Ied
27-08-2011 Artikel

Khutbah Iedul Fithri 1432H Syarat Kebangkitan Bangsa Menurut al-Qur'an  - Muham ...

Baca Selengkapnya