Membangun Kontrol Internal dari Madrasah Ramadhan

Dibuat Tanggal 09-07-2013

Hakikat Puasa

Ramadhan adalah madrasah akhlak dan perilaku. Selama satu bulan jiwa dan raga Muslim dibina dan ditempa dalam momen pembinaan Ilahi ini. Berbagai ibadah Ramadhan menjadi sarana pembinaan menuju pribadi Muslim mulia. Sejatinya, berpuasa tidak hanya untuk menahan lapar dan dahaga, namun menahan dari segala sesuatu yang dilarang Allah SWT. Perbuatan yang mubah dilakukan di luar Ramadhan seperti makan, minum dan hubungan intim suami isteri menjadi haram dilakukan ketika siang Ramadhan, bagaimana dengan perbuatan yang memang pada dasarnya tidak boleh dilakukan? Rasulullah Saw. pernah memberikan gambaran tentang hakikat puasa dalam sabdanya: “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah SWT. tidak berkepentingan ketika ia meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Bukhari).

 

Begitulah Rasul Saw. menetapkan standar penilaian puasa; mengaitkan puasa makan dan minum dengan perbuatan dan perilaku. Puasa yang baik mampu memberikan pengaruh positif terhadap prilaku dan moralitas seseorang. Puasa yang baik ketika seseorang mampu merealisasikan spirit puasa dalam perkataan dan perbuatannya.

 

Tidak sedikit orang yang berpuasa namun belum bisa merealisasikan hakikat puasa yang sebenarnya. Sehingga puasa dan ibadah Ramadhan yang dilakukan tidak memberikan pengaruh positif terhadap prilakunya. Rasulullah Saw mewanti-wanti kondisi seperti ini. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Rasulullah Saw. bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapat lapar dan dahaga, dan berapa banyak orang yang melakukan qiyamullail namun hanya menahan tidurnya”. (HR. Ibnu Majah).

 

 

Kontrol Internal dan Pembangunan Akhlak

Kontrol internal individu atau bisa disebut sebagai keimanan dan ketakwaan adalah modal mendasar dan utama bagi proses pendidikan akhlak. Kontrol internal ini bisa melahirkan kekuatan jiwa yang bersifat ekspansif dan defensif sekaligus. Kekuatan ekspansif mendorongnya untuk melakukan dan menebar kebaikan seluas-luasnya. Dan kekuatan defensif mencegah dirinya dari perbuatan buruk yang merugikan.

 

Kontrol internal dari dalam jiwa memiliki peran yang menentukan eksistensi kesalehan dirinya. Dengan kontrol ini seorang Muslim diharapkan mampu eksis dalam kebaikan dan kebenaran. Kontrol internal ini utama. Adapun kontrol eksternal yang datang dari luar berperan sebagai pendukung. Kontrol internal selama berlandaskan kepada keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. bersifat langgeng, kapan dan di mana saja. Namun tidak demikian kontrol eksternal, karena ia tidak luput dari kelengahan dan kekeliruan. Kontrol eksternal bisa dalam bentuk kontrol sosial, hukum dan seterusnya. Seorang pencuri mungkin takut mencuri ketika ada polisi, namun polisi tidak selalu ada di mana-mana. Berbeda dengan kontrol internal individu, ia ada kapan dan di mana seseorang berada.

 

Selama Ramadhan seorang Muslim dididik agar menjadi pribadi yang bertakwa. Puasa, sholat wajib dan nawafil, tilawah, sedekah dan sebagainya, semuanya mengarah kepada tujuan la’allakum tattaquun. Takut kepada Allah SWT. Puasa mengajarkan seseorang untuk menahan makan dan minum serta segala yang membatalkan berdasarkan rasa takut kepada Allah SWT., yang berfungsi sebagai kontrol internal bagi Muslim. Bisa saja tanpa takut kepada Allah SWT. seseorang membatalkan puasanya tanpa diketahui orang lain.

 

Sholat sebagai sarana komunikasi seorang Muslim kepada Sang Rabb, menjadikan keimanan bersemai dalam dirinya. Iman kepada Allah SWT. menjadi modal utama bagi Muslim untuk menumbuhkan kontrol internal individu. Sehingga diharapkan sholat yang dilakukan mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar. Allah SWT. berfirman:  “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Ankabuut: 45).

 

Selanjutnya, selama satu bulan seorang Muslim dilatih untuk menjadi pribadi yang bertakwa. Latihan dan pembiasaan ini diharapkan berdampak mewarnai perilaku dan kondisi Muslim pada waktu-waktu selain Ramadhan. Seorang Muslim secara total adalah hamba Allah SWT., tunduk dan patuh kepadaNya baik di dalam maupun di luar Ramadhan. Bukan hambaNya ketika di Ramadhan saja. Bukan hamba ramadhani tetapi hamba rabbani  Dengan pembiasaan dan latihan selama sebulan diharapkan nilai-nilai Ramadhan mampu mewarnai sebelas bulan lainnya.

 

Kontrol internal yang kokoh dalam diri seseorang menjadi faktor terpenting bagi kesalehan masyarakat. Bila individu-individu dalam sebuah masyarakat memilki kontrol internal yang kokoh dalam dirinya, maka akan terbangun masyarakat yang saleh. Pribadi yang memiliki kontrol internal yang kokoh dan terbiasa berbuat kebaikan adalah aset sangat berharga bagi masyarakat. Pribadi demikian sangat berpotensi menjadi problem solver bagi berbagai permasalahan di masyarakat.

 

Baik dalam hubungan sosial masyarakat adalah salah satu capaian yang diharapkan dari berbagai ibadah mahdhah yang disyariatkan. Ia bisa menjadi indikator keberhasilan ibadah mahdhah yang dilakukan. Seorang yang baik dalam ibadah mahdhah akan baik pula secara hubungan sosial, minimal tidak menjadi trouble maker di masyarakatnya. Jika ada orang yang senantiasa melakukan ibadah mahdhah tetapi tidak baik secara hubungan sosial, maka dipastikan ada “yang tidak beres” dalam melaksanakan ibadah tersebut.

 

Sebuah kisah dan penjelasan Rasulullah Saw. mengisyaratkan hal ini. “Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah Saw.: Wahai Rasulullah Saw. ada seorang perempuan yang dikenal sering melakukan sholat, puasa dan sedekah, tetapi dia menyakiti tetangganya dengan lisannya. Maka Rasulullah Saw. bersabda: dia masuk Neraka. Kemudian laki-laki itu berkata: Wahai Rasulullah Saw. ada seorang perempuan dikenal sedikit melakukan sholat, puasa dan bersedekah dengan sedikit susu, tetapi dia tidak menyekiti tetangganya. Rasulullah Saw. bersabda: dia masuk Surga”. (HR. Ahmad).

 

Problematika sosial dengan berbagai bentuknya seperti krisis moralitas, krisis identitas, kriminalistas dan lain sebagainya, merajalela disebabkan diantaranya karena tidak ada kontrol internal individu dan pembiasaan untuk menghindari perilaku tidak baik. Pribadi yang memiliki kontrol internal individu yang kokoh dan biasa berbuat baik mampu menebar manfaat bagi sesame dan sosialnya. Jika sebagai anggota masyarakat, ia menjaga stabilitas sosialnya, menjalin hubungan baik dengan sesama, dan jauh dari sikap menzalimi orang lain. Dan jika sebagai pemimpin, kepemimpinannya akan membawa manfaat dan kebaikan bagi masyarakat dan rakyatnya. Wallahu a’lam. 

 

Ahmad Yani, MA.

(Buletin Tafakkur Edisi 26 Th.IX)
share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Ramadhan Bulan Bercermin
06-05-2018 Tafakkur

Ramadhan merupakan salah satu sarana dan momentum istimewa bagi setiap mukmin atau m ...

Baca Selengkapnya

Langkah Ke Depan Alumni Ramadhan
12-07-2017 Tafakkur

Puasa pada bulan Ramadhan, bila ditunaikan dengan memenuhi syarat dan rukun serta me ...

Baca Selengkapnya

Selembar Kertas Kehidupan
24-08-2016 Tafakkur

Selembar Kertas Kehidupan Oleh: Inayatullah Hasyim* Ketika tamat seko ...

Baca Selengkapnya

AL-MUKHLISHIN DAN AL-MUKHLASHIN
19-08-2016 Tafakkur

AL-MUKHLISHIN DAN AL-MUKHLASHIN المخلِصين dan المخلَصين ...

Baca Selengkapnya

Dekat Dengan Allah, Kunci Segalanya
27-07-2016 Tafakkur

Seseorang boleh saja berkata, “Saya telah menemukan kebahagiaan sejati setelah ...

Baca Selengkapnya

Amaliah Bulan Sya’ban
12-05-2016 Tafakkur

“Bulan Sya’ban adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, bulan antara R ...

Baca Selengkapnya