Keistimewaan Hari Arafah

Dibuat Tanggal 31-10-2011
Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini jelas sekali menunjukkan keutamaan hari Arafah”. (Syarah Shahih Muslim 9/125). Oleh karena itu, tidak aneh jika kaum muslimin yang tidak wukuf di Arafah disyariatkan berpuasa satu hari Arafah ini, dengan janji keutamaan yang sangat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa satu hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya. Puasa hari ‘Asyura’ (tanggal 10 Muharram), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim, no 1162).
Hari Arafah sebagai hari disempurnakannya dien dan dicukupkan nikmat. Dalam Shahihain, dari Umar bin Khathab radliyallah 'anhu, ada seorang laki-laki Yahudi berkata kepadanya: "wahai amirul mukminin, ada satu ayat dalam kitab kalian yang kalian baca, kalau ayat itu diturunkan kepada kami, orang-orang Yahudi, pasti kami menjadikan hari diturunkannya itu sebagai hari raya." Umar radliyallah 'anhu bertanya: "ayat yang mana itu?" Dia menjawab:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al-Maidah: 3). Umar menjawab: "kami mengetahui hari dan tempat diturunkannya  ayat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, pada saat itu beliau berada di Arafah pada hari Jum'at."
Pada hari Arafah juga Allah SWT. mengambil perjanjian atas keturunan Nabi Adam. Dari Ibnu Abbbas radliyallah 'anhuma berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "sesungguhnya Allah SWT. telah mengambil perjanjian anak turun Adam pada hari Arafah. Allah mengeluarkan keturunannya dari sulbinya dan meletakkan di tangan-Nya, mereka laksana semut-semut kecil, kemudian Allah berbicara kepada mereka, "bukankah aku ini Tuhan kalian." Mereka menjawab: "benar, kami menjadi saksi." "Agar kalian pada hari kiamat tidak berkata, 'Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)' atau agar kalian tidak berkata, 'Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?'." (QS. Al-A'raf: 172-173). (HR. Imam Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani).
 
 
share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Islam adalah Agama Privat dan Publik
10-03-2017 Kajian

Paham konvensional sekolompok umat Islam, bahwa Islam adalah agama privat, tidak ada ...

Baca Selengkapnya

Fadhilah Dan Doa Hari Arafah
09-09-2016 Kajian

Baginda Sayyiduna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang ...

Baca Selengkapnya

Pembekalan Yang Efektif (Tadabbur QS. Al-Muzammil)
08-08-2016 Kajian

Tadabbur QS. Al-Muzammil PEMBEKALAN YANG EFEKTIF* Dr. Saiful Bahri, M.A** ...

Baca Selengkapnya

Hukum Menyerahkan Kekuasaan Kepada Orang Kafir
31-03-2016 Kajian

Islam dan Batasan Toleransi Pada hakekatnya Islam sangat mengajarka ...

Baca Selengkapnya

Tragedi Pembagian Palestina 29 Nopember 1947
26-11-2015 Kajian

Meneropong Tragedi Pembagian Palestina, 29 Nopember ‘47   Pe ...

Baca Selengkapnya

Ciri Umat Pertengahan
21-08-2015 Kajian

oleh : Samson Rahman, MA   Sebuah kehormatan bagi umat Islam, kare ...

Baca Selengkapnya