I'tikaf Terapi Jiwa

Dibuat Tanggal 16-08-2011
Permasalahan dan urusan yang menyita pikiran dan tenaga kita juga demikian, kita memerlukan waktu jeda untuk dapat mendinginkan kembali pikiran dan hati kita, kita memerlukan saat-saat yang tenang dan hati yang damai dan khusyu' untuk mengatasi masalah yang kita hadapi.

Kalau shalat menjadi terapi untuk mengatasi masalah yang bersifat harian, maka untuk mengatasi masalah-masalah kita yang begitu besar dan sifatnya menahun bahkan tak kunjung selesai, maka kita memerlukan jeda waktu yang juga besar untuk dapat menyelesaikannya, maka I'tikaf menjadi terapi yang luar biasa untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

Dengan syariat I'tikaf inilah kita melepaskan gelas panas atau masalah yang kita hadapi sepanjang tahun yang kita lalui, yaitu dengan mendekatkan diri kepada Allah dengan sepenuh hati kepada-Nya, karena tidak ada yang lebih besar dari masalah itu kecuali Allah, amat mudah dan kecil bagi Allah untuk menyelesaikan permasalahan hamba-hamba-Nya, dan itu perlu kedekatan seorang hamba kepada Allah yang luar biasa pula, sehingga Allah mau memberikan solusi atas permasalahan yang ia hadapi.

Tepatlah ungkapan Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zaadul Ma'aad: "Kusutnya hati tidak akan dapat sembuh kecuali dengan menghadapkannya kepada Allah SWT, sedangkan makan, minum dan bergaul yang berlebih-lebihan, terlalu banyak bicara dan tidur, termasuk dari unsur-unsur yang menjadikan hati bertambah berantakan, dan hal-hal tersebut akan memutuskan perjalanan hati menuju Allah atau akan melemahkan, menghalangi dan menghentikannya. Rahmat Allah Yang Maha Perkasa lagi Penyayang mensyariatkan bagi mereka berpuasa yang bisa membersihkan kecenderungan syahwat pada hati yang dapat merintangi perjalanan hati menuju Allah. I’tikaf disyariatkan dengan tujuan agar hati beri’tikaf dan bersimpuh di hadapan Allah, berkhalwat dengan-Nya, serta memutuskan hubungan sementara dengan sesama makhluk dan berkonsentrasi sepenuhnya kepada Allah."

Maka dengan melaksanakan I'tikaf, diharapkan seorang dapat seperti menaiki anak tangga yang dari waktu ke waktu semakin dekat kepada-Nya.

Rasulullah SAW sangat menganjurkan I'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Inilah waktu yang baik bagi kita untuk bermuhasabah dan taqarub secara penuh kepada Allah SWT.

Para ulama sepakat bahwa i’tikaf, khususnya 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, adalah ibadah yang disunahkan oleh Rasulullah SAW. Beliau sendiri melakukanya 10 hari penuh di bulan Ramadhan. Ummul Mukminin Aisyah, Umar bin Khattab, dan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhum menegaskan hal itu, “Rasulullah SAW beri’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan, pada tahun wafatnya, Rasulullah SAW beri’tikaf selama 20 hari. Serta sepeninggal beliau para sahabat, bahkan istri-istri Rasulullah SAW selalu melaksanakan ibadah ini. Sehingga Imam Ahmad berkata, “Sepengetahuan saya tak seorang ulama pun mengatakan i’tikaf bukan sunnah.”

Kalau Rasulullah, istri-istrinya  dan para sahabatnya selalu melaksanakan ibadah ini, yang mana mereka telah mendapat jaminan dari Allah untuk masuk surga, bahkan keimanan dan ketakwaan mereka sungguh jauh di atas kita, maka di manakah kita? Di saat tidak ada yang menjamin kita dapat masuk surga dengan amal kita, bahkan belum ada amalan terbaik kita yang membuat kita telah dicintai oleh Allah, maka apa lagi yang mau kita jadikan amalan utama untuk mencium wanginya aroma surga dan bertemu dengan Allah kelak? Semoga dengan I'tikaf yang kita niatkan ikhlas karena Allah untuk kita laksanakan tahun ini menjadi titik tolak kita meraih ampunan dan kasih sayang Allah.

Untuk menjadikan I'tikaf kita lebih bermakna dan optimal maka setidaknya ada beberapa hal yang perlu menjadi fokus Ibadah kita selama I'tikaf.

Pertama, Berniat I'tikaf karena Allah. Niat ini menjadi penting, karena ketika kita telah menamankan tekat untuk beri'tikaf karena Allah, maka kita berusaha untuk selalu berdiam diri di masjid walaupun banyak godaan dan kesibukan yang kita hadapi, niat dan tekad yang lemah akan membuat I'tikaf hanya dilakukan sesempatnya saja.

Kedua, Selalu berupaya untuk berdiam diri di dalam masjid dengan memperbanyak berzikir secara khusyu', memperbanyak membaca tahlil, tasbih, tahmid, sholawat kepada Rasulullah SAW. Zikir dengan membaca tahlil, tasbih, tahmid dan sholawat ini hendaklah dilakukan dengan penuh penghayatan ma'nanya di dalam hati, sehingga memberikan pengaruh yang besar di dalam jiwa, dan terciptalah kekhusyu'an.

Ketiga, Memperbanyak membaca Al-Qur'an. Pada tahun terakhir Rasulullah diwafatkan oleh Allah, malaikat Jibril datang kepada Rasulullah dan menyima' bacaan Al-Quran Rasulullah hingga 2 kali pada bulan ramadhan. Maka saat I'tikaf adalah saat yang tepat untuk mengkhatamkan bacaan Al-Quran kita, terlebih lagi moment bulan ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Quran. Maka Al-Quran harus menjadi prioritas yang harus didengungkan oleh orang-orang yang beriman pada bulan ramadhan.

Keempat, Memperbanyak sholat malam (qiyamullail) baik dilakukan secara sendiri-sendiri atau berjamaah. Qiyamullail yang dilakukan ini akan lebih terasa kesungguhannya jika dilakukan dengan pengharapan ingin mendapatkan Lailatul Qadr, maka jika selama 10 malam terakhir ramadhan itu seseorang melakukan sholat malam dengan sungguh-sungguh dan tidak melewatkan satu malampun insya Allah malam lailatul qadr itu ia dapatkan, jika ia mendapatkan malam ini maka berbahagialah, karena kebaikan ibadah yang telah ia lakukan itu mendapatkan kebaikan lebih baik dari seribu bulan beribadah.

Kelima, Berdoa. Dalam surat Al-Baqorah ayat 186 Allah berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat petunjuk.”

Ayat ini merupakan satu kesatuan dalam ayat-ayat yang membahas masalah puasa di dalam Al-Quran, yaitu dari ayat 183 sampai 187 surat Al-Baqoroh, ini menunjukkan erat hubungannya antara puasa (ayat 183) dengan membaca Al-Quran (ayat 185) dan dengan I'tikaf (ayat 187).

Sehingga dapat diambil Istinbath (kesimpulan) bahwa antara puasa, membaca Al-Quran, berdoa dan beri'tikaf memiliki hubungan yang kuat dan satu kesatuan yang saling beirisan untuk menjadi orang yang bertakwa (2:183), untuk menjadi orang yang bersyukur (2:185), untuk menjadi orang yang mendapat petunjuk (2:186) dan di tutup kembali dengan harapan agar mereka menjadi orang-orang yang bertakwa (2:187).

Semoga Allah melapangkan dada kita untuk dapat melaksanakan I'tikaf mengikuti sunnah Rasulullah SAW  dan dapat meraih lailatul qadr. Amiin ya rabbal aalamin.

Wallahu a'lam bishowab

Oleh H. Zulhamdi M. Saad, Lc

share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Ramadhan Bulan Bercermin
06-05-2018 Tafakkur

Ramadhan merupakan salah satu sarana dan momentum istimewa bagi setiap mukmin atau m ...

Baca Selengkapnya

Langkah Ke Depan Alumni Ramadhan
12-07-2017 Tafakkur

Puasa pada bulan Ramadhan, bila ditunaikan dengan memenuhi syarat dan rukun serta me ...

Baca Selengkapnya

Selembar Kertas Kehidupan
24-08-2016 Tafakkur

Selembar Kertas Kehidupan Oleh: Inayatullah Hasyim* Ketika tamat seko ...

Baca Selengkapnya

AL-MUKHLISHIN DAN AL-MUKHLASHIN
19-08-2016 Tafakkur

AL-MUKHLISHIN DAN AL-MUKHLASHIN المخلِصين dan المخلَصين ...

Baca Selengkapnya

Dekat Dengan Allah, Kunci Segalanya
27-07-2016 Tafakkur

Seseorang boleh saja berkata, “Saya telah menemukan kebahagiaan sejati setelah ...

Baca Selengkapnya

Amaliah Bulan Sya’ban
12-05-2016 Tafakkur

“Bulan Sya’ban adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, bulan antara R ...

Baca Selengkapnya