IKADI Dorong Para Dai Berbisnis

Dibuat Tanggal 11-07-2011

Dia menceritakan kepada anggota Ikadi bahwa Rasulullah juga berdagang. Hasil dagangnya digunakan untuk kepentingan dakwah Islam. Para pengikutnya juga melakukan hal yang sama. Saat itu, umat Islam akhirnya memiliki sumber keuangan sendiri yang tidak bergantung kepada kaum kafir. Satori menyatakan, Ikadi harus mampu melakukan seperti yang dicontohkan Nabi.

Kehadiran Islam di Indonesia juga menunjukkan semangat kemandirian berekonomi. Para pembawa Islam berasal dari kalangan pedagang. Mereka mendapatkan keuntungan duniawi yang digunakan untuk kepentingan berdakwah. Mereka berdagang sekaligus menyebarkan Islam. "Karena itulah Islam dikenal sebagai penyemangat kewirausahaan," ujar Satori.

Satori berpesan agar dai pebisnis mampu berdakwah lebih optimal ketimbang dai biasa yang hidup bergantung pada penghasilan berceramah. Ikadi menginginkan bisa mencetak dai yang mampu membangun ekonomi umat dan tidak bergantung pada jamaahnya. "Bahkan, bila perlu jamaahnya dihidupkan oleh sang dai," kata Satori.

Sejumlah pesantren yang didirikan Ikadi di Bekasi, Mojokerto, Surabaya, dan Riau, telah menjadi pusat kaderisasi dai sekaligus sumber keuangan. Aktivitas pendidikan lebih diutamakan, tetapi keuntungan ekonomi juga tidak ditinggalkan, meskipun bukan prioritas.

Kemudian, masjid juga diaktifkan sebagai pusat dakwah sekaligus pusat ekonomi umat. Mereka bisa meramaikan masjid dengan rumah makan dan menjual berbagai barang dagangan yang halal. Masyarakat sekitar diajak juga bergabung mengelola perekonomian masjid. Para dai menjadi pembimbing mereka. Jika ada dari mereka yang mencapai nisab zakat, harus segera diminta zakatnya untuk didistribusikan kepada fakir miskin.

Namun, menurut Satori, untuk mengembangkan dai pebisnis tak semudah membalikkan telapak tangan. Para dai bakal kesulitan mencari modal usaha. Dia berharap para dai mau membentuk komunitas dai dan membuat kelompok usaha bersama. Dia mengibaratkan seperti lidi, jika hanya satu, akan mudah patah. Jika berjumlah banyak, akan menjadi sapu lidi yang kuat. Membentuk dai pebisnis pun demikian, harus berkelompok agar kuat.

Keuntungan dari bisnis itu dapat digunakan untuk ke pen tingan berdakwah. Tapi, Satori mengingatkan, agar para dai tidak terlena dalam bisnis sehingga melupakan dakwah. Tugas utama berceramah jangan sampai ditinggalkan mereka. Ikadi tidak menginginkan seorang dai yang berbisnis berpenampilan mencolok dengan barang-barang mewah sehingga masyarakat menjauhinya dari urusan keagamaan.

share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Selamat Jalan Ustadz Toto Haryanto..
11-07-2020 Berita

Baca Selengkapnya

Turut Berduka Cita Atas Wafatnya K.H. Hilmi Aminuddin..
30-06-2020 Berita

 .

Baca Selengkapnya

Keluarga Besar IKADI Turut Berduka Cita Atas Wafatnya KH. Maimoen Zubair
06-08-2019 Berita

اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْن   ...

Baca Selengkapnya

Berita Duka: Telah Wafat Pimpinan Majelis Az Zikra , K.H. M. Arifin Ilham
23-05-2019 Berita

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun.. Segenap Pengurus dan Keluarga Besar Ikatan ...

Baca Selengkapnya

PP IKADI Berbuka Puasa Bersama Masyarakat Sekitar
22-06-2016 Berita PP

Selasa (21/6) kemarin PP IKADI mengundang seluruh anggota pengurus pusat d ...

Baca Selengkapnya

PP IKADI Selenggarakan Rapat Pimpinan Nasional
08-06-2014 Berita PP

Pengurus Pusat Ikatan Dai Indonesia (PP IKADI) akhir pekan lalu menyelenggarakan Rap ...

Baca Selengkapnya