Hakikat Penciptaan Manusia

Dibuat Tanggal 24-04-2011

Namun sebagian orang yang sudah terbuai dengan dunia, seperti halnya orang yang tidak beriman  memandang bahwa kehidupan ini hanyalah gerakan-gerakan yang  tidak memiliki motivasi, tak mempunyai  tujuan dan sasaran. Kehidupan ini hanyalah rahim-rahin yang melahirkan dan kubur-kubur yang menelannya kembali, sedang masa-masa antara keluarnya manusia  dari rahim dan masuk ke dalam kubur itu hanyalah untuk bersenang-senang, bermain-main, borsolek, mempercantik tampilan, dan memperbanyak tumpukan barang untuk dijadikan kebanggaan. Walaupun pada hakekatnya  tidak ada yang dapat dibanggakan di hadapan Allah kelak, kecuali amal sholehnya ketika dia belum ditelan oleh kuburan.

Kehidupan ini memiliki undang-undang dan aturan, di belakangnya ada tujuan, dan di balik tujuan itu ada hikmah. Hikmah dari dia dan semua makhluk diciptakan.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (Ibadah) kepada-Ku. (Al-Dzariyat: 56)

Ketika manusia keluar dari rahim dan hadir ke dalam kehidupan ini sesuai dengan takdir yang berlaku dari Penciptanya, dan di saat ia dikubur akan ada masa setelah itu waktu perhitungan dan pembalasan.

Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). (Al-Haaqqoh:18)

Seorang yang beriman akan memandang kehidupan ini dengan cermat dan serasi, ia merasakan dengan penuh keyakinan tentang adanya Tuhan yang berkuasa, yang mengatur, dan Maha bijaksana, Dia menciptakan segala sesuatu dengan kadar ketentuan yang tepat. Dan segala sesuatu di dunia akan berakhir dengan kadar yang telah Ia tentukan pula.

Yang membedakan manusia dengan binatang adalah perasaannya terhadap hubungan waktu, peristiwa, dan tujuan-tujuan, yaitu hubungan dengan keberadaan manusia itu sendiri beserta apa yang berada di sekitarnya.

Ketika seseorang memiliki kejelian memandang terhadap keberadaan undang-undang Tuhannya dan hubungan peristiwa-peristiwa serta segala sesuatu dengan undang-undang ini, maka ia tidak hidup untuk menghabiskan umurnya dari waktu ke waktu dan dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya begitu saja. Di dalam pikirannya ia selalu menghubungkan masa-masa dan peristiwa-peristiwa itu dengan kehendak Allah, baik itu saat masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Kemudian ia hubungkan semua ini dengan alam semesta beserta undang-undang-Nya, dan setelah itu, ia hubungkan dengan kekuasaan Allah yang Maha tinggi, yang menciptakan itu semua dan mengaturnya, dan Ia tidak menciptakan itu semua, termasuk manusia di dalamnya dengan sia-sia dan tanpa dimintai pertangung jawaban.

"Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? " (QS. Al –Qiyamah: 36)

Sentuhan ayat ini adalah salah satu dari sentuhan ayat-ayat Al-Quran terhadap hati manusia supaya memikirkan dan memperhatikan hubungan-hubungan, sebab-sebab dan tujuan-tujuan yang menghubungkan keberadaan seluruh alam dan dirinya dengan kehendak yang mengatur segala sesuatu ini, yaitu petunjuk tentang kejadiannya yang pertama.

Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?

Tidak ada tempat lari dari merasakan adanya tangan halus yang mengatur dan memaduh nutfah yang ditumpahkan ke dalam rahim itu dalam perjalanannya (prosesnya yang panjang), hingga sampai Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan.

Di depan hakikat yang menetapkan suatu kepastian terhadap perasaan manusia ini, datanglah kesan yang meliputi segenap hakikat yang dibicarakan surat ini pada ayat penutupnya.

"Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (QS. Al-Qiyamah: 40)

Mahasuci Allah yang berkuasa untuk menghidupkan orang-orang mati. Mahasuci Allah yang  berkuasa menciptakan ulang orang yang sudah mati. Manusia tidak dapat lagi bertindak kecuali bersikap tunduk di hadapan hakikat yang menetapkan keberadaan dirinya. Demikianlah surat ini ditutup dengan memberikan kesan yang kuat dan dalam, yang memenuhi dan meluap di dalam perasaan, terhadap hakikat keberadaan manusia dan adanya pengaturan dan kekuasaan di belakangnya. Wallahu a'lam bisshowab.

Oleh H. Zulhamdi M. Saad, Lc

 

 



share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Ramadhan Bulan Bercermin
06-05-2018 Tafakkur

Ramadhan merupakan salah satu sarana dan momentum istimewa bagi setiap mukmin atau m ...

Baca Selengkapnya

Langkah Ke Depan Alumni Ramadhan
12-07-2017 Tafakkur

Puasa pada bulan Ramadhan, bila ditunaikan dengan memenuhi syarat dan rukun serta me ...

Baca Selengkapnya

Selembar Kertas Kehidupan
24-08-2016 Tafakkur

Selembar Kertas Kehidupan Oleh: Inayatullah Hasyim* Ketika tamat seko ...

Baca Selengkapnya

AL-MUKHLISHIN DAN AL-MUKHLASHIN
19-08-2016 Tafakkur

AL-MUKHLISHIN DAN AL-MUKHLASHIN المخلِصين dan المخلَصين ...

Baca Selengkapnya

Dekat Dengan Allah, Kunci Segalanya
27-07-2016 Tafakkur

Seseorang boleh saja berkata, “Saya telah menemukan kebahagiaan sejati setelah ...

Baca Selengkapnya

Amaliah Bulan Sya’ban
12-05-2016 Tafakkur

“Bulan Sya’ban adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, bulan antara R ...

Baca Selengkapnya